I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] STUDY GROUP



Craattt...!


Mobil yang dikemudikan Joni melaju kencang. Dia tidak menyadari bahwa ia baru saja melintasi genangan air sisa air hujan semalam dan menciprat ke sebelah kiri jalan. Dan di sana sedang berjalan seorang gadis, Jasmine.


"Aku sudah terbiasa...." Gumam Jasmine dalam hatinya.


Jasmine sudah tidak peduli dengan berbagai kesulitan dalam hidupnya. Bahkan ia bisa sampai bersekolah di negara orang di tempat ayahnya bekerja sebagai sopir, itu juga tidak mudah. Dia sudah melalui berbagai kesulitan.


Jadi Jasmine tidak peduli.


Dia hanya ingin belajar dengan giat dan mendapatkan beasiswa agar ia bisa menempuh sampai ke universitas dan menjalani hidup dengan tenang sampai lulus, kemudian mencari pekerjaan. Itu saja.


***



----------------------------------------


Srakk


Seorang gadis cantik yang menggunakan hijab membuang sebendel kertas ke tempat sampah. Gadis itu tampak kesal dan wajahnya merah padam.


Beberapa detik kemudian, seorang anak laki-laki mendekati gadis tersebut sambil membawa tisu.


"Sampai kapan kamu akan terus menghindar..."


Gadis itu agak terkejut dengan kedatangan anak laki-laki itu.


"Caesar....dari mana kamu tahu aku di sini?"


"Kak Shaila, kamu yakin kamu bisa melakukannya. Keluargamu adalah keluarga dokter, jadi orang tuamu pasti akan memberimu pilihan dan mentoleransimu. Asalkan kamu bisa jadi dokter. Itu tidak masalah di manapun kamu akan diterima."


"Jadi kamu sudah tahu ya, kalau aku mengikuti program pra-universitas ke Harvard..." wajah Shaila tampak lesu.


"Tapi sepertinya aku akan gagal..."


"Kamu baru ikut bimbingan program, belum juga mengikuti ujian untuk mendapat LoA. Kenapa menyerah dulu?"


"Karena aku sudah lelah..." Shaila mengambil tisu yang sejak tadi dibawa Caesar, lalu menundukkan kepalanya bertumpu pada lengan Caesar yang memegang tisu.


Caesar terkejut dengan sikap Shaila. Namun ia berusaha menahan dirinya.


Caesar meyakinkan hatinya, bahwa Shaila memang sudah menganggapnya sebagai adik seperti yang dikatakan Shaila beberapa waktu lalu kepada Caesar saat Shaila menolak pernyataan cintanya.


Jadi sikap inisiatif Shaila kali ini pasti karena ia menganggap Caesar tidak lebih dari seperti saudara.


"Kamu jadi ambil program bimbingan apa untuk semester depan, Caesar?"


Caesar menggeleng sambil tersenyum,


"Belum tahu, mungkin aku akan mengikuti seperti dirimu."


Wajah Shaila memerah.


"Mana mungkin, keluargamu adalah pengusaha. Ayahmu juga seorang Menteri di bidang bisnis. Jadi pasti kamu sudah dibesarkan dengan darah bisnis yang mengalir di dalam tubuhmu."


"Mereka tidak bisa memaksaku."


Caesar menatap jauh ke arah luar gedung dari balkon jendela gedung lantai 3.


"Dalam beberapa hal, mereka tidak bisa memaksaku. Karena aku punya hak untuk menentukan pilihan."


Shaila melihat keseriusan dalam wajah Caesar. Dia pun hanya tersenyum kecut sambil meremas-remas bahu Caesar.


"Kamu orang yang jenius, aku rasa itu tidak akan sulit bagimu."


Caesar menoleh ke arah Shaila dan menatapnya dengan sangat dalam.


"Aku akan mengikuti ke mana hatiku ingin pergi. Sampai pada akhirnya nanti bisa aku miliki. Aku pasti akan berjuang."


Wajah Shaila merona merah. Dia tidak tahu apakah Caesar serius atau tidak. Selama ini Shaila hanya mengira Caesar menyukainya hanya sebatas cinta remaja yang bisa pasang surut.


Tapi nyatanya, Caesar tidak pernah berinteraksi dengan gadis manapun selain dirinya sejak awal masuk, sejak Caesar mengenal Shaila sebagai senior saat masa orientasi.


"Caesar.... Jangan seperti ini, aku merasa tidak enak padamu." Shaila bergumam dengan lirih.


"Apa?"


Ternyata Caesar memang tidak jelas mendengar apa yang diucapkan Shaila.


