
"Yang dikatakan ketua benar. Saya berada dalam lingkaran dunia hitam sudah begitu lama. Orang-orang itu, seharusnya mereka meminum ramuan spesial yang sempat kami temukan di daerah utara eropa," ucap Nero.
Alex menghentikan langkahnya. Dia yang awalnya memunggungi Nero pun berbalik menghadapnya. "Apa katamu? Ramuan spesial daerah utara eropa?"
"Ya. Saya tidak yakin akan itu. Tapi, setelah melihat ciri-cirinya, saya semakin yakin."
"Coba katakan apa saja ciri-ciri yang kamu ketahui."
Nero menjelaskan semua yang ia ketahui kepada Alex. Cairan yang entah apa itu namanya telah dikembangkan begitu jauh, merubah seseorang selayaknya anjing yang selalu mengikuti ucapan tuannya. Hal aneh yang tak pernah ia ketahui, bahkan mungkin Ayah pun tidak mengetahuinya membuatnya begitu takjub akan dunia. Semua sudah berada di luar kendalinya.
"Menurut kabar, ada sekitar sepuluh gangster yang telah menerapkan hal tersebut ke beberapa orang mereka dan itu termasuk juga yang kita temui hari ini," ucap Nero menjelaskan.
"Baiklah, aku mengerti apa yang harus aku lakukan."
Aku harus mencari cara untuk dapat mempelajari ramuan ini dan menemukan celah. Yang aku takutkan adalah seseorang yang ada dibalik Paman Steve menggunakannya pula,~Batin Alex.
...*...*...
Aron tak kunjung siuman setelah beberapa saat mereka disana. Kini Alex tertidur pulas dengan posisi duduk dan tangan bersendekap. Dia sudah tidak tidur semalaman. Namun, semua kacau saat anak buah yang diutus olehnya tiba-tiba berlari kencang dan menggemparkan semuanya.
"Ketua Alex, Komandan Nero, gawat!" Pekik pria itu yang membuat semua orang disana menatap ke arahnya.
"Ada apa, Res? Sesuatu berbahaya terjadi?" Tanya Nero.
Dia menilik kearah Alex yang masih tertidur pulas seakan tidak mendengarkan jeritan Resca disana.
"Pria aneh itu, semuanya menuju kemari. Cepat atau lambat kita akan ketahuan. Dan lagi..." Resca mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Entah kertas apa itu, dia memberikannya pada Nero.
Di kertas tersebut, tertuliskan, "Resca, sampaikan kepada ketua Alex dan komandan Nero jika mereka sudah mengetahui posisi kalian. Kau tenang saja, aku disini aman. Aku akan mencegah mereka hingga mengetahui kalian benar-benar pergi dari sini."
"Sial! Mengapa mereka bisa menemukan kita secepat itu?" Umpat Nero sambil meninju tembok di sebelahnya.
Alex yang tak tahan mendengar kegaduhan pun terbangun dan mendekati mereka. "Nero, Resca, ada apa?"
"Ketua. Maaf mengganggu waktu tidur anda, tapi mereka sudah mengetahui posisi kita," ucap Nero.
Alex menyabet kertas yang ada di tangan Nero dan membacanya dengan saksama. Dia mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya. Dia membuang kertas itu sembarangan.
"Semuanya, cepat tinggalkan tempat ini!" Titah Alex sambil mengangkat tangannya mengudara agar semua orang mendengarkannya.
"Tapi ketua, bagaimana jika kita langsung diserang?" Tanya Nero khawatir.
Nero melirik ke arah Aron disana. Dalam matanya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam akan tim mereka. Terlebih lagi salah satu kekuatan terbesar mereka sedang terbaring lemah disana.
"Dan juga Aron... Ketua, sebaiknya kita memanggil kawan-kawan kita kemari." Nero memberi saran kepada Alex.
Alex maju beberapa langkah mendekatinya, memegang bahunya dan menghela nafas cukup berat.
"Nero, aku tidak menginginkan korban jiwa bertambah lagi. Lagipula, aku ingin memilah pasukan kita setelah masalah ini selesai," timpal Alex begitu yakin.
Alex membopong tubuh Aron pada punggungnya, sama persis seperti yang tadi ia lakukan.
"Ketua, biarkan saya saja yang membawanya," ucap Nero menawarkan diri.
