
Anda Siapa?
Edis masuk ke dalam homestay dengan wajah ketakutan dan gemetar. Dia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu lalu meringkuk di samping tempat tidur.
"Edis kamu sudah pulang? Buka pintunya Edis...."
Edis terkejut mendengar suara ibunya dan dia seperti semakin ketakutan. Edis berteriak,
"Pergi...!!! Pergi...!!!"
Ibunya Edis heran dengan sikap Edis, dia berusaha masuk kamar Edis namun dikunci dari dalam.
"Edis.... kamu buka pintunya dulu, kamu kenapa Edis?"
"Praaaang...!!!"
Suara barang-barang terbanting dari dalam kamar Edis semakin membuat ibunya Edis cemas. Daniel yang baru saja datang mendengar keributan dan teriakan Edis. Daniel mendobrak kamar Edis, disana Edis hampir saja menusukkan cutter ke pangkal nadi di tangannya. Dengan cepat Daniel merebut cutter yang dipegang oleh Edis, lalu menampar Edis.
"Apa kakak gila?!"
"Daniel, mana cutternya... kamu lempar kemana tadi?!"
Edis tidak menghiraukan Daniel, dia terus mencari cutter yang terlempar dari tangannya tadi. Wajah Edis terlihat sangat kusut dengan rambut yang tak terurus. Daniel mengangkat bahu Edis,
"Kakak! Sadar! Selama ini kakak kemana dan kenapa sekarang menjadi begini?!"
"Daniel...." Edis mulai menangis melihat wajah Daniel.
"Daniel....aku tidak membunuh mereka. Aku tidak membunuh mereka..."
"Apa yang kakak maksud? Siapa yang kakak bunuh?!"
"Aku tidak tahu... Aku tidak tahu...!!!"
Edis menangis dengan mengacak-acak rambutnya dan semakin menangis sejadi-jadinya.
"Daniel, aku hanya ingin membunuh Eric. Aku hanya ingin mati bersamanya. Tapi mobil itu... bukan Eric... lalu mereka jatuh, terbakar, dan mati... Aku tidak membunuh mereka. Bukan aku yang membunuh mereka..."
Edis berbicara seperti orang linglung dan tidak jelas, membuat Daniel dan ibunya tidak mengerti apa yang diucapkan Edis.
"Daniel, ada apa dengan kakakmu?"
"Sepertinya dia selama pergi dari rumah sudah mengalami banyak hal yang membuatnya depresi, Ma.... Kita perlu membawanya ke psikiater untuk menenangkan dirinya dulu. Kalau Kita biarkan, aku takut dia akan mencoba bunuh diri lagi..."
Edis terus mengacak-acak rambutnya dan menangis dengan tatapan kosong. Daniel dan ibunya membawa Edis ke psikiater. Mereka tidak tahu bahwa Edis saat ini terbayangi dengan kecelakaan yang tadi pagi di Rumah Sakit. Edis tidak menyangka jika mobil Eric dikemudikan oleh orang lain. Edis ketakutan karena dia sempat melihat mobil itu meluncur dari parkir lantai 4 ke halaman pintu keluar belakang gedung Rumah Sakit lalu menukik dan terbakar. Saat orang-orang yang saat itu berada di TKP dan menjadi saksi kecelakaan tragis itu, Edis berlari melalui pintu keluar gedung depan. Dia sama sekali tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi.
Besoknya Eric memenuhi panggilan polisi atas kepemilikan mobil yang dikendarai Kevin. Eric menyerahkan seluruh dokumen riwayat perawatan mobil tersebut, dan memang polisi juga tidak menemukan adanya kerusakan mobil yang menyebabkan kecelakaan tunggal tersebut.
Kemudian polisi menunjukkan rekaman CCTV yang didapatkan dari titik lokasi TKP kepada Eric. Sebelumnya polisi memang sudah mengumpulkan beberapa materi petunjuk untuk melakukan analisa. Masih ada kemungkinan polisi juga mencurigai kondisi mobil Eric yang mungkin mengalami kerusakan, namun karena kondisi mobil Eric sudah terbukti tidak mengalami kerusakan pada waktu kejadian, maka artinya hanya ada satu hal yang diyakini polisi menjadi penyebab utama. Polisi semakin meyakini bahwa apa yang ditayangkan dalam CCTV tersebut adalah penyebab utama kecelakaan tunggal yang dialami Kevin.
Eric melihat rekaman CCTV tersebut dan melihat seorang wanita berlari ke arah depan mobilnya seperti sengaja ingin menabrakkan diri. Lalu kemudian mobil secara spontan menghindar ke arah kanan hingga menjebol tembok pembatas parkir, sehingga mobil tersebut terjun ke jalan. Wanita tersebut sempat melihat ke bawah lalu berlari ke arah yang lain.
