I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 48



Saat Alex hampir terhanyut dalam lamunannya, sebuah panggilan masuk membuat kantong celana sebelah kiri Alex bergetar. Alex tersadar dan bergegas mengangkat teleponnya.


Astaga, aku lupa mengaktifkan mode pesawat. Tapi, siapa yang meneleponku? Nomor tak dikenal pula,~Batin Alex


"Halo," ucap Alex mengawali telepon.


"Lex, ini aku Jessica. Aku baik-baik saja disini. Kamu jangan khawatir. Mereka hanya ingin memancingmu!" Pekik Jessica memberi peringatan kepada Alex.


Dughhh....


Pria itu menendang rahang Jessica begitu kencang hingga darah segar bersembur dari mulut wanita itu.


"Berani-beraninya kamu mengatakan hal seperti itu di depanku? Kau benar-benar ingin mati!" Pekik pria itu.


Pria itu membogem Jessica hingga sudut bibirnya terluka. Namun, sebelumnya dia mematikan telepon antara dirinya dengan Alex.


"Halo! Halo!" Pekik Alex yang berhasil menyita perhatian.


"Sial! Dasar keparat! Tunggu saja pembalasanku nanti!" Umpat Alex.


"Tuan muda, tenanglah. Anda harus dapat menguasai emosi anda. Jika tidak, anda sendiri yang akan rugi," ucap Aron.


"Benar kata Aron,ketua. Bisa saja yang dikatakan teman anda ada benarnya. Alangkah baiknya kita melihat situasi. Hal ini pasti tidak sesederhana ini," timpal Nero.


"Apa menurut kalian, ada orang yang bisa tenang saat melihat kedua orang yang penting dalam hidupnya dalam bahaya?" Tanya Alex.


"Maaf,ketua, tuan muda. Kami tidak memiliki keluarga," sahut Nero dan Aron kompak.


Aron dan Nero saling bertatapan kemudian mereka berdua tersenyum bebarengan. Alex melihat sesuatu tak baik-baik saja diantara mereka.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa nampak begitu aneh?" Tanya Alex.


"HAHAHA." Gelagat tawa mereka memenuhi seisi pesawat. Beberapa orang yang terlihat santai membaca pun menoleh ke arah mereka.


"Kalian berisik," ucap Alex lirih.


"Hehe. Maaf tuan muda. Anda jangan berpikir yang macam-macam terhadap kami."


"Benar,ketua." Alex menoleh ke arah Nero setelah Aron merampungkan ucapannya, "Saya hanya merasa cocok dengan Aron. Ya kan bestie." Nero merangkul Alex layaknya persahabatan wanita. Tidak, lebih tepatnya seperti sepasang hubungan sesama jenis diantara mereka.


"Howekk. Kalian benar-benar menjijikkan!"


...*...*...


Luna telah tiba di kamarnya. Dia meletakkan rantang yang ia tenteng bersama dengan dirinya ke dapur sebelum akhirnya dia membuka surat yang ada di tangannya.


"Apa ya isinya?" Gumam Luna.


Luna melihat sekeliling dan tidak ada satu orang pun disana. Namun, tanpa sadar adik semata wayangnya mengikutinya dalam diam. Luna membuka secarik kertas yang berada di dalam amplop yang dituliskan oleh Alex, seorang pria yang pernah bermalam dengannya.


"Untuk Luna...


Maaf bukannya aku lari dari tanggung jawab, namun ada keperluan mendesak yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu sampai kapan hingga aku kembali ke negara itu, namun aku pasti akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan. Ayah selalu mengajarkanku begitu. Jika terjadi sesuatu padamu, jika kau ingin meminta pertanggungjawaban dariku saat aku mungkin lupa atau lalai, maka kunjungilah aku di negara P. Kediaman Lachowicz selalu terbuka untukmu. Ini kartu namaku, terselip pula disana alamat rumahku. Sangat mudah untuk mencarinya.


Semoga kamu sehat dan bahagia selalu, tanpa hadirnya aku dan dengan hadirku. Maafkan aku yang telah mengambil harta berharga milikmu.


