I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] MASA LALU SHAILA (1)



Shaila terbangun keesokan paginya, saat dia terbangun, kepalanya terasa nyeri dan tenggorokannya terasa serik, lehernya pun juga agak ngilu. Shaila baru menyadari semalam tidurnya memang tidak disengaja. Ia jatuh terlelap setelah lelah menangis usai dihubungi oleh abangnya.


"Huftt... aku harus bersiap ke Rumah Sakit..."


Shaila turun dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamarnya menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat ia melewati kaca wastafel.


Terlihat matanya yang sembab karena terlalu lama menangis.


"Macam mana aku nak pergi ke hospital dengan kondisi mata seperti ini..." gumam Shaila.


Shaila berkali-kali mengoleskan cooling gel untuk mengempeskan sembab di matanya. Lalu mengompresnya dengan sendok dingin.


Shaila sesekali memejamkan mata selagi matanya dikompres. Sejenak ia melamun dan ingatannya melemparkan dirinya ke memori Lima belas tahun yang lalu.


***



***


Semuanya berawal dari lima belas tahun yang lalu...


Ketika Shaila untuk pertama kalinya bertemu dengan orang yang pernah menjadi impiannya. Orang yang paling diidamkan di seluruh kota kelahirannya. Orang yang selalu menjadi idola dan banyak diperbincangkan di kalangan teman-teman Shaila. Orang yang pada saat itu Shaila pikir hanya bisa dilihat melalui foto, televisi, internet, dan majalah.


Orang itu adalah Putra Keempat dari seorang Sultan di Kota Kelahiran Shaila, Tunku Abdul Rasyid Iskandar.


Shaila dilahirkan dan dibesarkan di Johor. Ayah Shaila adalah dokter spesialis penyakit dalam pada saat itu. Ayah Shaila bekerja di Rumah Sakit yang merupakan Rumah Sakit milik istana kesultanan Johor.


Pertemuan itu dimulai ketika Shaila diajak ayahnya ikut ke istana pada saat Sultan Iskandar sedang mengalami sakit. Shaila yang pada saat itu masih berusia 11 tahun, baru pertama kali menapakkan kakinya di istana. Baru saja memasuki pintu gerbang memasuki area Istana Besar Kesultanan, Shaila sampai begitu takjub hingga ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Sepanjang perjalanan ia mengikuti ayahnya menuju istana Sultan, Shaila terus melemparkan pandangannya ke hamparan rumput hijau halaman taman istana yang sangat luas. Taman yang dihiasi banyak bunga, tanaman dan pepohonan. Membuat Shaila tidak sadar ia berlari dan berputar-putar di tengah hamparan taman tersebut.


"Shaila! Ayo masuk!" Abah Shaila memanggil Shaila yang berlarian untuk kembali mengikuti langkahnya.


Shaila langsung tersadar dengan panggilan ayahnya, lalu berlari mengikuti ayahnya kembali.


Pandangan Shaila lagi-lagi dibawa dalam ketakjuban yang luar biasa. Saat memasuki Istana Kesultanan, mata Shaila seolah tak bisa terlepas dari setiap sudut ruangan yang penuh dengan ukiran dan lukisan khas melayu yang menghiasi setiap sudut tembok di gedung utama Istana.


Shaila kali ini pun kembali dibuat lalai. Shaila menghentikan langkahnya untuk melihat sebuah lukisan yang sangat besar. Lukisan itu bertajuk kehidupan masyarakat Johor tempo dulu. Shaila sebenarnya bukan anak yang menyukai benda-benda atau cerita sejarah, namun melihat lukisan tersebut membuatnya teringat kembali kampung neneknya di pedesaan Johor yang memiliki banyak persawahan, perkebunan, dan kehidupan yang masih alami pegunungan.


Shaila tidak menyadari ia berdiri berapa lama di depan lukisan itu, hingga saat ia menoleh ayahnya sudah tidak ada di ruangan yang sama dengan dirinya.


Shaila takut, ruangan yang tadinya membuat ia takjub tiba-tiba seolah berubah menjadi seperti ruangan labirin yang menempatkannya sendirian.


"Di ruangan sebesar ini apa yang bisa aku lakukan?"


Mata Shaila berusaha mengamati setiap sudut gedung lalu ia terpikirkan sesuatu saat ia melihat tangga.


"Ah mungkin saja ruangan Sultan ada di lantai atas."


Shaila berjalan menapaki tangga menuju lantai atas. Dalam hatinya sebenarnya penuh keraguan, namun pikirannya seperti terus menuntunnya menuju ke lantai atas.


