
***
Sebuah Akhir Cerita
"Aku sudah tidak bisa lagi mencegah Nana melakukan apa yang dia inginkan. Nana sudah di luar kendaliku. Bahkan ia lebih memilih menghindariku jika aku terus menekannya."
Suara Brian tampak parau di dalam telepon Eric.
"Aku tahu Brian, tapi tentang perceraian itu, bukankah kita sudah bersepakat bahwa aku yang akan menjelaskannya pada Nana...."
"Sebenarnya aku tidak pernah secara langsung mengatakan hal apapun terkait perceraian kalian kepada Nana."
"Lalu bagaimana Nana bisa tahu bahwa aku sudah menandatangani dan menyimpan surat pengajuan perceraian itu?"
Sejenak Brian dan Eric saling membisu, mereka sama-sama saling berpikir dan mencari tahu.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kantor Eric,
"Masuk..."
"Maaf mengganggu Tuan Eric, baru saja sekretaris Tuan Lee menghubungi saya bahwa Tuan Lee sedang dalam perjalanan menuju kemari..." Jessica memberi tahu Eric.
"Okeh..."
Eric sambil memberi isyarat kepada Jessica bahwa ia mengerti, dan akan segera menutup teleponnya dan bersiap menyambut Tuan Lee Hsien.
"Brian, aku akan menelponmu lagi nanti, hari ini aku ada meeting."
Eric lalu menutup teleponnya dan bersiap menyambut kedatangan Perdana Menteri Lee, seorang tokoh penting yang baru saja terpilih sebagai pemegang jabatan kepala eksekutif nomor satu di pemerintahan Singapore.
Eric keluar dari ruangannya dan disana sudah ada Mama Julia, Erica dan beberapa dewan komisaris Shine Group di ruangan semacam lounge yang ada di lantai kantor President Direktur untuk menunggu Eric. Setelah melihat Eric keluar ruang kantornya, mereka bersiap mendampingi Eric segera turun ke bawah untuk menyambut kedatangan Tuan Lee di Gedung Shine Group.
"Kamu sudah siap nak?" Mama Julia sambil merapikan dasi Eric yang agak melonggar.
"Semoga hari ini semuanya lancar dan semoga keputusanku ini tidak mengecewakan seluruh keluarga Shine Group."
"Selama kamu berjuang untuk kemajuan perusahaan ini, kami pasti akan mendukungmu. Selangkah lagi kita akan menjadi perusahaan adidaya di penjuru Singapore. Seluruh otoritas pasar properti dan konstruksi di penjuru negara ini akan dengan mudah berada dalam kendali kita" ucap salah satu paman Eric yang merupakan Wakil Dewan komisaris dan juga ayah dari Richo.
Eric mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Nana hari ini tidak datang?" tanya Mama Julia.
"Aku sudah menghubunginya, tapi dia belum memberi kepastian bisa datang atau tidak." jawab Eric.
"Aku barusan menghubunginya, katanya dia sedang dalam perjalanan kemari." Erica menyela.
"Baru saja diangkat menjadi wakil presiden direktur dia sudah absen dari moment sepenting ini, terlihat sekali dia tidak memiliki dedikasi terhadap perusahaan." salah satu paman Eric yang lain ikut menimpali.
"Sudahlah, sekarang kita harus fokus pada kesempatan moment ini..." Mama Julia berusaha menengahi.
Eric beserta para dewan komisaris akhirnya memasuki lift dan turun ke bawah.
Di lantai pintu utama, Jessica sekretaris Eric tampak memberi komando kepala security untuk memberi instruksi semua security agar berjaga mengamankan pintu utama.
Sekitar lima belas menit kemudian rombongan mobil Tuan Lee datang, ternyata kedatangan mereka juga turut serta diikuti kedatangan beberapa pers dari media yang akan melakukan liputan siaran langsung tentang bergabungnya Eric Shine di kabinet Perdana Menteri Lee.
Perdana Menteri Lee keluar dari mobil disambut dengan jabatan tangan dari Eric, moment tersebut disiarkan langsung oleh beberapa media yang sejak tadi menunggu moment tersebut dan memberitakan ke seluruh penjuru Singapore.
Semua pers mengambil foto Eric dan Tuan Lee dan berusaha mewawancarai mereka, namun beberapa bodyguard Tuan Lee dan tim security yang telah disiapkan Eric berusaha menghalau mereka.
