
Dia mengingat Russel, namun juga mengingat Alex yang pernah ditakdirkan sebagai seorang pria pembawa sial. Dia melirik ke arah anaknya.
"Apa dia adalah seorang pria negara P? Apa dia adalah putra dari panglima tertinggi negara tersebut yang beberapa waktu lalu meninggal dan diduga pembunuhnya adalah adiknya sendiri?" Tanya ibundanya.
"Jujur saja, Lunora tidak terlalu paham akan itu. Alex pernah mengatakan saat kondisi mabuk, memang benar dia ditinggalkan pergi untuk selamanya oleh Ayahnya. Lalu, dia juga tidak dianggap oleh ibunya. Dia adalah pria yang malang," ucap Luna.
"Tapi, apa kamu tidak tahu tentang ramalannya yang begitu buruk?"
"Hum? Ramalan apa?" Tanya Luna yang sungguh tidak tahu menahu tentang ramalan pembawa sial milik Alex.
"Pria itu diramalkan akan menjadi pria pembawa sial. Dia akan menjadi pria sampah yang tidak berguna," ucap ibunda Luna.
"Yang aku lihat tidak. Dia bukan seperti seorang pria yang lemah. Dia bahkan begitu memukau dan berkharisma. Dia memiliki banyak pengawal."
"Ya, ya. Sepertinya kau benar-benar telah dibutakan oleh cinta."
"Mama tenang saja. Mama akan melihat spektakuler yang akan Alex lakukan dan membuat mama tercengang. Aku yakin dia akan menjadi pria sukses yang akan menjadi idola nomor satu di dunia, sama persis dengan ayahnya!" Seru Luna membela Alex habis-habisan.
...*...*...
Beberapa saat kemudian...
Alex telah tiba di bandara negaranya. Dia menghirup udara segar disana. Walau di negara G juga sangat menjaga kebersihan dari sampah dan polusi, namun dia benar-benar merindukan tanah airnya. Dia sangat senang akhirnya dia bisa kembali hari ini.
"Hufttt. Paman Aron, Nero, akhirnya kita kembali. Sayangnya, kita belum dapat memancing pria baj*ngan itu keluar," ucap Alex setelah mengumpat.
Aron dan Nero yang sibuk dengan barang bawaan mereka dan Alex pun menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Tuan muda, apa anda sudah berpikiran secara matang tentang rencana kita?" Tanya Aron.
"Kurang lebih begitu," jawab Alex.
"Bolehkah kami tahu?" Tanya Aron dan Nero sedikit antusias.
"Humm. Baiklah." Alex menjelaskan secara rinci seluruh rencananya. Kali ini, dia tidak ingin membunuh mereka secara langsung, namun memanggil pihak yang berwajib untuk mengadili mereka dan membuat berita acara untuk mereka secara khusus. Alex ingin membuat Steve dan anggota geng lainnya tidak memiliki wadah untuk menetap di Negara P.
"Rencana yang cukup bagus. Namun, apa ini tidak terlalu berbahaya jika anda berhasil ke luar negeri?" Tanya Nero.
"Aku tahu itu, namun aku tidak bisa membiarkan ibunda, Jessica dan Verrel terus menerus dalam bahaya demi aku. Aku juga masih belum menyelidiki lebih dalam lagi apakah ada keterkaitan antara ibunda dan paman Steve. Bagaimana pun, mereka pernah memiliki hubungan dengan Ayah," jawab Alex.
"Untuk masalahku, aku bisa mengatasinya sendiri. Apakah kalian mulai meragukanku?" Tanya Alex balik.
"Tidak. Sama sekali kami tidak pernah meragukan, tuan muda." Kini Aron lah yang menimpali ucapannya.
"Good. Btw, apakah taksi sudah selesai dipesan? Aku tidak dapat membuat mereka menunggu lebih lama lagi. Semua penjahat tidak akan peduli dengan apapun itu. Apalagi mereka yang sudah dilatih untuk menjadi pasukan berani mati."
"Sudah ketua. Beberapa saat lagi pasti mereka sudah tiba," jawab Nero.
...*...*...
Jessica dan Verrel telah berpasrah seluruhnya, terutama Jessica yang bahkan sudah terkapar bersimba darah.
