I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 66



Osy menjelaskan secara detail maksud dari setiap angka yang tertera disana. Alex berusaha mencernanya dengan kapasitas otaknya yang begitu luas.


"Itu adalah data sementara. Sementara waktu, sistem tidak dapat mendeteksi tentang kepintaran dan kecerdikan, serta kelicikan yang anda punya," ucap Osy.


"Tunggu!" Seru Alex yang menyadari sesuatu yang salah disana.


"Mengapa kharismaku begitu buruk sedangkan saat ini ada tiga orang wanita yang sedang mengejarku," ucap Alex.


"Ahem." Osy berusaha menahan tawanya saat mendengar ucapan lugu yang Alex lontarkan.


"Begini, ketua. Saya tidak tahu anda ini memang tidak tahu dan begitu polos atau anda terlalu ke geeran?" Ucap Osy yang sudah tak mampu membendung tawanya lagi.


"Osy, apakah kamu sudah bosan hidup?" Tatapan mematikan Alex berhasil membuat Osy terdiam, "Cepat jawablah!"


"Ma-maaf ketua."


Sepertinya, ketua Alex memang benar-benar berbeda dibandingkan dengan ketua yang sebelumnya. Walau ketua yang sebelumnya dari segi kemampuan dan daya tempur lebih lemah, namun kharismanya lebih kuat. Dia bahkan dijuluki sebagai pecinta wanita dan playboy kelas kakap. Entah sudah berapa banyak wanita yang tidur dengan ketua sebelumnya,~Batin Osy sambil menggelengkan kepalanya.


"Jessica, rasa cintanya itu berdasarkan kasihan kepada anda. Itu sama sekali tidak dapat dijadikan alasan dia tertarik dengan anda karena kharisma anda. Untuk Lisa, anda tahu sendiri apa tujuannya. Wanita licik yang seperti ular itu, licin dan cerdik, dia hanya ingin memanfaatkan anda setelah sebelumnya dia mendapatkan seorang suami yang seperti sampah..."


"Apa tidak ada kata-kata lain selain sampah? Aku benar-benar sudah muak mendengarnya," ucap Alex memotong ucapan Osy.


"Tch, ketua dengarkan saya dulu!" Bentak Osy yang lebih galak dari Alex.


"Disini siapa yang ketuanya?"


"Hehe. Maaf maaf. Ga sadar." Gigi putih dan rapat milik Osy terpajang disana, membuat orang iri dibuatnya. Tapi, bukan itu intinya.


"Baiklah, saya akan lanjutkan. Saya sampai mana tadi? Oh iya, sampah," ucap Osy yang melakukan tanya jawab kepada dirinya sendiri. Alex memutar bola matanya saat melihat tingkah konyol bawahannya yang satu itu.


"Dia kagum pada kekuatan anda, tidak lebih," lanjutnya.


"Bukankah kagum juga termasuk dalam dia terpikat karenaku karena kharismaku?" Tanya Alex.


"Beda cerita dong. Tapi, mungkin ada kemungkinan sepersekian persen saja," jawab Osy.


"Makanya Kharisma anda tidak kurang dari 50%,karena masih fifty fifty antara mereka benar-benar terpikat dengan anda atau tidak," lanjutnya.


Pantas saja tidak ada wanita yang tertarik padaku. Aku yakin, ini semua karena ramalan waktu itu. Tapi, bukankah itu lebih baik? Jadi, aku tidak perlu pusing memikirkan masalah wanita,~Batin Alex.


Tunggu, bagaimana dengan Lunora, gadis yang telah kurenggut masa depannya itu?~Batin Alex.


"Osy, kau melupakan sesuatu."


"Apa itu ketua?" Tanya Osy.


"Lunora. Bagaimana dengan dia?" Tanya Alex balik.


"Hummm. Sepertinya, dia paling tulus."


"Lalu, apa kesimpulannya? Jangan berputar-putar. Beritahu aku caranya bagaimana aku bisa menjadi lebih kuat."


"Kesimpulan yang didapat adalah untuk menjadi seorang ketua, anda masih dapat dikatakan sebagai seorang SAMPAH!" Ucap Osy.


"Jika anda ingin membuka hadiah selanjutnya, anda harus meningkatkan level sistem dengan cara penyelesaian misi."


