I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 16



Hoshhh... Hoshhh... Hoshhh...


Alex terengah-engah kualahan menghadapi mereka. Darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Dia berusaha untuk menghentikannya dengan tangan. Verrel dan Jessica yang melihat kejadian tersebut, tentu saja tidak tinggal diam.


"Hiattt!!!"


Jessica datang untuk menyerang. Wanita itu sangat mahir dalam bela diri. Sendirian, mampu melawan dua orang. Sayangnya, jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan.


"Gimana? Gue hebat kan?" Jessica terlalu cepat berbangga diri. Seorang pria dalam diam berjalan ke arahnya dengan sebuah balok kayu besar di tangannya.


"JESSICA! AWAS!" Pekik Alex saat melihat pria tersebut.


"Ahhh!!" Jerit Jessica saat membalikkan badan.


Alex dengan sigap memasang badannya, menggantikan dan melindungi Jessica dengan punggungnya.


Bughhh...


Sebuah pukulan keras berhasil mengenai punggungnya.


"Alex!" Pekik Jessica.


Alex terkapar di bawah tanah, namun pria itu masih sanggup untuk melawan.


"Kamu kurang ajar!" Umpat Alex.


Dia melawan pria itu dengan sisa tenaganya dan berhasil menciptakan kesempatan untuk mereka kabur.


"Paman Aron, Paman Jack, Verrel, Jessica, CEPAT KABUR!" titah Alex.


"Bagaimana dengan tuan muda?" Tanya Aron khawatir.


Aron dan Jack tidak kalah parah kondisinya dengan Alex kala ini.


"Verrel, Jessica, tolong bawa paman Aron dan Paman Jack, kumohon," pinta Alex.


Jessica dan Verrel saling menatap. Mereka memutuskan untuk mengikuti perintah Alex.


"Lex, jaga dirimu baik-baik."


Alex mengangguk kepada mereka, kemudian mengubah fokusnya kepada dua orang di depannya. Ya, satu orang lagi datang untuk membantu.


"Hiattt!"


Alex mengeluarkan segala tenaga yang dia bisa. Dia mencoba menendangnya. Sayangnya, pria itu mampu menangkap kakinya dan membantingnya ke tanah.


Brakkk...


"Arghhh!"


Hidung Alex terbentur tanah hingga darah pun mengalir dari sana juga. Tulang hidungnya patah, entah apa bisa disembuhkan atau tidak.


"Menyerahlah saja bocah!" Ucap pria itu yang berjalan semakin mendekat.


Alex hampir saja kehilangan kesadarannya. Namun, dia berusaha untyk tetap sadar. Pria itu menarik rambut Alex hingga Alex mendongak beberapa senti dari tanah.


"Jika kau mau meminta ampun, kami hanya akan mematahkan tangan dan kakimu. Jika tidak, maka jasadmu pun tidak akan pernah bisa ditemukan!" Ancam pria itu.


Alex menggertakkan giginya.


"Tuan, Apakah tuan ingin meminta bantuan sistem?" Tanya pria yang berada dalam sistem.


Tentu saja, hanya Alex yang bisa mendengar. "Tidak. Aku tidak ingin menggunakan kekuatanmu sebelum aku diakui olehmu."


"Tapi, jika kamu mati sekarang, itu akan lebih rugi. Kami tidak akan menukar dengan nyawa anda terlalu banyak! Tapi, kamu harus tetap hidup!" Teriak pria itu yang ikut panik melihat kondisi Alex yang sekarat.


"Aku tidak akan bodoh hingga mempercayai orang yang baru aku kenal. Kau tenang saja, aku sudah ada perhitungan sendiri," ucap Alex.


Tangan Alex yang masih dapat digerakkan, perlahan mengambil pistol yang berada di sakunya tanpa ketahuan kedua pria itu.


"Masih belum menyerah juga?" Tanya pria itu.


"Menyerah? Hahaha." Alex tertawa selayaknya orang gila.


"Apakah otak anak ini geser akibat ketakutan?" Tanya pria itu.


Alex menyeringai dan kemudian dia menodongkan pistol ke arah mereka.


"Enyahlah kalian!" Pekik Alex.


Dorrr....


Alex berhasil menembak kedua pria itu. Satu tepat pada selangkangannya, dan satunya, ia serang mengenakan pasir tepat pada matanya.


"Arghhh!!!"


"Sial! Anak kurang ajar!" Umpat pria itu sambil berusaha mengejar Alex.


"Aku harus mengenakan kesempatan ini untuk kabur."


Alex melihat Verrel dan Jessica telah berada disana.


"Alex, cepat kemari!" Seru Jessica sambil melambaikan tangannya kepada Alex.


Alex berlari sekencang tenaga yang ia bisa.


Alex pun akhirnya berhasil duduk dengan tenang di dalam mobil. "Verrel, cepat tancap gas!"


Hosh hosh hosh...


Nafas Alex masih sama tak karuan.


"Lex, kamu minum dulu," ucap Jessica sembari memberikan sebotol air mineral kepadanya.