Beberapa saat yang lalu...
"Kau adalah wanita kurang ajar! Siapa yang menyuruhmu memiliki keberanian itu?" Bentak pria suruhan Steve.
Dughhh...
Para pria itu nampak begitu brutal dan tidak memandang gender. Jessica semakin terkapar dibuatnya. Verrel pun memekik dan menyuruh Jessica untuk berhenti berkata. Matanya sudah lebam, sudut bibirnya pun telah dipenuhi luka.
"Jika pria itu benar-benar tidak datang dalam waktu 24 jam, maka bersiaplah kalian kehilangan nyawa kalian. Itu tandanya, dia sama sekali tidak peduli dengan kalian hahaha."
Brakkk...
Pria itu menutup pintu dengan kencang. Verrel yang merasa iba dengan Jessica langsung berusaha untuk menenangkannya.
"Jes, lu gapapa?" Tanya Verrel khawatir.
"Aku gapapa tenang saja."
"Jess, apa menurutmu kita bisa kabur dari sini tanpa Alex?" Tanya Verrel.
"Aku akan membantumu untuk lari dari sini jika kau begitu ragu. Maafkan aku,Verrel. Namun, nyawa Alex sama pentingnya dengan nyawamu bagiku. Aku tidak bisa kehilangan salah satu diantara kalian," ucap Jessica yang membuat hati Verrel semakin sakit mendengarnya.
"Apa yang kamu bicarakan? Aku dan Alex akan menjadi pria paling tidak tahu malu dan akan merasa bersalah seumur hidup kami, jika sesuatu terjadi kepadamu," timpal Verrel.
"Intinya, kau cobalah bertahan. Aku yakin jika pun Alex datang, bocah itu pasti sudah melakukan persiapan yang matang. Aku sangat mengenal Alex. Walau dia selalu dihina sampah, namun sebenarnya akulah yang sampah jika dibandingkan dengan dirinya,"lanjut Verrel.
"Baiklah, aku akan memercayai ucapanmu," Ucap Jessica sebelum wanita itu tertidur pulas.
...*...*...
Tengah malam di Pelabuhan Negara P...
Hingga kini, belum ada tanda-tanda kehadiran Alex. Jessica dan Verrel telah pasrah sepenuhnya dengan takdir mereka. Tentu saja, tidak ada penyesalan pada hati mereka setelah mengucapkan fakta yang sebenarnya.
Saat mereka akan tertidur, seorang pria yang berhasil membuat Jessica seperti sekarang ini terlihat memasuki ruangan dengan membawa sebuah papan besar seperti alat untuk mengurung mereka. Dengan beberapa orang yang mendampingi mereka, pria itu memaksa Jessica dan Verrel untuk mengikuti langkah mereka dalam kegelapan malam.
"Ka-kalian. Kemana kalian akan membawa kami pergi?" Tanya Jessica yang sudah terjaga sepenuhnya.
Jessica dan Verrel meronta tentu saja, namun jumlah mereka bertambah semakin banyak dan tidak memungkinkan untuk menang.
"Lihatlah, aku sudah memberi waktu hingga tengah malam, namun teman kalian itu bahkan tidak kunjung hadir. Aku khawatir mereka benar-benar tidak peduli dengan kalian," ucap pria itu diimbangi dengan gelagak tawa jahat miliknya.
Jessica mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia memukul wajah pria itu jika dia mampu, namun dia juga merasa kecewa saat mengetahui Alex tidak kunjung tiba.
Apakah Alex benar-benar tidak peduli dengan kami? Walau aku yang menyuruhnya untuk tidak datang, namun rasa kecewa ini sungguh tidak dapat ku singkirkan,~Batin Jessica.
"Apakah kamu kecewa saat tahu Alex tidak hadir bahkan hingga akhir?" Tanya Verrel.
"Humm. Bisa dikatakan begitu," jawab Jessica singkat.
"Bukankah kamu yang menyuruhnya?"
"Memang benar, namun masih ada sedikit harapan yang aku gantungkan padanya. Aku benci rasa kecewa ini," lirih Jessica.
"Tapi Jes, aku yakin Alex bukanlah pria pengecut seperti yang kau pikirkan," timpal Verrel begitu yakin.