I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] TERJEBAK PERANGKAP



Bukk!


Caesar langsung menancak kursi santai yang diduduki Regal saat dia melihat Regal duduk santai berjemur sambil menikmati mojito di kursi malas di dek belakang yacht.


"Aku pikir kamu sudah kehilangan akal sehatmu, Regal!"


Regal yang tidak siap dengan serangan Caesar yang tiba-tiba. Dia terjungkal dari kursi sambil tergopoh- gopoh untuk berdiri. Tapi Caesar langsung menarik lengan Regal dan menghadapkan wajah Regal persis ke depan wajahnya.


"Aku tidak menyangka pikiran kamu sekotor itu Regal!"


"Apa yang aku lakukan? Aku hanya ingin menunjukkan naluri aslimu saja. Ternyata kamu juga tidak ada bedanya denganku... hmm, tentu saja karena kita bersaudara."


"Regal!"


Kali ini Caesar merasa semakin sangat kesal dengan provokasi Regal.


"Bukkk!"


Akhirnya sebuah tinju mendarat di pipi Regal hingga ia jatuh tersungkur. Regal sempat kesakitan, tapi bukannya mengeluh atau membalas. Regal justru tertawa melihat Caesar yang emosi terhadapnya.


***



***


Caesar berdiri menatap Regal yang malah cengengesan melihat dirinya yang tampak sangat marah.


Tangan Caesar masih mengepal dan siap untuk menyerang, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Karena memancing kemarahan Caesar adalah tujuan utama Regal.


Tung - tung - tung


Suara panggilan masuk di ponsel Caesar. Caesar langsung melihat ke layar ponselnya, ternyata Eric yang menghubunginya. Caesar sudah memiliki firasat buruk dengan panggilan Eric.


Caesar membalikkan badannya sambil menerima panggilan dari Eric.


"Halo..."


"Caesar apa yang terjadi?!"


Telinga Caesar hampir berdengung karena teriakan Eric di ponsel.


Caesar menoleh ke arah Regal yang melihat dirinya menerima telepon dengan tatapan seolah Regal tahu siapa yang menghubungi Caesar kali ini.


"Jadi daddy sudah tahu?"


"Regal mengirim rekaman video saat kamu dan Yuri sedang bersama. Apa yang terjadi Caesar?"


"Tampaknya memang dia sengaja melakukannya."


"Apa maksudnya? siapa yang kamu maksud dengan dia?"


"Tentu saja anak dan calon menantu Daddy yang sengaja membuat perangkap ini untukku!"


Mata Caesar melirik tajam ke arah Regal dan Yuri secara bergantian.


"Daddy tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikan semuanya."


Caesar lalu memutus panggilan telepon dari Eric dan sengaja mematikan ponselnya agar kali ini dia tidak terdistraksi saat menyelesaikan urusannya dengan Yuri dan Regal.


"Kalian cepat sekali bertindak. Sangat kentara kalau semua ini sudah kalian rencanakan..."


Regal tersenyum menanggapi kalimat Caesar. Dia berdiri menegakkan tubuhnya dan mendekati Caesar.


"Kamu sama sekali tidak waspada kakakku sayang... kamu pikir aku tidak akan memikirkan sesuatu?"


Regal berjalan ke arah Yuri dan memposisikan dirinya di belakang Yuri lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Yuri dari belakang.


"Semua ini adalah rencana kami. Ya... memang. Tapi apakah orang lain akan percaya kalau kami yang merencanakan semuanya? Katakan padaku kak Caesar, apakah semalam kamu tidak menikmatinya?"


Caesar menggeretakkan giginya hingga bibirnya tampak sedikit bergerak. Tangannya mengepal semakin kuat, seolah ingin menyumpal mulut Regal dengan tinjunya. Tapi dia tidak boleh menunjukkan kemarahannya, karena itu akan membuat Regal semakin puas.


Caesar memejamkan matanya sekaligus mengatur nafasnya untuk menstabilkan jantungnya yang berdetak cepat karena darah di dalam tubuhnya sudah mendidih.


"Huh... " Caesar menghembuskan nafasnya,


"Regal... sekalipun kamu melakukan hal sekotor itu padaku, sejujurnya aku akan tetap menyayangimu sebagai adikku."


"Kamu memandangku sekotor itu? Tapi bagaimana dengan pandangan keluarga besar kita, apalagi keluarga Weishi yang baru saja semalam mereka menjunjung namamu dengan penuh kehormatan. Sekarang kenyataannya semua berbanding terbalik."


"Aku tidak akan marah karena kamu berusaha menghancurkan aku. Tapi aku kesal karena kamu tidak bisa tumbuh dengan benar. Kenapa adikku bisa memiliki tabiat seperti itu? Apa yang salah dengan dirimu?"