Eric dan Tuan Lee beserta masing-masing rombongan mereka pun akhirnya masuk ke dalam Gedung Shine Group untuk melakukan meeting secara tertutup.
***
***
--------------------------------
Di tempat lain,
Nana sedang di dalam mobilnya menuju kantor Shine Group. Namun hari ini entah perjalanannya terasa begitu lama tidak seperti biasanya karena padatnya arus lalu lintas di daerah Orchard Road. Meskipun tidak macet namun sopir Nana tidak bisa melajukan mobil dengan kecepatan maksimal untuk menuju Gedung Shine Group tepat waktu. Kebetulan mobil Nana tepat berhenti di depan gedung yang dipasangi LED TV.
LED TV tersebut menampilkan siaran langsung pertemuan Tuan Lee dengan Eric Shine di gedung Shine Group. Nana melihat siaran tersebut dengan wajah datar, namun tangannya mengepal dengan genggaman yang sangat kuat. Matanya perlahan memerah namun tidak sampai meneteskan air mata.
"Kita tidak jadi ke kantor, antarkan aku ke National University Hospital sekarang juga."
"Kenapa Nyonya? Bukankah anda sedang ditunggu Tuan Eric?"
"Aku akan menemuinya setelah pertemuannya dengan Tuan Lee selesai."
"B...baik Nyonya..."
Sopir Nana agak ragu dengan keputusan yang diambilnya untuk mengantarkan Nana menuju National University Hospital. Padahal dia sudah diinstruksikan untuk mengantar Nana ke kantor. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena dia tahu atasannya itu pasti akan lebih mendengarkan dan membela istrinya. Jadi dia hanya menuruti kehendak Nana saat ini.
Setelah Nana sampai di NUH, Nana menyuruh sopirnya meninggalkan dia dan kembali ke Gedung Shine.
"Tapi Nyonya, kalau saya pergi tanpa anda, Tuan Eric akan memarahi saya..."
"Bilang saja ini adalah perintah saya, saya yang memaksa kamu. Tidak usah khawatir."
Meski penuh ragu, akhirnya sopir Nana bersedia meninggalkan Nana di NUH. Dia tidak mau bersitegang dengan majikannya itu.
Setelah sopirnya pergi, kemudian Nana menghubunginya Brian. Namun beberapa kali panggilannya tidak direspon oleh Brian.
Nana lalu masuk ke dalam gedung rumah sakit dan menuju departemen tempat Brian praktek. Disana Nana langsung disambut oleh Grace dan Anne.
Nana dipeluk oleh Grace dan Anne karena mereka memang pernah dekat dan selama hampir satu bulan setelah kembali ke Singapore ini, Nana hampir tidak pernah mengunjungi rumah sakit ataupun menghubungi Grace dan Anne.
"Aku kemari mencari kak Brian, aku menelponnya tapi tidak ada respon."
"Dokter Brian hari ini jadwal operasinya sangat padat. Tadi dia bilang padaku ada tiga pasien dengan penyakit terminal yang harus dioperasi." jawab Grace.
"Jadi begitu...." Nana tampak sedikit kecewa.
"Apa sebelumnya miss Nana tidak ada janji dengan dokter Brian?"
Nana menggeleng sambil memaksakan senyum.
"Kalau begitu tunggu saja disini Miss.... mungkin nanti setelah operasi ini selesai dokter Brian istirahat, sekitar tiga sampai empat jam lagi." ucap Grace lagi.
"Ahh... tidak. Bilang saja aku besok akan kesini lagi. Hari ini aku mau pergi saja."
Nana pun berjalan pergi meninggalkan Rumah Sakit. Namun Grace mengejarnya.
"Miss.... Miss Nana...."
"Ada apa kak Grace?"
"Ada yang harus aku sampaikan, ini tentang dokter Brian."
Nana penasaran dengan apa yang akan disampaikan Grace. Dia pun memberi waktu kepada Grace untuk menyampaikan hal yang dimaksud oleh Grace.
-------------------------------
Di Gedung Shine Group,
Pertemuan antara Eric dan Tuan Lee beserta masing-masing jajarannya sudah hampir tiga jam.
