I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] MASA LALU SHAILA (2)



Shaila tentu tidak menyangka jika hubungan kakaknya dengan Rasyid menjadi sahabat dekat. Sejak terjadi pertemuan kembali antara keluarganya dengan Rasyid di pernikahan kakak ketiga Rasyid. Sekalipun ia juga termasuk berasal dari keluarga terhormat, namun kehormatan keluarga Shaila tetap tidak sebanding dengan keluarga Rasyid yang merupakan keluarga Kesultanan.


Sejak saat itu, Sharif selalu saja bersikap aneh pada Shaila. Sharif yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menanyakan apa makanan kesukaan Shaila, hobi Shaila, dan barang-barang yang ingin dibeli Shaila saat Sharif sedang jalan-jalan di suatu tempat wisata di Inggris. Tentu saja Shaila sangat senang dengan perubahan kakaknya. Meski Shaila pada akhirnya tahu bahwa semua itu bukan kehendak kakaknya, tapi atas inisiatif dari Rasyid.


Shaila tidak berani berasumsi macam-macam, baginya mengenal Rasyid itu sudah cukup. Dia tidak ingin terlalu mengira-ngira meski sempat ia terpikir mengapa Rasyid melakukan itu untuk Shaila.


Shaila hanya gadis remaja biasa, sedangkan Rasyid adalah mahasiswa yang tentunya memiliki banyak teman dekat yang mau dilihat dari segi manapun, Shaila tidak ada apa-apanya.


Tapi Shaila salah.


Suatu hari Shaila menerima sebuah paket dari Manchester. Bisa ditebak bahwa itu dari Rasyid.


***



***


"Aku menunggu suratmu, mengapa kau tak mengirim balik?"


Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari aplikasi WhatsApp Shaila.


Shaila terbelalak saat melihat foto orang yang ada di profil nomor tersebut. Shaila tak bisa bicara apapun. Sungguh ia tak menyangka Rasyid benar-benar menghubunginya.


Shaila bingung akan menjawab dengan kalimat apa. Dia sengaja mendiamkan pesan tersebut.


"Shaila, mengapa kau tak balas juga message saya?"


Shaila semakin bingung.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


Shaila semakin panik melihat siapa yang menghubunginya.


Rasyid.


"Kau kenapa Shaila?"


"Ah...tidak... tidak apa-apa..."


Shaila gemetar. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


Shaila yang saat itu masih merupakan siswi kelas sembilan merasa takut menerima perlakuan kejutan dari seorang pria, terlebih lagi pria itu adalah orang yang dianggap Shaila sebagai seseorang yang tak mungkin dia gapai.


Shaila saja takut untuk cerita pada keluarganya, apalagi pada temannya. Karena apa yang Shaila rasakan saat itu mungkin bisa saja hanya dianggap perasaan Shaila belaka. Dan apabila tidak benar, maka Shaila akan dianggap melakukan fitnah pada keluarga Sultan.


Shaila pun akhirnya memberanikan dirinya menerima panggilan telepon dari Rasyid.


"H-hhalooo... Assalamualaikum..."


Suara Shaila gemetar.


"Walaykumsalam, Shaila... kenapa kau tak balas message saya?" ucap Rasyid di seberang telepon.


"Mm-maaf Tunku..."


"Shaila kau tak baca surat yang kukirimkan pada kau?"


Shaila diam. Tebakan Rasyid benar. Shaila memang tidak membaca surat yang diberikan Rasyid padanya.


"Shaila kau masih di sana?"


"I-iya Tunku..."


"Jangan panggil aku Tunku... Aku teman abangmu. Dan lagi... sudah ku jelaskan dalam surat itu semuanya."


"Jadi saya harus panggil apa?" Shaila bicara dengan polosnya.


"Abang." Jawab Rasyid dengan singkat.


Dada Shaila berdegub semakin kencang. Perasaan saat itu sama dengan perasaan pada saat Shaila mendengar Rasyid menyuruh dirinya memanggil abang saat di acara pernikahan kakak ketiga Rasyid.


"Coba sekarang kau panggil aku..." Rasyid menguji Shaila.


"Saya tidak berani Tunku..."


"Shaila, apa kau tak percaya padaku? Sampai detik ini kau tak percaya padaku?"


"Shaila... hanya tidak mau terlalu berprasangka. Tunku Pangeran orang besar... Bukan kuasa Shaila untuk berprasangka yang tidak pantas pada Tunku..."