"Ah... tidak. Aku harap kita bisa berteman selamanya..." Shaila mengacungkan jari kelingkingnya.


Caesar ragu-ragu dengan ajakan Shaila.


Namun akhirnya dia membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Shaila.


"Semoga saja...." ucap Caesar.


Namun sepertinya Caesar memiliki pemikiran lain, terlihat di wajahnya yang hanya tersenyum masam. Seolah dia tidak puas dengan janji Shaila yang hanya ingin selamanya berteman dengannya.


***



----------------------------------


Jasmine berjalan di koridor dengan membawa beberapa kertas yang tampaknya adalah sebuah formulir. Dia menuju ruang kantor guru.


Saat sudah di depan pintu, ia menghela nafas dalam sambil memejamkan matanya, lalu menghembuskan dengan wajah yang seolah memantapkan dirinya, sambil menepuk dadanya.


Saat dia membuka pintu, dia langsung menuju meja salah satu guru yang merupakan penanggung jawab kelas Matematika yang dia ikuti.


"Selamat Pagi, Mrs.Neena..."


"Oh, kamu sudah datang. Kebetulan saya hari ini mau mencari kamu. Bagaimana keputusan kamu?"


"Uhm... ini formulirnya. Saya sudah mengisinya dan orang tua saya juga sudah menanda tanganinya."


"Good. Saya tahu kamu akan bersedia mengikuti study group kelas matematika ini. Melihat nilai matematikamu yang sangat menonjol di kelas, saya cukup terkejut dengan nilai kelas pelajaran yang lainnya yang ternyata juga sangat baik. Sepertinya kamu harus banyak mengikuti study group kelas tersebut dan berbagi ilmu dengan mereka."


"Terimakasih Mrs... Saya pun juga dengan senang hati akan memberikan kontribusi untuk sekolah ini karena sudah mau menerima dan memberi beasiswa bagi siswa asing seperti saya."


"Baiklah, ini daftar anggota study group-mu"


Mrs.Neena menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan beberapa nama.


"Kami sudah mengacak daftar namanya. Jadi kebetulan itu adalah nama teman-teman yang berada satu Grup denganmu."


***



***


Jasmine tak membantah. Ia hanya tersenyum mengiyakan. Namun ia tahu bahwa Mrs.Neena juga tak dapat berkutik jika teman-temannya yang lain memilih teman kelompok sendiri. Karena mereka adalah anak-anak orang kaya dan memiliki kekuasaan.


Sedangkan bagi dirinya yang hanya seorang anak beasiswa, ia hanya bisa pasrah. Tak punya tempat dan hak untuk memiliki pilihan. Tidak bermasalah dengan mereka saja itu sudah sangat bagus.


"Saya harap kamu bisa membangun teamwork yang baik dengan mereka."


"Baik Mrs.... Terimakasih..."


Jasmine mendenguskan nafas saat keluar dari pintu kantor ruang guru. Dia sama sekali tidak menyangka di kelompoknya banyak anak laki-laki. Padahal dia berharap ingin lebih banyak anak perempuan. Tapi apa yang bisa dilakukan bagi anak beasiswa seperti dirinya.


Kali ini Jasmine harus mencari nama anggota kelompoknya satu per satu. Yang dia tahu hanya Ajhay, karena dia lebih sering satu kelas dengan Jasmine.


Jasmine memasuki kelasnya saat ini, beruntung dia langsung bertemu Ajhay yang sedang duduk sendirian di bangkunya menyantap bekal makan siangnya. Tak menunggu lama, Jasmine mendatangi bangku Ajhay.


"Halo Ajhay..." Jasmine berdiri di samping meja Ajhay.


"Ha..Hallo Ja..Jasmine..."Ajhay menjawab dengan khas gagapnya.


Jasmine tersenyum sambil menyerahkan catatan yang bertuliskan nama anak-anak anggota study group-nya yang sesuai dengan lembaran kertas yang diberi oleh Mrs Neeena.


"Kita satu kelompok di kelas matematika. Dan ini.... apa kamu tahu siapa mereka? Aku tidak begitu paham dengan teman-teman satu kelas matematika kita."


"Glek..."


Ajhay langsung terbelalak melihat nama anggota kelompoknya.


"Si...siapa yang mm...memberimu nna...nama-nama ini?"


"Mrs. Neena. Kenapa Ajhay?"


"Ti...Tidak apa-apa... Ha...hanya saja..."


Tiba-tiba seorang anak laki-laki dengan suara ribut memasuki kelas. Dia tampak bersama gengnya dari kelas lain. Anak itu memang tampak lebih tinggi dan besar dari teman sebayanya.


