
Alex telah bersiap dengan senjatanya. Dia memutuskan untuk pergi ke markas Steve hari ini dan sendirian. Pria itu dengan sigap keluar tanpa memberitahukan kepada siapapun tentang kepergiannya.
Ayah, aku berjanji, aku akan membuatnya merasakan hal yang pantas ia rasakan. Maafkan aku yang telah lalai,~Batin Alex.
Pagi-pagi buta, Alex telah pergi meninggalkan rumahnya dengan mobil kesayangannya. Dia masih teringat dengan jelas helikopter yang waktu itu diparkir di markas yang dibangun Ayahnya.
"Tuan muda, mau kemana anda? Mengapa nampak buru-buru?" Tanya Louis yang terbangun akibat mobil milik Alex.
Alex hanya terdiam dan tidak menjawabnya. Dia langsung turun dari mobil dan memindahkan beberapa barangnya menuju helikopter tersebut. Dia menduga jika markas besar Steve berada di sekitar pegunungan Karpatia. Pegunungan dengan sejuta keindahan dan banyaknya tebing disana. Tak ada yang menyangka, dataran tinggi yang curam itu ternyata terdapat markas besar milik Steve. Entah sebenarnya siapakah Steve, Alex masih tidak mengerti jelas tentangnya.
Alex masih mengingat dengan jelas setiap bagian dan lokasi yang ditunjukkan dalam video kala itu. Dia yang sekarang menjadi lebih pintar dan teliti, dia tidak menginginkan untuk melakukan kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya.
...*...*...
Setelah terbang beberapa saat, Alex pun akhirnya mendaratkan helikopternya di sekitar markas tersebut. Alex melihat ke arah sekitar dan akhirnya dia mendapatkan tempat yang tepat untuk melaksanakan aksinya.
"Apakah Sistem tidak dapat memberiku apapun saat awal sebelum aku menyelesaikan tugas ini?" Tanya Alex kepada sistem yang berada di tangannya.
"Saya sudah menjelaskan kepada tuan. Jika tuan menginginkan sesuatu, maka kami akan memotong masa hidup tuan. Tapi, tuan dapat mendapatkan masa hidup anda kembali atau menambahnya setelah misi selesai," jawab pria dalam sistem.
"Tch, sialan. Jika bukan karena kalian yang menyelamatkanku, aku sudah membuang jam tangan butut ini. Benar-benar tidak berguna," ucap Alex geram.
Alex memutuskan untuk masih menggunakan usahanya semaksimal tenaganya. Tentu saja, dia masih menyayangi nyawanya.
Beberapa saat kemudian...
Setelah bersiap, Alex melakukan pengintaian di sekitar markas. Nampak jelas disana ada beberapa pasukan yang sedang berjaga. Dia hanya ingin memastikan bahwa dia menyusup dengan aman dan tidak ketahuan.
"Banyak sekali... Jika aku nekad, jelas saja aku akan mati mengenaskan disana," gumam Alex.
Alex mulai mengeker seorang prajurit dari kejauhan, tepat pada kepalanya. Setelah segala perhitungan ia lakukan, setelah semua ilmu kemiliteran dari Ayahnya dan Paman Louis ia terapkan, ia pun mulai menarik pelatuknya.
Cusss...
Peluru tersebut ditembakkan tanpa suara, melesat dengan sangat kencang dan tepat sasaran. Alex berhasil melakukannya. Dalam satu peluru, Alex dapat membunuh pria itu dengan sempurna. Begitu cepat dan akurat, bahkan seumur hidup Russel belajar pun tidak akan mampu melakukannya.
Mereka semua nampak panik saat tiba-tiba teman mereka tergetak dengan kepala yang berlumuran darah.
"SIAPA DISANA?!" pekik seorang pria disana yang masih dapat di dengar Alex. Suara itu menggema.
Namun, Alex berusaha untuk tidak menampakkan dirinya, bahkan sorot lampu dari pistolnya pun tidak. Tidak ada jejak apapun disana. Pria itu mulai nampak waspada.
Jika aku menunda lagi, mereka akan datang semakin banyak. Aku harus memikirkan cara untuk membunuh mereka secara akurat tanpa membuang banyak peluru,~Batin Alex.
Namun, sebelum mereka memanggil keluar semua orang, sebelum keberadaan Alex mulai terungkap, pria itu sudah mulai penyerangannya beberapa kali disana. Semua targetnya tepat sasaran. Tak ada satupun yang meleset ataupun tidak mengenai mereka. Alex benar-benar hebat dalam menembak.
"Haha. Aku tidak menyangka jika menembak akan semudah ini. Saatnya aku turun sebelum mereka menyadarinya." Alex mulai meluncur turun tanpa pengaman. Pria itu benar-benar seseorang yang nekad, tak memedulikan keselamatannya. Dia dengan lincah dan tangkasnya memijakkan kakinya ke area yang lebih rendah. Hanya butuh waktu tidak sampai sepuluh menit untuknya turun dari ketinggian 30 meter di atas sana.
