
***
What do you want?
Nana masih berdiri di balik pintu sambil memegangi dadanya yang masih berdebar dengan ritme yang tidak karuan. Setelah ini bagaimana dia akan memiliki nyali untuk menatap Eric.
Pertanyaan dan pelukan Eric sungguh membuatnya seperti tersengat aliran listrik yang berhasil menggetarkan seluruh bilik jantungnya.
"Perasaan macam apa ini? Entah kenapa sejak aku tahu kak Eric adalah suamiku dan Caesar adalah anakku. Aku seperti merasa masih memiliki keluarga di dunia ini, aku merasa tidak sebatang kara. Padahal sudah jelas dialah akar dari segala bencana ini." batin Nana bergejolak.
-------------------------------
Sejak kemarin Nana menunjukkan sikap yang defensif jika sedang bersama Eric meskipun mereka tidak hanya berdua. Brian jelas bisa melihat perubahan sikap pada Nana terhadap Eric. Namun ia tidak ingin memperkeruh suasana.
Berhari-hari Nana masih bertahan dengan sikap defensifnya. Eric hanya bisa mengikuti sikap Nana. Ia tidak berani mengajak bicara bahkan sekedar berpapasan, Eric hanya bisa melihat Nana yang kemudian memalingkan wajahnya menghindarinya.
"Nana.... apa kamu ada masalah dengan Eric saat aku meninggalkan kalian di rumah tiga hari yang lalu?"
Brian tiba-tiba berada di belakang kursi duduk Nana saat Nana melukis di teras belakang rumah.
"Tidak ada..." Nana menghentikan olesan kuasnya dan hanya menunduk sambil melihat palletnya.
"Besok pagi Eric dan Caesar akan kembali ke Singapore, kamu masih ada waktu nanti malam untuk bisa kembali akur dengannya."
"Malam ini aku akan mengajak Caesar tidur denganku."
"Aku tidak mau mencampuri urusanmu dengan Eric, karena kamu sekarang sudah bisa mengambil keputusan sendiri atas perasaanmu. Saat kamu tenggelam di danau taman, kamu terlihat asertif terhadap Eric. Semua orang yang ada di taman juga pasti bisa menebak kalian berdua adalah pasangan."
"Kak Brian, sebenarnya aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku tidak tahu dengan jelas, kenapa aku tidak membencinya meski aku tahu kenyataan bahwa dia yang menyebabkan semua yang terjadi pada keluargaku, tapi setengah diriku yang lain seolah tidak menyalahkannya, bahkan terus memberikan perasaan aneh saat didekatnya."
"Kamu jatuh cinta padanya? atau masih mencintainya?"
"Apa bedanya?"
"Seperti perasaanmu terhadap Caesar, kamu mengikuti nalurimu sebagai seorang ibu sehingga kamu tidak kehilangan jati dirimu sebagai Nana yang pernah melahirkannya dan mencintainya dengan sepenuh hatimu, meski kamu kehilangan semua memori tentang Caesar. Karena sebelumnya kamu memang sangat mencintai Caesar. Jadi jiwamu masih menuntunmu untuk kembali mencintainya."
"Tentu saja karena kami memiliki ikatan batin antara ibu dan anak."
"Begitupun dengan perasaanmu pada Eric. Jika selama ini kamu sudah tidak memiliki kontak dengannya, tidak hidup bersamanya, namun hatimu seolah menuntunmu untuk memikirkan dirinya, artinya ada sisa jiwamu yang memang memberikan tempat baginya."
"Maksudmu, aku memang pernah mencintainya sebelum aku kehilangan semua ingatanku?"
"Itu semua tergantung hatimu, Nana. Apa yang kamu inginkan, apa yang kamu butuhkan, semua jawabannya ada di dalam hatimu sendiri...."
Nana merangkai setiap kata Brian dalam pikirannya, saat ini mungkin hatinya sedang tidak bisa dipastikan. Jika tentang hubungan dirinya dan Caesar, dia tidak hanya akan mengikuti nalurinya. Namun tentang hubungannya dengan Eric, ia sangat dilema dengan hati dan pikirannya.
--------------------------------
Keesokan harinya,
Nana keluar dari kamarnya bersama Caesar yang sudah rapi.
Di ruang tengah, beberapa koper sudah siap untuk diangkut. Eric dan Brian juga sudah berdiri sambil membawa secangkir teh di masing-masing tangan mereka.
"Daddy...!"
Eric menoleh melihat Caesar berlari ke arahnya.
"Sudah siap?"
"Daddy apa kita jadi pulang hari ini? Aku masih mau tidur sama mommy..."
Eric menutup mulut Caesar karena nada suaranya menyebut Mommy terlalu jelas. Namun Caesar melepaskan tangan Eric yang menutupi mulutnya.