Jasmine sempat kaget namun ia hanya menoleh sekilas, lalu kembali menghadap dan berbicara dengan Ajhay. Namun mata Ajhay menatap mereka dengan sangat aneh dan hampir sama sekali tidak berkedip.


Jasmine kembali menoleh kepada gerombolan anak-anak itu. Sambil memperhatikan satu persatu nama dada mereka.


Dan diantara mereka, bernama...


"Steven"


Jasmine mengerutkan alisnya, lalu ia beranjak dari bangku Ajhay.


Melihat Jasmine berdiri, Ajhay tahu Jasmine akan menghampiri Steven. Dia buru-buru menarik pergelangan tangan Jasmine.


Jasmine terkejut dengan tangan Ajhay yang tiba-tiba menarik tangannya. Gerakan Jasmine tertahan lalu ia menoleh ke Ajhay.


Ajhay menggelengkan kepalanya.


"Jja-Jangan. Bbi-bbiar aku saja."


"Kenapa?" Jasmine sambil mengangkat bahunya, bingung.


"Dd-dia anak yang kke-keras. Bb-bahaya."


Jasmine tersenyum menanggapi Ajhay. Mungkin saat ini Ajhay sedang mencemaskan Jasmine karena dia mengiran Jasmine tidak akan bisa mengatasi anak seperti Steven.


Lucu bagi Jasmine. Jika dirinya tidak bisa mengatasi Steven dan gengnya. Apakah masuk akal jika Ajhay lebih mampu mengatasinya? Tidak. Jasmine akan tetap bicara dengan Steven.


Jasmine menawarkan kerja sama dengan Ajhay. Mungkin itu lebih efektif dan juga dia tidak akan membuat Ajhay merasa diragukan oleh Jasmine.


"Bb-baiklah..."


Baru beberapa langkah Jasmine dan Ajhay akan berjalan menuju geng Steven, tiba-tiba seseorang berlari ke arah mereka dan seorang anak perempuan berambut pendek sebahu dan berponi dengan pita hello kitty warna pink terjepit di rambut sebelah kiri.


"Aahh... akhirnya aku menemukanmu!" Gadis itu tiba-tiba memeluk Jasmine dari depan.


Jasmine terkejut. Seisi kelas juga terkejut dengan suara keras gadis itu. Begitu juga dengan geng Steven.


"Kamu pasti Jasmine kan?" Gadis itu sambil menunjukkan kertas yang berisi daftar namanya.


"Dan kamu Tania?" Jasmine balik bertanya.


Gadis itu mengangguk dengan semangat.


"Ini Karim, dia juga teman sekelompok kita." Gadis itu menarik tangan seorang anak laki-laki yang tingginya sejajar dengan Jasmine.


"Dan ini Ajhay. Dia juga teman sekelompok kita." Jasmine memperkenalkan Ajhay.


"Wuah, pas! Kalau begitu mana yang satu lagi?"Tania tampak begitu antusias bersemangat.


"Apanya?" jawab Jasmine


"Aku tadi mencari-cari informasi tentang kalian. Dan kebetulan anggota kelompok kita yang satu kelas mandarin pada jam ini ada tiga orang. Kamu, Ajhay, dan..... " Tania kembali melihat kertas catatannya.


"Ah iya... Steven! Mana...Mana dia?"


Uhuk!


Ajhay terbatuk mendengar Tania menyebut nama Steven dengan sangat keras. Tania tidak tahu kalau sosok itu sekarang ada di belakangnya.


"Hei!"


Tiba-tiba Steven bersuara.


Tania menoleh ke arah belakang dan melihat Steven sudah berdiri dengan dua anak laki-laki lainnya di belakangnya.


"Wuaahhh.... Kamu pasti Steven!" Tania semakin antusias melihat Steven secara langsung.


"Ahhh.... Ternyata aku benar-benar sekelompok denganmu! Pertama kali melihatmu minggu lalu saat di kelas matematika aku penasaran. Ternyata Tuhan benar-benar membuat kita berjodoh." Tania semakin berjingkrak jingkrak sambil memegangi lengan Steven.


"Hei...! Kamu tidak sopan!" Salah satu geng Steven menghalangi Tania.


"Kamu tidak tahu, dia ini anaknya Menteri? Harusnya kamu lebih menunjukkan hormatmu padanya. Dasar gadis aneh!"


Tania langsung menciut mendengar ucapan salah satu geng Steven.


"Baiklah aku minta maaf...."


Tania melangkah mundur sampai ke belakang Jasmine.


"Dan tadi itu, kelompok macam apa yang kalian bicarakan?"


"Kk-kita ss-satu kelompok, mm-matematika..." Ajhay menjawab pertanyaan Steven dengan sedikit takut.


