I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 8. Menghindarimu




Menghindarimu


Nana berada di klinik ditemani Managernya. Sementara Eric kembali ke acara adat untuk menggantikan Nana. Saat Nana segera turun dari bed, seorang dokter perempuan dengan suara logat khas Bali tampak ramah dan lembut, membantu Nana turun dari bed.


"Pelan-pelan turunnya, Miss... Kalau dipaksakan nanti anda akan pusing lagi..."


"Terimakasih dok.... Saya cuma kelelahan saja kan, dok? Saya bisa pulang sekarang?"


"Dari hasil pemeriksaan, hemoglobin anda hanya 6,5 artinya anda mengalami Anemia. Dan tekanan darah hanya 70/50, dan gula darah anda juga sangat rendah, itu sebabnya anda pingsan. Sebenarnya ini kondisi yang tidak terlalu serius, tapi bagi seorang ibu hamil kondisi ini sangat berisiko."


"Apa dok? hamil?


Dokter dan perawat saling berpandangan, mereka justru heran dengan ekspresi Nana.


"Jadi anda tidak tahu sedang hamil? Tadi Saya sudah memastikan dengan melakukan USG. Dan usia janin anda menurut perhitungan USG, kurang lebih sekitar 8 minggu. Tapi bisa jadi usianya lebih dari itu jika dihitung dari HPHT."


Dokter memberikan hasil pemeriksaan USG kepada Nana. Nana gemetar mengambil foto USG tersebut.


"Anda harus bed-rest selama 2-3 hari agar kondisi anda stabil. Saya akan memberi anda suplemen Fe, kalsium, dan obat anti mual. Tolong juga perbanyak konsumsi makanan tinggi protein dan kalori agar anda kembali bugar."


"Terimakasih dok...."


Nana keluar dari klinik dengan langkah yang berat. Pandangannya kosong dan wajahnya terlihat semakin pucat. Dia segera menyembunyikan amplop berisi hasil foto USG tersebut ke dalam sakunya dan langsung masuk ke dalam mobil managernya.


"Malik, antarkan aku langsung pulang ke Villa."


"Baik Nona..."


Sesampainya di Villa, Nana langsung masuk ke kamarnya dan memberanikan diri membuka amplop yang berisi foto hasil USG. Di foto itu tergambar sebuah siluet tubuh kecil meski tidak terlalu jelas, tapi Nana bisa melihat garis-garis berbentuk kepala, tubuh, kaki, dan tangan.


Nana menangis dan memegangi perutnya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan janin yang sekarang hidup di dalam tubuhnya.


Nana sudah tidak ingin mengingat lagi kejadian malam itu saat Eric memperkosa dirinya, namun Tuhan malah memberikan kenyataan yang sangat menyakitkan baginya.


Eric saat ini adalah laki-laki yang paling ia benci dan selalu ingin ia hindari. Akan tetapi Nana tidak bisa menghindari fakta bahwa Eric adalah Ayah dari janin yang saat ini dikandungnya.


Nana sudah tidak kuasa lagi melawan kehendak Tuhan yang saat ini harus ia jalani.


Mungkinkah Nana harus bunuh diri lagi? Atau harus menggugurkan bayi ini? Atau dia akan memilih menjalani dan membiarkan semua alur ini mengalir seperti seharusnya.


Tapi apakah Eric mau menerima anak ini?


Semua kebimbangan itu menyesakkan bagi Nana.


Nana tahu diri bahwa Eric sejak awal mengatakan bahwa dia tidak akan bisa memberikan hati dan perhatiannya kepada Nana, karena di hati Eric hanya ada sebuah nama yang tidak pernah tergantikan.


Bahkan Eric yang dengan sengaja mengirim Nana ke luar negeri untuk mengurus proyek selama bertahun-tahun, ia mengerti bahwa Eric sebenarnya hanya tidak ingin Nana mengusik kehidupan pribadinya.


Nana tahu selama bertahun-tahun ini Eric masih mencari Edis. Dan mungkin suatu saat jika Edis kembali, Nana hanya akan dicampakkan oleh Eric dan berakhir menjadi sampah.


Beberapa jam kemudian, Lisa dan Eric datang, Nana sudah tertidur di kamarnya dengan kamar yang terkunci dari dalam.


“Kamarnya Nana terkunci dari dalam. Huh, anak itu…. Maaf ya Eric, kamu pasti sudah sangat lelah mau istirahat dan ganti baju."


"Tidak apa-apa ma, saya bisa menunggu, mungkin Nana sebentar lagi juga bangun."


