I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 73



Beberapa saat kemudian...


Swoshhh...


Waktu pada bom tersebut sudah berhenti dan Alex benar-benar melakukan semuanya tepat waktu. Louis, Nero dan yang lainnya bersorak sorai bahagia setelah Alex keluar dengan membawa benda yang diyakini bom oleh mereka.


"Anda sangat hebat ketua! Saya salut!" Dua jempol Nero berikan pada Alex. Tak ketinggalan pula Louis dan yang lainnya. Alex terharu, namun bukan saatnya kini untuk terharu. Dia merasakan seseorang sedang mengintai mereka dengan amarah yang menyelimuti dirinya.


"Nero, peganglah ini. Itu bisa menjadi barang bukti untuk menangkap musuh. Ada suatu hal yang harus aku lakukan." Alex memberikan barang di tangannya dan kemudian pergi menuju pria yang sedang mengintainya tersebut.


Pasti dia yang melakukannya dan banyak orang lainnya. Aku berharap keadaan paman Jack dan yang lainnya akan baik-baik saja,~Batin Alex.


Sedangkan itu, disisi lain...


Wakil komandan masih berjuang keras untuk mengevakuasi orang-orang yang berada di dalam. Walaupun bom telah dijinakkan, namun sayangnya hal tersebut tidak berakhir sampai disitu saja. Terdapat asap yang mengepul di udara. Alarm mall pun berbunyi menandakan kebakaran telah terjadi. Semua orang yang masih di dalam pun berdesakan berlarian keluar. Beberapa diantaranya harus jatuh hingga terinjak. Kondisi menjadi semakin tidak kondusif terutama kekurangan personil dari kemiliteran, sedangkan pihak berwajib pun masih belum menampakkan batang hidungnya.


Untuk Jack dan yang lainnya, mereka masih terus menerus kejar-kejaran dengan beberapa pelaku yang diduga adalah penyebab dan dalang dibalik semua ini.


Dorrr...


Tanpa banyak kata, layaknya sifat Jack yang sesungguhnya, pria yang tingginya tak jauh berbeda dari Louis itu langsung menembak pria itu di bagian kakinya. Jack memang terkenal ahli dalam menembak sama halnya dengan Russel dan Louis.


"Argh! Sial!" Umpat pria bertopeng berusaha lari dari kejaran Jack dan rekan-rekannya.


Mereka semua berpencar untuk menangkap mereka satu persatu. Baku hantam dan baku tembakpun akhirnya tak dapat dihindari. Pria bertopeng itu berlarian diantara pertokoan yang masih terlihat buka disana.


Dorrr...


Jeritan para manusia yang masih di dalam sahut menyahut dengan suara peluru yang diletuskan. Nyaring dan menggema, terlebih lagi sudah jarang orang disana.


Jack mengikuti setiap langkah mereka.


Tak tak tak...


Suara mereka saat menuruni lift yang masih berjalan sempurna terdengar nyaring disana. Sesekali pria bertopeng itu menoleh ke belakang. Sayangnya, Jack begitu gesit untuk dirinya.


Brakkkk...


Jack menendang pria itu hingga tersungkur di tanah. Sebelum pria itu bangkit dan melarikan diri, Jack menangkapnya dengan menyincing bajunya.


"A-ampun," ucap pria itu ketakutan di tangan Jack.


Jack masih diam tanpa bahasa. Dia melihat sesuatu yang aneh dari pria itu seperti seakan dia akan menelan sesuatu.


Tunggu! Pria ini sepertinya tidak takut mati,~Batin Jack.


Jack menendang mulutnya hingga darah bercucuran di lantai mall. Satu hal yang dilihatnya disana, sebuah pil kecil bewaena putih yang keluar sesaat setelah dia menendangnya. Jack mengambil benda tersebut dengan sebuah tisu dan menyimpannya baik-baik.


"Benar-benar pasukan berani mati. Jika bertemu denganku, jangan harap kamu bisa lolos begitu saja," ucap Jack setelah sekian jam dia hanya mengenjar tanpa mengucap.


...*...*...


Alex berhasil mengikuti langkah pria itu.


"Kau memang seorang komandan, tapi menurutku kau sangat bodoh!" Ucap pria bertopeng yang dibuntuti oleh Alex.