Eric meminta polisi untuk memperbesar gambar wanita tersebut, dan dia sangat tahu persis bahwa wanita yang ada dalam CCTV itu adalah Edis.
Eric mengepalkan tangannya dan semakin murka pada Edis. Dia bersumpah dalam dirinya akan membunuh Edis dengan tangannya sendiri.
------------------------------------
Eric pergi ke Rumah Sakit, disana ada Mama Julia dan Erica sedang menjaga Nana.
"Bagaimana Eric? Polisi sudah menyelidiki penyebab kecelakaannya?"
Eric hanya berjalan menuju bed Nana dan tidak mengatakan apapun kepada ibunya. Dia lalu mengalihkan pembicaraan,
"Nana gimana, Ma? Dia tidak ada masalah apa-apa seharian ini kan?"
"Tidak, dia kondisinya masih stabil. Kamu belum jawab pertanyaan mama, hasil..."
Eric menyela ibunya yang belum selesai bicara,
"Bagaimana dengan pemakaman Mama Lisa dan Kevin? Mereka jadi diterbangkan hari ini ke Jakarta?"
"Iya, mama dan aku akan mendampingi jenazah Mama Lisa dan Kevin. Kak Eric dan dokter Brian tetap berada disini menjaga Nana."
"Aku butuh kamu disini, Erica. Biarkan Mama dan Caesar bersama manager lain yang akan ke Jakarta."
"Kenapa begitu?"
"Ehm... Sekarang ikut aku temui dokter Brian dulu..."
Eric mencari alasan agar dia bisa mengajak Erica keluar ruangan. Lalu Eric menunjukkan copy rekaman CCTV yang ada di smartphone-nya kepada Erica.
"Ya Tuhan...!"
Erica sangat terkejut melihat detail detik-detik kecelakaan Kevin sebelum mobil yang dikendarainya jatuh dari lantai 4 parkir.
"Kamu tahu siapa wanita yang tiba-tiba muncul di CCTV itu?"
"Si..siapa kak?"
"Edis."
Erica menutup mulutnya yang masih gemetar karena tidak menyangka bahwa Edis akan melakukan hal se-nekat itu.
"Bagaimana bisa?"
"Aku harus menemui Edis dan memastikan dia tidak akan pergi dari Singapore. Aku mohon padamu untuk menjaga Nana selama aku tidak berada di sampingnya."
"Kalau kakak bertemu dengan Edis, apa yang akan kakak lakukan?"
Erica melihat wajah Eric yang sudah merah padam.
"Aku akan membunuhnya..."
Erica semakin gemetar mendengar Eric mengatakan akan membunuh Edis. Selama yang dia tahu, Edis adalah wanita yang selalu dijunjung Eric, wanita pertama yang selalu ingin dilindungi oleh Eric, tapi sekarang malah berbalik menjadi orang pertama yang ingin dibunuh Eric.
"Kak Eric, Kita serahkan saja semuanya kepada polisi. Kita hanya perlu mengawalnya. Lagipula jika mengingat siapa Edis sebenarnya, apa itu tidak terlalu kejam jika kakak berbicara demikian?"
Eric memukul dinding di sebelahnya, dia sebenarnya kesal dengan dirinya sendiri. Dia yang justru mengabaikan orang yang seharusnya ia lindungi, dan melindungi orang yang menyakitinya.
Eric mendapat telepon dari kepolisian bahwa mereka sudah mendapatkan keberadaan Edis. Eric segera pergi ke kantor polisi.
Di kantor polisi, ternyata Brian sudah ada disana.
"Bukkkk...!!!"
Brian melayangkan bogem mentah ke wajah Eric sampai Eric terjatuh, Brian hendak menyerang Eric lagi namun polisi berusaha menahan Brian.
"Lepaskan saya!"
"Ini kantor polisi, Tuan! Anda tidak diperkenankan melakukan kekerasan disini."
"Eric, kamu pernah bilang bahwa Nana adalah orang yang tidak pernah kamu harapkan. Sekarang apa kamu pikir dia juga mengharapkanmu?! Dosamu pada keluarga Nana akan membuatmu menderita! Tuhan yang akan membalasnya!"
Eric hanya tetap terduduk seolah pasrah dengan kemarahan Brian. Eric lalu berdiri dan menghadap ke Brian.
"Jika kamu ingin menghajarku saat ini, itu tidak akan merubah keadaan apapun, Brian."
Brian memukul Eric dan kali ini mulut Eric sampai berdarah. Eric tahu Brian pasti marah padanya karena dialah yang mengakibatkan Nana dan keluarganya seperti sekarang ini.
