I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 14



Beberapa hari kemudian...


Alex telah berlatih untuk meretas sistem milik negara pada saat pengangkatan Steve beberapa hari kedepan. Aron yang masih tidak mengetahui apa tujuannya, mau tidak mau harus mendukung seorang pria remaja yang berada di hadapannya.


"Tuan muda. Selamat, anda telah berhasil melakukannya," ucap Aron.


"Humm. Ternyata tidak susah menjadi seorang hacker. Terimakasih,Paman. Sekarang aku lebih percaya jika rencanaku kali ini akan berhasil, " ucap Alex.


Alex menggenggam tangannya yang telah dipenuhi oleh tekadnya. Setelah bersiap, dia membereskan semua barangnya dan akan berpamitan untuk pulang.


"Paman, tolong sampaikan kepada paman Louis dan Paman Jack untuk datang ke acara Paman Steve ya," ucap Alex.


"Untuk apa?" Jack dan Louis membuka pintu ruangan Aron tanpa permisi. Yap, sedari tadi mereka telah mengintip apa saja yang dilakukan oleh Alex.


"Lalu, untuk apa juga anda mau meretas sistem pemerintahan?" Tanya Louis dan Jack dengan tatapan serius.


"Aku ada perhitunganku sendiri. Aku hanya ingin kalian datang dan menyaksikan drama yang akan sungguh menakjubkan," jawab Alex.


"Untuk apa? Apakah ini penting? Kami adalah teman Russel bukan Steve. Kami tau Steve sering berkelahi dengan Russel juga. Untuk apa kami mendukung musuh teman kami?" Tanya Louis yang semakin kolot.


"Paman, jangan terlalu kolot. Ayolah kali ini saja. Aku meminta kalian semua kesana, ya?"


Alex membulatkan netranya dengan sempurna, membuat Louis, Jack dan Aron tak kuasa untuk menolaknya. "Huft, baiklah."


"Oh ya paman bertiga. Tolong jaga ibu ya," pinta Alex.


"Ini memang kewajiban kami, tapi anda sendiri mau kemana? Seharusnya, dengan kemampuan menembak anda, itu tidak akan sulit untuk menjaga ibu anda sendiri."


"Sttt. Rahasia. Hahaha." Tawa Alex menggelegar memenuhi seisi ruangan. Mereka bertiga hanya dapat saling bertatapan, sedangkan Alex pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih bergeming pada tempat mereka masing-masing.


"Aron, apa rencana anak itu?" Tanya Jack.


Aron menggelengkan kepala pelan. "Entahlah. Dia tidak memberitahuku apapun. Namun, beberapa hari yang lalu, dia mengatakan dia sudah tahu siapa dalang dibalik pembunuhan ayahnya."


"Serius?" Louis duduk tepat di depan Aron dengan matanya yang melotot.


Aron hanya mengangguk.


"Terus? Terus, dia bilang siapa?"


"Dia bilang, nanti paman akan tahu sendiri."


"Cihh, dasar bocil! Penuh misteri sekali anak ini," umpat Louis kesal.


"Tapi, aku kagum dengan anak ini. Di usianya yang masih begitu belia, dia sudah dapat memikirkan rencana besar. Dia dipaksa dewasa sebelum waktunya, namun dia mampu melakukannya," ucap Jack.


Louis dan Aron hanya mengangguk setuju pada Jack.


*...*


Pada malam hari...


Alex telah berkumpul dengan keluarga Lachowicz lainnya, termasuk juga Athena dan kakek yang selama ini tidak mau mengakuinya. Namun, Steve kali ini tak nampak berada disana.


"Malam, kek, ma," sapa Alex.


"Malam, sayang. Mari makan."


"Lho, kemana paman Steve?" Tanya Alex saat tidak melihat keberadaan Steve disana.


"Paman Steve ada urusan katanya. Omong-omong, besok Alex pergi ke butik keluarga kita, ya sayang," ucap Athena.


"Hum? Untuk apa?"


Satu sendok pertama telah ia suapkan pada dirinya.


Uhuk uhuk...


Alex berpura-pura tersedak saat mendengarkan ucapan Athena. "Benarkah bu? Aku tidak pernah tau tentang itu."


