I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 26



"Apa kau tahu jika dia adalah harta kami? Kau begitu bodoh!" Umpat pria itu.


"Tidak usah banyak omong. Aku tidak ada waktu mengurusi kalian," ucap Alex.


Alex memulai penyerangannya dengan segera masih dengan pisau kecil kesayangannya. Sedangkan Aron mengenakan kedua senjata kesayangannya dan Nero mengenakan Shuriken bak ninja dari jepang.


Srakkk.. Swoshhh...


Alex mengenakan keahlian bertarung nya kali ini hingga pria itu tak mampu mengeluarkan satu pelurupun. Dia menendang pria itu tepat di bagian tangannya yang memegang pistol. Namun, seseorang tiba-tiba datang dari belakang untuk menyerang Alex.


"Ketua, hati-hati!" Ucap pria dalam sistem.


Lirikan Alex yang begitu mengerikan membuatnya tak mampu fokus untuk menyerangnya. Pria itu mengangkat pedangnya, namun Alex mampu menangkisnya dengan sempurna.


Pranggg...


Pedang itu terjatuh. Mereka kini polos tanpa senjata. Tentu saja, semua tidak sesederhana kelihatannya. Jika tidak, bagaimana mungkin bisa mereka membanggakan diri mereka sebagai salah satu geng yang ditakuti di dunia.


Mereka saling melirik dan menyerang Alex bersamaan. Alex menangkis tendangan keduanya dengan tangan, menangkap tangan mereka berdua dengan sempurna dan memelintir keduanya di waktu yang sama.


Krakkk...


"Arghhh!!!" Pekik mereka berdua begitu kompak.


Brakkk...


Alex menendang mereka sangat kuat hingga kepala mereka bocor, mengeluarkan banyak darah setelah menatap dinding di depan begitu keras.


"Apa? Dia seorang diri mampu melawan kedua tuan pasukan elite geng kita? Tidak bisa dibiarkan!" Seseorang tercengang hingga kesal. Sebuah rencana pun telah dipersiapkan.


"Semuanya, Serang!" Titah pria itu kepada para anak buahnya.


Beberapa pria berbadan besar, mungkin berjumlah sekitar dua puluhan, mengepung Alex, Aron dan Nero. Alex dan yang lainnya tidak gentar dengan apapun yang terjadi di hadapan mereka. Semua orang maju bersamaan membuat Alex dan yang lainnya harus memutar otak. Jika tidak, mereka akan kalah dengan sangat mengenaskan.


Heh, mumpung mereka sibuk, aku akan menyuruh pria itu untuk menyerang bocah tengik itu,~Batin Pria berbadan kekar itu.


Alex dan yang lainnya sudah berhasil menumpas sebagian orang yang berada disana. Pria berbadan kekar yang mengutus mereka, mengambil handy talkie untuk menghubungi seseorang disana. Seseorang yang masih belum pasti siapakah itu.


"Halo, segeralah kemari," ucap pria itu.


Beberapa saat kemudian...


Beberapa orang berbadan tinggi besar dan terlihat sangat brutal datang untuk membantu musuh. Alex dan yang lainnya berhenti sejenak untuk melihat siapa yang datang. Samar terasa oleh Aron aura pembunuh yang sangat kental diantara mereka. Sudah dapat ia pastikan jika orang-orang itu telah membunuh lebih dari ribuan jiwa manusia.


"Tuan muda, berhati-hatilah. Orang-orang itu setidaknya sudah membunuh lebih dari sepuluh ribu orang dalam hidup mereka," bisik Aron.


"Apa? Sebanyak itu?" Tanya Alex terkejut.


Aron menanggapinya dengan anggukan. Mereka pun mulai mengatur formasi mereka sesuai dengan arahan Alex. Mereka benar-benar bingung saat ini.


"Ketua, apakah anda yakin kita dapat menang?" Tanya Nero.


"Tentu saja, tidak. Tapi, aku kan masih punya kuasa untuk memanggil anak buahku,bukan?"


...*...*...


Disisi lain...


Sudah beberapa hari ini Jessica dan Verrel tidak bersama dengan Alex. Sepi rasanya jika dibayangkan. Walau Alex sedikit berbicara, namun tanpa hadirnya pun dunia mereka berdua terasa hampa. Kini Jessica dan Verrel termenung pada sebuah bukit tinggi di sekitar rumah Alex, tempat dimana Alex didorong oleh Vieka kala itu.