Pada akhirnya Tuan Lee dan Eric telah bersepakat dan tercetuslah sebuah keputusan bahwa Eric akan menjadi salah satu menteri di kabinet Tuan Lee selama beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Eric bersedia dicalonkan menjadi Wakil Menteri Koordinasi untuk Infrastruktur.
Keputusan Eric sebagai Wakil Menteri karena ia mempertimbangkan posisinya yang masih pemula di dalam dunia politik, selain itu Eric juga tidak berangkat dari partai politik apapun dan tidak memiliki tunggangan partai politik manapun, sehingga ia harus low profile untuk lebih menyelami dunia politik dan membangun relasi politik selama ia menjadi junior.
Kesepakatan ini tentu saja disambut baik oleh kedua belah pihak, baik pihak Shine Group maupun pihak Tuan Lee yang memang dari awal beliau melirik potensi Eric yang masih berusia 34 tahun namun ia mampu membangun kerajaan bisnisnya menjadi perusahaan berskala internasional dan mendapatkan berbagai prestasi bidang industri properti secara global.
Namun kepuasan yang dirasakan oleh orang-orang di seluruh ruangan itu tidak sepenuhnya membuat Eric bahagia. Sejujurnya ia menginginkan kehadiran Nana saat ini. Tapi hingga rombongan Tuan Lee keluar dari ruang pertemuan untuk berpamitan, Nana masih juga tidak menampakkan diri.
Eric didampingi pihak Shine Group mengantar Tuan Lee untuk pulang. Baru saja mereka tampak keluar dari lift, para reporter pun bersiap menyambut mereka di depan pintu utama yang sudah dijaga ketat oleh para security dan bodyguard Tuan Lee.
Para reporter saling berdesakan untuk bisa mengambil kesempatan dari moment ini, mereka tentu saja penasaran dengan keputusan akhir yang telah disepakati oleh Tuan Lee dan Eric. Hal ini tentu sangat memancing pers karena Eric yang beberapa bulan lalu terjerat skandal, sekarang Tuan Lee justru mengangkat Eric masuk ke dalam jajaran kabinetnya.
Karena Singapore menganut sistem pemerintahan sistem Republik Parlementer dimana Presiden hanya sebagai Kepala Negara secara simbolik dan seremonial. Sedangkan Kepala Pemerintahan secara eksekutif sepenuhnya merupakan hak Perdana Menteri. Sehingga Perdana Menteri memiliki kebebasan dan kekuasaan dalam mengatur sistem kabinet pemerintahan, termasuk hak prerogatif mengangkat dan memecat Menteri, dan melakukan pertanggung jawaban terhadap parlemen.
Oleh karena itu, Tuan Lee memiliki kekuasaan dalam memilih Eric sebagai orang yang masuk ke jajaran pemerintahan selama Tuan Lee memegang kekuasaan eksekutif, meskipun Eric tidak berangkat dari partai politik.
***
***
--------------------------------
"Eric, sudah malam... kamu tidak pulang? Bukankah sehari ini sudah sangat melelahkan?" Richo masuk ke ruang kantor Eric tanpa permisi karena memang Richo masih terhitung sepupu Eric.
"Aku masih tidak bisa pulang Richo.... Aku masih berharap Nana datang hari ini ke kantor."
"Tapi ini sudah pukul 8.30 pm, mana mungkin Nana akan datang ke kantor? Ayo pulang, biar aku yang menyetir. Caesar pasti sudah menunggumu."
Mendengar ucapan Richo tentang Caesar, Eric pun akhirnya beranjak dari sofa yang sedari tadi menjadi tempat bersandarnya. Dia tidak ingin putranya cemas, meski Eric sebenarnya tidak rela meninggalkan kantor karena seharian ini tidak bertemu Nana.
Eric sama sekali tidak menyalahkan Nana atas ketidakhadirannya pada pertemuan penting hari ini. Dalam hati Eric selalu memaafkan Nana dan tidak pernah menganggap Nana bersalah.
Richo mengemudikan mobil Eric. Sepanjang perjalanan Eric sama sekali tidak bergairah untuk mengucapkan sepatah kata pun, meski dari tadi Richo mengajak bicara Eric dengan topik random.
Sesampainya di rumah Eric,
"Tuan Wakil Menteri, sekarang sudah sampai. Silahkan anda turun..." Richo dengan nada agak mengejek Eric.
Eric mengepalkan tangannya dan meninju lengan Richo sambil tersenyum.