Eric menuju sofa dan duduk disana menunggu Nana membuka kamar. Dia sangat lelah sampai tertidur di sofa.


Tidak berapa lama Nana keluar kamar, matanya terlihat bengkak karena menangis.


Dia melihat Eric tidur di sofa, Nana semakin sakit hati setiap melihat Eric walaupun dalam keadaan tidur sekalipun.


Bagaimanapun juga, Nana ingin Eric segera pergi dari hadapannya. Dia tidak akan bisa tenang setiap kali melihat Eric di sekitarnya.


Lalu Nana membangunkan Eric,


"Eric, bangun!"


Eric terbangun dan melihat Nana sudah berdiri di sampingnya.


"Kamu udah baikan?"


"Ya, sangat baik. Oh iya, aku sudah memesan tiket first class untuk kamu kembali ke Singapur besok pagi. Masalah proyek disini aku sudah menyerahkan kepada managerku. Lagipula kamu lebih dibutuhkan di kantor daripada disini."


"Okeh, makasih"


Eric menyadari sikap Nana memang tidak pernah menyukai kehadirannya.


Ya, memang Eric sendiri yang membangun komitmen sejak awal untuk saling menjaga jarak dan kontak.


Apalagi Nana saat ini memang membencinya karena kejadian 2 bulan lalu. Eric hanya bisa menuruti Nana, meski ia sedikit merasa terusir.


Setelah Eric kembali ke Singapura, Nana semakin disibukkan dengan proyeknya yang sudah mulai melakukan pembangunan. Setiap hari Nana hampir selalu pulang malam.


Suatu saat Lisa membereskan meja kerja Nana saat Nana sudah tertidur. Namun ia tidak sengaja menemukan foto USG yang terselip di saku cardigan Nana.


Tertulis dengan jelas di data foto tersebut nama Alina Widjaya (nama asli Nana), yang artinya hasil pemeriksaan USG itu adalah milik Nana.


Lisa segera memfoto hasil USG tersebut dan mengirimkannya kepada Kevin.


Kevin segera membalas pesan dari ibunya dan membenarkan jika dilihat dari hasil foto USG itu, memang itu adalah milik Nana dan janin yang dikandungnya saat foto itu diambil adalah masih 8 minggu.


Lisa langsung menghitung perkiraan usia kehamilan Nana saat ini. Dia terkejut dan menyimpulkan bahwa saat Eric ada di Bali beberapa pekan yang lalu, sebenarnya Nana sudah hamil. Dia memastikan lagi dengan melihat tanggal pada saat foto USG itu dicetak. Tepat pada saat itu adalah tanggal ketika pelaksanaan acara adat dan Nana juga pingsan pada hari itu.


Lisa tidak mengerti kenapa Nana justru merahasiakannya kepadanya ataupun kepada Eric. Lisa tidak ingin berprasangka buruk. Dia harus menanyakan langsung kepada Nana.


Saat Nana terbangun, ia melihat ibunya duduk di sofa depan meja kerjanya. Tanpa basa basi lagi, Lisa langsung menginterogasi Nana.


"Kenapa kamu merahasiakan ini dari Mama?"


Nana kaget saat ibunya menunjukkan foto USG-nya.


"Nana, kenapa diam? Untuk apa kamu merahasiakan kalau kamu hamil?"


"Itu....."


"Eric juga belum tahu?"


"Jangan ma! Eric jangan sampai tahu!"


"Maksud kamu? Kamu mau memberi tahu dia secara langsung? Tapi anak ini sudah 2 bln lebih Nana, mau sampai kapan kamu tidak memberi tahu dia? Sementara disini kamu mendapatkan target pekerjaan dari dia yang menguras semua energi dan waktumu. Atau kamu sedang ada masalah dengannya?"


"Ma.... Sebenarnya Nana takut...."


Suara Nana terdengar lirih bergetar.


Lisa mendekati Nana dan dia semakin yakin bahwa sebenarnya anaknya sedang dalam masalah.


"Kenapa sayang? Kamu ada masalah dengan Eric?


"Ma... maafkan Nana.... Nana nggak tahu harus gimana lagi. Nana selama ini berusaha kuat dan bertahan. Tapi Nana seperti semakin terpuruk. Nana dan Eric sebenarnya tidak saling mencintai, ma... Kami hanya berpura-pura menjadi peran suami istri agar kami tidak mengecewakan kalian. Tapi.... malam itu terjadi hal yang tidak terduga...."


Nana ragu melanjutkan kalimatnya, ia serba salah menceritakan pada ibunya.


Tapi dia harus menjelaskan pelan-pelan agar ibunya tidak khawatir padanya.


