I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 43



"Iya! Iya! Ketua kamilah yang menyelamatkannya. Alasan utamanya adalah ketua kami ingin mengambil jam tangan di tangan anda melalui tangan Tuan Steve, karena hanya tuan Steve yang mengerti persis kelemahan anda," jawab pria itu dengan penuh tekanan.


Jam tangan? Apa yang dia maksud adalah sistem mafia ini? Tapi, bagaimana dia tahu tentang ini? Jangan-jangan,~Batin Alex Menerka-nerka.


Apakah dia mengetahui tentang sistem mafia ini? Aku harus mengetahuinya dengan jelas dan baik-baik melakukan perhitungan dengan pria itu,~Lanjutnya dalam hati.


"Lalu, apa tujuan ketuamu menginginkan jam tangan di tanganku ini?" Tanya Alex.


"Jika itu... Saya tidak mengetahuinya tuan," ucap X-Black yang tidak berbohong kali ini.


"Resca, bagaimana menurutmu? Apakah dia berbohong?" Tanya Alex.


" Mulutnya tidak digerakkannya secara berbeda, dia sama seperti caranya berbicara tadi. Lalu, dia juga menjawabnya dengan lancar dan lantang, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Bola matanya, dia menatap lurus ke arah ketua juga tidak ada pergerakan aneh dari tangan dan kakinya yang tersisa, walau syarafnya masih mati rasa sebelah," ucap Resca mengidentifikasi.


"Lantas, apa kesimpulanmu?" Tanya Alex.


"Kesimpulan saya, berdasarkan analisis yang telah saya jabarkan adalah dia tidak berbohong," jawab Resca tegas dan tidak ragu.


Alex sependapat dengan pria itu. Dalam dunia kemiliteran, dia pun belajar mengenai psikologi seseorang. Dia pernah menjadi siswa terpintar di kelas kemiliteran milik keluarganya. Dapat dikatakan bila dia sama sekali bukanlah sampah.


"Ok, saya percaya dengan kata-katamu. Lalu, cepat katakan, dimana ketuamu itu berada?" Tanya Alex lebih lanjut.


"Dia..." Pria itu nampak sedang berpikir sejenak, mengingat dimanakah dia terakhir lihat ketua mereka, "Terakhir saya lihat, Dia berada di sebelah utara pelabuhan Niendorfer."


Apa? X-Black benar-benar memberi tahu musuh? Dia bahkan mengorbankan beberapa dari kami dan tidak memedulikan rekan seperjuangannya demi bisa lolos? Sial! Dia adalah pengkhianat. Lihat saja, pemimpin pasti akan menghukumnya nanti,~Batin Y-Black.


"X-Black, apa yang kamu lakukan? Kenapa kau memberitahukan semua itu kepadanya?" Pekik Y-Black yang sudah tidak tahan.


"Ini adalah kesempatan terakhir kita. Aku tidak ingin disiksa lebih lama lagi atau menjadi budak mereka!" Seru X-Black.


"Tapi, ketua pasti akan menghukummu," ucap Y-Black.


"Aku tidak peduli!"


"Cukup!" Bentak Alex membuat mereka berdua akhirnya terdiam.


"Aku tidak menyuruh kalian berdebat disini. Resca," panggil Alex lagi.


"Siap, ketua."


Resca nampaknya tahu apa yang dimaksudkan oleh Alex. Resca memberikan sebilah pedang tajam miliknya yang berhasil memotong kaki bagian kiri X-Black dengan sekali ayunan.


"Tu-tuan. Bukankah anda berjanji akan..."


Swoshhhh...


Hembusan angin terasa begitu kencang seiring dengan terputusnya nadi pria itu dengan sempurna. Darah segar menyiprat ke segala arah, termasuk ke baju, wajah rekan-rekan seperjuangan X-Black dan tentunya juga di wajah dan badan milik Alex. Aron pun tak kelewatan merasakan sepercik darah berbau anyir yang menempel pada sela-sela kain yang ia pasang.


Pria ini begitu kejam... Dia bahkan membunuhnya tanpa memberinya kesempatan berbicara. Apakah dia benar-benar seorang bocah yang bahkan bary berusia 20 tahunan itu?~Batin Y-Black.


"Pria ini, dia bahkan mengorbankan rekannya sendiri demi kepentingannya. Dia memang tidak pantas untuk dipertahankan. Paman, lihatlah! Kau harus berterimakasih padaku nanti. Aku sudah membantumu menumpaskan dan mengungkap seorang pengkhianat dalam gengmu," ucap Alex setengah mengejek.