"Huftt, ga enak banget ga ada Alex. Ya walau dia pendiem banget anaknya, tapi dia juga yang selalu ada di tengah kita. Dia lagu ngapain ya sekarang?" Keluh Jessica.


"Mungkin dia sekarang sedang makan, mandi atau melakukan misi lainnya. Kata paman Louis, Alex dan Paman Aron kesana juga ada misi bukan untuk bersenang-senang," timpal Verrel.


"Menyebalkan! Dia berubah setelah kematian ayahnya. Tch, semua ini gara-gara cewek kegatelan itu!" Umpat Jessica.


"Sttt. Ga boleh ngomong jelek tentang orang yang sudah ga ada. Kualat tau," ucap Verrel.


"Kau benar juga. Baiklah, kita tunggu Alex hingga dia kembali."


...*...*...


Alex, Nero, Aron dan beberapa pasukan bawahan Alex yang baru saja ia panggil nampak telah kuwalahan menghadapi mereka berlima. Bahkan, beberapa pasukan Alex pun terpaksa meregang nyawa hingga terluka parah. Semua itu akibat dari besarnya tenaga yang dimiliki pria-pria itu.


"Ketua, cepatlah perintahkan orang mengirimkan bala bantuan!" Ucap Nero yang mulai nampak panik.


"Tidak, Nero. Aku tidak mau anak buahku kehilangan nyawa mereka hanya demi diriku. Ini benar-benar salahku membiarkan beberapa diantara mereka bahkan harus kehilangan nyawa mereka." Alex benar-benar merasa bersalah. Mereka nampaknya telah berkeluarga, namun entah dimanakah keluarga mereka. Tak ada satupun data yang Alex dapatkan tentang identitas mereka.


"Kami adalah pasukan berani mati yang dibimbing langsung oleh geng Api Biru, ketua sebelumnya. Tugas kami adalah mengikuti peraturan ketua dan melindungi ketua," ucap Nero.


"Tapi, kalian sama denganku. Kita sama-sama manusia."


Alex terdiam sejenak. Dia memikirkan cara terbaik untuk melawan beberapa orang di depannya sana. Entah mengapa, dia merasa orang-orang itu tumbuh tidak sewajarnya.


"Paman, aku curiga mereka menggunakan sesuatu hingga tubuhnya menjadi kuat beberapa kali lipat," celetuk Alex tiba-tiba.


Aron menoleh ke arahnya dan kembali berdiri tegap. "Maksud tuan?"


"Di beberapa belahan dunia, beberapa orang menggunakan ramuan yang entah apa itu untuk memperkuat diri mereka. Dan penambahan kekuatan mereka itu sangatlah tidak wajar..." Alex berhenti sejenak untuk menilik reaksi Aron. Jika pria itu tidak percaya padanya, itu adalah hal yang lumrah. Tapi, bagaimana caranya untuk menjelaskannya? Alex masih bingung akan itu.


"Darimana tuan muda tahu tentang itu?" Ekspresi Aron menunjukkan bila dirinya benar-benar ragu tentang ucapan Alex.


"Bagaimana mungkin seseorang menjadi begitu kuat hanya dengan sebuah ramuan?" Aron melanjutkan pertanyaannya.


"Aku juga tidak mengerti,paman. Cara satu-satunya adalah mengambil sampel darah mereka," jawab Alex.


"Tapi, bagaimana?"


Alex membenci pertanyaan itu, terlebih saat dia harus berpikir keras untuk mencari caranya. Dia mengerti dengan jelas bila sangat tidak mungkin untuk melukai mereka. Kulit mereka tebal, setebal kulit badak. Bahkan, mendekati mereka maupun bersentuhan langsung dengan mereka pun dia tidak memiliki kesempatan.


"Nero, kamu perintahkan semua pasukan yang tidak terluka maupun yanh terluka ringan untuk membawa yang terluka parah serta jenazah teman mereka pergi dari sini. Hubungi dokter terdekat secepatnya!" Titah Alex.


Bukan saatnya dia untuk egois dan memikirkan keselamatannya saja. Nero membawa semua pasukan mereka untuk pergi dan kini tinggal Alex dan Aron sendirian disana. Orang-orang tersebut terlihat semakin brutal seperrti bukan manusia, melainkan sebuah binatang yang menjelma seperti manusia.


"Paman, kita saat ini pikirkan saja rencana untuk kabur dari mereka dan membawa sedikit saja darah mereka," bisik Alex.