
***Aku tak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa, memilih keluarga mana, kapan waktunya dan memilih siapa saudaraku.
Bukan salahku,
Jika aku menjadi saudaramu.
Karena aku pun juga tak bisa memilih.
Karena itu semua adalah kehendak Tuhan.
--Regal***--
-----------------------------------
Brakkk!
Caesar menutup pintu bagian depan rumahnya. Dia sengaja meninggalkan ibunya dengan segala kebimbangan, memang dia ingin menguji ibunya hanya untuk melihat siapa yang paling dibutuhkan di dalam keluarganya.
Caesar mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia melihat beberapa pesan yang belum terbaca di whatsapp-nya.
Saat Caesar sedang fokus melihat ponselnya, dia tidak tahu jika dia diikuti oleh sosok orang lain di belakangnya. Regal.
"Kak!"
Caesar menghentikan langkahnya mendengar suara Regal. Namun masih tidak menoleh.
Caesar diam sejenak namun ia melanjutkan lagi melangkah. Tapi Regal menahannya dengan menarik pergelangan tangan Caesar.
"Lepaskan!" Caesar bicara dengan suara yang ditekankan.
"Tidak, aku berhutang penjelasan padamu." Regal menjawab untuk berusaha menahan kakaknya.
Caesar kali ini menghempaskan tangannya sehingga genggaman tangan Regal terlepas.
"Kak, kenapa aku tahu kamu marah karena membuatmu terlibat dalam masalahku di sekolah. Apa kamu tahu bahwa aku memang sengaja melakukannya hanya untuk menarik perhatianmu saja? Karena aku tidak ada alasan lagi untuk bisa bertemu denganmu."
"Aku tidak peduli" Caesar menjawab dengan dingin.
"Kalau begitu, kenapa kamu marah padaku?" Regal masih berusaha menghujami Caesar dengan pertanyaannya.
Kali ini Caesar menoleh ke belakang dan perlahan membalikkan tubuhnya sehingga menghadap ke hadapan Regal. Dan menatap mata Regal dengan tatapan yang tajam.
"Karena kamu hidup sebagai adikku." ucap Caesar dengan suara penuh tekanan di setiap katanya.
Regal tersentak dengan kalimat yang diucapkan Caesar. Padahal dia tahu kakaknya memang tak menyukainya dari dulu. Meski ia tidak tahu apa alasannya. Tapi ucapan Caesar masih saja membuatnya terkejut.
Caesar pergi keluar pagar depan rumahnya tanpa menoleh sedikitpun dan meninggalkan adiknya yang masih berdiri mematung.
Nana melihat semua adegan kedua anaknya dari jendela lantai atas. Namun dia hanya menghela nafas dalam-dalam sambil mengelus dadanya.
-------------------------------------
Siang di hari yang sama.
Setelah Caesar keluar dari rumahnya, ia berjalan menuju Minimarket di persimpangan dekat perumahan rumahnya. Di sana sudah berdiri Glenn dan Noah. Mereka adalah teman Caesar satu kelas sekaligus tetangga satu komplek perumahan.
"Yo, Caesar...." Glenn menyapa.
"Annoying, like as usually" Noah nyinyir pada Glenn yang selalu berisik.
Caesar hanya tersenyum melihat kedua temannya itu. Caesar memang dikenal hangat dan ramah meski pendiam diantara teman-temannya, jika dibandingkan Glenn yang berisik dan Noah yang bermulut pedas.
"Kalian sudah lama di sini?" Caesar sembari duduk di kursi yang tersedia di depan Minimarket.
"Nope. Baru beberapa menit. Saat aku wa kamu, saat itu juga kami baru keluar rumah." Noah menjawab.
"Aku pikir kamu tidak datang, wa tidak dibalas pun." Glenn menimpali.
Caesar hanya tersenyum, kemudian ia kembali ingat beberapa waktu yang lalu saat dia baru melihat Whatsapp-nya ia berurusan dengan Regal sehingga ia tidak bisa membalas pesan Whatsapp dari Glenn dan Noah.