"Cih... kelompok matematika apa? Mana mungkin aku bisa sekelompok dengan kalian?" Steven menoleh ke kedua teman gengnya. Tapi mereka berdua seolah memalingkan pandangan.


"Jawab! aku sekelompok dengan kalian kan?" Steven menarik kerah baju salah satu temannya.


"i-i-itu.... sepertinya diacak Bos. Kami juga tidak tahu."


"Bohong!" Steven membentak


"Benar, itu memang diacak kata Mrs.Neena. Kamu bisa protes padanya kalau keberatan." Tiba-tiba Jasmine menjawab dengan wajah datar.


"Aku akan ke sana sekarang juga!" Steven menghempaskan tangannya yang tadi mencengkeram kerah baju temannya sambil berjalan berlalu.


"Tapi aku rasa percuma..."


Steven berhenti. Ucapan Jasmine membuat langkah Steven berhenti.


"Aku rasa teman-teman yang lain juga tidak akan mau bertukar denganmu. Dengan kata lain, mau tidak mau kamu harus terima kenyataan sekelompok dengan kami."


Steven menoleh. Dia lalu membalikkan tubuhnya menghampiri Jasmine.


"Kamu meremehkan aku? Kamu pikir aku anak buangan yang tidak diinginkan kelompok lain?"


"Bukan aku yang mengatakan demikian." Jasmine menjawab masih dengan wajah yang datar.


Steven menarik name-tag Jasmine yang bertuliskan "Jasmine Gunawan".


"Hmm, kamu bukan orang sini rupanya."


"Ya, aku memang berasal dari Indonesia."


"Hanya ada dua pilihan status bagi warga anak dari negara asing sekolah di sini. Dia anak seorang pejabat diplomatik, atau dia anak beasiswa. Yang manakah statusmu?


"Aku tidak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu. Itu urusanku."


"Hahahaha" Steven tertawa dengan ekspresi menghina.


"Bisa ditebak dari cara bersikapmu. Kamu.... pasti hanya anak beasiswa."


"Hah... Kenapa kamu sombong sekali...." Tania membela Jasmine.


"Sudahlah Tania, biarkan saja dia. Aku memang anak beasiswa." Jasmine menghadap ke wajah Steven.


"Sekarang apa kamu puas?!"


Jasmine meninggalkan Steven dan membiarkan dia tetap tertawa menghinanya. Langkah Jasmine keluar kelas diikuti oleh Tania, Karim dan Ajhay.


Hingga selembar kertas milik Tania terjatuh di depan Steven.


"Bos...." salah satu teman Steven mengambil catatan Tania yang terjatuh.


"Ada apa?" Steven masih dengan tawanya yang tiada henti seolah menyenangkan baginya baru saja merendahkan orang lain.


"Dia... juga sekelompok denganmu bos..."


"Siapa?"


Teman geng Steven menyodorkan kertas catatat tersebut. Ekspresi Steven mendadak berubah menjadi serius dan semakin tegang. Seolah dia baru saja membaca surat kabar yang tidak mengenakkan.


"Regal....?!" Steven bergumam sambil menggenggamkan tangannya dengan sangat erat sampai Steven tidak sadar bahwa kertas yang ia pegang telah menjadi remukan kertas yang tak berbentuk.


----------------------------------


Jam menunjukkan pukul 16.00 waktu Singapore.


Jasmine membereskan bangku-bangku kelas dan merapikan peralatan kelas.


"Fiuh.... kelas Biologi hari ini melelahkan." Jasmine berbicara sendiri.


Jasmine sudah metenteng tasnya sambil merapikan beberapa buku di tangannya keluar dari kelas.


Dan....


Brukkk!


Jasmine menabrak seseorang. Tapi beruntung orang itu tidak jatuh. Dia masih berdiri tegak.


Jasmine minta maaf sambil membungkukkan badannya. Namun anak laki-laki itu hanya melirik Jasmine dengan dingin.


"Apa kau bernama Jasmine?"


Jasmine terkejut mendengar anak itu menyebut namanya.


"Kamu....?"


Jasmine langsung melihat nametag anak laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. Bahkan Jasmine hanya sebatas dagunya.


"Aku Regal."


***



***


---------------------------------


Preview Episode Selanjutnya;


Siapa yang akan menyangka kalau Steven dan Regal adalah teman bersaing sejak kecil. Hal itu dimulai karena ayah Steven Kwan, bernama Gie Kwan adalah pesaing politik Eric, ayah Regal.


Bagaimana dengan kondisi study group mereka saat kedua anak pejabat yang bagaikan air dan minyak ini berada dalam satu grup.


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️