Dan setelah tiba di lantai atas, Shaila kembali bingung karena ada banyak koridor yang memiliki arah berbeda. Tapi Shaila tetap mengikuti pikirannya. Hingga langkahnya pun terhenti di depan sebuah ruangan di ujung koridor.


Dan di saat Shaila ingin memegang gagang pintu ruangan tersebut, ternyata seseorang membukanya dari dalam. Seorang petugas Istana membuka pintu dan terkejut ada anak perempuan di depan ruang pelatihan pangeran.


"Siapa kau, budak kecil?"


Petugas tersebut bertanya pada Shaila dengan nada yang sangat lembut.


"Saya... mencari abah saya..."


"Abah? Siapa abah kau?"


"Dokter Syaifullah..."


"Ohh dokter Syaifullah... lantas mengapa kau berada di sini?"


"Saya... Saya.... tersesat..."


Petugas Istana tersebut tertawa mendengar jawaban polos Shaila.


"Ayo ikut pakcik, ayah kau pasti bingung mencari..."


Sebelum Shaila sempat menggandeng tangan petugas Istana, seseorang datang memanggil.


"Pak Karim!"


Shaila dan petugas Istana yang ternyata bernama Karim tersebut menoleh.


Dan itulah saat pertama kalinya Shaila melihat secara langsung seseorang yang selama ini hanya ia lihat di majalah remaja yang selalu ia beli bersama teman - temannya. Seseorang yang seketika membuat Shaila kembali ingat tujuannya mengikuti ayahnya ke Istana Besar adalah siapa tahu dia tidak sengaja akan bertemu dengan seseorang yang menjadi idolanya.


Dan pria itu kini benar-benar ada di hadapannya, Pangeran keempat Tunku Abdul Rasyid Iskandar.


"Tunku...." Petugas Istana bernama Karim tersebut menunduk melihat kedatangan Rasyid.


"Aku mau berkuda. Tolong siapkan kudaku..."


"Baik Tunku pangeran..."


Rasyid sejenak melirik Shaila yang terbengong melihatnya.


"Hei budak kecil.... apa yang kau lihat padaku...."


Shaila terdiam. Dia bingung bagaimana merangkai kata untuk menjawab pria yang berdiri di hadapannya.


"Siapa dia Pak Karim?"


"Dia anak dokter Syaifullah yang dipanggil oleh Tunku Sultan kemari."


"Dokter Syaifullah? Ayah kenapa?"


"Saya dengar dari petugas Istana Sultan, Tunku Sultan tadi sempat mengeluhkan sakit di bagian dada setelah makan. Maka dari itu beliau memanggil dokter ke sini..."


"Kenapa kau tak bilang sebelumnya? Aku akan segera ke sana... Bantu aku berganti pakaian!"


"Kau tunggu di sini, pakcik akan melayani pangeran dulu,.." Karim bicara pada Shaila.


Shaila mengangguk.


Beberapa menit kemudian Karim dan Rasyid keluar. Kini penampilan Rasyid semakin bersinar di mata Shaila. Jika tadi Rasyid tampak sangat gagah dengan pakaian anggar. Kini Rasyid tampak semakin berwibawa dan elegan dengan celana dan kemeja formal yang dia kenakan.


Shaila tidak bisa melepaskan tatapannya pada Rasyid. Pria yang selisih tujuh tahun dengan Shaila tersebut adalah sosok sempurna di mata Shaila. Andaikan saja ia memiliki usia yang sebaya dengan Rasyid, mungkin ia akan terlihat lebih cantik saat ini di depan Rasyid. Dan mungkin saja Rasyid tidak akan melihatnya sebagai budak kecil yang tersesat. Tapi semua itu hanyalah angan Shaila. Mana mungkin rakyat biasa seperti dirinya akan bisa sejajar dengan Pangeran seperti Rasyid. Takdir Shaila adalah hanya sebagai pengagum Rasyid.


Nanti, Shaila akan meminta ayahnya untuk ijin kepada Sultan agar Shaila bisa berfoto dengan Rasyid. Besok di sekolah, Shaila akan pamer dan menceritakan pada teman-temannya. Itu sudah cukup membuat Shaila bahagia.


Tidak terasa Shaila kini sudah berada di depan ruangan Sultan. Pak Karim berbicara dengan petugas pelayan Sultan, lalu mereka diperbolehkan masuk. Saat memasuki ruangan, Shaila melihat ayahnya duduk berbincang dengan Sultan. Lalu ayahnya melihat kedatangan Shaila.


"Shaila.... alhamdulilah... kau kemana saja... abah sampai minta tolong pada petugas untuk mencarimu!"


"Maaf abah, Shaila tadi tersesat..."


"Makanya abah sudah bilang untuk tetap mengikuti langkah abah!"


