
"Natal tahun ini, sepertinya aku ingin ke Surabaya."
Klang!
Sendok yang sedang dipegang Nana terjatuh saat ia mendengar Caesar mengatakan akan pergi ke Surabaya.
Eric hanya tertegun mendengar ucapan Caesar yang tiba-tiba saja ingin kembali ke kampung halaman Nana.
"Caesar, di sana tidak ada siapa-siapa... Hanya beberapa kerabat jauh..." Eric menjelaskan dengan nada lembut.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh bernostalgia ke sana?"
"Apa yang bisa kamu nostalgiakan di sana? Di sana.... Kita sudah bertahun-tahun tidak ke sana."
"Ya aku hanya ingin mengenang Oma dan paman Kevin."
"Caesar....."
Eric masih cukup bersabar dengan sikap keras kepala Caesar. Suasana meja makan sore itu di rumah Eric mendadak hening.
"Kenapa kak Caesar tidak mau natal di rumah. Bukankah lebih baik jika kita saling berkumpul bersama...." Regal memberanikan diri menimpali Caesar.
"Lebih baik katamu?"
Caesar meletakkan sendok lalu berdiri.
"Aku akan lebih baik jika aku bisa bernostalgia ketika aku masih menjadi anak yang selalu diprioritaskan."
Caesar melengang pergi meninggalkan meja makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Mom, apa aku salah bicara?" Regal dengan ekspresi yang tampak sedih.
Nana hanya diam sambil melamun mengamati steak yang ada di atas piring di depannya.
Eric hanya mendenguskan nafasnya,
"Lanjutkan saja makananmu Regal."
***
***
Caesar mengayuh sepedanya menuju sekolah seperti biasanya. Namun kali ini ia mengayuh dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Pikirannya sedang kalut saat ini karena suasana diner tadi malam yang tidak mengenakkan bagi dirinya.
"Brukkk"
"Aduh!"
Caesar terkejut bukan kepalang saat ia baru menyadari saat ini ada seseorang yang berada di depannya dalam kondisi bergelimpangan karena tertabrak sepedanya.
"Are you okay?" Caesar turun dari sepedanya dan mengulurkan tangannya untuk membantu anak tersebut berdiri.
"It's okay, brother..."
Steven menyambut tangan Caesar dan berdiri sambil meringis kesakitan karena lututnya terluka.
Caesar melihat dengan seksama anak laki-laki di depannya sedang memakai baju seragam yang sama dengan dirinya.
"Apa kamu juga siswa dari NJC?"
"Halo kak Caesar, namaku Steven. Aku siswa grade 7."
"Kamu mengenalku?"
"Tentu saja, aku adalah sepupu Noah. Aku sering mendengar tentang dirimu darinya. Kamu adalah orang yang luar biasa."
"Ya, terimakasih. Tapi aku hanya manusia biasa. Kamu tidak perlu melebih-lebihkan."
Caesar berbalik untuk menegakkan sepedanya yang masih roboh dan bersiap untuk pergi. Namun Steven mengejarnya.
"Eh tunggu kak...."
Caesar berhenti. Steven memasang wajah polosnya yang seolah dia adalah anak baik-baik.
"Bolehkah aku.... berteman denganmu juga? Seperti Noah dan lainnya...?" Steven bertanya dengan ragu.
Caesar sejenak terdiam, lalu tersenyum.
"Baiklah, karena kamu adalah sepupu Noah. Aku pun akan menganggapmu sebagai temanku seperti dia."
"Terimakasih kak..."
Steven gembira sekali mendengar jawaban Caesar. Dia tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Caesar hanya tersenyum melihat Steven yang begitu bahagia hanya dengan dia anggap sebagai teman.
"Baiklah, aku pergi dulu. Kamu hati-hati di jalan. Sekolah sudah tidak jauh dari sini."
Caesar pun mengayuh sepedanya meninggalkan Steven.
Ekspresi wajah Steven dengan senyum yang tampak bahagia tadi perlahan meredup semakin redup hingga akhirnya menjadi ekspresi yang suram dengan mata yang tajam.
Steven memicingkan bibirnya.
"Cih, semudah itu ternyata..."
Sejak awal Steven memang berniat ingin mendekati Caesar, saat Steven tahu dari Noah bahwa hubungan Caesar dan Regal sangat tidak baik. Meskipun Noah tidak menceritakan secara detail, namun dengan kecerdasan dan kepekaan Steven, dia mampu membaca situasi antara Caesar dan Regal saat ini.