Caesar memang paling bisa menyembunyikan perasaannya dalam balutan ekspresinya. Bahkan kedua temannya sama sekali tidak tahu perasaan Caesar terhadap Regal. Sifat introvert Caesar benar-benar ter-cover dalam sikap ramahnya. Sehingga orang lain sulit menebak masalah apa yang dialami dan dirasakan Caesar.
Samar-samar Caesar mendengar percakapan seorang gadis yang berada di belakang tempat dia duduk. Kedengarannya gadis itu sedang menelpon salah satu keluarganya yang berada di salah satu kota di Indonesia.
Caesar sempat tidak fokus dengan pembicaraan kedua temannya yang sama sekali tidak penting seperti biasanya. Dia justru meneruskan menguping pembicaraan gadis yang sedang duduk di belakangnya.
(percakapan gadis yang didengar Caesar)
"Iyya, cece mestine pulang kok, tapi e nunggu cutine papa disetujui Tuan besar."
"........."
"Ndak, koko kayak e gak pulang. Pas itu udah ditelpon sama papa."
"........."
"Iya, Ama ndak usah kepikiran. Cece sama papa di sini enak kok. Wes gak usah kepikiran ya Ama...."
"........"
"Cece juga bisa bantu-bantu papa supaya bisa nabung untuk pulang ke Surabaya."
"........"
"Cece tutup dulu teleponnya ya Ama..."
(percakapan berakhir)
"Dukkk"
Caesar mengerutkan dahinya saat ia mendengar suara benturan. Sepertinya gadis itu melemparkan kepalanya ke meja. Itu tebakan Caesar karena Caesar sama sekali tidak melirik atau menoleh ke arahnya.
Selang beberapa detik kemudian gadis itu berjalan melewati Caesar. Tapi Caesar tak bisa menahan diri untuk melihatnya. Dia penasaran.
Yang membuat Caesar penasaran, adalah karena gadis itu menyebut kata "Surabaya".
Terakhir kali Caesar pergi ke Indonesia adalah saat pemakaman Neneknya dan pamannya, Kevin.
Gadis itu berjalan masuk ke Minimarket Lalu tidak berapa lama ia keluar bersama seorang pria paruh baya yang membawa sebotol minuman. Gadis itu terlihat mengelus punggung pria itu yang sedang batuk-batuk sejak keluar melewati pintu Minimarket.
"Woi..!"
Glenn menepuk kedua tangannya di depan mata Caesar yang sejak tadi tidak fokus pada kedua temannya.
"Dude, kamu lihat gadis seperti tidak pernah melihatnya saja." Glenn menimpali.
"Bukan, bukan begitu. Aku cuma penasaran saat mendengar logat percakapannya. Sepertinya dia dari Indonesia." Balas Caesar.
"Lalu apa hubungannya?" Glenn terus bertanya.
"Ibuku berasal dari Indonesia." Caesar menjawab.
"Sepertinya dia juga bersekolah di NJC. Aku beberapa kali melihatnya saat berangkat sekolah. Kelihatannya rumahnya juga berada di sekitar kompleks ini. Mungkin ya..." Noah tiba-tiba berucap.
"Tapi dia masih terlalu kecil, dude.... kamu menolak Gwenn tapi memburu gadis kecil." Glenn menyindir Caesar.
"Gwenn juga tidak lebih baik, dia berkali-kali bilang menyukai Caesar sejak kelas 7, tapi sampai sekarang kelas 11, dia juga berkali-kali ganti pacar. Dasar easy girl." Noah mencibir Glenn.
"Hei, kamu menjelek-jelekkan kembaranku!" Glenn tampak emosi.
"Memang itu kenyataannya! Tentu saja Caesar lebih menyukai Kak Shaila, bahkan dia rela single selamanya demi menunggu Kak Shaila." Noah memperjelas.
"ehem ehem!" Caesar berdehem untuk menghentikan perdebatan kecil kedua temannya.