"Apa yang salah? Ha ha ha ha....." Regal tertawa terpingkal mendengar pertanyaan Caesar.


"Bukankah dulu kamu selalu bilang bahwa aku lahir ke dunia juga adalah sebuah kesalahan? Apa kamu ingat?"


Caesar terkejut dengan sikap Regal. Mengapa Regal tiba-tiba membahas kejadian yang sudah lampau, atau selama ini Regal memang menyembunyikan sisi dirinya yang masih terbelenggu dalam kebenciannya pada Caesar. Padahal dalam beberapa tahun ini hubungan Caesar dan Regal sudah sangat membaik. Layaknya Kakak beradik yang normal.


"Regal... semua kesalahan itu sudah aku tebus dengan semua yang aku lakukan sekarang. Tapi jika kamu tetap seperti itu padaku, maka aku pun juga akan bertindak."


Caesar berjalan mendekati Yuri.


"Maaf mengecewakanmu Yuri, tapi kamu akan tetap menjadi tunangan Regal. Itu tidak akan berubah."


"Tapi keluargaku sudah mengetahui semuanya,"


"Aku tidak bodoh. Sekalipun keluargamu tahu dan melaporkan aku, apa polisi akan percaya seseorang dengan obat bius di dalam tubuhnya bisa memperkosa seseorang yang sedang dalam kondisi sadar."


"Mungkin aku tidak akan melaporkannya, tapi aku akan meminta mereka menikahkan kita."


"Hheh... Itu tidak akan terjadi..."


---------------------------------------


Caesar duduk di kursi tunggu bandara,


Diam dengan pandangan kosong seolah tanpa wajah. Pikiran Caesar terus bergelayut pada kejadian pagi ini. Dia masih tidak habis pikir dengan tindakan Regal yang membuatnya tidur dengan Yuri.


Ingatan Caesar flashback pada ucapan Regal,


(flashback)


"*Apa kamu tidak merasa de javu melihatku sekarang? Dulu kamu yang dituntut harus sempurna. Sekarang malah aku yang jadi sepertimu."


"Bagi mereka aku memiliki aib yang harus dikubur dan sebagai gantinya aku harus memiliki kejeniusan dan kesempurnaan agar orang-orang tidak mengingat aku pernah tidak waras."


"Aku hidup dalam tekanan sementara aku harus terlihat bahagia. Apakah itu bisa dilakukan?


"Kamu beruntung memiliki banyak orang yang mendukungmu. Sedangkan aku, semakin banyak orang yang ku kenal, mereka selalu menuntutku sempurna, membandingkan aku dengan dirimu, dan akhirnya membuatku teringat semua kenyataan kelam itu."


(end*)


Kalimat yang dikatakan Regal semalam terus berputar di kepala Caesar. Dia berkali-kali memejamkan matanya berusaha untuk melupakan kalimat kamuflase itu.


Regal tidak mengatakan semua itu bukan sedang mencurahkan apa yang sedang ia rasakan kepada kakaknya. Namun semua yang dia katakan itu rupanya mengandung ultimatum secara implisit untuk mengingatkan Caesar bahwa Regal ingin Caesar juga merasakan rasa sakitnya.


"Tuan Caesar... Maafkan saya..."


Xing datang menghampiri Caesar dengan terengah-engah.


"Ayahku sudah mengatakannya padamu?"


"Maafkan saya Tuan, saya lalai, saya berusaha menjaga jarak agar tidak diketahui oleh Tuan Regal. Tapi saya malah tidak bisa melindungi anda..."


"Sudahlah.... mereka memang terlalu licik untuk diremehkan. Katakan pada ayahku untuk terus mengawasi gerak gerik Regal untuk saat ini. Aku yakin kejadian pagi ini bukan hanya untuk memberiku pelajaran. Aku yakin dia pasti akan membuat rencana selanjutnya."


"Baik Tuan, saya mengerti."


"Ini, berikan pada ayahku."


Caesar memberikan sebuah amplop dokumen hasil laboratorium kepada Xing.


"Sebelum aku ke sini, aku melakukan tes toksikologi di rumah sakit. Mereka menemukan kandungan alkohol dalam darahku dan residu chloroform di dalam urinku. Aku tidak akan segila itu meracuni diriku dengan obat bius yang membuatku tidak sadar selama beberapa jam. Pemerkosa konyol macam apa yang akan dengan bodohnya membius dirinya sendiri saat dia memiliki kesempatan untuk bersenang-senang dengan wanita."


"Saya akan sampaikan pada Tuan Eric secepatnya."


"Sebentar lagi Yuri pasti akan merengek untuk meminta pertanggung jawabanku. Dia akan membatalkan pertunangannya dengan Regal, sebagai gantinya dia akan menumbalkan aku."