Analisa Steven tidak salah. Buktinya adalah hari ini. Kecelakaan kecil yang sengaja dibuat oleh Steven adalah untuk mengetes Caesar, yang ternyata dia tidak mengenal Steven. Sangat mustahil Caesar tidak mengenal Steven yang merupakan musuh persaingan Regal sejak di elementary school, jika seandainya Caesar memiliki kedekatan dengan Regal.
Dan hari ini Steven berhasil membuktikan analisa awalnya.
Steven terus mendekati Caesar, ia terus saja menempel pada Noah. Meski Steven tidak satu gedung dengan Caesar dan Noah, namun tidak sulit bagi dirinya untuk terus mengikuti Caesar dan Noah.
Steven mulai sedikit demi sedikit menjauhi teman-teman gengnya. Bahkan seolah Steven memutus hubungan dengan mereka. Di mata anak-anak lain Steven mulai menyendiri, dia tampak kesepian tak memiliki teman. Tapi tidak ada satupun yang akan menyangka kalau Steven sedang mematangkan sebuah rencana. Steven memang paling hebat dalam berkamuflase.
Pelan tapi pasti, setelah beminggu - minggu mendekati Caeaar, Steven pun mulai dianggap sebagai anak yang "bertobat". Bahkan Mrs.Jang pun mulai berbicara pada Caesar bahwa dia bisa menjadi senior pembimbing Steven.
Setiap setelah pulang sekolah, Caesar bersama Noah selalu meluangkan waktu untuk menjadi pembimbing belejar Steven.
Dan tidak mungkin Regal tidak mendengar semua itu.
Regal tidak bisa mengabaikan kabar yang ia dengar dari beberapa temannya, jika Steven kini memiliki pembimbing senior, yaitu Caesar, kakak yang selalu dingin pada Regal.
Sakit hati Regal semakin mendalam terhadap Caesar. Kakak yang selalu dia harapkan untuk bisa mempedulikan dirinya, tapi sedikitpun tidak mampu ia sentuh. Kini malah menjadi senior pembimbing Steven, anak yang selalu berkonflik dengannya.
Suatu kali Regal sepulang sekolah, dia berpapasan dengan Caesar yang sedang berjalan di koridor gedung grade 7. Bisa ditebak bahwa Caesar ke gedung itu bukan untuk menemui Regal. Tapi Steven.
Kedua mata kakak beradik itu saling beradu, namun Caesar akhirnya memilih menghindar dan berjalan berlalu bergitu saja. Namun tidak dengan Regal yang memilih menarik tangan Caesar.
"Kenapa...?"
Caesar hanya berhenti melangkah tapi matanya tetap tertuju ke depan, sama sekali tidak menoleh ataupn melirik ke arah Regal. Dia juga enggan untuk menjawab pertanyaan Regal.
"Katakan kak Caesar.... Kenapa kamu terus menghindariku.... Apa salahku padamu?"
Caesar tetap membungkam mulutnya. Dia memang tidak memiliki alasan yang kuat untuk menghindari Regal. Tapi dia pun juga tidak bisa membohongi perasaannya bahwa dia tidak suka melihat Regal bahkan sejak anak itu masih dalam kandungan.
Bagi Caesar, Regal hanyalah perusak segalanya. Regal adalah anak yang hampir mengambil nyawa Nana. Bahkan selama hamil, Caesar seringkali melihat Eric terus memohon kepada Nana untuk menggugurkan kandungannya, setiap kali Nana merasakan sakit yang luar biasa karena kehamilannya.
Caesar yang pernah merasakan kehilangan ibunya selama setahun, sangat amat tidak ingin hal itu terulang kembali. Tapi melihat kegigihan dan keras kepala Nana dalam mempertahankan anak yang sedang dikandungnya, membuat Caesar kecil semakin bersedih. Ibunya lebih memilih mengambil risiko meninggalkan dirinya dan ayahnya, daripada harus mengorbankan makhluk kecil yang belum jelas bentuknya.
Seluruh bayangan masa lalu tidak akan pernah bisa dilupakan begitu saja dalam ingatan Caesar. Dan saat ini setiap kali ia melihat Regal, kekesalannya terhadap kehadiran Regal tak bisa ia singkirkan. Sungguh kenyataan yang pahit melihat Regal sebagai adiknya. Semakin Nana terus memohon kepada Caesar untuk menerima Regal, semakin dalam pula kekesalan Caesar terhadap Regal.
"Kamu tidak salah, tapi kehadiranmu yang salah berada di dalam keluarga Shine."
Tepat saat Caesar mengatakan hal tersebut, Steven dan Noah datang. Mereka berdua sempat ternganga mendengar ucapan Caesar yang selama ini dikenal sebagai orang yang sejuk di mata orang lain. Namun terhadap Regal adik kandungnya, dia justru seperti balok es yang menjulang tinggi dengan patahan - patahan yang tajam tak dapat tersentuh.