"Oke, aku sampai jumpa besok."
Eric keluar dari mobil Richo dengan keadaan yang tampak sangat lelah. Eric melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya, sedang terparkir di halaman rumahnya.
"Bukankah ini mobil Nana?" gumam Eric.
Eric mengintip kaca mobil, dan melihat di dalamnya ada sopir Nana sedang tertidur di kursi kemudi sambil merebahkan posisi jok mobil.
Merasa yakin bahwa Nana sedang ada di dalam rumahnya, Eric seperti merasa ada aliran semangat yang terhantar ke dalam tubuhnya.
Eric segera masuk ke dalam rumahnya, lalu mendapati Nana sedang bergurau dengan Caesar.
Eric sejenak menikmati pemandangan moment tersebut dari ujung pintu. Dia seperti melihat moment satu tahun yang lalu saat sebelum bencana sial itu terjadi dan merusak keutuhan keluarganya.
Eric tersenyum sendiri dengan setiap scene yang ia lihat. Sampai akhirnya Nana menyadari kedatangan Eric yang sedang berdiri di pintu.
Caesar mengangguk lalu berlari menuju aunty pengasuhnya.
"Selamat malam Kak Eric,"
"Selamat malam, Nana...."
Eric berjalan menuju kursi yang tepat berada di hadapan kursi yang diduduki Nana.
"Maaf aku tidak mengabarimu dulu kalau aku akan kemari. Dan mohon maaf jika aku tadi pagi tidak bisa memenuhi janjiku untuk datang ke pertemuan." ucap Nana.
Eric menggeleng sambil tersenyum. Lalu Nana meneruskan kalimatnya.
"Tujuanku datang kemari yang pertama adalah untuk menyampaikan permintaan maafku tadi, dan mengucapkan selamat atas terpilihnya dirimu menjadi salah satu orang yang berada di jajaran elite politik pemerintahan. Dan yang kedua, aku kemari memenuhi permintaanmu untuk datang mengambil surat pengajuan perceraian yang sudah kamu tandatangani. Aku mau mengambilnya sekarang, karena besok rencananya aku akan menyerahkan ke Kantor Penasehat Pernikahan dan Perceraian."
Eric bagaikan tersambar petir mendengar semua perkataan Nana. Baru saja ia bahagia melihat Nana berada di rumahnya dan menikmati nostalgia sesaat. Kini seolah ia merasakan sebuah tamparan keras menjatuhkannya hingga tersungkur dan terasa sangat sakit di sekujur tubuhnya.
"Nana.... jadi kamu benar-benar menginginkan perceraian ini...."
Nana tampak heran,
"Bukankah kamu sendiri juga yang menginginkannya? Jika diantara kita tidak ada yang menginginkan perceraian, tentunya tidak akan ada wujud surat pengajuan perceraian di tengah-tengah kita saat ini. Jadi aku harap kamu menepati janjimu."
Eric menghela nafas panjang sejenak sambil menengadahkan wajahnya lalu berdiri.
Eric berjalan dan menaiki anak tangga dengan seolah ia menghitung setiap langkahnya setapak demi setapak, dia seperti tidak rela cepat-cepat menuju study room-nya di lantai atas untuk mengambil surat pengajuan perceraian yang ia simpan.
"Seharusnya surat itu aku bakar saja" Eric bergumam dalam hati.
Beberapa saat kemudian,
Eric datang membawa dokumen surat pengajuan perceraian yang terbungkus map di tangannya dan menyerahkan pada Nana.
Nana terlihat tampak gemetar menerima map folder tersebut. Dia perlahan membukanya dan membaca setiap suku kata yang tertulis di kertas itu.
"Baiklah kak Eric, terimakasih atas kesediaanmu menyerahkan surat ini padaku. Besok aku akan melengkapi dokumenku, dan lusa aku akan menyerahkan ini ke pengadilan."
Nana beranjak dari sofa dan melangkah pergi, namun kemudian berhenti sebelum menuju pintu.
"Oh iya kak Eric, beberapa hari yang lalu kamu mengatakan bahwa kamu akan lebih rela aku hidup bersama kak Brian daripada aku menjalani hidup dengan penuh kebencian dan dendam. Tenang saja...."
Nana tersenyum pada Eric yang masih mematung menatapnya dengan pandangan hampa.
