
"Jessica dan Verrel, Lex. Mereka..."
"Mereka kenapa? Sesuatu terjadi pada Jessica dan Verrel?" Raut wajah Alex telah menggambarkan kepanikan dirinya.
"Mereka diculik,lex. Nathania, teman sekelas kamu datang kemari dan memberitahukannya pada mama," jawab Athena.
"Apa?!" Pekik Alex.
"Berikan ponsel mama kepadanya!" Titah Alex.
"Halo,Lex."
"Nia, coba ceritakan apa yang terjadi dan siapa yang menculik Mereka?" Tanya Alex tanpa basa basi.
"Aku juga tidak terlalu paham. Mereka sedang berdua tadi. Mereka nampak sedang bernyanyi bersama. Tiba-tiba beberapa orang berjubah hitam datang dan menangkap mereka. Aku memergokinya, namun tenagaku tidak lebih kuat dibandingkan mereka. Jadi, aku langsung datang mencarimu," jawab Nathania.
Aku hampir lupa jika Nathania tidak kenal dengan orang tua Verrel. Orang tua Jessica pun posisinya juga di luar negeri. Bahkan lebih jauh dibandingkan dengan keberadaanku saat ini,~Batin Alex.
"Baiklah. Terimakasih informasinya."
Alex mengakhiri teleponnya dan bergegas mempersiapkan barangnya.
...*...*...
Beberapa saat kemudian...
Alex mulai memanggili semua orang yang ada disana. Dengan heboh, mereka berkumpul dengan sekejab.
"Ketua, Tuan muda, Kenapa anda ingin pergi?" Tanya Aron dan Nero bersamaan.
"Paman Aron, Nero, Teman Alex yang waktu itu diculik. Alex menduga pasti ini perbuatan paman Steve," ucap Alex.
"Apa? Apakah itu nona Jessica dan Tuan Muda Verrel?" Tanya Aron.
Alex mengangguk, "kita berangkat sekarang. Aku sudah memesan tiket untukku, Paman Aron dan Nero."
"Lalu, bagaimana dengan mereka?" Tanya Aron sambil menunjuk Resca dan yang lainnya.
"Uhmm..." Alex berpikir untuk sesaat. Dia pun melirik ke arah Resca disana, dia bingung harus menjawab apa.
"Kami akan menyusul,Tuan Aron. Ketua menyuruh kami untuk masih tetap tinggal," ucap Resca beralasan.
Cerdas! Mereka benar-benar seperti bintang yang jatuh untukku,~Batin Alex.
"Baiklah, sudah diputuskan. Paman Aron dan Nero bergegaslah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Jessica dan Verrel. Resca, siapkan mobil!" Titah Alex.
"Baik, ketua!"
...*...*...
Nero dan Aron telah menyusul Alex di depan. Mereka sesegera mungkin meletakkan barang mereka pada bagasi mobil, saat semuanya telah memasuki mobil, tiba-tiba Luna datang dan mencegah mereka.
"Alex, kamu mau kemana?" Tanya Luna sambil membawa dua buah rantang lumayan besar berisikan makanan.
"Aku akan kembali ke negaraku," jawab Alex.
"Ada apa?" Tanya Luna.
"Itu bukan urusanmu," jawab Alex sedikit membuat Luna terkejut.
"Oh baiklah. Aku hanya ingin memberikan ini untukmu. Aku berpikir bahwa kalian pasti belum makan. Jadi, aku membawakan sekalian untuk kalian," ucap Luna.
"Oh. Aku akan membawanya satu. Satunya lagi tinggalkan disini. Mereka akan tetap disini untuk beberapa hari," ucap Alex.
"Btw thanks and see you," Pamit Alex.
Alex walau dengan gengsinya yang begitu tinggi, pria itu diam-diam membuka rantang di tangannya. Aron selalu melihat gerak-geriknya. Dia mengerti Alex sangat ingin mengincipi makanan wanita itu, namun juga dia ingin mulai menjauhinya,karena rasa bersalah akibat kejadian malam itu.
Wow, harumnya. Aku jadi laper. Tapi...
Alex melirik ke arah Aron dan Nero. Mereka berdua sepertinya tengah asyik mengobrol tentang rencana ke depannya. Saat menurut Alex mereka telah lengah, Alex pun mengambil rantang paling bawah yang masih nampak kosong. Sepertinya, Wanita itu sengaja mengosonginya untuk berjaga-jaga, Alex dan yang lainnya kehabisan piring. Alex mulai makan dengan lahap. Tentu saja, dia mengambil semuanya dengan sendok, tidak membuat orang lain makan bekasnya.