Alex meminum sebotol air itu dengan sekali tegukan. Dia hanya terdiam sambil tetap mengatur nafasnya.


Beberapa saat kemudian...


Alex dan yang lainnya telah tiba di markas yang baru saja ditunjuk oleh Alex sebelum kesadaran pria itu menghilang.


"Lex, Alex," panggil Jessica membangunkan Alex, namun tak ada respon apapun dari pria itu.


"Lex, jangan bercanda dong," lanjutnya.


"Ada apa, Jes?" Tanya Verrel.


"Alex sepertinya pingsan," jawabnya.


"Ha? Ok ok, aku bawa dia langsung ke dalam."


Verrel mengangkat tubuh Alex hingga menuju ke dalam markas.


Di dalam markas...


"Paman, tolong!" Teriak Jessica.


"Ada apa?" Tanya Aron yang langsung keluar saat mendengar suara Jessica.


"Tuan muda? Ada apa dengannya? Apakah dia..."


"Sepertinya, luka dipunggungnya mulai menunjukkan efek iritasi," ucap Jessica.


Aron membuka baju Alex secara paksa. Terlihat tubuh Alex yang semakin kekar, berbeda dengan dirinya beberapa hari yang lalu. Otot-otot pun mulai terbentuk. Entah sudah seberapa berat Alex melatih semuanya. Namun, pria itu memang menunjukkan hal-hal yang berbeda.


Ga nyangka tubuh Alex begitu indah,~Batin Jessica.


Jessica sesekali meneguk air liurnya, namun bukan itu fokusnya sekarang. Namun, luka dipunggung yang begitu besar. Punggungnya merah memar, hidungnya pun tetap mengeluarkan darah, namun di sudut bibirnya nampak jika darah sudah berhenti mengalir.


Dokter jaga pun mereka panggil untuk memeriksa kondisi Alex saat ini.


"Bagaimana dok?" Tanya Aron khawatir.


"Tuan muda sedang tidak dalam kondisi baik. Tulang hidungnya patah dan dia sudah kehabisan darah. Perlu sesegera mungkin tranfusi darah," jawab dokter.


"Tranfusi darah? Baiklah dok, kami semua bersedia diperiksa," ucap Aron.


...*...*...


Seperti biasa, jika Alex pingsan, itu menandakan bila dirinya sedang berada di sebuah ruangan tertutup dalam sistem jam tangan yang baru saja ia temukan di jurang.


"Ada apa lagi kau memanggilku kemari? Lalu, bagaimana dengan perjanjian kita?" Tanya Alex langsung tanpa basa-basi.


"Ya. Kau sudah berhasil. Ini adalah token untukmu kesana." Pria itu memberikan sebuah pelat kayu bewarna kuning keemasan kepada Alex.


"Hummm. Terimakasih."


Alex buru-buru pergi ke lapangan yang terdapat di ruangan tersebut. Jangan tanya bagaimana mereka membangunnya, tapi hal itu benarlah nyata.


Saat Alex tiba disana dan membuka pintu ruangan, semua orang yang tengah berleha-leha disana, kemudian langsung berdiri dan berlutut di hadapan Alex. "Salam kepada ketua baru." Mereka terlihat begitu terlatih dan kompak.


"Baiklah. Esok kalian pergilah ke markas." Alex memberikan alamat markas pada mereka. "Itu adalah gps otomatis yang di desain untuk memberitahukan keberadaan markas keluargaku. Jangan sampai bocor."


"Siap laksanakan ketua!" Seru mereka serempak.


Alex kembali ke ruang tersebut untuk dikembalikan pada tubuhnya.


Selain itu, disisi lain...


Brakkk...


Seorang pria menghantamkan tangannya pada dinding tahanan hingga retak.


"Sial! Anak baj*ngan itu, mengapa dia mendadak begitu kuat? Mengapa dia menjadi begitu licik?" Gumam pria itu.


Yap, siapa lagi kalau bukan Steve. Dia masih sangat kesal dengan perbuatan Alex kala itu.


"Tuan Steve, anda kami bebaskan," ucap polisi.


Seseorang dengan kekuatan yang cukup besar membebaskannya.


"Bebas? Tapi, siapa yang membebaskan saya?" Tanya Steve kebingungan.


Dia memang sangat kaya dan hebat,namun tidak sehebat itu hingga dapat membebaskan dirinya dari kasus sebesar itu.


"Ya. Untuk siapa yang membebaskan anda, kami hanya menjalankan tugas. Permisi," ucap petugas kepolisian.


Steve berjalan linglung. Dengan cepat dia mengubah ekspresinya tiba-tiba.


"Haha. Hahaha... Aku bebas? Aku bebas!" Teriaknya di luar kantor kepolisian.


"Alex, kita lihat bagaimana reaksimu setelah melihatku muncul. Aku ingin lihat bagaimana kau hancur saat mengetahui markas yang dibangun oleh Ayahmu aku luluh lantahkan." Pria itu menyeringai sambil menggenggam tangannya yang kosong. Setelah itu, dia pergi dari sana, kemungkinan dia pergi menuju ke markasnya untuk bersiap.