"Eric saat itu melihat Nana keluar bersama kak Brian, entah kenapa dia tiba-tiba marah dan kami bertengkar malam itu.... Dia hilang kendali karena saat itu dia sedang mabuk. Eric memperkosa Nana.... Nana berusaha melupakannya tetapi Nana malah harus mendapat kenyataan pahit seperti ini..."


Nana menangis sesenggukan di pangkuan ibunya.


Dia meluapkan semua kesedihan dan kebimbangan yang selama ini ia tanggung sendiri.


"Eric hanya mencintai kekasihnya ma.... Dia tidak menyukai Nana, apakah dia juga akan mau menerima anak ini? Karena saat itu Eric melakukannya pada saat dia khilaf, bukan atas kesadarannya sendiri.... Maafkan Nana ma.... Nana sudah beberapa kali mendatangi klinik untuk mengaborsi anak ini, tapi hati nurani Nana selalu berusaha mencegahnya, Nana takut berdosa.... Nana tidak bisa ma...."


Lisa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia juga merasa gagal menjadi seorang ibu. Perjodohan ini adalah atas dasar keinginannya dan suaminya, tapi dia malah menjerumuskan anaknya sendiri ke dalam jurang penderitaan.


"Nana dan Eric sudah membuat kesepakatan bahwa kami akan bercerai setelah Eric memiliki hak waris sepenuhnya atas Shine Grup... Itu adalah perjanjian kami."


"Tapi anak ini tidak bisa disembunyikan, Nana.... cepat atau lambat Eric pun juga pasti tahu kamu hamil..."


Nana menggeleng,


"Jangan saat ini ma.... Nana belum siap..."


Lisa tidak mampu berkata apa-apa lagi.


Dia dalam posisi yang serba salah.


Saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa agar Eric mau menerima Nana dan anak yang dikandung Nana.


--------------------------------


Perusahaan Shine Grup masuk dalam nominasi Asia Corporate Excellence & Sustainability Awards (ACES) sebagai perusahaan terbaik yang memiliki Outstanding Leaders in Asia dalam dekade ini, Eric mendapatkan kehormatan untuk hadir di Jepang.


Julia meminta Eric untuk datang bersama Nana. Namun Eric ragu apakah Nana mau menghadiri acara tersebut bersamanya. Mengingat kejadian di Bali beberapa bulan lalu, Nana berusaha mengusirnya dari Villa.


Eric menelpon Nana dan jawabannya seperti dugaan Eric,


Nana dengan alasan sibuk tidak bisa hadir.


Julia sudah tidak bisa membujuk Nana, sepertinya Nana mungkin sudah menyerah dengan Eric.


Akan tetapi Erica merasa ada yang janggal. Sebab ia tahu meskipun sebelumnya Nana juga enggan pergi dengan Eric, Nana tetap akan melakukannya demi ibunya.


Tapi kali ini Nana menjadi seperti semakin menghindari Eric dan keluarganya.


Akhirnya Erica pergi sendiri tanpa sepengetahuan Eric dan Nana ke Nusa Dua untuk menemui Nana untuk meminta penjelasan dari Nana. Dia hanya ingin menjadi penengah perang dingin antara Nana dan Eric. Dia datang dengan maksud untuk mendamaikan mereka berdua.


Erica langsung menemui Nana ke Villa ibunya Nana. Tapi saat Erica datang, Nana masih berada di kantornya, dia hanya bertemu dengan Lisa.


Lisa tidak menceritakan apapun tentang kehamilan Nana.


Namun pasti kali ini Erica akan tahu, sebab dengan usia kehamilan Nana yang sekarang sudah memasuki 7 bulan, tentu saja tidak bisa disembunyikan lagi, meskipun selama ini Nana membungkam seluruh staf kantornya untuk tidak mengatakannya pada Eric.


Nana malam itu pulang tidak terlalu larut, karena memang dalam 1 bulan ini staminanya sudah mulai menurun dan cepat lelah.


Nana sangat terkejut di rumahnya ada Erica.


Begitupun juga dengan Erica yang terkejut melihat Nana yang saat ini sedang hamil.


Tampaknya Nana sudah tidak bisa lagi menghindar lagi, dia harus menghadapi kemungkinan bahwa Eric secepatnya tahu bahwa dia hamil. Erica mengajak Nana berbicara empat mata perihal masalah kehamilan Nana,


"Jadi kak Eric belum tahu?"


Nana hanya mengangguk.


"Setidaknya kamu bilang padaku ataupun mama Julia tentang kehamilan kamu."


"Maaf Erica, aku belum siap."


