
Setelah melalui proses yang cukup rumit dan panjang, penantian serta doa Alex dan keluarganya pun akhirnya terbalaskan. Kini, Alex dengan gagah dan bangganya mengenakan baju tentara berkat usahanya sendiri. Namanya masuk dalam kategori yang lulus tes. Selain itu, dia pun langsung mendapatkan pangkat yang cukup tinggi. Beberapa orang mencibir dirinya, bahkan ada yang menatapnya sinis. Alex sudah biasa, dia hanya tidak memedulikan mereka. Biarlah semua orang mau berkata apa, yang penting dirinya melaksanakan kewajibannya sesuai dengan peraturan yang benar.
Athena senantiasa mengikuti anaknya dimanapun Alex berada. Dia merasa bangga, namun dalam hatinya masih terbesit rasa malu dan bersalah. Anak yang selama ini dia sia-siakan adalah anak yang paling membuatnya bangga. Berbeda dengan Jonas dan Jim, Kakek pun juga merasakan apa yang Athena rasakan.
"Lex, selamat ya. Kamu akhirnya dapat mengikuti jejak Ayahmu. Russel pasti bangga melihatnya." Athena memeluk buah hatinya dengan tangis yang berhasil membasahi seragam dorang milik Alex.
"Makasih,ma."
...*...*...
Keesokan harinya...
Hari ini adalah hari pertama Alex bekerja. Dia memiliki sebuah ruang pribadi yang cukup besar dengan segala fasilitas di dalamnya. Dia menatap lurus ke arah layar monitor dengan setumpuk dokumen yang entah apa isinya. Dia tidak menyangka bila tentara tidak hanya bertugas dalam medan peperangan saja.
"Huh, hari pertama yang begitu membosankan. Tidak ada pertarungan, semuanya sangat hampa," gumam Alex.
"Tapi, tak apa. Lagipula ini hanyalah sebagai formalitas. Aku akan mengerjakannya sesegera mungkin dan mulai mengembangkan ilmu racunku agar aku bisa sesegera mungkin mendirikan usahaku," gumam Alex.
Kini dia menjadi lebih semangat dibandingkan sebelumnya. Dia dengan segera menyalin dan menginput semua yang harus dia input, mengerjakan tugasnya sesegera mungkin. Namun, suatu hal terjadi diluaran sana tanpa sepengetahuan Alex.
Di sebelah barat kantor pusat tempat Alex bekerja...
Kota barat tempat Alex bekerja, sebuah kota yang diberikan nama Canaya di Negara P. Kota tersebut juga diyakini sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tertinggi di negaranya. Hingga saat ini, tak ada seorang pun yang berhasil memberantasnya. Russel, selama menjabat sebagai jenderal di kantor pusat pun hanya dapat memberantas sebagian kecil. Hal tersebut walau berhasil mengurangi tingkat kriminal, namun sama sekali tidak dapat menghentikannya.
"Arghh! Tolong!" Pekik seorang gadis kecil yang cantik. Dia membawa sebuah uang yang akan dia gunakan untuk membeli sesuatu untuk ibundanya yang sedang sakit.
"Hahaha. Bocah kecil, ayo ikut paman. Paman punya banyak permen buat kamu," ucap bandit tersebut baik-baik.
"Tidak! Kalian jahat!"
Banyak sekali laporan yang mengatakan bila di daerah tersebut rawan penculikan anak. Mereka akan menjual mereka kepada beberapa orang yang membutuhkannya atau sekadar diambil organ dalamnya. Bukan hanya anak-anak, melainkan para remaja dewasa hingga beberapa orang yang nampak sehat.
Bukan tanpa sebab negara P tidak dapat memberantas mereka, namun sejauh ini semua orang yang diutus telah gagal, bahkan beberapa gugur akibat terlalu banyak bandit, gangster dan geng lainnya. Mereka semua terlalu susah untuk dihadapi, apalagi para pembunuh bayaran dan pasukan berani mati yang sudah lama terkenal di dunia gelap.
Gadis kecil itu berusaha lari sekuat tenaga menuju ke kantor pusat kemiliteran yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Bukan hanya dia yang menderita,namun hampir seluruh atau bahkan seluruh penghuni pasar. Pedagang maupun pembeli, harus kehilangan dagangan mereka, gerobak atau alat dagangan, juga modal mereka serta untung yang telah mereka kantongi. Jika tidak, nyawalah taruhannya.