"Jadi seperti itu hubungan mereka..." ucap Steven dalam hati.
Melihat ada Noah dan Steven, Caesar melepaskan genggaman tangan Regal. Lalu pergi berjalan ke arah Noah dan Steven yang ada di depannya.
***
***
Regal masih terpaku dengan ucapan Caesar yang menusuk hatinya, tanpa perlawanan ia melepaskan begitu saja tangannya. Tatapannya kosong.
"Itu tadi.... apa maksudnya...? Jadi selama ini...?"
Regal masih tidak mau percaya pada kenyataan yang baru saja ia dengar dari mulut Caesar.
Regal berjalan dengan terhuyung, seolah tubuhnya telah kehabisan darah. Wajahnya mendadak pucat.
Saat ia berusaha menuruni tangga, ia hilang keseimbangan sampai hampir terpeleset dan tersungkur ke bawah.
Namun ada tangan seseorang yang memegangi lengannya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Meskipun saat ini Regal sedang melihat ke arah Jasmine, namun tatapannya terlihat kosong dengan wajah yang seolah tak bisa merasakan apapun.
"Mau ku bantu turun?"
Tapi Regal memilih duduk pada anak tangga tempat dia berdiri.
"Tinggalkan aku sendiri." suara Regal terdengar serak.
Tanpa diduga Jasmine justru malah duduk di samping Regal.
"Aku tidak akan pergi sampai aku memastikan kau bisa turun tangga."
Jasmine hanya beralasan, namun dalam hatinya ia sungguh tidak ingin meninggalkan Regal dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya ia pun mendengar apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Jasmine pun juga baru tahu jika Regal memiliki seorang kakak yang ternyata adalah seniornya di sekolah tersebut.
Selama beberapa menit, Regal hanya menundukkan kepalanya. Ia tak peduli Jasmine duduk di sampingnya. Dia tak memiliki tenaga untuk mengusir Jasmine, pikirannya sudah lelah dengan hatinya yang saat ini harus ia tata kembali setelah hancur tak berbaur mendengar ucapan Caesar.
"Kenapa kamu tidak bertanya padaku?" Tiba-tiba Regal mengeluarkan suara.
"Kamu sedang menanyaiku?"
"Apa ada orang lain di sini?" Regal masih menunduk.
"Aku.... hanya tidak mau---" Jasmine belum selesai mengucapkan kalimatnya.
"Dia kakakku, tapi bagi dirinya.... aku bukan adiknya...."
Jasmine hanya terdiam. Dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Ia memang tidak tahu harus merespon bagaimana. Dia juga takut salah bicara.
"Jadi.... kamu tahu aku di sini sejak tadi. Sebenarnya aku tahu senior Caesar adalah pembicaraan belajar Steven saat ini. Tapi bukankah dia seharusnya tahu hubunganmu dengan Steven tidak baik?"
"Dia tidak memilihku, tapi justru memilih Steven. Aku kalah, aku merasa dipermainkan."
"Kenapa? Kenapa kamu dan senior Caesar...."
"Aku juga tidak tahu dia seperti itu padaku. Dia ramah pada orang lain, tapi sangat dingin padaku."
Jasmine tidak bisa mengatakan apapun karena ia tidak pernah tahu rasanya menjadi Regal. Jasmine sejak kecil telah ditinggalkan ibunya saat melahirkan Jasmine. Dan sejak ibunya meninggal, ayah Jasmine menitipkan Jasmine yang masih bayi ke neneknya yang tinggal di Surabaya. Sedangkan ayah Jasmine menjadi Tenaga Kerja Indonesia sebagai seorang sopir yang hanya mampu menyisihkan uang untuk pulang ke Surabaya saat Natal. Sedangkan gajinya tiap bulan 60% dikirim untuk biaya hidup Jasmine dan neneknya.
"Setiap orang memiliki masalah dan kesulitan mereka masing-masing. Mungkin aku yang hidup serba kekurangan ekonomi, namun begitu banyak orang yang mengasihiku, sampai aku bahkan takut mengecewakan mereka. Tapi Regal adalah anak orang kaya namun kebahagiaan yang sangat dia harapkan justru tidak bisa dibeli dengan sebanyak uang yang dia miliki." Jasmine berujar dalam hatinya.
Jasmine masih memandangi wajah Regal yang semakin layu. Tapi sekilas terbesit ide Jasmine untuk membantu Regal.
"Kalau kamu kembali pada kelompok kami, aku akan membantumu bisa dekat kembali dengan kakakmu."
