
Aron melirik ke arah belakang mereka, namun Alex dengan sigap menyuruhnya untuk tidak membalikkan badan. "Paman, jika paman berbalik badan, maka rencanaku untuk menariknya kemari akan gagal."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan,tuan?" Tanya Aron.
"Ikutilah langkahku. Paman masih mengingat apa yang aku ajarkan,bukan?" Tanya Alex.
Aron mengangguk. Alex dan dirinya melompat dari satu gedung ke gedung lainnya, menaiki tong sampah dan apapun yang bisa mereka panjat. Alex dan Aron menggunakan ilmu peringan tubuh yang entah darimana Alex dapatkan. Namun, langkah mereka menjadi semakin cepat dan cekatan pula dalam memanjat.
"Kita lihat mereka kebingungan. Aku suka memainkan mereka," ucap Alex.
Hal tersebut tentu saja berguna. Beberapa pria itu nampak kebingungan saat kehilangan jejak kedua pria yang dicarinya.
"Tch, mereka larinya cepat sekali. Seharusnya, aku melukai mereka diam-diam terlebih dahulu tadi," gumam salah satu diantara mereka.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Tentu saja mencari mereka sampai dapat. Menurutmu, apakah tuan Steve akan mengampuni kita jika kita gagal?"
Salah satu dari mereka menggeleng untuk merespon pertanyaan dari temannya. Tiba-tiba sebuah batu ditimpuk ke arah mereka, tepat pada kepala mereka hingga menyebabkan kebocoran di area kening salah satu dari mereka.
"Z-black, apakah kau baik-baik saja?" Tanya seorang temannya.
Pria yang diberikan kode nama Z-Black oleh ketua mereka itu pun akhirnya tumbang saat darah tak kunjung berhenti dari keningnya.
"Sial! Keluar kamu! Tunjukkan wajahmu jika berani!" Pekik pria itu penuh emosi.
Alex terbang ke bawah layaknya seorang kultivator dari negeri tirai bambu. Aron masih tertinggal di depan sana. Aron bahkan heran sejak kapan tuannya itu turun, mengapa dia bahkan tak mampu menangkap bayang-bayangnya dengan dua bola matanya.
"Tidak perlu berteriak. Tidak ada orang disini selain kita," ucap Alex begitu arogan.
Beberapa pria itu nampak kesal juga senang. Mereka tak perlu repot-repot mencari keberadaan Alex sekarang.
"Hahaha. Sobat, kita beruntung."
"Kita tidak perlu mencarinya, namun sekarang dia sudah muncul."
"Tidak usah banyak bac*t. Serang aku segera!" Seru Alex.
"Dasar pria tidak tahu diri! Guys. Serang!" Titah pria itu.
Mereka menyerang Alex secara bersamaan dengan percaya dirinya. Alex pun juga begitu. Dengan tangan kosong, dia menerima serangan mereka begitu saja. Alex pun menang telak setelah melumpuhkan beberapa dari mereka. Alex menyadari satu hal, dibawah lidah mereka, tersimpan sebuah pil yang dapat meracuni mereka dan dapat membuat mereka mati dalam sekejap.
"Paman, Pegang dagu mereka! Mereka menyimpan pil bunuh diri di dalam mulutnya!" Teriak Alex dengan cepat.
Alex tahu Aron masih belum segesit dirinya. Dia mempersiapkan tiga buah jarum perak yang selalu dia bawa-bawa, tiga jarum yang pernah ia keluarkan beberapa hari yang lalu untuk mematikan syaraf Aron, Jack dan Louis dalam percobaan pertamanya.
Aron melesat secepat mungkin, namun itu tidak akan lebih cepat dari kemampuan Alex dalam melempar jarum dengan sempurna. Alex bukanlah ahli ramuan, namun sedikit banyak dia telah belajar titik meridian yang dapat mematikan syaraf seseorang sementara.
Sial! Kenapa aku tidak bisa bergerak?~Batin salah seorang dari pasukan jubah hitam.
Alex maju perlahan. Aura mendominasi ala king mafia telah terukir jelas di dirinya. Pria itu bahkan tidak bisa hanya sekadar meneguk ludahnya.
"Katakan, apa paman Steve yang mengutus kalian?" Tanya Alex.
