I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 36



Alex kini berdiri dan menutupinya disana saat dia menyadari beberapa orang telah fokus pada mereka.


"Anda sabar. Jika anda ingin memarahinya, silahkan. Tapi, tidak dengan begini caranya," ucap Alex.


"Ini benar-benar tidak elite. Apakah anda tidak malu jika dilihat banyak orang? Jadi, bahan tontonan? Ya kalau dia benaran selingkuh, kalau tidak? Dia pasti akan mengelak," lanjutnya.


Wanita itu terdiam. Dia hanya dapat mengepalkan kepalanya. Hatinya terasa sakit, sesak sekali. Ingin sekali dia menggampar wanita itu,namun tindakannya telah dihentikan oleh Alex. Namun, dia merasakan hal yang dikatakan Alex ada benarnya.


"Lalu, aku harus apa?" Tanya Lisa.


"Duduklah dan dengarkan apa saja yang mereka bicarakan," ucap Alex.


Lisa pun kembali duduk pada tempatnya. Dia menghela nafas berat.


"Saya izin menanyakan, apa rencana anda jika benar suami anda selingkuh?" Tanya Alex.


"Apalagi? Tentu saja menceraikannya," jawabnya tanpa ragu.


"So, ambillah beberapa bukti dan dengarkan baik-baik ucapan mereka. Jangan lupa untuk merekam," ucap Alex memberi saran.


Alex terdiam lagi dan menikmati kopi miliknya disana. Sungguh indah hidupnya jika tak ada misi yang begitu tidak penting baginya. Dia masih tidak habis pikir, mengapa ada misi setidak penting ini dalam sistem? Namun, jika dia menolaknya, Alex akan kehilangan nyawa 5 tahunnya begitu saja. Jika dia berhasil, maka dia akan mendapatkan 10 tahun masa hidup juga akan mendapatkan berbagai kemampuan super lainnya. Jika beruntung, dia bahkan dapat mendapatkan jackpot yang bisa mengubah takdirnya.


...*...*...


Pelakor pernikahan Lisa dan suaminya itu menoleh ke arah kanan dan kiri seakan memastikan kondisinya aman. Wanita cantik itu nampak seperti akan melakukan sesuatu, gerakan yang dia timbulkan pun begitu mencurigakan.


"Sayang," panggilnya.


"Humm? Ada apa sayang?" Tanya suami Lisa


"Kamu coba katakan padaku. Apa yang kamu lakukan kemarin? Kenapa kamu bilang kalau keberuntungan mbak Lisa sangat baik?" Tanya wanita pelakor.


"Aku menemukan giwang miliknya terjatuh di bawah meja riasnya. Ada cahaya bewarna merah yang sedikit redup disana dan kupikir itu adalah sesuatu seperti kamera kecil atau GPS mungkin," ucap suami Lisa menjelaskan.


"Selama menikah dengan Lisa, aku tahu beberapa rahasia keluarganya dan beberapa musuhnya. Kebetulan sekali aku melihat seorang pria sedang mengintai rumah dan memberikan giwang itu kepada Lisa. Benar saja, pria itu menghubungkan GPS disana dengan ponsel milik Lisa dan akhirnya, Lisa berhasil ditangkap. Saat itu, aku melompat kegirangan saat mengetahuinya dan berharap jika Lisa meninggal saat itu juga. Lalu, aku bisa nikahin kamu deh," ucap suami Lisa seperti tanpa beban.


Hati lisa terasa semakin teriris-iris. Dia benar-benar tak tahan mendengarnya. Tanpa sadar, air matanya pun membasahi pipinya.


"Tega sekali dia sama aku? Apa sih salah aku ke dia? Aku bahkan memberikan segalanya. Dia yang dulunya hanya seorang pria miskin yang aku pungut di jalanan, dia kelaparan dengan pakaian yang lusuh. Aku dengan baik hati memberinya tumpangan. Aku memberinya makan bahkan tempat tinggal yang layak. Aku juga tidak pernah menuntutnya untuk menafkahiku begitu banyak. Ayah juga bahkan memberinya posisi yang cukup agar dia tidak malu saat tidak memiliki pekerjaan. Aku kurang apa coba?"