"Baiklah, jadi begitu.... Kau juga tak akan percaya kalau aku bilang secara langsung bahwa aku sangat menyukaimu."


Kalimat itu akhirnya terlontar dari mulut Rasyid.


Tubuh Shaila seolah membeku, namun kakinya malah seolah meleleh tak kuat menahan tubuhnya sehingga ia pun jatuh terduduk.


Shaila seorang gadis normal yang pasti memiliki perasaan. Apalagi terhadap pria seperti Rasyid. Jika saja Rasyid bukan seorang pangeran, mungkin mudah bagi Shaila untuk mencoba meyakinkan dirinya belajar memahami arti dari setiap sikap yang diberikan Rasyid padanya.


Shaila tak punya pilihan lain selain menghindar. Dia memutuskan memblokir nomor Rasyid, mengatakan pada Sharif jika ia tak ingin menggunakan ponsel karena menjelang ujian nasional kenaikan grade, jika Sharif ingin menghubungi Shaila maka ia bisa melalui ibu atau ayah mereka.


Rupanya usaha Shaila melakukan penghindaran bisa dikatakan berhasil. Shaila pun mulai menjalani hidup yang tenang. Perasaan terhadap Rasyid ia simpan sebagai kenangan masa pubernya. Dulu dia memang sangat menyukai Rasyid, tidak lain karena Rasyid pantas dianggap sebagai idola remaja pada saat itu. Tapi semakin Shaila dewasa, dia merasa bahwa menyukai idola sebagai seorang yang istimewa di hatinya tentu akan lain ceritanya. Shaila tidak ingin menjadi si pungguk merindukan rembulan. Bermimpi sesuatu yang mustahil.


Dan saat yang bersamaan pula, Caesar datang dalam kehidupan Shaila sebagai seorang junior di organisasinya. Namun rupanya Caesar juga sama, kebaikan dan ketulusan yang ia tawarkan pada Shaila rupanya ada harganya, yaitu karena dia menyukai Shaila. Tapi bagi Shaila, tidak sulit untuk mengabaikan Caesar. Shaila selalu berusaha menjadikan keseriusan Caesar sebagai candaan dan menganggap perasaan Caesar padanya hanya sebatas perasaan puber seorang anak laki-laki.


-----------------------------------


Beberapa bulan kemudian Shaila lulus Grade, dia pun akhirnya menjadi siswa High school. Shaila memang siswi yang sangat cerdas. Dia berhasil masuk ranking tiga besar parallel.


Kedua orang tua Shaila mengadakan tasyakuran kecil di rumah mereka untuk syukuran kenaikan grade Shaila. Shaila sendiri tidak tahu jika orang tuanya mengadakan pesta kecil di rumahnya karena memang orang tuanya ingin memberi kejutan pada Shaila.


Dan pada saat Shaila pulang, kejutan itu memang benar-benar mengejutkan Shaila.


Karena Rasyid juga ada di rumah Shaila.


Shaila ingin langsung lari tapi dia tak mungkin melakukannya di depan keluarganya. Shaila hanya bisa berdiri mematung.


"Shaila.... mengapa kau tiba-tiba pucat?" ayah Shaila langsung menghampiri Shaila.


"Abah... Shaila ingin istirahat..."


"Baiklah, abah antar kau ke kamar..."


Shaila diantar ayahnya menuju kamar. Dia ingin istirahat sejenak di kamarnya.


Selama Shaila istirahat di kamar, Shaila tidak tahu rupanya Rasyid mengatakan banyak hal pada keluarga Shaila.


Tok...Tok...


"Shaila.... boleh abah masuk?"


"Iya abah... masuk saja...."


"Shaila... abah dan Tunku Rasyid mau bicara."


Deg.


Hati Shaila kembali bergejolak. Dia tak bisa menghindar lagi. Terpaksa Shaila harus menghadapinya. Hanya saja mungkin Shaila tidak sendiri, ada kedua orang tua dan kakaknya yang mungkin membantunya.


Namun ternyata lagi-lagi Shaila salah.


Keluarga Shaila malah memberi kesempatan kepada Rasyid untuk menjelaskan semuanya secara langsung di depan Shaila.


"Dokter... saya tahu selama ini Shaila bimbang... Tapi saya bisa pastikan bahwa saya tidak bermaksud mempermainkan Shaila." Rasyid mulai bicara langsung pada intinya kepada ayah Shaila.


Shaila duduk dengan terus menunduk.


"Shaila.... mengapa kau tak cerita pada abah?"


Shaila hanya diam.