"Apakah kau bisa berlari cepat saat mengangkat beban?" Tanya Alex.
"Bisa."
Alex akhirnya memutuskan untuk memberikan Aron pada Nero. Dia juga merasa tubuhnya pun sudah tidak mampu mengangkat beban saat ini.
"Baiklah, kalian ikuti aku dan Resca dengan cepat. Resca, seharusnya kamu sudah memikirkan jalan keluarnya,bukan?" Tanya Alex.
"Tentu saja, ketua. Saya adalah prajurit terlatih."
"Baiklah, kita bergerak segera. Jangan banyak buang waktu disini."
...*...*...
Lisa telah tiba di lantai dasar apartmentnya dengan selamat. Dia turun dari mobil pick up pengangkut sayuran tersebut dan mengucapkan terimakasih padanya. Sambil menoleh kearah kanan dan kiri, Lisa berlari kecil menuju ruangannya saat mendapati keadaan disana begitu aman.
Sesampainya di apartmentnya...
"Hosh hosh hosh"
Wanita itu mengatur nafasnya dan duduk di sofanya.
"Huftt. Akhirnya aku selamat. Untung saja beberapa hal masih aman disini. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi," gumam wanita itu sendirian.
Lisa Black Panther adalah seorang gadis keturunan keluarga Black Panther. Tentu saja, itu bukanlah nama aslinya. Demi menjaga keutuhan rahasia mereka yang sebenarnya, mereka mengubah nama marga mereka menjadi black panther. Walau begitu, mereka masih saja diincar oleh para penjahat internasional.
Black panther, sebuah keluarga yang ahli dalam membuat strategi perang dan berbagai ramuan ajaib di dunia. Berbagai ramuan telah mereka keluarkan bahkan mereka jual. Terakhir kali, keluarga ini bahkan mengeluarkan sebuah ramuan langka di dunia. Ramuan yang digadang-gadang dapat membuat orang menjadi tak terkalahkan, membuat mereka menjadi sang penguasa dunia. Entah benar atau tidak, namun mereka masih terus saja memburu untuk mencobanya. Tidak jarang dari mereka bahkan menghalalkan segala cara dan bersedia untuk membayar dengan seluruh kekayaan yang mereka punya, namun keluarga Black Panther memutuskan untuk tidak mempublikasi ramuan tersebut.
Suatu ketika, Lisa pergi untuk bekerja seperti biasanya. Namun, entah mengapa hari itu dia bahkan tidak memasang pengamanan disekitarnya. Dia selalu mengenakan sebuah anting yang bisa melacak kondisinya. Anting yang menghubungkannya dengan ajudannya dimanapun dia berada. Nahasnya, waktu itu dia begituu ceroboh hingga menghilangkan anting tersebut. Alhasil, saat dirinya baru saja sampai di halte bus, dia tertangkap oleh para penjahat yang terus saja memaksanya untuk mengaku.
Lisa telah mendekam disana selama seminggu lamanya, hingga Alex datang menyelamatkannya. Namun anehnya, dia tidak menemukan apapun tentang suaminya yang sangat ia cintai itu mencari dirinya. Suaminya seolah bungkam dan tidak peduli tentang keberadaannya.
"Omong-omong, kemana mas Bramantyo?" Gumam Lisa yang menyadari rumahnya yang begitu sepi.
Suasana rumah yang masih rapi, sama seperti sebelum ia diculik dan meninggalkan rumah. Hanya saja debu bertambah tebal, laba-laba pun berhasil membuat rumah tinggal mereka layaknya tidak ada orang di rumah atau menjamaknya disini.
"Ruangan ini tetap sama seperti sebelum aku pergi. Apakah mas Tyo belum pulang ya? Kalau begitu, kemana dia? Apakah dia sedang mencariku atau malah pulang ke rumah wanita lain?" Gumam Lisa disana.
Kryuukkk...
Suara perut Lisa yang mulai keroncongan terdengar nyaring disana. Lisa tersenyum getir saat mendengarnya.
"Huh, aku bahkan sampai lupa makan dan sekarang aku pun tak tahu keberadaan suamiku. Takdir memang benar-benar lucu. Atau aku harus mulai mencari tahu tentang dia? Tapi, apakah aku sanggup menerimanya saat mengetahui faktanya?"