Glenn pun berhenti mengoceh dan Noah juga melanjutkan memainkan ponselnya.
"Aku dengar, Kak Shaila mendaftar bimbingan belajar untuk persiapan masuk ke Harvard. Sepertinya dia akan mengambil Kedokteran di sana." Glenn melirihkan suaranya.
"Duakk" Noah menendang kaki Glenn dari bawah meja.
Glenn kesakitan dan melotot ke arah Noah, namun Noah balik memelototinya sambil mengarahkan lirikan ke Caesar.
Glenn pun melirik ke arah Caesar dan melihat ekspresi Caesar yang berubah muram.
"Kedokteran Harvard ya...."
Caesar menunduk sambil memainkan botol yang sejak tadi dipegangnya. Namun tatapannya sedang jauh menyelam ke dalam pikirkannya.
Entah apa yang dipikirkan Caesar.
-------------------------------------
Malam hari,
Nana masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih terus mengarung entah di mana. Tatapannya kosong menghadap ke jendela kamarnya. Dia sesekali mendenguskan nafasnya dan memejamkan matanya.
"Kenapa masih belum tidur?" Eric tiba-tiba mengelus pundak Nana dari belakang.
Eric yang sejak tadi tidur di samping Nana sebenarnya mengira Nana sudah terlelap, maka dari itu ia membiarkan Nana memunggunginya. Ternyata Nana masih terjaga.
"Caesar? Kenapa dia?"
"Aku merasa bahwa Caesar sudah jauh berubah."
"Tentu saja dia berubah, dia sudah besar. Usianya sudah 17 tahun. Satu tahun lagi dia sudah kuliah. Jadi pasti pola pikirnya berubah."
"Bukan itu.... tapi seperti seolah dia berubah menilai kita sebagai orang tuanya. Dia seolah semakin menjauh dari kita."
Eric mengerutkan dahinya seolah ia tidak mengerti yang diucapkan Nana.
"Menjauhi kita? Begitukah? Tapi apa alasannya?"
"Sebenarnya aku merasakan anak itu agak berubah sejak beberapa waktu lalu. Namun baru tadi pagi aku benar-benar memastikan bahwa dia memang berubah. Aku dilema. Aku rasa sikap Caesar seperti itu karena kita terus menuntut dia menjadi anak yang dewasa, anak yang harus selalu mengerti, anak yang harus selalu mengalah, dan ada titik di mana dia mungkin merasa muak dengan semua itu...."
Eric hanya diam dengan ungkapan Nana. Dia juga menyadari bahwa selama ini memang ia terlalu mengandalkan Caesar dan menganggapnya seperti orang dewasa hingga ia lupa bahwa Caesar masih tetap seorang anak.
Nana pun melanjutkan ungkapannya,
"Terlebih saat Regal memutuskan untuk masuk ke Junior School yang sama dengan Caesar. Padahal sebelumnya Caesar sudah mengatakan pada kita bahwa dia tidak ingin Regal bersekolah di tempat yang sama dengan dirinya. Tapi kita malah membuat keputusan yang cenderung memihak Regal. Sejak saat itu Caesar bahkan hampir tidak pernah berbicara dengan Regal. Apa yang harus kita lakukan?"
Eric masih termenung memikirkan ungkapan istrinya.
"Aku akan bicarakan baik-baik dengan Caesar jika ada waktu. Mungkin pembicaraan antara pria akan lebih membuatnya nyaman dan terbuka."
"Baiklah, aku harap kamu bisa membuatnya lebih terbuka."
-----------------------------------
Tap, Tap, Tap, Tap,
Suara sepatu Caesar terdengar sedang menuruni tangga. Pagi ini ia berangkat ke sekolah seperti biasanya.
Nana mencegat langkah Caesar sebelum keluar melewati ruang tamu.
"Sayang.... ini bekalnya jangan lupa dibawa ya...."
Nana menyerahkan kotak makanan berukuran sedang yang di dalamnya terdapat sandwich daging sapi asap dan sosis bratwurst kesukaan Caesar.