Regal mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya tertunduk.
"Kamu? Bagaimana bisa?"
"Aku akan bicara dengannya...."
Regal tertawa meremehkan kalimat yang diucapkan Jasmine.
"Kamu terlalu percaya diri. Kakakku bukan orang yang mudah didekati. Apalagi gadis sepertimu."
Jasmine terdiam, ia agak tersinggung dengan kata-kata Regal.
"Lupakan saja. Kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa." Regal sambil menepuk pundak Jasmine.
Regal berdiri dan berjalan menuruni anak tangga meninggalkan Jasmine. Namun baru beberapa anak tangga yang ia pijak, ia berhenti.
"Apa kamu mau tetap di situ?"
Jasmine tahu maksud Regal, mungkin saat ini Regal mengajaknya untuk meninggalkan tempat itu bersama.
Tanpa berpikir dua kali, Jasmine berdiri dan menuruni anak tangga menyusul Regal. Jasmine berjalan di belakang Regal.
"Jasmine!"
Terdengar seseorang memanggil dari ruangan yang baru saja dilewati oleh Jasmine dan Regal.
Jasmine menoleh, begitu juga dengan Regal.
"Ini adalah daftar nilai kelompokmu. Saya kecewa padamu Jasmine."
Jasmine hanya menunduk melihat lembaran kertas yang diberikan oleh Mrs. Neena.
"Dalam satu semester ini bahkan kamu kehilangan anggotamu."
"Maafkan saya Mrs... Saya tidak bisa membujuk mereka kembali ke kelompok kami..."
"Sekalipun Steven memiliki pembimbing belajar, tapi study group ia tetap harus punya. Saya sudah bicara dengan Steven, dia mengatakan kalau dia mengalami tindak bullying dari anggota kalian lainnya..."
"Itu tidak benar Mrs Neena.... Justru kami---"
Regal tiba-tiba menghadap Mrs Neena,
"Mrs. Neena, kami minta maaf soal Steven. Tapi ke depannya kami akan membujuknya untuk masuk ke kelompok lagi."
"Apa? Kamu serius?!" Jasmine langsung menimpali.
Regal segera memberi isyarat pada Jasmine untuk diam dulu.
"Baiklah, masalah Steven saya serahkan pada kalian. Jika nilai kelompok kalian tetap seperti ini, maka anggota kelompok kalian masing-masing akan gagal di semester ini. Harus mengulang." Mrs Neena pergi meninggal Jasmine dan Regal.
Regal mengambil portfolio yang dipegang Jasmine, dia membuka lembaran-lembaran hasil laporan tersebut.
"Sekarang kamu mengerti kan? Kenapa aku bersikeras memaksamu masuk ke study group? Mrs. Neena hanya tahu Steven yang keluar dari kelompok, makanya aku tetap mencantumkan namamu di setiap tugas kami. Dan sekarang, apa kamu benar-benar mau membantu kami? Masuk ke study group dan berusaha akur dengan Steven lagi?"
"Kamu memintaku untuk berdamai dengan Steven?"
"Lalu yang tadi kamu bilang itu apa? Bukankah baru saja kamu bilang kalau kamu akan membujuk Steven masuk kelompok lagi?"
"Aku mau, tapi aku tidak bisa menjamin dia bersedia. Kamu harus siap dengan segala trik liciknya jika ingin memiliki negosiasi dengannya."
"Aku...."
"Kalau kamu ragu, sebaiknyaa pikirkan cara lain saja...."
Regal berjalan pergi menjauhi Jasmine.
"Aku bersedia! Asal kamu membantu kelompok kami, aku akan membantumu untuk bicara dengan kakakmu."
Langkah Regal terhenti.
"I will!"
Regal memberi jawaban kepada Jasmine tanpa menoleh.
***
-----------------------------------
Preview Episode Selanjutnya:
Pertama kalinya Jasmine menemui Caesar, tapi pada saat Caesar sedang bersama dengan Shaila. Jasmine yang merasa malu akhirnya memilih pergi dari hadapan Caesar. Tapi justru kesalahpahaman itu berujung pada pembullian Steven terhadap Jasmine. Namun Regal justru datang menyelamatkan Jasmine.
Jasmine merasa tersentuh dengan sikap Regal, tapi rupanya perasaan itu berlanjut pada rasa kekaguman Jasmine terhadap Regal. Dia tidak menyadari bahwa ia mulai menyukai Regal.
Yang pada suatu ketika Jasmine mengetahui semua rencana Steven selama ini adalah semakin merusak hubungan Regal dan Caesar.
***Halo sobat pembaca***
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**