
"Paman Louis dan Nero, kalian ikutlah aku untuk mencari keberadaan bom tersebut. Untuk Paman Jack yang lainnya, segera cari pelaku penanaman Bom. Hal ini memang masih belum pasti dan hanya dugaanku semata, namun aku dapat menjamin hal ini benar adanya," lanjutnya.
Semua orang berpencar sesuai tugas mereka. Wakil komandan bertugas sebagai orang yang akan membujuk pihak mall untuk mengeksekusi seluruh pelanggan mall dengan segera. Sedangkan Alex dan yang lainnya bertugas sesuai dengan yang diinstruksikan dengannya.
"Paman, apakah disini dulu pernah ada pengeboman atau terorisme?" Tanya Alex.
"Bagaimana komandan tahu itu?" Tanya Louis setengah terkejut.
"Ya. Saat aku masuk ke dalam mall tadi, seluruh satpam memeriksa orang-orang yang datang. Terlebih lagi orang-orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Aku menebak pasti ada hal terjadi sebelumnya."
"Itu benar adanya. Sekitar sembilan bulan lalu, ketika kita berada di negara M, aku mendapatkan informasi dari rekan seperjuangan di group angkatan militer bila sebuah bom dipasangkan di mall ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka begitu cepat membangunnya. Namun, aku menyadari bila hari ini adalah hari pertama kali mall di buka setelah kejadian hari itu," jawab Louis.
"Sudah kuduga. Lalu, apakah ada korban?" Tanya Alex lebih lanjut.
"Ada. Sekitar Tiga puluh tujuh meninggal dunia dan ada ratusan korban luka parah dan ratusan lainnya hanya terluka ringan. Kebetulan sekali saat itu adalah waktu dimana mall sedang kondisi ramai. Tidak berbeda jauh dari sekarang," jawab Louis.
"Baiklah. Aku mengerti."
Huftt, setidaknya mereka bukan orang yang diutus oleh Paman Steve. Aku masih belum dapat menyimpulkan bagaimana bisa pria itu kabur dari tanganku begitu mudah?~Batin Alex.
...*...*...
Alex mulai melakukan pencariannya di ruang bawah tanah mall tersebut. Ruang bawah tanah Golden Terrace Mall terdiri dari garasi yang begitu besar dan luas, area pengontrol, dll. Alex ingat jika sebuah hadiah yang diberikan sistem untuknya, akan sangat membantu jika digunakan.
"Osy, nyalakan Demon Eyes milikku!" titah Alex dalam gumamannya.
Perintah diterima. Dimohon untuk Blue Shadow memejamkan matanya sejenak!
Tingg!!!
Haha. Baru pertama kali ini aku mendengarkan suara sistemku sendiri. Baiklah, aku ingin lihat hadiah ini berguna atau tidak untukku,~Batin Alex.
Osy mulai nampak sibuk dengan layar komputer besar di hadapannya. Pria itu mulai mengaktifkan demon eyes yang diyakini dapat memprediksi keberadaan sesuatu secara otomatis.
Sudah selesai
Pengaktifan itu akhirnya telah usai. Alex mulai membuka matanya dan mengerjapkannya berkali-kali. Hal pertama yang dia lihat adalah beberapa hal yang tertanam disana dan beberapa hal tersebut sanggup membuatnya terkejut bukan kepalang.
"Apa itu? Apakah itu... bayi?" Gumam Alex.
"Kejamnya. Aku akan mengusut tuntas hal itu. Namun sekarang, mencari bom tersebut jauh lebih penting," lanjut Alex dalam gumamannya.
Alex mulai mengelilingi seisi garasi, namun dia tak menemukan apapun disana. Satu hal yang belum dia kunjungi adalah ruang pengontrol yang ada di ujung garasi.
"Lapor ketua, kami masih belum menemukan keberadaan bom tersebut," ucap Nero.
"Tidak perlu mencari lagi. Bom tersebut tidak akan ditemukan jika kalian terus berada disini," ucap Alex.
Alex pergi meninggalkan mereka tanpa memberitahukan posisi pastinya bom tersebut. Pria itu langsung menuju ke arah area kontrol yang berada di pojok garasi.
"Kamu buka disana. Aku yakin pasti disana," ucap Alex sembari menunjuk ke arah area pengontrol.