"Aku sudah memutuskan aku akan menyudahi segala dendamku padamu. Kamu benar, sebenarnya aku hanya berusaha membenci padahal hatiku tidak membenci. Jadi aku memutuskan untuk tidak melanjutkan usahaku membencimu...."
Nana menghentikan kalimatnya sejenak lalu mengambil nafas sesaat.
"Aku akan memilih hidup bersama kak Brian.... aku akan memulai hidup bersamanya.... Setelah ini, hubungan kita hanya sebatas partner kerja dan partner untuk sama-sama membesarkan Caesar...."
Eric tidak menyadari dirinya saat ini sedang berada di setengah alam bawah sadarnya. Dia hanya terngiang semua kalimat yang dikatakan Nana. Bahkan mengucapkan sepatah katapun ia tak mampu.
"Sampai jumpa di pengadilan Kak Eric..."
Nana pun melengang pergi keluar dari rumah Eric. Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Nana sangat memekakkan telinga Eric.
Eric memegangi dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit. Mungkin sekaranglah saatnya ia harus melepaskan Nana. Eric ingin menyerah namun ia masih ingin berjuang.
Tetapi kenapa rasanya begitu sesakit ini...
---------------------------------------
Sementara di mobil,
Nana membuka map folder yang ia pegang dan melihat tanda tangan Eric terbubuhkan di kertas surat pengajuan perceraian. Tidak terasa Nana menangis dan memeluk surat itu.
Sejujurnya Nana tidak ingin bercerai dari Eric, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Dalam pikiran Nana, Eric sudah tidak menginginkannya lagi. Bahkan surat perceraian itu diajukan di saat Nana masih dalam keadaan koma.
Nana menangis membungkam mulutnya dengan erat dan sesekali menjerit dalam bungkaman tangannya sendiri sambil menggigit bibirnya.
Ingatan Nana kembali memutar moment beberapa bulan lalu saat malam di Amsterdam sebelum Eric kembali ke Singapore. Saat itu tengah malam Nana terbangun, ia tidak sengaja mendengar percakapan Brian dan Eric yang sedang berbincang di teras halaman belakang. Nana yang kemudian penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, pada akhirnya mendengarkan fakta bahwa Eric menyimpan surat pengajuan perceraian. Nana yang hanya mendengarkan setengah-setengah dari perbincangan mereka, sangat terpukul dan menyimpulkan sendiri bahwa Eric memang ada niat menceraikan dia. Jadi selama ini perlakuan lembut Eric terhadapnya mungkin hanyalah sebagai bentuk rasa kasihan terhadap Nana.
Nana yang baru saja kembali membuka hati untuk Eric akhirnya harus menelan kekecewaan dan seolah ia bertepuk sebelah tangan. Sayangnya Nana tidak mencoba mencari tahu atau menanyakan kepada Brian atau siapapun. Hingga ia merasakan kebimbangan dan berusaha membenci Eric.
Sampai pada akhirnya ia mendapatkan fakta dari ibunya Edis. Dan disaat ia kembali mempertimbangkan perasaannya terhadap Eric, Nana justru mendapatkan kabar bahwa Brian mengalami insiden yang membuatnya menjadi orang yang terinfeksi HIV.
(flashback on)
"Miss Nana, sebenarnya ini menyangkut tentang dokter Brian...."
"Kak Brian? Ada apa dengan kak Brian?"
"Minggu lalu, dokter Brian mengalami kecelakaan kecil, ada salah satu pasien kecelakaan yang mengalami gegar otak. Dokter Brian adalah salah satu dokter yang saat itu menjadi tim bedah saraf terhadap pasien tersebut. Namun saat operasi berlangsung, darah pasien menyembur keluar dan terkena mata dokter Brian. Dan diketahui ternyata pasien tersebut mengidap HIV/AIDS positif. Hal tersebut baru diketahui oleh pihak keluarga pasien karena memang mereka tidak tahu jika pasien menderita AIDS. Saat itu petugas kesehatan Laboratorium hanya memberi laporan golongan darah dan rhesusnya, mereka baru melaporkan pasien tersebut positif AIDS, beberapa menit setelah insiden di ruang operasi itu terjadi."
"Jadi maksudnya Kak Brian ada kemungkinan tertular HIV?"