"Kenapa daddy? Semalam mommy sendiri yang bilang kalau mulai sekarang aku harus panggil mommy..."
Brian dan Eric langsung menoleh ke arah Nana. Brian hanya tersenyum pada Nana, sedangkan Eric masih belum selesai dengan wajah tertegunnya.
Dalam hati Eric sebenarnya ia bahagia karena Nana sudah membuka lebar hatinya untuk Caesar. Namun Eric masih mengingat sikap Nana terhadapnya beberapa hari ini hingga detik ini.
"Sepertinya Nana memang menutup hatinya untukku," batin Eric.
"Mommy, mommy ikut ke bandara, kan?"
Nana menggeleng, Caesar tampak kecewa.
"Maaf Caesar, mommy masih belum bisa berjalan jauh. Kalau mommy sudah bisa jalan tidak pakai tongkat lagi, mommy akan datang ke Singapore mengunjungi Caesar."
Wajah Caesar berubah cerah seketika.
"Mommy mau ke Singapore lagi?"
Nana mengangguk, sambil sekilas melihat ekspresi wajah Eric yang masih speechless mendengar ucapan Nana.
Brian segera mengangkut koper Eric dan Caesar. Caesar segera masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan sebagian kepalanya keluar kaca jendela dan terus menatap Nana yang berdiri bersama Grace di teras depan rumah.
Caesar seolah tidak mau berpisah dengan Nana. Caesar sedikit sesenggukan, Nana hanya menimpalinya dengan tersenyum agar Caesar menjadi tenang. Sebenarnya Nana juga berat melepaskan Caesar.
Eric dan Brian sudah selesai memasukkan koper. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat kemudian mobil Brian mulai melaju, Caesar menutup kaca namun pandangannya sedikitpun tidak lepas dari sosok Nana yang masih berdiri di teras sambil melambaikan tangan.
Eric melihat Caesar kembali menjadi anak pendiam lagi, setelah beberapa saat lalu Caesar menjadi anak yang ceria.
Baru saja Caesar bisa dekat dengan ibunya, merasakan kehangatan pelukan ibunya, memanggil kembali ibunya tanpa ragu, sekarang berubah seperti sebelumnya.
Dalam hati Eric terus menyalahkan dirinya sendiri,
"Maafkan daddy, Caesar.... Daddy tidak berhasil membuat mommy kembali..." ucap Eric dalam hati.
----------------------------------
Empat bulan kemudian.
Changi Airport,
Salah satu pesawat Emirates dari Dubai dengan keberangkatan dari Amsterdam baru saja landing.
Brian berjalan dengan menarik sebuah koper cabin size, disampingnya berjalan dua orang wanita sambil menenteng tas di masing-masing salah satu tangannya. Tentu saja mereka adalah Grace dan Nana.
Nana sudah mampu berjalan dengan normal meskipun masih ada implan pen titanium di dalam kakinya.
Sambil menunggu porter yang mengambil bagasi mereka, Brian menemani Nana duduk di lounge menunggu jemputan mobil.
"Kali ini apa kamu sudah mantap dengan keputusanmu Nana?"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan kak Brian. Aku hanya ingin mendapatkan kembali sesuatu yang harusnya menjadi milikku."
"Apa kamu yakin? Tindakan kamu ini tidak hanya akan menyakiti Eric tapi juga menyakiti orang lain seperti Nyonya Julia, Erica, dan terutama Caesar."
Nana terdiam, dia tampak bergeming.
"Nana.... untuk kesekian kalinya aku bertanya padamu, apa kamu yakin?"
"Ya, aku yakin. Aku sudah terlanjur tidak akan bisa kembali padanya kak..."
Beberapa saat kemudian mobil yang menjemput Brian, Nana dan Grace pun tiba, mereka masuk ke dalam mobil setelah porter memasukkan beberapa koper ke dalam mobil.
Nana menuju apartmennya yang lama. Sementara Brian juga kembali ke apartemennya sendiri.
----------------------------------
Malam harinya,
Brian datang ke rumah Eric setelah mereka melakukan janji bertemu. Tujuan Brian datang ke rumah Eric adalah tidak lain membicarakan tentang Nana. Karena memang sebelumnya Eric tidak tahu jika hari ini Brian dan Nana kembali ke Singapore.
"Jadi itu alasan Nana kembali?"
"Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya aku tidak yakin apakah dia mau mempertimbangkan atau tidak."
"Nana sudah kembali menjadi dirinya sendiri, Brian, biarkan dia yang mengambil keputusan sendiri."
"Justru karena itu, saat ini dia masih tidak sepenuhnya pulih. Karena memang memorinya tidak akan pernah bisa kembali. Sedangkan ambisinya terlalu besar. Aku takut tekadnya untuk bercerai dan mengambil kembali hak sahamnya akan membuatnya dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan."