"Hahahaha." Tawa Alex menggelegar memenuhi ruangan. "Paman, lihatlah anak buah yang kamu bangga-banggakan ini. Dia bahkan memberitahukan keberadaanmu,lho. Tunggu kehadiranku!" Ucap Alex.


Alex mendekati Aron dengan tubuh yang masih bersimba darah. Dia mematikan video tersebut dan sesegera mungkin mengirimkannya pada Steve.


"Baiklah, kita tunggu saja reaksinya. Aku makin tidak sabar agar bisa bertemu denganmu lagi, Paman."


...*...*...


Setelah berhasil melakukan salah satu rencananya, Alex mengutus anak buahnya untuk membawa mereka dan menggantungkan mereka di depan publik. Tentu saja, dengan jasad X-Black disana. Tertulis jelas disana, sebuah papan yang digantungkan di leher mereka, "Aku adalah pengkhianat negara. Geng jubah hitam adalah sebuah wadah yang menampung sampah sepertiku. Aku memang pantas mati!"


Ada pula yang bertuliskan, "Aku Y-Black, seorang pengkhianat negara dari geng jubah hitam. Aku telah membunuh banyak orang dan merampok mereka. Aku memang layak dihukum." Dan lain sebagainya.


Mereka berhasil menyita pusat perhatian. Seluruh orang menatap ke meraka. Alex menggambarkan dan memasangkan seluruh atribut mereka dengan lengkap agar orang-orang dapat dengan jelas mengenali mereka.


"Hei, hei. Lihatlah mereka." Seorang ibu-ibu dengan mengenakan baju bewarna merah muda menunjuk kearah prajurit geng jubah hitam.


"Dia adalah para pria yang merampokku kala itu. Dia juga yang menyebabkan suamiku lumpuh!" Seorang wanita lainnya memekik dan menunjuk salah satu dari mereka.


"Mereka memang meresahkan. Mereka memang pantas diberi pelajaran. Semuanya, mari kita lempari mereka!" Ucap seseorang memprovokasi massa.


Alex melakukan live khusus dari bawah sana dengan sosial medianya. Dia membiarkan massa mengamuk sejadi-jadinya. Dia berpura-pura menjadi orang tidak bersalah dan korban, sama halnya dengan mereka, menjadi salah satu diantara sekian banyak orang.


Y-Black dan rekan-rekannya yang lain sudah habis kesabaran. Dia merasa terhina. Ini adalah kali pertama dalam hidup mereka merasa begitu hina. Seketika mereka terpikirkan jalan yang ditempuh oleh X-Black adalah yang paling benar.


"Apa kalian tidak takut bila ketua kami datang dan menumpaskan kalian? Apa kalian tidak takut bila ketua akan memusnahkan kalian?" Pekik Y-Black yang berhasil menghentikan serangan dari warga.


Mereka benar-benar menarik. Bahkan disaat seperti ini pun, mereka masih tetap terpikirkan untuk menakut-nakuti orang lain. Ini akan menjadi semakin menarik,~Batin Alex.


Mereka semua melirik satu sama lain. Mereka tentu saja takut akan ancamannya, mereka berpikir bila ketuanya pastilah lebih hebat ratusan kali lipat dibanding beberapa pria di hadapannya. Alex membenarkan kemejanya kali ini dan berjalan menuju arena penggantungan mereka, berdiri dihadapan mereka semua.


"Guys, ada aku. Kalian jangan takut," ucap Alex bangga.


Namun, mereka masih saja ragu untuk menyerang. Tentu saja, Alex sudah mengerti persis yang mereka takutkan.


"Kalian tenang saja, apapun yang akan terjadi, aku pastikan mereka tidak akan bisa lolos dari sini."


Alex mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah lencana yang entah lencana apakah itu.


"Tenang saja, saya adalah badan penegak hukum terintegritas yang telah diutus oleh negara. Saya tahu kekecewaan kalian dan kami melakukan semua ini demi kesejahteraan bangsa," ucap Alex berbohong.


Tentu saja, Alex mematikan Livenya untuk sesaat. Itu sangat tidak mungkin baginya untuk mengaku sebagai badan penegak hukum di sosial media. Konsekuensi yang akan ditanggung, tidaklah begitu mudah.


Seseorang dengan sepasang mata bewarna biru yang indah menatap tajam di tengah-tengah para penonton. Tangan pria itu mengepal erat hingga dia pergi meninggalkan tempat tersebut.