Lisa mengeluarkan semua uneg-unegnya. Alex hanya dapat menatapnya. Dia mengerti persis bagaimana sakitnya dikhianati oleh orang yang mereka sayangi. Kejadian dirinya dengan Arvieka kala itu, cukup untuk membuatnya begitu kecewa. Sakit itu bahkan masih membekas hingga sekarang.


Tapi masalahnya, Alex bingung apa yang harus ia lakukan. Ia hanya melirik Nero sesekali dan mengisyaratkan sebuah ucapan bantuan untuknya dan pertanyaan apa yang harus dia lakukan. Nero mengirimkan sinyal melalui batinnya.


"Ketua, peluklah dia. Wanita biasanya butuh tempat bersandar dan seseorang yang memeluknya ketika dia bersedih," ucap Nero yang melakukan transmisi suara dengan Alex.


"Nero, kau... kau juga dapat melakukan transmisi suara?" Tanya Alex terkejut.


"Ya, tapi bukan itu poin pentingnya. Cepat lakukanlah sekarang!" Ucap Nero.


"Apakah anda butuh bahu untuk bersandar?" Tanya Alex kaku dan formal.


Nero menepuk jidatnya,sedangkan Lisa mulai tertawa mendengar Alex berbicara.


"Pfttt.. Hahahaha. Kau begitu lucu,sobat."


"Ha? Apakah aku salah kata? Aku hanya memiliki niat baik saja," ucap Alex yang polosnya tidak tertolong.


"Tidak, tidak. Kamu tidak salah. Tapi, apakah kamu tidak pernah memiliki pacar sebelumnya?" Tanya Lisa.


"Pernah, pernah sekali. Namun, dia tidak pernah cerita kepadaku. Pun juga dia tidak pernah bilang begitu. Ayah juga tidak pernah bermesraan dengan mama di depanku. Jadi, aku tidak tahu," jawab Alex.


Lisa semakin dibuat gemas dengan tingkah Alex yang sudah begitu besar,namun masih nampak polos.


"Ok. Ok. Ga perlu. Kamu nampak begitu dingin begitu, sebenarnya tidak ikhlas,bukan? Sudahlah, aku ingin pergi sejenak," ucap Lisa yang akhirnya beranjak dari tempatnya.


"Kemana?" Tanya Alex.


"Ke bar di atas resto ini. Mau ikut?" Ajak Lisa.


Alex menoleh ke arah Nero disana. Nero terlihat begitu antusias saat Lisa akhirnya mengajaknya. Alex pun terpaksa megiyakannya. Dia lah yang mengajak Nero kemari, jadi sekalian saja mengajaknya berpesta.


"Baiklah." Alex akhirnya menyetujui ajakannya.


Mereka bertiga pun akhirnya berangkat menuju bar. Menaiki lift yang tengah kosong saat ini, hingga mereka akhirnya berada di lantai keempat, lantai terakhir dalam gedung itu. Aroma alkohol semerbak tercium saat Alex dan yang lainnya keluar dari lift tersebut.


"Ketua, sepertinya disini sangat ramai. Apakah ketua yakin ingin masuk?" Bisik Nero yang tahu jelas sifat Alex.


Alex menggeleng, "aku gapapa. Kita masuk saja. Aku tahu kau pasti ingin kesini,bukan?"


"Ya... Tapi, saya akan menuruti anda,jika anda tidak ingin," ucap Nero.


"Sudahlah Nero. Disini pasti ada ruang VIP. Aku bisa menyewanya nanti."


*...*


Terdapat banyak orang di dalam sana, sama seperti yang telah mereka duga. Bau alkohol terasa semakin menyengat.


"Ketua, apakah anda baik-baik saja?" Tanya Nero saat melihat ekspresi Alex yang semakin aneh.


"Gapapa, gapapa. Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak terbiasa dengan bau alkohol," jawab Alex.


Alex, Lisa dan Nero duduk tepat di depan bartender yang sedang bertugas. Alex melihat serangkaian bir dan hal lainnya. Tadi, dia saja hanya melihat anak buahnya berpesta dan minum bir yang dia sediakan, namun dia sama sekali tidak mencobanya. Alex benar-benar seorang pria kejam yang anti alkohol, mungkin dialah satu-satunya.


"Nona, tuan, silahkan pesan," ucap bartender tersebut seraya memberikan sejumlah daftar menu kepada mereka.