Ughh...
Suara sendawa keluar dari mulutnya membuatnya malu setengah mati. Aron dan Nero langsung menoleh ke arahnya dan terkekeh pelan. Wajah Alex menjadi begitu merah dan salah tingkah.
"Tuan muda, jika anda suka, jangan gengsi-gengsi. Hati-hati dicomot pria lain lho," ucap Aron menggoda Alex.
"Cihh, siapa juga yang suka sama dia? Yang ada saya itu malah benci. Dia mirip sekali dengan Vieka," timpal Alex yang terlihat sekali dia sedang berbohong.
Sedangkan itu, disisi lain...
Jessica dan Verrel masih berada di tangan para pria itu. Mereka baru saja turun dari mobil box yang membawa mereka menuju sebuah pulau yang cukup ramai dan nampak banyak orang yang berlalu lalang disana. Namun, pulau tersebut biasanya hanya akan dihuni pada siang hari, maksimal sore, selebihnya mereka akan pulang dan pulau tersebut pun akan kembali sunyi.
"Uhmmm... uhmmm.." Jessica berusaha berteriak dalam keadaan mulut yang disumpal oleh kain.
Jessica terdiam sejenak dan berpikir bagaimana caranya untuk kabur. Saat dia melihat kesempatan, saat kaki pria itu berada di sekitarnya, Jessica menginjak kaki penjahat itu.
"Arghhh!"
Usahanya berhasil. Dia terlepas dari tangan penjahat itu dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan Verrel dari mereka. Kedua pria berjubah hitam itu kuwalahan menghadapi mereka, karena pada dasarnya Jessica dan Verrel sudah pandai seni bela diri sejak mereka masih duduk di bangku SD. Merekalah yang melindungi Alex selama ini sebelum segalanya berubah.
Sayangnya, mereka hanya bisa senang untuk sesaat. Dua orang lainnya datang dengan mengendap-endap dan memukul mereka hingga pingsan.
"Tch, tch, tch. Kedua bocah yang ceroboh dan bodoh ini, bahkan kalian tidak bisa mengalahkannya?" Tanya salah seorang pria yang baru saja datang membantu.
"Mereka terlihat bodoh, namun seni bela diri mereka begitu hebat. Jika bukan karena kalian menyerang diam-diam, aku bahkan yakin kalian bukanlah lawan mereka." Seseorang yang diketahui bernama O-Black berusaha berdiri setelah tersungkur begitu parah.
"Sudah, sudah. Itu semua tidak penting. Kita semua memiliki satu tujuan dan satu ketua, tidak seharusnya kita bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting. Kita bawa mereka," ucap O-Black.
...*...*...
Aula utama Kediaman Lachowicz...
Nathania masih tetap disana bersama dengan Athena setelah mereka berhasil menghubungi Alex. Kini, mereka dapat bernafas sedikit lega,karena Alex tidak mungkin tinggal diam.
"Terimakasih ya tante. Nathania pamit pulang dulu," pamit Nathania.
"Tidak perlu berterimakasih. Kamilah yang seharusnya berterimakasih padamu. Jika tidak, Alex akan semakin menggila dan akan semakin jarang pulang ke rumah akibat kedua sahabatnya tidak dapat diselamatkan. Omong-omong, jangan pulang dulu. Ini sudah waktunya makan malam, yuk kita makan bersama," ajak Athena.
"Apakah boleh?" Tanya Nathania.
"Jika tidak merepotkan, saya mau. Sekalian saya ingin bertanya-tanya resep kecantikan tante. Hehe."
"Hahaha. Boleh boleh."
Nathania dan Athena pun masuk ke ruang makan bersama dengan sedikit berbincang-bincang dan gelagak tawa yang terdengar nyaring, namun masih berwibawa.
Beberapa saat kemudian...
"Uhhh. Kenyang sekali. Terimakasih tante. Ga nyangka masakan di rumah Alex begitu nikmat. Bahkan lebih nikmat dibandingkan di rumahku," puji Nathania.
"Jika kamu suka, kamu bisa sering-sering main kesini."
"Baiklah. Terimakasih atas jamuan dan berbagai sarannya. Saya pamit pulang. Selamat malam," Pamit Nathania.
Nathania memasuki mobilnya dan melambaikan tangan ke Athena. Dia pergi begitu saja setelah berpamitan. Athena pun masuk ke dalam kediamannya lagi.