I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 47



Negara G...


Luna meletakkan sebagian makanan pada piring yang tersedia disana sesuai dengan titah Alex sebelum berangkat. Wanita cantik bertubuh tinggi dan langsing itu juga tak lupa menghangatkan makanan untuk para rekan seperjuangan Alex. Dia melamun untuk sesaat.


Apa kita bisa bertemu lagi? Kau bukan orang asal sini dan kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan negara ini. Kau hanya sementara, namun kejadian itu benar-benar tak dapat ku lupakan. Namun, itu benar-benar membekas. Mungkin ini agak sedikit tidak tahu diri, namun aku mengharap kau kembali. Aku memang munafik, namun aku juga mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaanmu,~Batin Luna.


Luna tersenyum dengan sendirinya saat mengingat adegan malam itu. Dia senang, namun juga bingung. Pertemuan singkat yang membekas itu benar-benar menyesakkan dada saat dirinya tahu jika dia harus kehilangan seseorang itu untuk selamanya.


Tak butuh waktu lama bagi Luna untuk menghangatkan semua makanan yang dibawanya. Dia menyajikannya dengan cantik sebelum pergi dari tempat yang di sewa Alex untuk beberapa saat itu. Dia menyajikannya di meja makan dan menutupnya dengan tudung saji bewarna biru kesukaan Alex.


"Tuan Resca dan yang lainnya, Lunora pamit dulu ya," ucap Luna begitu sopan.


"Nona Luna, tunggu!" Seru Resca yang berhasil menghentikan langkah Luna.


"Hum?"


"Ketua menitipkan sepucuk surat untuk anda. Saya harap anda dapat membacanya setelah sampai di rumah." Resca mengucapkannya persis dengan apa yang disampaikan oleh Alex.


Bandara Internasional negara G...


Saat Alex akan melakukan Check-in dan boarding, seorang wanita terlihat tengah berlari mengejarnya dengan serangkaian bunga dan beberapa barang lainnya.


"Alex!" Teriak wanita itu memanggil Alex. Alex menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya. Dia berlari semakin kencang dan Alex mendapati dia adalah Lisa, seseorang yang telah membuatnya merasakan rasa bersalah seumur hidupnya. Seseorang yang membuatnya bahkan mengambil harta paling berharga milik seorang wanita yang tidak dia kenal, seseorang yang baru saja menghancurkan hidupnya.


"Untuk apa lagi kamu kesini?" Tanya Alex ketus.


"Aku... Aku hanya ingin berterimakasih padamu dan maaf. Maaf karena aku sudah membantumu marah saat itu," ucap Lisa.


Alex mengambil bunga di tangannya dan membuangnya ke tanah. Alex menatap Lisa dengan dingin, lalu meninggalkannya begitu saja dengan rasa malu yang tak terhingga. Semua orang menatapnya dan beberapa bahkan menertawakannya. Dia menatap kepergian Alex dengan sedikit rasa dendam yang mulai muncul dalam dirinya.


"Lihat saja nanti,Alex. Aku akan membuatmu bertekuk lutut dan memohon pengampunan dariku. Aku akan membuatmu merasakan apa yang aku alami hari ini!" Dendam kusumat telah ia tanamkan dalam hati. Lisa pergi dengan rasa malu dan membiarkan semua barang mewah itu tergeletak disana. Aron dan Nero yang sedari tadi hanya dapat menyaksikannya pun hanya dapat menggelengkan kepala tak percaya. Alex telah tumbuh menjadi pria yang benar-benar tega dan kejam.


...*...*...


Jessica telah sadar sepenuhnya setelah sebelumnya di pukul oleh sebuah kayu balok yang panjang, sedangkan Verrel entah sejak kapan telah tersadar, namun pria itu memilih untuk berpura-pura pingsan.


"Ughh, sakit sekali," keluh Jessica.


"Ehh, kita dimana?!"


Jessica menyadari bila mereka tengah berada di sebuah tempat yang jauh dari kata bagus dan layak. Banyak serangga yang lalu lalang, pijakan yang masih berupa tanah, dinding batu bata yang bahkan telah menimbulkan beberapa bolongan disana. Tempat itu sangat lembab dan gelap. Jessica dan Verrel pun harus berbagi oksigen, karena sangat minimnya sirkulasi di dalamnya. Entah apa yang mereka pikirkan, namun mereka sepertinya sengaja membangun suatu ruangan yang begitu minim sirkulasi udara agar para tahanan mereka tidak memiliki kesempatan kabur sama sekali.