Aron melirik ke arah Alex dengan tatapan yang juga ketakutan. Sedangkan Alex, pria itu mencabut sebuah jarum dari tenggorokan pria yang ada di tangannya. Sontak, pria itu menjerit kesakitan.
"Tidak! Walau aku mati, aku tidak akan berkhianat dari tuan!" Tegas pria itu.
Bagaimana pria ini bisa tahu? ~Batin X-black.
"Jangan lupa aku adalah anak dari panglima tertinggi negara P," ucap Alex seakan dapat membaca isi hatinya.
"Kau tidak perlu menjawab apapun. Sayangnya, kau masih berguna untukku." Alex menyeringai jahat kepada pria di hadapannya. Dia mulai mengeluarkan belati kecil baru miliknya, seolah pamer kepada mereka semua.
"Kau dan rekan-rekanmu seharusnya beruntung dapat merasakan ketajaman dari belati yang ada di tanganku," bisik Alex membuat pria di tangannya itu merinding ketakutan.
Jiwa psikopat Alex kembali muncul. Entah ini adalah berkah atau malah musibah, yang jelas Alex memang sudah tidak baik-baik saja. Alex mulai menodongkan belati tersebut ke leher pria itu.
"A-apa yang ingin kamu lakukan? Kau pikir aku takut?" Tanya pria itu terbata-bata.
"Lihat saja, ketuaku tidak akan tinggal diam jika kau terus menerus menyinggungnya," lanjutnya mengancam Alex.
Brakkk... Klakkk...
Alex menendang kepala pria itu hingga tulang lehernya patah. Suara tersebut nyaring terdengar hingga membuat Aron memejamkan matanya tak tahan melihatnya.
"Darimana kamu mendapatkan keberanian untuk mengancamku?" Tanya Alex.
"Buka mulutmu!" Titah Alex.
"Tidak! Siapa kamu? Kenapa aku harus..."
Krakkk...
Alex memutar kepala pria itu hingga berbunyi untuk yang kedua kalinya. Dia tentu saja tidak memutarnya hingga membahayakan nyawa pria itu. Dia masih ingin menyiksanya sedikit lebih lama.
"Masih berani berkata lagi?" Tanya Alex.
Pria itu menggertakkan giginya, namun dia terbungkam tanpa kata. Dia memang diajarkan bagaimana caranya untuk menjadi prajurit berani mati, namun seumur hidupnya, dia tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menghadapi rasa sakit.
Alex memulai aksinya. Pria yang kini tumbuh menjadi pria yang kejam itu memberikan efek jerah terutama pada kondisi mental semua orang yang melihatnya, tidak terkecuali dengan Aron. Pria di tangannya itu mengerang dan menjerit kesakitan, namun Alex malah menikmatinya.
"Arghhh! Lebih baik kau bunuh saja aku!" Teriak pria itu di tepi gang berharap seseorang mendengar mereka.
Alex menendang pria itu hingga tersungkur ke tanah. Dia menarik kepalanya,namun menekan badan pria itu dengan kakinya. Sungguh sakit yang luar biasa ia rasakan. Itulah definisi hidup tidak lebih baik daripada mati.
"Membunuhmu? Enak saja. Tidak, kau harus merasakan sakitnya menjadi aku," ucap Alex.
"Kau harus lebih menderita daripada aku. Siapa suruh kamu membela orang yang sudah membunuh ayahku," bisiknya.
Alex mengangkat kedua tangannya dan beberapa orang bahkan sudah berada disana. Dengan sigap, Alex menyuruh mereka membawa pergi ke tempat yang telah dia persiapkan. Aron terheran-heran, sejak kapan tuannya itu menjadi kejam, terlebih lagi sejak kapan tuannya mempersiapkan sebuah tempat untuk menangkap mereka semua.
"Tuan muda, untuk apa anda menangkap mereka?" Tanya Aron.
"Tentu saja untuk menyiksa mereka. Tujuanku adalah memancing Paman Steve dan pimpinannya keluar dari sarangnya. Aku ingin tahu apa yang telah mereka rencanakan dan apa yang membuat bos besar tersebut memilih untuk menyelamatkan Paman Steve dan menentangku," jawab Alex.
"Saya mungkin mengerti maksud anda. Lalu, apakah kita jadi ke kedai untuk membeli makan?" Tanya Aron.
"Boleh."
Mereka pun memutuskan untuk makan di restoran seperti tujuan utama mereka.