"Anak itu juga pasti lahir Nana... Dia adalah darah daging keluarga Shine. Sekalipun kak Eric tidak mengharapkan kehadirannya, anak itu tetap adalah cucu pertama keluarga Shine. Mama Julia akan sedih jika dia harus kehilangan pewaris Shine Grup."


"Erica.... Apa Eric akan menerima anak ini? Dia sendiri yang pernah mengatakan padaku bahwa hanya Edis yang boleh melahirkan anak-anaknya."


Erica tidak bisa menjawab pertanyaan Nana, ia hanya bisa memeluk Nana. Meski ia tidak bisa merasakan luka di hati Nana, namun ia bisa merasakan kesedihan sebagai sesama wanita.


"Nana, kenapa kamu tidak mencoba jujur kepada kak Eric? Apa kamu pernah mencoba bilang padanya?"


Nana hanya menggeleng.


Dalam hati Erica, ia berjanji akan membantu Nana untuk mencari jalan keluar. Dia yang akan memberi tahu Eric tentang kehamilan Nana. Walau ia tahu Eric masih mencintai Edis, tapi Erica sangat mengenal watak kakaknya yang masih memiliki kebaikan dan memungkinkan untuk membuka hati bagi Nana.


Tanpa sepengetahuan Nana, Erica memfoto semua dokumen hasil pemeriksaan Nana dan semua foto hasil USG perkembangan janin Nana tiap bulan selama kehamilannya


Kemudian mengirim ke email Eric.


Eric saat itu sedang menuju bandara untuk berangkat ke Jepang menghadiri acara ACES, meskipun tanpa Nana. Eric pergi bersama Richo.


Saat dia baru duduk di seat pesawat jet pribadinya, dia membuka email dari Erica.


Eric sangat kaget melihat pesan yang dikirim Erica. Bagaimana mungkin selama ini ia tidak tahu kalau Nana hamil.


Dia langsung menelpon Erica dan menyuruh Erica menggantikan dirinya ke Jepang.


Eric sangat marah, kesal, kecewa, semuanya bercampur aduk ingin dia lampiaskan pada Nana.


Dia selama ini merasa seperti orang bodoh dan pecundang.


Hari ini juga dia harus meminta penjelasan dari Nana.


"Richo, bilang pada pilot, Kita akan ke Bali dulu."


"Kenapa mendadak?"


"Ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Nana. Kita nanti sekalian menjemput Erica di Ngurah Rai.


------------------------------


2,5 jam kemudian


Eric sudah sampai di Ngurah Rai, disana sudah ada Erica.


Erica menjelaskan semua yang ia dengar dari Nana, begitu juga dengan prasangka Nana.


Eric mendengar semua penjelasan Erica sambil berpikir ketika nanti dia bertemu dengan Nana, hukuman apa yang pantas dia berikan kepada Nana.


Erica melihat wajah Eric yang sudah merah padam, dengan tatapan mata yang tajam sambil mengigit kuku jarinya, dia tahu kakaknya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nana. Tapi untuk saat ini, Nana masih perlu waktu.


"Aku harus menemui Nana!"


"Tapi kak..."


Eric langsung berlari mencari taksi menuju Nusa Dua. Dari Ngurah Rai ke Nusa Dua sekitar 1 jam perjalanan, selama perjalanan Eric berusaha menelpon Nana namun tidak diangkat.


Eric semakin geram dan menelpon Malik, manager Nana dan memberi tahu bahwa dia saat ini sedang di jalan menuju Nusa Dua menemui Nana.


Nana saat itu yang sedang bersama Malik, mendapat informasi dari Malik bahwa Eric sekarang sedang di perjalanan.


Dada Nana berdegub sangat kencang, ia harus menyiapkan mentalnya untuk bicara dengan Eric.


Nana sudah berpikir bahwa hari ini pasti akan tiba. Tapi setidaknya dengan usia kandungannya sekarang yang sudah 7 bulan, tidak akan mungkin Eric menyuruhnya aborsi. Kemungkinannya, mereka akan pasti bercerai.


Nana tiba-tiba menjadi seperti seorang pengecut yang takut menghadapi Eric.


Bagi Eric, menuju 1 jam perjalanan terasa sangat lama.


Sedangkan bagi Nana, 1 jam adalah waktu yang sangat cepat.


Kedua orang ini sama-sama sedang menunggu waktu dalam kecemasan yang berbeda.



-------------------------------


Kira-kira apa yang akan terjadi setelah Eric menemui Nana???


Jawabannya ada di chapter selanjutnya yang akan terbit besok.🤗


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....