Nero yang sudah terbiasa dengan bom pun melangkah masuk ke dalam. Dia mencari-cari keberadaannya. Tak lupa pula ia menggali hingga sesuatu menyangkut pada sekrupnya.
Bom telah ditemukan. Nero secepatnya mengambil bom tersebut untuk dijinakkan bersama-sama.
"Ketua!" Seru Nero memanggil Alex.
Perhatian Alex kini berubah menuju ke arah Nero
"Tidak bisa diangkat. Sepertinya ini memang sengaja di tanam dan..." Nero menghela nafasnya. Tangannya bergetar lumayan kencang, terlebih lagi setelah melihat waktunya yang semakin dekat.
"Dan apa?"
"Waktunya ketua. Waktunya hanya tinggal lima menit," ucap Nero yang sontak membuat Alex terpelonjak.
Pria itu melompati pembatas di depannya dengan segera, "Menyingkirlah!"
Alex begitu terburu-buru. Tubuhnya mulai berkeringat, wajahnya pun sudah basah kuyup akibat keringatnya. Tak lupa pula dia melepaskan jaketnya, tinggallah sebuah kaos tipis yang mampu mengekspose tubuhnya. Dari kejauhan, seorang wanita nampak sedang mengawasi dirinya. Wanita yang sudah mengincar Alex sejak kepergiannya ke negara G. Siapa lagi kalau bukan Lisa.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah Demon Eyes ini benar-benar bisa membantu?~Batin Alex.
"Cobalah saja,ketua," ucap Osy yang tiba-tiba muncul disampingnya.
Alex menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya. Dia berdoa kepada sang maha kuasa agar diberikan kelancaran.
"Baiklah, aku akan memulainya. Kalian berjaga jika seseorang mendekat. Jangan sampai terluka!" Titah Alex.
"Yes, sir."
Alex mulai mencari sebuah alat untuk memotong kabel, apapun itu. Dia mulai memelajari sejenak kabel-kabel tersebut sebelum mengeluarkan energi dari Demon Eyes.
Sebuah cahaya bewarna keemasan keluar dari matanya. Untung saja, Nero dan yang lainnya sudah ia larang untuk mendekat. Beberapa tulisan analisa muncul dari sana begitu pula dengan step by step yang muncul sebagai arahan. Alex dapat mengatakannya sebagai salah satu maps tercanggih di dunia.
Sesuai dengan petunjuk, Alex mulai mengarahkan tujuannya pada kedua kabel di depannya, merah dan hijau.
"Memotong bersamaan dan tidak boleh selisih barang satu detikpun? Sial! Kenapa begitu susah?" Gumam Alex.
Mulut Alex mulai komat-kamit, antara berdoa dan mengumpat. Dia tak tahu bagaimana bisa melakukannya secara bersamaan tanpa ada yang salah satu terpotong terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, Alex mulai meyakinkan dirinya sendiri dan menghela nafas dengan panjang. Waktu disana tertera tinggal satu menit lagi. Bagaimana tidak semakin ketar-ketir dirinya, sedangkan masih ada sekitar tujuh hingga delapan step di dalam benaknya.
"Ayo, Alex! Cepatlah!" Seru Alex menyemangati diri sendiri.
Dengan hati setengah yakin dan tangan gemetar, tentu saja dengan mata yang setengah tertutup dan refleks tubuh yang menjauh dari bom tersebut, Alex memulai memotong kabelnya secara bersamaan.
Lappp...
Step pertama telah dilakukan. Namun, reaksi setelah memotong kedua kabel tersebut membuat Alex meyakini bila di mall itu tidak hanya sebuah bom berada disana,namun masih ada banyak lainnya. Beruntung yang ditemukan oleh Alex adalah pemicunya.
Kini, Alex melakukan ke step selanjutnya. Dia pun mulai mengeksekusi satu persatu kabel itu dengan tenang sebelum pada akhirnya dapat mengeluarkannya dari sana.
Beberapa saat kemudian...
Swoshhh...
Waktu pada bom tersebut sudah berhenti dan Alex benar-benar melakukan semuanya tepat waktu. Louis, Nero dan yang lainnya bersorak sorai bahagia setelah Alex keluar dengan membawa benda yang diyakini bom oleh mereka.