"Huftt. Aku tidak menyangka, turun gunung pun akan begitu melelahkan," gumam Alex.
"Tom, Jerry, kemana kalian?!" Teriak seseorang dari dalam markas.
Gawat. Seseorang tengah perjalanan menuju kemari. Aku harus cepat-cepat mengurusi mayat mereka,~Batin Alex.
Alex buru-buru menanggalkan pakaian salah satu dari mereka. Tak lupa pula dia melemparkan mayat beberapa orang tersebut ke jurang yang dalam disana.
Seorang pria tinggi besar berkulit sedikit lebih gelap pun nampak keluar dari dalam markas. Alex sedikit menghela nafas lega, walau dia masih sangat ketakutan.
Apakah aku akan ketahuan kali ini?~Batin Alex yang sudah ketakutan setengah mati.
Tidak, tidak mungkin dalam sebuah geng tidak ada perekrutan member baru,bukan? Apalagi jika geng sebesar ini,~Lanjutnya dalam hati
"Perkenalkan tuan. Saya adalah Lenmark. Panggil saja saya Mark. Saya adalah anggota baru disini," Ucap Alex dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya.
Beruntung dia melihat jelas tanda pengenal pada diri pria yang telah dibunuhnya hari itu. Pria yang diduga merupakan komandan pasukan dalam geng ini pun memutari Alex beberapa kali, melihat tubuhnya, rupanya dan hal lainnya.
"Aku tidak mengingat wajahmu. Tapi, ya mungkin saja karena kamu anak baru. Kamu daritadi disini. Apakah ada melihat dua orang dengan tanda pengenal Jerry dan Tom?" Tanya pria itu.
"Izin menjawab, saya tadi mendengar suara tembakan." Alex menunduk dan mengambil peluru yang berada tepat di bawah kakinya. "Ini buktinya." Alex menyerahkan peluru tersebut kepada pria dihadapannya.
"Jika tidak salah memprediksi, seharusnya mereka mengejar seseorang yang sudah menembakkan peluru tersebut," ucap Alex dengan tenang.
"Baiklah, kamu masuklah ke dalam dan minta pria letnan Xavier untuk berjaga disini. Sedangkan kamu, seharusnya sekarang adalah waktunya untukmu berlatih," ucap pria itu.
"Siap laksanakan!" Seru Alex.
Pria itu berlari menuju lapangan yang dirancang khusus untuk menerbangkan helikopter mereka. Sedangkan Alex, pria itu langsung pergi menuju dalam markas mereka dan menuju ke ruang utama dimana Steve biasanya berada.
"Hai kamu!" Panggil seseorang yang berhasil membuat Alex terpelonjak.
"Ahh iya. Ada apa tuan?" Tanya Alex.
"Le...Lenmark. ya, untuk apa kamu kemari?" Tanya pria itu.
Bau alkohol? Apakah dia sedang mabuk?~Batin Alex.
"Uhm. Hanya berjaga saja. Omong-omong, bos ada tidak di dalam?" Tanya Alex.
Aku tidak menyangka, ternyata markas sebesar ini, tentaranya pun tidak niat. Ga salah jika penjagaannya tidak ketat. Tentaranya saja pada suka mabuk. Btw, mereka memanggil Paman Steve dengan sebutan bos, bukan?~Batin Alex.
"Bos sedang ada keperluan katanya hari ini di kediamannya. Mungkin akan kembali sore nanti. Ada apa sih bro?" Tanya pria itu sambil merangkul Alex dari samping.
Ughhh. Aku paling benci aroma ini,~Batin Alex.
"Gapapa. Hanya saja, aku hanya ingin melaporkan sesuatu. Terimakasih ya sobat," ucap Alex sok akrab.
"Yoi choi. Btw, lu ga mau ikutan? Mumpung bos Steve tidak kemari dan komandan sedang sibuk."
Alex menggelengkan kepalanya. " Aku sedang tidak ingin minum. Hari ini aku ingin pulang dan istriku membenci alkohol."
Pria itu mengangguk." Baiklah sobat, hati-hati ya nanti pulangnya. Jangan laporkan jika aku mabok ke bos Steve atau komandan ya."
Pria itu pergi dengan sempoyongan. Alex menilik ke sekitar lokasi, memastikan bila keadaannya benar-benar aman saat ini.
"Baiklah. Sepertinya sudah aman, aku harus segera mengambil semua bukti yang bisa aku ambil sebelum seseorang menyadarinya," gumam Alex.
Alex mengendap-endap ke dalam ruangan milik Steve. Begitu banyak barang disana. Namun, hanya ada satu laptop dan satu layar besar di depannya. Layar yang kala itu ia lihat di sistem saat dirinya tersadar setelah jatuh dari jurang.
"Seharusnya, laptop ini adalah kunci dari segalanya."
Alex mulai mendekat ke arah laptop tersebut dan mulai mengecek semua yang ada disana. Namun, belum sempat ia menemukan bukti, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.