^^^Negara G, 15 November 2022^^^


^^^Alex Lachowicz"^^^


Luna tersenyum bahagia. Entah membaca sambil membayangkan suara berat nan seksi milik Alex membuatnya begitu hangat dan cerah, seakan darahnya mengalir dan mendidih di dalam. Adik semata wayangnya pun masuk dan memergokinya sedang tersenyum sendiri layaknya orang gila.


"Hayo kakak. Ngapain tuh senyum-senyum sendiri?" Tanya adik Luna.


"Kok malah tanya balik?" Perhatian Selendrinna terletak pada surat yang disembunyikan oleh Luna


"Apa itu kak? Jangan-jangan... Jangan-jangan dari pacar kakak. Selen bilangin ibu nih," celetuknya tiba-tiba.


"Ib..." Luna membungkam mulut adiknya.


"Selen mau apa sih? Kakak kasih deh," ucap Luna membujuk Selen.


"Hummm." Gadis cantik yang baru berusia sepuluh tahunan itu berpikir sejenak.


"Sepertinya, aku hanya ingin melihat pria itu," ucap Selen.


"Pria? Pria mana lagi?"


"Pria yang mampu membuat kakak tersipu malu. Kakakku yang dingin ini, aku tidak menyangka bila kakak juga bisa jatuh cinta," goda Selen.


"Apa sih kamu? Kakak juga wanita normal kali. Lagian ya siapa juga yang suka sama dia. Kakak aja baru bertemu dengannya," timpal Luna.


"Menurut kakak, pria itu gimana?" Tanya Selen mulai memancing obrolan.


Ibunda dari kedua gadis cantik itu nampaknya tengah menguping di depan. Selen sepertinya sudah menyadarinya dan sengaja membuat Luna terjebak dan mengaku.


"Dia memang tampan dan terlihat muda. Tadi dia memberiku kartu nama dan aku melihat dia baru berusia 20 tahunan," ucap Luna mendeskripsikan sosok Alex.


"Terus terus?"


"Dia memiliki rambut cepak seperti tentara. Dia memang sepertinya anak dari seorang tentara dengan pangkat yang tinggi. Dia tegas dan memukau. Dia seseorang yang ahli bela diri, cerdik juga gesit. Namun, polos. Dia bertemu denganku kala itu saat dalam keadaan mabuk."


Selen nampak tersenyum, akhirnya sebentar lagi tujuannya akan berhasil. Luna mulai terpancing.


"Wahh. Dia hebat dong kalau gitu. Kenapa kakak ga sama dia aja?" Tanya Selen.


"Dia terlalu sempurna. Aku takut aku bahkan tidak dapat dibandingkan dengannya. Ya, mungkin aku hanya bisa memendam rasa saja."


"Ehh tunggu, kenapa aku mengatakannya?"


Gumam Luna.


"Ahem, sedang ngomongin apa ini?" Tanya ibunda Luna.


"Uhmmm... Gada apa a..."


"Kakak punya cowok baru lho,ma. Katanya cowoknya ganteng," celetuk Selen memotong ucapan Luna.


"Apakah itu benar? Coba mama lihat surat apa yang dia berikan."


Luna hanya menggeleng. Dia tidak ingin terungkap bila miliknya telah direnggut oleh seseorang yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.


"Jangan malu. Apa yang sudah pria itu lakukan padamu?" Tanya ibunda Luna.


"Kami sudah..." Luna tidak melanjutkan ucapannya,karena dia tahu bila ibunya bahkan paham ucapannya.


"Sini coba lihat," desak ibunda.


Mama dari Luna itu membaca dengan saksama surat yang dituliskan oleh Alex disana. Dia mengerti benar bila anaknya tadi tersenyum setelah membacanya.


"Jangan terlalu percaya dengan ucapan pria, sayang. Belum tentu semua pria itu sama. Namun, apa salahnya jika kamu menyusulnya ke negaranya? Bagaimana pun dia memang harus bertanggung jawab terhadapmu."


"Tapi, sepertinya mama pernah melihat namanya," ucap mama Luna yang merasa familiar dengan marga Alex.


Sekilas terlintas dalam benaknya sang panglima tertinggi negara P yang sangat terkenal waktu itu. Seorang pria tampan, gagah, tinggi dan besar yang dirumorkan sangat mencintai istri dan anaknya. Dia menjadi idaman semua wanita dengan sekejap.