"Dan jika Tuan Regal memang berniat melakukan ini, artinya dia juga ingin menghancurkan pertunangannya?"


"Ya... itu yang dikatakan Regal padaku. Dia memang tidak ingin menikahi Yuri. Dan sepertinya Yuri sendiri juga terlalu gelap mata dimanfaatkan oleh Regal. Aku tidak menyangka mereka seperti itu. Bisa jadi anggota keluarga Weishi yang lain juga yang merencanakan semua ini. Aku curiga dengan ibunya Yuri, dia mungkin juga terlibat untuk menjebakku. Sangat mustahil mereka akan diam saja melihat Yuri menolongku mabuk bahkan hingga masuk ke dalam kamar. Itu terlalu luar biasa tidak masuk akal."


-------------------------------------


"Trang!!"


Yuri melemparkan beberapa kosmetik di meja riasnya.


"Kamu bilang dia akan bertanggung jawab! Tapi dia bahkan seolah menyumpahiku bahwa dia tidak akan sudi menikah denganku!"


"Aku sudah bilang padamu untuk jangan banyak bicara jika berhadapan dengan dia. Aku sudah memberi tahumu karakter Shaila supaya kamu bisa belajar bagaimana menjadi Shaila untuk menghadapi Caesar!"


"Aku sudah mempertaruhkan wajahku. Jika sampai Caesar melakukan hal di luar rencana kita, mau di taruh di mana wajahku?!"


"Dia tidak akan berani mempermalukanmu. Dia bukan orang yang seperti itu."


"Tapi bagaimana jika rencana kita tidak berhasil?"


"Apakah semalam kamu benar-benar melakukannya?"


"I....iyaaa... aku melakukannya. Tapi dia tidak merespon apa-apa, meskipun aku berusaha membuatnya terangsang. Sudah ku bilang seharusnya kamu memberinya obat perangsang, bukan obat bius!"


"Jadi semalam kamu sama sekali tidak bisa membuatnya membuahimu? Bahkan membuatnya tegang pun tidak bisa?!"


Yuri perlahan diam membungkam mulutnya.


"Aku sudah tahu jawabannya, kamu gagal! Sekarang dia akan melakukan segala cara untuk waspada pada kita."


"Tapi setidaknya kita memiliki bukti rekaman cctv saat kami berdua."


"Tapi itu tidak membuktikan dia menyerangmu! Kenapa kamu bodoh sekali, Yuri...."


"Lalu sekarang kita harus bagaimana."


"Bagaimana lagi. Kamu bahkan tidak berhasil membuat dia menghamilimu, aku yakin tidak akan ada lagi kesempatan bagi kita setelah ini."


Yuri hanya diam mendengar Regal yang terus menyalahkan dirinya.


"Mungkin lain kali... Aku juga tidak bisa melakukannya Regal... Kak Caesar orang yang begitu baik padaku... Selama ini dia memandangku sebagai adiknya."


"Jika kita tidak berusaha sekarang, maka pernikahan kita akan benar- benar terjadi. Dari awal kamu menginginkan Caesar sebagai suamimu. Dan sekarang aku ingin membantumu, karena aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi sekarang kamu tiba-tiba bilang tidak tega."


"Meski nanti aku mendapatkan dia, menikah dengannya, apakah dia akan mencintaiku?"


"Itu tergantung usahamu. Tapi yang aku tahu dari Caesar, dia hingga saat ini hanya mencintai Shaila."


Yuri tiba-tiba tersenyum.


"Shaila... mungkin itu kunci bagi kita. Bukankah kamu kemarin mengatakan dia pulang ke Malaysia. Aku akan meminta orangku untuk mencari dan membawa Shaila pada kita."


"Benar juga, Mungkin kita tidak bisa memaksa Caesar, tapi kita bisa membuatnya menyerah dengan sendirinya."


"Apakah Caesar sebegitu cintanya pada perempuan itu?"


"Dia adalah cinta pertama Caesar. Sejauh yang aku tahu Caesar adalah pria yang bersih dari wanita, karena dia menghabiskan waktunya hanya untuk mencintai satu orang saja, yaitu Shaila."


Yuri terlihat sangat kesal mendengar penjelasan Regal tentang hubungan Caesar dan Shaila.


Sementara mereka tidak tahu bahwa Shaila sudah berpisah dengan Caesar.


***



***


---------------------------------------


**Halo kawan-kawan,


Terus dukung author dengan selalu baca novel ini dan "GABUNG DI GROUP CHAT AUTHOR"


Jangan lupa juga,


Klik "Favorite ❤️"


Klik "Like 👍🏻"


Klik "Vote Poin"


Follow akun Instagram @raghfa.jie


Terimakasih banyak.


Dukungan kalian sangat luar biasa bagi author.


❤️❤️❤️**