"Haih. Sudah episode ke enam puluh enam ini dan aku bahkan belum bisa menggunakan fitur apapun dari sistemku sendiri? Ahh sudahlah. Lagipula, aku butuh bisnis itu," ucap Alex.


...*...*...


Tiga puluh menit kemudian...


Alex telah kembali menuju lapangan dengan pakaian yang berbeda. Kini dia nampak keren dengan jaket bewarna abu-abu yang sangat mendukung wajahnya. Tak lupa, dia menyediakan penutup telinga sebelum masuk ke sesi menembak, tentu saja dia tidak selamanya menggunakannya.


"Sudah datang juga kau akhirnya. Tch, benar-benar pria yang tepat waktu." Michael menjulurkan tangannya dalam keadaan mengepal. Alex menubrukkan tangannya dengan posisi yang sama.


"Terimakasih atas pujian anda. Mari kita lakukan. Sudah malam dan saya sudah mulai mengantuk," ucap Alex.


"Tidak ada yang akan percaya ucapanmu itu. Tapi, memang salah satu sifat mafia adalah pendusta. Tidak ada diantara kita yang tidak pernah berbohong. Bahkan, kau menjual racun ini pasti dengan sedikit bumbu,bukan?"


Alex mengisi peluru dari pistol yang ada di tangannya, "Benar. Bukan hanya orang di dunia gelap saja yang melakukannya, namun semua orang yang berbisnis akan melakukan hal demikian. Jika tidak, lalu apa gunanya presentasi? Kita harus pandai-pandainya melakukan promosi." Alex mengeker lurus ke depan. Semuanya telah siap.


"Baiklah, aku sudah siap." Alex menodongkan pistolnya tepat di kepala pria itu.


Dengan santai, Michael menepisnya pelan dengan tangannya. "HAHA. Aku suka tempramenmu yang begitu tenang."


"Ivan, apakah semuanya sudah siap?" Tanya Michael.


"Sudah tuan."


"Ivan, dia akan melepaskan beberapa objek bergerak ke udara. Terdapat balon sebagai benda mati dan burung elang yang terbang begitu gesit sebagai objek hidup. Jika kamu bisa mengenai lima saja dari masing-masing objek, maka aku akan mengakui kehebatanmu. Tapi ingat, saat menembak burung, kau harus fokus padanya dan saat kau menembak balon, maka fokus pada balon. Saat kau harus menembak keduanya, kau harus fokus keduanya. Sekarang, aku akan mencontohkan kepadamu," ucap Michael.


"Baiklah. Aku akan melihatnya," tukas Alex.


Pria itu memulai aksinya. Alex pun terpesona dibuatnya. Pria yang bahkan hampir berkepala enam itu, masih terlihat begitu mengagumkan.


Dorr... dorrr... dorrr...


Pria itu berhasil menembakinya satu persatu. Sayangnya, ada beberapa peluru yang terbuang sia-sia. Artinya, dari sekitar sepuluh peluru, terdapat satu peluru yang tidak tepat sasaran. Alex menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya, aku berekspektasi begitu tinggi. Tapi, untuk seusianya, dia memang hebat. Bahkan penglihatannya pun masih begitu tajam, begitu akurat. Aku akui memang tidak ada orang yang bisa menembak full tanpa ada satu nihilpun," gumam Alex.


Pria itu telah selesai dengan aksinya. Memang, umur tak dapat dibohongi. Kini pria itu nampak terengah-engah. Dia sudah mulai nampak kelelahan.


"Huh. Memang umur tidak dapat dibohongi. Aku bahkan sudah kelelahan hanya untuk dua babak saja," ucapnya pada Alex.


"Paman begitu hebat. Paman beristirahatlah dulu. Lihatlah kemampuanku dan kupikir, tanpa harus melanjutkan hingga babak selanjutnya, paman akan begitu puas," timpal Alex begitu yakin.


"We will see," sahutnya.


Alex bersiap sekarang. Pria berjaket abu-abu dengan kulit putih eropa itu berdiri tepat di tempat Michael tadi melakukan aksinya.


"Pak tua, lihatlah aksiku!" Seru Alex dari kejauhan.


"Hummm, mulailah," ucap Michael begitu santai.