Caesar memang tidak pernah sarapan di rumah, namun ia juga tidak pernah menolak untuk membawa bekal buatan ibunya ke sekolah.
"Thanks Mom, aku pergi dulu."
Caesar dengan wajah sedikit tersenyum tipis melengang keluar rumah dan menuju sepeda BMC yang sudah diparkir di depan rumahnya.
Sejak dua tahun lalu, Caesar memang tidak pernah diantar sopir untuk pergi ke sekolah. Ia lebih senang berangkat menggunakan sepeda BMC-nya dengan bebas.
Lima menit berselang,
Regal turun dari tangga dengan tergesa-gesa.
"Mom, Kak Caesar mana?"
"Dia sudah berangkat."
"Kenapa tidak ditahan dulu untuk sarapan?"
"Bukanlah dia memang tidak pernah sarapan di rumah. Mommy sudah membawakan dia bekal."
"Haizzz.... kacau...."
Regal berlari sambil membetulkan tasnya.
"Regal, kamu tidak sarapan?"
"Aku berangkat dulu!"
Regal setengah berlari menuju mobil yang sudah siap mengantarnya. Makin dia tidak melihat Joni di dalam mobil.
"Joni...!!!"
Joni terkejut mendengar Regal meneriaki namanya. Dia segera berlari menuju mobil dan mendapati Regal sudah berdiri di samping mobil.
"Berangkat sekarang, Tuan muda?"
"Cepat!! Kak Caesar sudah berangkat! Aku harus sampai sana dulu!"
"Baik Tuan..."
Joni membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Regal. Lalu Regal masuk dan duduk.
Regal terlihat begitu kesal.
Joni mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, seperti biasanya.
"Joni, apa mobil ini rusak?"
"Tidak Tuan,..." Joni menatap Regal dengan heran dari spion depan.
"Kalau begitu apa kamu sakit?"
"Tidak juga Tuan..." Joni semakin heran.
"Kalau begitu kenapa lamban sekali?!!"
"Tapi ini kan masih jalan perumahan Tuan..."
"Apa aku seharusnya ganti sopir lain?"
"Tapi Tuan..."
"Jangan sampai aku telepon Daddy."
"Ba...baik Tuan..."
Joni pun melajukan mobil yang dikendarainya dengan lebih cepat. 20 km/jam lebih cepat dari sebelumnya.
Crattt...!
Mobil yang dikemudikan Joni melintasi genangan air sisa air hujan semalam. Seorang anak perempuan yang sedang berjalan secara kebetulan terkena cipratan genangan air tersebut.
Adegan seolah slow motion di mana Gadis tersebut menatap mobil yang sudah melaju di depannya. Sedangkan di dalam mobil, dalam posisi tegak lurus dengan posisi gadis itu berdiri, ada Regal yang duduk tak peduli terhadap apapun selain fokus mengejar kakaknya, Caesar.
*****
------------------------------------------
Informasi Tambahan:
Caesar dan Regal bersekolah di salah satu Junior College di Singapura.
Di Singapura, sistem pendidikan tidak seperti di Indonesia.
Terdapat program pendidikan terpadu selama 6 tahun (kelas 7 hingga kelas 12), dan program pra-universitas (junior college) selama 2 tahun.
Jadi saat Regal sudah lulus sekolah dasar, maka dia pun mendaftar pada sekolah yang sama dengan Caesar di mana saat ini Regal masih kelas 7, sedangkan Caesar kelas 11.
-------------------------------------
**Halo sahabat reader....
Mohon maaf kalau update dalam beberapa minggu ini agak telat. Karena kesibukan yang sering menjadikan saya menulis terpotong- potong.
Sekali lagi mohon maafπππ
Semoga kalian tetap setia membaca novel ini ya...
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
πKLIKπ
β€οΈ FAVORITE
ππ» LIKE
βοΈ VOTE POIN Sebanyaknya
π° TIP KOIN Seikhlasnya
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU β€οΈβ€οΈβ€οΈ**