"Tempat ini panas sekali. Dimana kita sebenarnya?" Gumam Jessica.


Namun, tak ada sahutan dari Verrel. Dia melirik ke arah Verrel sejenak dan mendapati Verrel yang masih memejamkan mata.


"Rel, lu udah sadar belum sih sebenarnya?" Tanya Jessica sedikit mengeras.


"Sttt. Jes, jangan kencang-kencang napa. Mereka begitu menyeramkan. Ternyata, mereka lebih dari satu," Ucap Verrel berbisik.


"Lalu?" Tanya Jessica.


Sayangnya, suara Jessica begitu keras dan menggema disana. Mereka pun masuk dan menyadari kedua sandera mereka telah sadar sepenuhnya. Beberapa orang, bahkan lebih banyak dari yang menculik mereka, terlihat mengepung mereka. Mungkin jumlah pria berjubah itu ada sekitar dua hingga tiga puluh orang. Jessica meneguk air liurnya sendiri dan menggerakkan tubuhnya sebisanya.


"Rel, ini gimana?" Bisik Jessica.


"Lu sih, Jes. Ga dengerin ucapan gue."


"Kalian! Apa mau kalian?!" Pekik Jessica.


"Kamu nanya? Hahahaha"


Sial! Aku benar-benar bosan mendengarkan kalimat itu yang selalu lewat pada akun sosial mediaku,~Batin Jessica.


"Apa yang kalian inginkan? Uang? Aku akan memberikan semua yang kalian minta!" Pekik Jessica.


"Hahaha. Kami tidak kekurangan uang. Kami hanya menginginkan sahabat kalian," jawab salah satu pria itu.


"Sahabat? Apakah itu Alex?" Gumam Jessica yang masih dapat didengar oleh mereka.


"Ya, siapa lagi?" Tanyanya.


"Rel, Apa ini jebakan untuk Alex? Jika begitu, dia akan dalam bahaya," bisik Jessica.


"Benar. Tapi, bagaimana cara kita menghubunginya?"


"Kalian tidak usah bingung-bingung. Kalian cukup katakan keberadaan kalian ke pria itu. Katakan, jika dia tidak kesini, maka kalian akan mati di tanganku," ucap pria itu setengah mengancam.


Jessica meneguk air liurnya untuk kesekian kalinya. "Walaupun aku..."


Belum sempat dia merampungkan kalimatnya, Verrel menyenggolnya dan hal itu berhasil membuatnya terdiam sejenak.


"Apa sih, Rel?" Tanya Jessica setengah geram.


"Kau bodoh atau bagaimana? Ini kesempatan bagi kita untuk memberitahu Alex agar dia tidak datang," ucap Verrel.


"Kau benar, lalu bagaimana dengan kita?" Tanya Jessica.


"Kita cari cara lainnya. Aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam. Aku adalah anak dari salah satu orang penting di negara ini. Mereka tidak akan berani melukaiku. Mereka hanya menggertak kita," bisik Verrel lebih lirih lagi.


"Lagipula, aku rela mati demi menyelamatkan Alex. Aku yakin, Alex adalah harapan kita semua. Dia mampu menjadi pahlawan bagi setiap orang. Berbeda denganku yang tidak berguna ini," ucap Verrel setengah minder dengan Alex yang sekarang.


"Apa yang kalian bicarakan?! Apa aku menyuruh kalian untuk berdiskusi?"


Pertanyaan yang dilontarkan pria itu membuat Jessica dan Verrel terpelonjak kaget. Mereka saling menatap sebelum akhirnya mereka diam.


"Bicaralah!" Pria itu mengangkat dagu Jessica hingga rahang bawahnya memar. Dia meringis kesakitan, namun berusaha untuk kuat. Dia tidak ingin Alex terkena jebakan dari para penjahat itu.


Saat ini, Alex sedang persiapan untuk perjalanannya kembali ke negara asalnya. Alex memilih pesawat terbaik dengan kecepatan yang paling cepat agar segera tiba.


Humph, sepertinya membeli satu pesawat sendiri akan lebih baik. Tapi, uang siapa?~Batin Alex.