Tunggu, mereka... Tanda mereka mirip dengan beberapa pria yang waktu itu memburu Lisa. Apakah mereka orang yang sama?~Batin Alex.


"Siapa yang bodoh, kita masih belum tau," balas Alex.


"Jika kalian ingin melawan, lawanlah. Aku tidak ada waktu berbincang dengan sampah seperti kalian," timpal Alex.


"Guys, serang yuk."


Mereka memulai pertarungannya dengan Alex. Kini, Alex telah mengetahui setiap celah dari obat terlarang yang ia temukan pada tubuh orang-orang tersebut. Kini, Alex bisa melawan mereka dengan tenang.


Srakkk... Srakkk.. Srakkkk...


Beberapa tendangan Alex tidak mengenai mereka, namun itulah tujuannya. Mereka terlihat begitu lengah dan hanya menyerang pada suatu titik dan membiarkan titik lain kosong begitu saja.


Haha. Ternyata, cara paman Aron berguna juga,~Batin Alex.


Alex mengganti kakinya dengan cepat dan menyerang bagian kosong tanpa perlawanan dari mereka. Alex melumpuhkan semuanya sendirian dan secara bersamaan. Tak ada satupun dari mereka bahkan menyentuh rambut blonde miliknya. Sayangnya, hal tersebut malah menyebabkan mereka murka.


"Kau terimalah ini!" Seru mereka menyerang Alex diam-diam.


Dengan Demon Eyes miliknya, Alex jadi lebih leluasa bergerak. Pria tampan itu dapat melihat setiap gerakannya begitu lambat, begitu mudah untuk melumpuhkan mereka.


"Apakah masih ada yang berani maju?" Tanya Alex dengan tangan bersendekap.


"Nero!" Seru Alex yang seketika datanglah Nero entah darimana asalnya.


"Ikat mereka dan ambil semua pil bunuh diri di mulut mereka. Aku sudah mematikan syaraf mereka,jadi sementara waktu mereka tidak akan bisa bergerak sama sekali," ucap Alex sambil berlalu pergi.


...*...*...


Alex dan yang lainnya serta pasukan Jack pun membawa para pelaku tindakan kejahatan tersebut.


"Semuanya telah tertangkap, a..." Belum sempat Louis merampungkan kalimatnya, suara jeritan terdengar dari lantai atas diimbangi oleh suara ledakan hebat disana.


Duarrrr....


Spontan, semua orang berteriak dan kebakaran pun terjadi disana. Diduga, selain memasang bom, mereka ternyata juga menyabotase listrik dalam mall.


"Arghhh!" Jerit seorang anak laki-laki dan ibunya di atas sana.


Tanpa berpikir panjang lagi, Alex menitahkan kepada Louis untuk segera menghubungi pemadam kebakaran, "Paman, Tolong hubungi pemadam kebakaran. Segera!"


"Baik komandan."


Setelah menitahkannya, Alex pun berlari ke dalam, berniat ingin menyelamatkan mereka dari kobaran api yang berhasil melahap gedung tersebut.


"Komandan, saya sudah..." Saat membalikkan badannya, Louis tak melihat sosok Alex berada disana. Dia terkejut dan memekik seketika. "Komandan! Dimana komandan?!"


Semua orang mengalihkan pandangannya kepada seorang pria yang masih mengenakan jaket bewarna hitam merah miliknya itu berlari masuk menuju ke dalam gedung mall bertingkat tersebut.


"Astaga, matilah aku! Bagaimana jika tuan Arnold menyalahkanku?" Kaki Louis tiba-tiba lemas saat melihat Alex berlari kesana, namun dirinya tak dapat berbuat banyak selain terduduk di tanah.


...*...*...


Alex telah tiba di lantai teratas nomor dua di gedung tersebut. Dengan Demon Eyes, dia menganalisis setiap kesempatan yang ada, dia mencoba melihat dalam keadaan ruangan tertutup oleh kabut tebal.


Uhuk uhuk...


Walau sudah mengenakan sebuah masker yang cukup tebal, namun asap tersebut masih berhasil menembus pertahanan maskernya. Namun, tak butuh waktu lama bagi dirinya menemukan anak laki-laki itu bersama dengan ibunya disana.