Athena mengangguk. "Sekarang kamu sudah mengerti. Saatnya untuk ukur baju untukmu."


*...*


Tiga hari kemudian...


"Alex, apakah kamu sudah siap?" Teriak Athena dari aula utama.


"Sudah bu."


Alex pun turun setelah mendengarkan teriakan sang ibunda.


"Sayang, kamu berangkat sama siapa?" Tanya Athena.


"Aku mau berangkat sama paman Louis, Paman Jack dan Paman Aron saja. Kalian duluan lah. Paman Aron seharusnya akan tiba sebentar lagi," jawab Alex.


"Baiklah. Kau jaga diri ya. Hati-hati. Ingat pesan ibu, "ucap Athena memperingatinya.


"Baik bu."


Athena sudah menduga jika akan terjadi bencana besar saat pelantikan tersebut. Dia trauma atas kejadian Russel kala itu.


Alex menengok ke arah kanan dan kiri, menanti Aron untuk datang. Tak lama kemudian, Aron telah tiba dengan mobil gunung bewarna putih miliknya.


"Tuan muda, silahkan naik," ucap Aron.


Alex pun menaiki mobil tersebut dan berangkat menuju istana negara.


Sesampainya disana...


Alex langsung turun dari mobil dan menghilang begitu saja. Dia bersembunyi di balik pepohonan dan memulai aksinya. Tak berselang lama, acara pun akhirnya di mulai. Pembawa acara sibuk membacakan serangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan hari ini. Sedangkan Aron dan yang lainnya, mereka tengah sibuk mencari Alex yang tiba-tiba menghilang.


"Aron, kemana Alex? Bukankah dia sama kalian?" Tanya Athena terkejut saat tidak mendapati Alex bersama dengan mereka bertiga.


"Tuan muda tidak kemari? Ya, dia memang tadi berangkat bersama kami. Lalu, dia tiba-tiba lari entah kemana," ucap Aron.


"Apa? Bagaimana bisa? Duhh, anak itu." Wajah cemas kini terukir di balik wajah Athena. Dia yang sekarang bukanlah dia yang dulu yang sama sekali tidak memedulikan putranya. Dia sudah berjanji untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, hubungan terlarang antara dia dan Steve, masih belum berakhir hingga saat ini.


"Athena, ada apa?" Tanya kakek.


"Alex. Alex hilang." Athena kelabakan mencari keberadaan Alex disana. Namun, banyak orang pun berlalu lalang disana. Steve mengundang begitu banyak orang, hal tersebut tentunya berbeda dengan Russel yang memilih acara dilaksanakan secara tertutup.


"Nyonya besar tenang saja. Saya dan Jack akan mencarinya hingga ketemu," ucap Louis meyakinkan Athena.


Athena mengangguk. Walau masih terbesit pikiran yang tidak-tidak, setidaknya dia bisa memercayai orang yang dipilih langsung oleh Russel untuk keluarga mereka. "Terimakasih ya."


Sedangkan itu, disisi lain...


"Nahh berhasil. Aku pikir akan butuh waktu setidaknya satu jam untuk melakukannya. Ternyata, semudah ini? Tch, negara ini begitu lemah," gumam Alex.


Alex melakukannya dengan sempurna, hingga tak seorang pun yang sadar bila sistem milik negara telah diretasnya.


Dia menatap lurus ke depan. Video kenangan Russel diputar disana. Tak terasa, air matanya menetes begitu saja. Dia sungguh merindukan sosok Russel. Dia adalah penyebab kematian Russel waktu itu.


"Ayah, ayah yang tenang disana ya. Sebentar lagi, pelaku pembunuh Ayah akan terungkap. Ayah maafin Alex yang sudah menyebabkan kematian ayah. Jika bukan karena aku mempercayai siluman ular itu, mungkin ayah masih disini saat ini. Ayah pasti melihatku berubah menjadi anak yang lebih dapat diandalkan," gumam Alex.


Alex menyeka air matanya saat dia melihat Steve yang telah berdiri disana. Dia mulai fokus menghadap ke arah pria itu dengan tatapan yang penuh kebencian.


"Pria lucknut. Aku akan membuat hidupmu tamat mulai detik ini!" Seru Alex.