Shaila sedikit kesal, kenapa ayahnya malah memarahi Shaila di depan Sultan dan Pangeran Rasyid. Itu sungguh memalukan. Shaila ingin menangis tapi dia tidak ingin semakin mempermalukan diri sendiri. Tapi sikap Shaila tidak bisa berbohong. Shaila membenamkan wajahnya ke tubuh ayahnya karena malu dilihat Sultan dan putranya yang lain.


"Tidak apa-apa dokter, Istana ini memang luas. Mungkin Shaila bisa jalan-jalan sebentar jika ingin melihat sekeliling istana..." ucap Pangeran Ibrahim, kakak pertama Pangeran Rasyid.


"11 tahun, Tunku Sultan..."


"Aku jadi ingat Fatimah dulu seperti itu saat berusia 11 tahun. Sekarang dia sedang kuliah di Inggris, tidak terasa dia juga sekarang sudah bertunangan..."


"Barakallah... semoga sejahtera sentosa, Tunku..."


"Sepertinya putrimu sejak tadi ku lihat malu-malu melihat Rasyid."


Rasyid terkejut dengan ucapan ayahnya. Dia sejak tadi memang tidak memperhatikan Shaila. Hanya saja dia tadi memang sempat mengajak bicara Shaila, tapi Shaila hanya terbengong melihatnya. Setelah itu Rasyid tidak terpikir apapun. Selama perjalanannya menuju ruangan Sultan, ia hanya terpikir kondisi ayahnya.


"Ah... sebenarnya putri saya mengagumi Tunku pangeran Rasyid. Dia banyak tempel foto Tunku pangeran di kamarnya."


"Abah!!!" Shaila sontak membentak ayahnya karena sangat malu. Dia tidak habis pikir kenapa ayahnya malah justru membuka rahasia itu justru di depan Sultan dan pangeran Rasyid.


Shaila semakin tidak punya muka untuk melihat Rasyid, Sultan, dan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Shaila terus menyembunyikan wajahnya dengan membenamkan wajahnya ke punggung ayahnya.


Reaksi tersebut malah mengundang tawa Sultan.


"Hahaha... anak anda lucu sekali dokter..."


"Ya... namanya juga anak kecil,..."


Shaila semakin ingin menangis dengan mendengar tawa Sultan dan ayahnya.


"Apa-apaan abah benar-benar keterlaluan. Aku hanya akan semakin dianggap budak kecil. Padahal aku sudah 11 tahun, bahkan aku sebentar lagi remaja." gerutu Shaila dalam hati.


"Budak kecil.... kalau kau menyukai Rasyid, aku akan simpan untukmu... Tapi kau harus janji kalau kau akan rajin belajar dan jadi orang sukses. Kelak kalau kau bisa diterima di universitas terbaik di luar negeri, kau bisa tagih janjimu padaku..."


Shaila kaget mendengar ucapan Sultan.


Entah apakah itu hanya candaan Sultan pada Shaila, tapi bagi Shaila yang pada saat itu masih berusia 11 tahun, dia yang masih polos tidak mengerti makna ucapan tersebut.


Satu tahun kemudian, Shaila pindah ke Singapore. Karena mengikuti ayahnya yang menempuh pendidikan subspesialis hematologi dan onkologi medik. Dan sejak di Singapore Shaila mulai merasakan kehidupan baru sebagai masyarakat yang memiliki kehidupan yang lebih modern, lebih mobile, dan lebih sibuk karena aktivitasnya sebagai siswa Junior Middle School. Shaila lebih fokus dengan aktivitas di sekolah dan teman - temannya.


Dan mungkin sejak saat itu Shaila mulai melupakan mimpi konyol masa kecilnya.


Tapi ternyata tiga tahun kemudian, saat keluarga Shaila diundang Sultan untuk datang ke pernikahan Putri Fatimah, Shaila kembali bertemu dengan Rasyid.


Shaila yang ketika itu sudah berusia lima belas tahun, sedangkan Rasyid berusia dua puluh dua tahun. Shaila tidak memungkiri bahwa selama empat tahun tidak pernah bertemu dengan Rasyid, bahkan Shaila juga tidak mencari tahu kabar Rasyid melalui internet, saat itu Rasyid tumbuh menjadi pria yang semakin sempurna. Di usianya yang dua puluh dua tahun, Rasyid bisa dibilang sudah terlihat matang dan penampilannya sangat menginterpretasikan dirinya sebagai seorang pangeran.


Tapi bedanya, Rasyid tidak lagi memandang Shaila sebagai budak kecil lagi. Shaila yang sudah mulai terlihat semampai di usia lima belas tahun, membuat Rasyid melihat Shaila sebagai seorang nona muda.