Grace mengangguk,
"Namun sampai hari ini dokter Brian menolak untuk dilakukan tes HIV, sepertinya ia masih terpukul dengan insiden yang menimpanya."
(flashback end)
Nana masih menangis sesenggukan di mobil. Dia saat ini tidak ada pilihan lain selain mendampingi Brian yang telah berkorban banyak mendampingi dirinya selama ia mengalami koma dan amnesia.
Sepanjang perjalanan Nana masih tidak bisa mengeringkan air matanya yang terus mengalir.
Dalam hatinya sebenarnya ia masih bimbang. Dia ingat saat beberapa hari yang lalu Eric mempertanyakan apa yang dia inginkan.
Keinginannya sebenarnya hanya satu, ia ingin memiliki keluarga yang utuh.
----------------------------------
Keesokan harinya,
Nana diantar sopirnya menuju Kantor Penasehat Pernikahan dan Perceraian untuk menyerahkan surat pengajuan perceraian.
Saat Nana keluar dari kantor tersebut, tampak seorang pria keluar dari mobil dan berlari ke arah Nana. Pria tersebut tidak lain adalah Brian.
Nana terkejut melihat Brian yang tiba-tiba datang.
"Nana...."
"Darimana Kak Brian tahu aku ada disini sekarang?"
Brian langsung memeluk Nana dengan erat,
"Nana... Grace sudah mengatakannya padaku. Dan tadi malam Eric juga sudah menghubungiku tentang keputusanmu yang kamu sampaikan padanya..."
"Ya... aku sudah memutuskan untuk mendampingimu. Tapi aku juga tidak akan menghindari kak Eric, dia akan tetap menjadi orang yang berhubungan baik denganku ke depannya."
"Nana.... keputusanmu ini... semoga tidak membawa penyesalan bagimu..."
Nana mengangkat wajahnya menatap wajah Brian yang masih memeluknya.
Dari kejauhan tampak seorang pria lain di dalam mobil yang melihat Nana dan Brian yang saling berpelukan. Pria itu adalah Eric, tatapannya memandang jauh ke arah mereka tanpa ekspresi. Matanya terlihat cekung menghitam, mimik wajahnya sama sekali tak bercahaya seperti kemarin.
"Seharusnya aku yang berada di sana memelukmu, Nana...."
***
***
--------------------------------
3 tahun kemudian,
Eric membuka matanya dan langsung terbelalak, dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang terengah-engah. Eric langsung beranjak dari posisi tidurnya dan duduk sambil memegangi kepalanya.
Eric melihat kalender digital yang letaknya berada di buffet kecil samping tempat tidurnya.
"Ini sudah lebih dari tiga tahun yang lalu...."
Eric menghelas nafas panjang lalu menundukkan kepalanya dengan rambut yang masih kusut.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Eric.
"Kenapa sayang? Mimpi buruk lagi?"
Eric menoleh ke arah sosok yang tidur di sampingnya. Seorang wanita beranjak dari tidurnya dan menyibakkan selimutnya lalu mengambil air putih dari samping tempat tidurnya dan meminumkannya pada Eric sambil mengelus punggung Eric yang basah penuh keringat.
"Sudah agak baikan?"
Eric mengangguk sambil merangkul wanita tersebut.
"Maafkan aku, aku masih tidak bisa menghilangkan mimpi buruk itu. Aku sudah berusaha tapi ketakutan itu selalu datang."
Wanita itu lalu menegakkan tubuhnya dan duduk bertumpu dengan kedua kakinya sehingga posisinya lebih tinggi dari posisi duduk Eric. Ia lalu memeluk kepala Eric dan menyandarkan di dadanya. Eric membenamkan wajahnya ke dada wanita yang saat ini menjadi istrinya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, jangan pernah takut.... Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi, tidak akan...."
Eric memeluk pinggang wanita itu dengan penuh kelembutan dan harapan, semoga kali ini ia benar-benar tidak kehilangan wanita yang ia cintai.
***
***
-----------------------------------
Waaahhhhh..... Sudah berakhir!
UPS, MASIH ADA EPILOG-NYA...!
Kira-kira bagaimana kelanjutan kisah Nana dan Brian?
Dan Bagaimana Eric akhirnya bisa mendapatkan wanita yang menjadi cinta sejatinya?
Siapa wanita misterius itu?
NANTIKAN EPILOG-nya ♥️
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik:
"Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....