"Tunku... Shaila masih belum mengerti apa-apa. Dia mungkin masih belum bisa memahami semua maksud perlakuan Tunku..." Sharif membela Shaila.


"Mungkin memang terdengar konyol, tapi saya yakin dengan apa yang terjadi pada diri saya. Saya menyukai Shaila. Memang awalnya semua dari candaan yang dilontarkan ayah saya, tapi pada saat itu sebenarnya saya telah memikirkan bagaimana jika itu bukan candaan. Dan selama beberapa tahun ini saya selalu mencoba mencari sendiri informasi perkembangan Shaila. Mulai dari follow akun media sosialnya, melihat activitinya, hingga membuat notifikasi khusus saat Shaila mengupdate statusnya. Dan saat saya melihat Shaila secara langsung, ada rasa tak rela jika dia akan dimiliki orang lain lebih dulu ketimbang saya."


Shaila semakin terperangah dengan semua penjelasan Rasyid. Dia sungguh tak menyangka ternyata Rasyid selama ini telah mengamatinya sejak lama, bahkan sebelum pertemuan di acara pernikahan kakak Rasyid.


"Shaila... kau boleh tak percaya semuanya, sebagian, atau tidak sama sekali." Rasyid menatap Shaila


"Sulit dipercaya.... Saya masih berusia 15 tahun Tunku... Sedangkan Tunku Rasyid..."


"Karena aku sudah mahasiswa? memiliki teman dari banyak suku dan ras? dan tentu saja memiliki teman wanita yang aku sukai?"


Shaila mengangguk pelan.


"Kau tahu makna kalimat, bahwa sekalipun pria itu seorang womanizer, dia akan tetap mencari wanita yang baik untuk dijadikan pendamping hidupnya. Tapi itu mungkin masih panjang bagimu Shaila. Aku hanya ingin kau percaya bahwa aku tak pernah main-main. Dalam tradisi Kesultanan, usia 17 tahun dianggap sudah memiliki kematangan dan kesiapan untuk menikah. Kakakku bertunangan saat dia berusia 17 tahun. Meskipun pada akhirnya dia menikah di usia 25 tahun. Mungkin aku juga akan demikian. Saat ayahku mengatakan untuk pertama kalinya padamu saat itu, aku anggap itu adalah sebuah janji. Karena sejak saat itu hingga sekarang, aku bahkan belum bertunangan dengan siapapun."


Shaila sungguh tidak menyangka Rasyid akan bicara demikian padanya di hadapannya. Orang yang selama ini dianggap sebagai mimpi bagi Shaila benar-benar menjadi nyata. Dia bahkan menawarkan Shaila tempat yang paling dekat dengan dirinya, yaitu sebagai tunangannya.


"Shaila..." Rasyid merundukkan tubuhnya ke hadapan Shaila yang duduk di hadapannya.


"Kau mau menerimaku?" Shaila menatap mata Rasyid dengan penuh harap.


Shaila bingung, takut, senang, bahagia, tak percaya, bimbang, semuanya campur aduk. Hingga akhirnya Shaila hanya bisa,


Mengangguk.


Dan sejak saat itu hubungan Shaila dengan Rasyid kembali dekat. Shaila belajar membuka hatinya untuk Rasyid sedikit demi sedikit. Rasyid yang memiliki perangai telaten dan sabar membuat Shaila merasa nyaman dan menganggapnya seperti kakaknya sendiri.


Rasyid sangat bisa memanjakan Shaila karena pada dasarnya Rasyid memang ingin memiliki adik perempuan. Terlebih ia adalah seorang pangeran yang memiliki kehidupan keras dan disiplin sejak kecil, sehingga ia merasa Shaila yang manja, lembut, dan pemalu, adalah sebuah kelengkapan yang membuat hatinya terasa sempurna.


Dan pada saat Shaila berusia 17 tahun, Rasyid membuktikan ucapannya.


Dia melamar Shaila.


Kali ini Shaila sudah berbeda, waktu yang telah ia jalani kurang lebih dua tahun untuk saling mengenal dan saling dekat dengan Rasyid sudah cukup membuat Shaila dipenuhi perasaan bahagia dan tidak tersisa keraguan sedikitpun di dalam hatinya.


Untuk pertama kalinya Shaila memang telah sungguh jatuh cinta pada seseorang.


Rasyid adalah cinta pertama bagi Shaila.


Tidak perlu menunggu waktu lama bagi Rasyid untuk membuat Shaila setuju menerima lamarannya. Hati Shaila sudah sepenuhnya bulat dengan menerima Rasyid.