Bagaimanapun juga, seorang perempuan memiliki kedewasaan yang lebih awal dibandingkan laki-laki. Perempuan di usia lima belas tahun sudah terlihat memiliki jiwa kedewasaan dan elegan. Apalagi Shaila adalah anak yang sejak kecil terdidik dalam keluarga yang terhormat. Sedangkan laki-laki, fase awal kedewasaannya terbentuk saat menginjak usia dua puluh tahun. Dan Rasyid yang pada saat itu berusia dua puluh dua tahun pun juga memiliki naluri sebagai seorang pria yang normal ketika melihat seorang perempuan yang baru menapaki kedewasaannya.


Dimulai dari pertemuan inilah hubungan Shaila dan Rasyid berkembang menjadi sebuah ikatan yang tak terelakkan.


"Shaila... sekarang aku ingat namamu. Shaila Nafisah Syaifullah..."


"Dari mana Tunku tahu nama lengkap saya?" Shaila bicara sambil tetap menunduk.


"Aku sudah lama tahu namamu. Hanya saja kita sudah tidak lagi bertemu. Kau tidak pernah kembali lagi ke Johor?"


"Saya sering berkunjung ke Johor terakhir kali pada saat opah masih ada. Tapi sejak opah meninggal dua setengah tahun yang lalu, setelah itu kami ke Johor hanya pada saat idul fitri saja. Itupun kami hanya berkunjung di desa."


"Jadi benar-benar tidak pernah datang ke istana besar ya?


Shaila mengangguk dan tetap tidak berani menatap wajah Rasyid. Namun rupanya hal itu membuat Rasyid tidak suka.


"Shaila, panggil saya abang."


"Hah..... apa....???!"


Shaila sontak langsung reflek mendongak menatap wajah Rasyid.


"Apa maksudnya...?"


"Nah, sekarang kau sudah melihat wajahku..."


Shaila baru sadar lalu menunduk kembali. Tapi Rasyid tiba-tiba merundukkan wajahnya dengan ketinggian yang sama dengan wajah Shaila.


Wajah Shaila merona. Dia semakin tak mengerti kenapa Rasyid bersikap demikian padanya. Shaila tidak terpikir Rasyid menyukainya. Justru yang ada di pikiran Shaila, Rasyid sedang menggodanya karena masih menganggap dia sebagai budak kecil.


Lalu abang Shaila datang.


"Shaila... abang menca---.... oh, Tunku pangeran Rasyid..." abang Shaila menundukkan wajahnya melihat Rasyid berdiri di sampingnya.


"Sharif... lama tidak bertemu...."


"Alhamdulilah baik, Tunku..."


Sejenak Shaila bisa bernafas lega. Itu tadi adalah momen yang membuat Shaila hampir tidak bisa bernafas. Untungnya Sharif datang dan kini Rasyid berbincang dengan Sharif. Rasyid dan Sharif adalah teman sebaya. Mereka tidak pernah satu sekolah, tapi mereka pernah bernaung dalam satu organisasi kepemudaan di Johor. Tapi setelah keluarga Shaila pindah ke Singapore, Sharif dan Rasyid juga tidak pernah bertemu lagi.


"Jadi.... kau sekarang study di Oxford? Kenapa kau tidak pernah menghubungi aku?"


"Saya memang sempat mendengar Tunku pangeran study di Manchester University, tapi saya tidak berani menemui Tunku. Bahkan kawan-kawan dari Manchester yang satu organisasi dengan saya juga mengatakan pada saya bahwa mereka pernah satu perkuliahan dengan Tunku..."


"Apa-apaan kau... Kita sama-sama merantau di negeri orang. Tunggu kau bilang punya organisasi? Apakah organisasi itu mirip dengan perkumpulan pelajar Malaysia di Inggris?"


"Ya benar... tapi saya organisasi perkumpulan pelajar Singapore. Untuk pelajar Malaysia juga ada beberapa, tapi saya berteman secara personal, tidak ikut organisasi mereka."


"Kalau begitu kau harus masuk ke perkumpulan pelajar Malaysia. Kau masih terhitung orang Malaysia, Sharif..."


Dan juga sejak saat itulah Rasyid semakin masuk ke dalam circle kehidupan Shaila. Rasyid semakin akrab dengan Sharif, karena mereka menjadi satu organisasi. Sharif tak bisa menolak, karena dia selalu menganggap Rasyid sebagai orang yang dihormati dan disegani sebagai pangeran dari Kota kelahirannya.


Bahkan hubungan Rasyid dan Sharif semakin erat saat mereka kembali ke Inggris. Dan tentu saja pada akhirnya mereka menjadi sahabat.


-------------------------------------


****Halo sobat pembaca**


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️*❤️*