"Kumohon, jangan ambil uangku. Aku membutuhkan ini untuk anakku," ucap si pedagang sayuran itu memelas.
"Menyingkirlah!" Pekik sang bandit dengan menghempaskan wanita itu ke tanah.
"Tuan, kumohon jangan. Aku akan melakukan apa saja asalkan kembalikan uang itu." Wanita itu tidak mudah untuk menyerah. Dia sama sekali tidak putus asa. Dia berlutut di hadapan pria itu, bahkan bersujud di kakinya.
"Enyahlah!" Bandit tersebut menendang wanita itu hingga berguling di tanah, berkubang lumpur dan membuat wajahnya nyaris tertutup olehnya.
"Dasar kepar*t!" Umpat pria itu.
Dia mengambil golok dari pedagang golok di sebelahnya.
"Ini uangku, ini hakku! Atas dasar apa kalian merampasnya!" Seru wanita paruh baya yang sangat terdesak keuangannya.
Semua orang berjuang melawan para bandit dengan sekuat tenaga mereka, terutama setelah wanita itu berseru dengan lantangnya. Semangat mereka membara dan hal itu berhasil menyebabkan para bandit itu murka.
"Kamu! Kamu berani memprovokasi mereka. Kau harus pergi ke neraka!" Bandit itu mengangkat golok yang ada di tangannya dan dia ayunkan dan tepat mengenai leher wanita itu.
Srakkkk...
Darah keluar layaknya semburan magma dari gunung berapi yang memuntahkan laharnya. Kepalanya nyaris terpenggal sempurna. Dalam sekejap mata, wanita itu telah meregang nyawanya di hadapan semua orang. Tak terkecuali dengan anaknya yang terakhir, yang selalu ikut bersama dengannya.
"Ibu!" Pekik seorang pria cilik yang diduga adalah anak terakhir dari sang ibu.
"Hei, kamu mau kemana?!" Cegat para bandit laInnya saat mengetahui anak kecil itu akan berlari menuju ibundanya.
"Lepaskan aku,paman! Aku ingin ke ibuku!" Pekik anak itu.
"Kau mau menurut atau aku akan mengirimmu berjumpa dengan ibumu?" Pria itu menodongkan pisaunya ke leher bocah lelaki di tangannya. Bocah tersebut seketika terdiam. Tangannya mengepal dan mulutnya seperti merapalkan sebuah mantera kebencian untuk mereka.
Aku membenci mereka. Aku bersumpah akan membunuh seluruh bandit di dunia ini dan membalaskan dendam ibuku di masa depan. Aku harap ada seseorang yang datang menolong dan aku akan langsung menjadi pengikut setianya. Aku berjanji akan mengabdi padanya tak peduli apapun yang dia lakukan,~Batin bocah laki-laki itu.
Sedangkan itu, disisi lain...
Gadis yang masih berjuang untuk lepas dari jeratan dan belenggu seorang pria berbadan besar di belakangnya. Gadis kecil itu berlari sekuat tenaganya seraya berteriak meminta pertolongan. Sayangnya, tak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Mereka semua takut akan terkena imbasnya. Hingga tak lama kemudian, berkat kecepatan lari gadis tersebut, dia telah sampai di gerbang kantor utama kemiliteran negara P.
"Paman, bantu aku. Bantu keluargaku dan bantu semua orang yang ada di pasar selatan. Bantu kami, Paman!" Seru gadis kecil itu memohon pada petugas penjaga kantor.
Saat si bandit yang mengejarnya melihatnya berdiri di depan sebuah tentara penjaga, pria itu nampak mengurungkan niatnya untuk terus mengejarnya, namun dia tak pergi dari tempat tersebut dan melihat situasi yang ada.
"Gak gak. Untuk apa kami membantu kalian? Lagipula, mereka susah untuk dihadapi. Untuk membantu kalian, banyak tentara yang gugur. Lagipula, komandan Alex lagi sibuk di dalam," ucap sang penjaga dengan arogannya.
"Kumohon paman!" Pinta gadis itu memelas.
"Apa kamu tuli? Gak, gak ada!" Pria itu dengan kasarnya mendorong gadis tersebut.
"Paman Alex! Komandan Alex, please help us!" Teriak gadis itu yang pantang menyerah.