Bahkan Shaila sudah bisa merangkai masa depan yang kelak akan ia tempuh bersama Rasyid. Hidup bersama di luar negeri selama Shaila menempuh studi untuk menjadi dokter. Bisa berbagi segala cerita dan susah payah hidup dengan Rasyid. Dan kebahagian itu seolah telah terangkai dalam pikiran Shaila.


Kehidupan mereka normal saja setelah bertunangan. Shaila tetap di Singapore, sedangkan Rasyid berada di Manchester sampai ia menyelesaikan studinya hingga wisuda. Shaila tidak pernah menceritakan pada siapapun jika ia telah bertunangan, apalagi pada Caesar yang jelas ia akan sakit hati jika Shaila menceritakannya.


Meskipun Caesar sering membuat Shaila merasa canggung dengan sikap Caesar yang memuliakan Shaila, hingga Shaila ingin sekali mengatakan bahwa dirinya telah dimiliki orang lain. Tapi Shaila tidak sampai hati tega melakukannya. Bagaimanapun, Caesar adalah anak yang kurang kasih sayang di mata Shaila. Mungkin dirinya akan lebih baik jika menjadi kakak untuk Caesar.


Hubungan Shaila dan Rasyid sebagai sepasang tunangan semakin baik dan semakin intim. Naluri Rasyid sebagai pria dewasa berusia 25 tahun yang telah matang tak bisa dipungkiri. Shaila yang semakin bertambah usia menjadi semakin terbentuk sebagai gadis belia yang hampir ranum, membuat Rasyid tentu ingin segera memilikinya dan tidak ingin siapapun menyentuhnya. Shaila yang sudah mulai disibukkan dengan berbagai try out dan bimbingan belajar untuk persiapan masuk Universitas, akhirnya harus mengurangi komunikasi dengan Rasyid. Lebih tepatnya dia tidak sengaja mengurangi, hanya saja dia sudah tidak punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan Rasyid.


Tapi kenyataan itu ditepis oleh Rasyid. Dalam pikiran Rasyid, dia ingin melindungi Shaila yang merupakan hak miliknya. Dia tidak ingin memberi celah sedikitpun bagi orang lain untuk menyentuh teritorialnya, yaitu Shaila. Hingga Rasyid tidak menyadari bahwa dirinya menjadi pria yang posesif, over protektif, dan sangat mengekang Shaila.


Keluarga Shaila berusaha menjelaskan pada Rasyid atas kesibukan Shaila. Namun Rasyid sudah terlanjur hanyut dalam delusi negatifnya. Bahkan Rasyid selalu marah ketika Shaila tidak segera menerima panggilan teleponnya. Tuduhan- tuduhan yang tak berdasar semakin sering diterima Shaila. Hingga Shaila sempat mengalami stress karena tekanan hati dan pikirannya.


"Ummi... Shaila tidak sanggup lagi... Shaila pengen bebas. Shaila ingin masuk Harvard, tapi dengan keadaan seperti ini, bagaimana bisa?"


"Shaila.... Rasyid hanya terlalu berpikir negatif. Kami akan terus menjelaskan padanya bahwa kamu tidak kemana-mana, dia tidak perlu khawatir atau cemburu."


"Tapi dia sudah sangat posesif ummi... Bahkan di percakapan terakhir Shaila dengan dia, dia mengatakan akan segera menikahi Shaila dan tidak akan mengijinkan Shaila studi ke Harvard jika Shaila selalu mengabaikannya... Shaila tidak bermaksud mengabaikannya...."


"Rasyid terlalu mencintaimu, nak..."


"Abang Rasyid telah berubah... dia tidak seperti dulu..."


Shaila menangis di pangkuan ibunya. Shaila tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Di tengah kesedihan itu kembali terbesit dalam pikiran Shaila, andaikan saja dia tidak bertunangan, mungkin ia saat ini bisa dengan puas dan leluasa belajar. Tidak ada yang mengganggu ataupun membuatnya tertekan. Namun kembali Shaila diingatkan, bahwa Rasyid bukan pria biasa. Dia adalah seorang putra Sultan. Menyakiti Rasyid terlebih memutus tali pertunangan, itu akan sama dengan melakukan penghinaan pada keluarga Sultan.


-------------------------------------


Dalam 3 episode ini masih menceritakan masa lalu Shaila ya kawan-kawan...


-------------------------------------


****Halo sobat pembaca**


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**