Brian menggeleng.
"Semenjak kamu dan Caesar kembali ke Singapore, dia perlahan menjadi orang yang berbeda. Dia menjadi orang yang tidak banyak bicara, berjam-jam dia menghabiskan waktu dengan membaca buku tentang ilmu bisnis dan hukum. Ada apa dengan kalian saat itu?"
"Aku juga tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Nana. Saat itu dia sendiri yang bertanya tentang dirinya saat menjadi sosok ibu bagi Caesar. Saat itu aku sempat memeluknya, dia tidak menghindar, tapi lalu memintaku melepaskannya baik-baik. Setelah itu bisa kamu lihat sikap acuhnya padaku."
"Dia tidak banyak bercerita tentang masalah itu. Makanya aku tidak mengerti kenapa Nana tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke Singapore dan mengatakan bahwa dia ingin menganmbil kembali sesuatu yang harusnya menjadi miliknya."
"Sebenarnya aku sudah jauh memikirkan itu semua. Suatu saat Nana pasti akan kembali,"
"Lalu apa rencanamu? Aku cuma tidak mau Nana berubah karena menuruti egonya. Aku pikir, dengan membawanya ke Amsterdam akan membuatnya membuka lembaran hidup yang baru. Aku cuma tidak mau Nana tersakiti lagi."
"Aku tidak bisa mengatakan padamu sekarang. Karena masih belum pasti. Tapi aku juga harus melihat perkembangan situasi. Jika memang Nana berambisi untuk naik ke jajaran pemilik saham Shine Group, maka aku akan mengambil kesempatan itu untuk melindungi Nana sebagai backing."
Brian masih penasaran dengan rencana Eric. Namun kali ini ia harus kooperatif dengan Eric karena Nana sudah tidak bisa lagi menyerap setiap nasehat yang ia berikan pada Nana.
"Ingat Eric, Nana saat ini masih menjadi orang yang penuh kebimbangan. Apa yang dia lakukan saat ini karena dia terlalu impulsif dalam membaca pikiran dan hatinya sendiri yang masih terombang ambing. Aku rasa ambisinya saat ini karena dia bingung dengan perasaannya padamu."
"Aku mengerti Brian, dia pasti dilema. Logikanya dia harusnya membenciku, tapi kenyataannya hatinya berkata lain. Dia hanya berusaha ingin melawan dirinya sendiri."
"Besok Nana akan datang ke kantormu secara personal. Jangan terkejut jika Nana sudah berubah. Dia bukan lagi seperti Nana yang kamu temui empat bulan yang lalu."
--------------------------------
***
Keesokan harinya,
Nana datang ke kantor Shine Group untuk bertemu Eric. Nana memang sengaja tidak memberi tahu Eric jika ia akan datang, dia memang sengaja ingin membuat Eric terkejut dengan dirinya yang berbeda sekarang.
Saat Nana sampai di depan pintu masuk utama kantor, dia yang justru terkejut karena melihat Eric dan beberapa managernya sudah berdiri di pintu masuk menyambut kedatangan Nana. Namun ia berusaha tetap tenang.
Eric membuka pintu mobil Nana dan menawarkan tangannya untuk membantu Nana keluar dari mobil. Nana meraih tangan Eric dengan ekspresi sedikit arogan namun terlihat elegant.
"Nana memang terlihat seperti orang yang berbeda." batin Eric
Eric hanya mengikuti permainan Nana, semalam Brian juga sudah menjelaskan jika saat ini Nana sudah tidak dalam kendalinya, Nana sedang melakukan permainannya sendiri.
Eric bersama beberapa managernya mendampingi Nana menuju ruang kantor utamanya di lantai paling atas.
"Perlakuanmu membuatku tampak seperti orang penting, kak Eric..."
Nana tiba-tiba mengawali pembicaraan setelah dia hanya berdua di ruangan kantor Eric.
"Tentu saja, karena kamu memang orang terpenting bagi perusahaan ini."
"Ruangan ini juga didesain untuk kamu. Karena aku yakin kamu akan kembali kemari."
Nana hanya tersenyum sambil memalingkan matanya yang seolah meremehkan penjelasan Eric.
"Langsung saja pada intinya. Kak Eric pasti sudah tahu dari kak Brian tujuanku datang kemari. Aku ingin meminta dokumen asli pembagian hak saham."
"Nana, sekalipun kamu tidak meminta, aku sudah memberikan semuanya untukmu dan Caesar. Mungkin sebelumnya Brian sudah menunjukkan dokumennya bahwa kamu adalah orang yang memegang 47% hak saham di perusahaan ini. Pada saat kamu sudah mampu dan bersedia kembali, maka sudah saatnya aku akan menyerahkan kembali kepadamu."