"Apa kamu sadar?! Nana kecelakaan karena perselingkuhanmu! Sekarang Kevin dan Mama Lisa kecelakaan karena wanitamu!"
Brian menatap wajah Eric dengan mata yang sudah penuh air mata.
"Kamu memang tidak pantas disebut manusia!"
Brian menekankan kalimatnya hingga Eric bisa melihat dengan jelas urat kemarahan wajah Brian.
Salah satu polisi mengatakan bahwa saat ini Edis berada di sebuah homestay. Mereka akan melakukan penjemputan Edis yang saat ini dicurigai kuat menjadi penyebab kecelakaan Kevin. Eric mengikuti polisi menuju homestay dan disana ia melihat polisi sudah berada di depan homestay. Tidak berapa lama ibunya Edis keluar dan mencegah polisi yang akan menangkap Edis. Lalu Edis keluar dirangkul oleh Daniel seolah mereka melindungi Edis.
Eric langsung turun dari mobil dan menyambar Edis. Eric mencekik leher Edis hingga Edis terbentur di tembok.
"Kenapa kamu sekejam ini Edis! Mereka tidak terlibat dalam hubungan kita! Kenapa kamu sengaja membunuh mereka?!"
Pandangan Edis terlihat Nanar dengan mata yang tampak cekung menghitam, ia hanya tersenyum kepada Eric,
"Aku tidak membunuh mereka... aku hanya ingin kita mati bersama..."
Eric semakin mengencangkan cekikannya hingga mata Edis terbelalak. Beberapa polisi dan Daniel berusaha melepaskan cengkeraman tangan Eric namun sia-sia.
"Tuan, jika anda bertindak seperti ini, anda juga akan jadi pembunuh!"
Eric tiba-tiba ingat Nana yang masih koma dan Caesar yang memanggil-manggil namanya. Eric melepaskan cekikannya di leher Edis karena mengingat Nana dan Caesar masih membutuhkan dirinya.
Daniel dan ibunya bersujud di kaki Eric, sambil menangis memohon.
"Tuan Eric, Saya mohon lepaskan Edis... Biarpun kami harus dideportasi dari Negara ini, itu lebih baik asalkan anda jangan memenjarakan Edis. Sejak kemarin dia sudah berkali-kali mencoba bunuh diri, kami sudah membawanya ke psikiater. Dan kami takut jika dipenjara dia akan bunuh diri."
Eric melihat Edis yang sepertinya memang mengalami depresi berat. Namun tidak ada lagi rasa iba di hati Eric untuk Edis, jika dibandingkan rasa bersalahnya kepada Nana yang kini sudah tidak memiliki siapapun dan bahkan sekarang masih koma.
Polisi akhirnya memutuskan membawa Edis ke kantor polisi didampingi ibunya dan Daniel. Selama dimintai kesaksian, Edis hanya diam dengan tatapan kosong bahkan sesekali dia menangis dan menggigau. Polisi terpaksa meminta bantuan psikiater untuk melakukan pemeriksaan dan menggali ingatan Edis.
Besoknya persidangan dilakukan di pengadilan, dan keputusan hakim menetapkan Edis sebagai terdakwa dengan dijatuhi hukuman 25 tahun penjara. Namun atas pertimbangan kondisi mental Edis yang divonis mengalami gangguang kejiwaan, akhirnya dia dibangsalkan di Asylum selama 25 tahun.
Daniel dan ibunya menerima segala keputusan hakim dengan tabah. Mereka bahkan bersujud meminta maaf kepada Eric dan Erica. Hanya saja mereka masih tidak berani bertemu dengan Nyonya Julia karena malu dengan dosa yang mereka tanggung selama ini terhadap keluarga Shine.
----------------------------------------------
Beberapa minggu kemudian,
Selama beberapa minggu ini, Eric kembali memulai rutinitasnya di Rumah Sakit menjaga Nana seperti sebelumnya. Saat dia sedang menyeka tubuh Nana, Brian masuk dan memeriksa kondisi Nana,
"Bagaimana Nana hari ini?"
"Dia stabil." Brian menjawab dengan dingin.
Eric tahu Brian semakin memandang rendah dirinya. Di mata Brian, Eric nemang sudah tidak layak menjadi seorang suami bahkan menjadi seorang laki-laki. Berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu, Eric kali ini terlihat sedikit menghindari tatapan Brian.
"Eric, sekitar tiga bulan lalu Kevin sebenarnya memberi tahuku bahwa dia sudah mengurus dokumen pendaftaran perceraianmu dan Nana. Dan sekarang aku mau kamu segera menandatanganinya."
Deg.
Eric tidak menyangka Brian sudah tahu dan mengingat perjanjiannya dengan Kevin. Sekitar empat bulan lalu Kevin memang mendaftarkan perceraian Eric dan Nana, dan dokumen itu sudah ditandangani oleh Kevin selaku penanggung jawab Nana. Namun dokumen itu masih belum ditandangani oleh Eric karena dia masih bimbang. Dia meminta waktu kepada Kevin sampai Nana sadar dari koma. Kevin memberikan toleransi kepada Eric, karena mengingat saat ini Caesar berada dalam pengasuhan Eric.
Namun perkataan Brian barusan mengingatkan dia kembali atas kebimbangannya. Eric memang tidak akan memungkiri janjinya, hanya saja saat ini hatinya terasa semakin berat.
"Kevin mengatakan kalau aku masih memiliki waktu sampai Nana sadar dari koma...."
"Waktu??? Kevin juga tidak tahu pada akhirnya waktu yang telah diberikan kepadamu berakhir dengan merenggut nyawanya sendiri. Apa kamu sadar posisimu Eric?"
"Ya.... aku tahu...."
"Aku harap pada saat itu kamu akan menepati janjimu."
"Aku juga berharap.... semoga Nana masih bisa berubah pikiran..."
"Kamu yakin Nana masih akan menerimamu jika dia tahu ibu dan kakaknya meninggal karena wanita yang pernah kamu junjung di hadapan Nana? Dan karena hubungan kotormu itu jugalah yang mengantarkan Nana menuju ambang kematian. Dan kamu masih berharap dia berubah pikiran? Pikiran seperti apa yang kamu harapkan?"
Eric hanya diam, dia bahkan tidak berani menatap wajah Brian.
"Seharusnya kamu sedikit tahu diri, Eric.... bahwa kamu sudah tidak memiliki alasan apapun yang bisa membuat Nana mencintaimu. Kalau aku jadi kamu, jangankan berharap Nana mencintaiku, menemuinya saja aku tidak punya keberanian!"
Brian benar, sebenarnya Eric tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan Nana. Dia masih belum bisa membayangkan bagaimana nanti jika Nana mengetahui semua fakta itu?
Brian pergi meninggalkan ruangan Nana dan melihat Eric yang masih menundukkan kepalanya.
Setelah Brian keluar, Eric berusaha melanjutkan menyeka tubuh Nana, dia berusaha menahan sesak yang ada di dadanya setiap kali dia mengusap tubuh Nana. Eric semakin lama tidak bisa menahan lagi dan menumpahkan luapan emosinya lalu melemparkan washlap yang ada di tangannya dan menangis di kaki Nana.
"Nana maafkan aku.... Nana maafkan aku...."
Eric memeluk kaki Nana dan meraung menangis hingga beban di hatinya habis dia keluarkan. Eric tidak hanya menangisi hatinya tapi juga rasa bersalah atas segala dosanya terhadap Nana.
"Jika saja waktu bisa mengulang kembali, maka aku akan memilih menunggu hingga aku bertemu dengan dirimu. Kenapa saat itu aku tidak berusaha mengenalmu..."
Eris masih terus sesenggukan,
"Tuhan, jika memang ada kesempatan kedua, aku ingin menjadi lelaki yang akan melindunginya. Tapi semua itu mustahil karena semua ini terjadi. Akulah yang menyebabkan wanita ini kehilangan dan menderita...."
Eric meremas wajahnya sendiri dengan air matanya yang terus mengalir.
Tiba-tiba jari kaki Nana bergerak. Eric yang masih menangis tidak menyadari gerakan Nana dan terus menangis. Eric berdiri dengan sesenggukan dan hendak memegang tangan Nana. Namun Eric menyadari Nana sudah membuka matanya. Eric terkejut dan langsung menggenggam tangan Nana serta mengusap kening Nana dengan ekspresi bahagia bercampur segala emosi yang ada di dalam hatinya.
"Nana......!"
Nana hanya mengerangkan suara yang tidak jelas didengar oleh Eric karena ventilator oksigen yang masih terpasang di mulut Nana.
Eric mendekatkan telinganya ke arah mulut Nana yang bergumam. Eric mendengar kalimat yang diucapkan Nana.
"Anda..... siapa....."
----------------------------------------------
Wah..... Makin deg-degan ya....
Dari sini kita tahu kalau Nana akan hilang ingatan disaat Eric sudah benar-benar nggak bisa meninggalkan Nana.
Rasa cinta....
Rasa sayang....
Rasa kasihan....
Rasa bersalah....
Rasa ingin memiliki....
Rasa tanggung jawab....
Rasa ingin melindungi....
Tapi apakah Nana masih butuh semua itu dari Eric????
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....