"Kenapa kak Eric memberikan semua itu? Apa kamu meremehkan aku bahwa aku tidak akan bisa melanjutkan hidup tanpa belas kasihanmu?"
"Nana..., itu adalah kewajibanku memberikannya padamu."
"Aku tidak perlu mengemis ke perusahaanmu. Aku hanya ingin menarik kembali saham milik Widjaya Group."
"Itu terlalu kasar Nana, aku tidak pernah terpikir kamu akan mengatakan demikian. Sejak kamu menjadi bagian dari Shine Group, kerja kerasmu telah membuat perusahaan ini tumbuh dan berkembang. Dan lagi kamu adalah istriku."
Nana tersenyum seolah meremehkan penjelasan Eric.
"Oh iya? Terlalu basa basi...."
"Baiklah, terserah itu pendapatmu. Tapi jika kamu menginginkan sekarang. Aku bisa menyerahkan kursi ini padamu."
Mendengar ucapan Eric, bagi Nana terasa seperti Eric seperti sedang mengkonfrontasi dirinya.
"Aku tegaskan disini bahwa aku tidak mau dianggap sedang mengemis atau merebut paksa. Aku hanya ingin mengambil hakku! Dan.... aku juga mau meminta Surat perceraian yang sudah kamu tanda tangani."
Eric terkejut melihat Nana yang tiba-tiba emosi dengan ucapan yang sangat menyakiti hatinya. Sejak tadi sikap Nana memang sudah sangat mengusik hatinya untuk bertanya,
"Nana, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba menjadi orang yang berbeda?"
"Semua orang bisa berubah. Jika aku kemarin lemah, sekarang aku akan menjadi orang yang kuat. Jika bukan aku yang akan menguatkan diriku, siapa lagi? Di dunia ini aku sudah tidak punya siapa-siapa."
Eric justru kasihan melihat Nana yang seperti itu, ia seolah sedang memunafikkan dirinya sendiri.
"Baiklah Nana, besok kita akan mengadakan rapat internal komisaris untuk secara resmi menyerahkan hak saham itu padamu."
"Terimakasih, aku harap kamu juga tidak keberatan."
Nana berdiri dari sofa dan melangkah keluar.
"Nana.... kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang membuatmu berubah? Kamu tidak lagi menjadi orang yang dingin ataupun orang yang hangat seperti sebelumnya.... Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
"Apakah penting bagimu aku orang seperti apa?"
"Jika masalah saham aku bisa menyerahkan semuanya, tapi tentang perceraian itu, aku minta kamu mempertimbangkannya."
"Apa kamu ingin mengatakan bahwa ada Caesar di antara kita? Caesar akan ikut hak asuhku. Besok aku sudah akan menarik tim lawyerku. Semua aset Widjaya Group yang sempat di-handover oleh Shine, akan aku ambil kembali. Aku bukan orang cacat yang tidak bisa apa-apa!"
Eric meraih tangan Nana.
"Nana, aku bisa menyerahkan semuanya padamu, tapi aku mohon jangan sakiti dirimu seperti ini. Kamu bukan orang seperti ini."
"Lepaskan aku kak Eric. Kamu sama saja dengan kak Brian, dengan segala arogansi kalian berusaha mengaturku, mengendalikanku, dan pada akhirnya kalian hanya menganggapku lemah."
Nana menghempaskan tangannya sehingga genggaman Eric terlepas dari tangannya. Nana lalu melenggang keluar ruangan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
(suara hati Eric)
"Maafkan aku Nana.... aku sudah membuatmu menjadi seorang monster. Tapi belum terlambat aku akan membenahi semuanya."
(off)
Eric kemudian menelpon seseorang.
"Halo.... Sampaikan pada Tuan Lee. Saya Eric Shine akan datang menemui Tuan Lee. Tolong segera atur jadwalnya."
Tidak berapa lama seseorang bernama Tuan Lee menelpon Eric.
"Halo..., Eric," seseorang dari dalam telepon menyapa Eric.
"Apa kabar Tuan Lee, senang bisa mendengar suara anda kembali."
"Tampaknya kamu sudah memutuskan jawabannya. Setelah banyak pertimbangan sejak lima bulan lalu."
"Iya, istri saya sudah kembali dan seperti janji saya pada anda."
"Ya, aku mengerti. Aku sangat senang akhirnya kamu membuat keputusannya yang bijak. Selanjutnya kita akan bertemu untuk membahas masalah ini lebih lanjut."
"Terimakasih Tuan, Silahkan anda agendakan... Akan saya sesuaikan dengan jadwal saya."
---------------------------------
Apa hubungannya rencana Eric dengan kembalinya Nana ke Shine Group?
Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Eric?
Apakah Nana benar-benar ingin bercerai agar bisa melepaskan diri dari Eric dan membalas Eric?
Apa yang membuat Nana tiba-tiba berpikir untuk membalas Eric?
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....