
"Rosie, aku ingin meminta tolong padamu... mungkin bisa dibilang aku mohon padamu... Aku memohon padamu agar bersedia meminjamkan identitasmu sebagai Rayne Swan untuk ku daftarkan ke Pengadilan Tinggi,... Aku ingin meminjam identitasmu untuk ku cantumkan di sertifikat pernikahan..."
***
Kalimat Caesar tiga hari yang lalu masih terasa nyata di telinga Rosie. Bahkan di hari ketiga sekarang ini pun kalimat yang diucapkan dengan sangat hati-hati dan penuh harap itu terus menggetarkan ruang telinga Rosie.
Sampai detik ini pun Rosie tetap belum mengetahui alasan Caesar meminta hal tidak masuk akal itu kepadanya.
Tentu saja itu tidak masuk akal karena Rosie selama ini melihat Caesar sebagai orang yang paling ia hormati. Bagaikan seorang seorang Tuan muda yang begitu baik terhadap seorang budak sahaya yang telah diselamatkannya.
Rosie membuka galeri foto di ponselnya, dia kembali melihat foto yang dikirim Caesar siang tadi.
Rosie menghela nafas panjang sambil tetap menunduk menjatuhkan pandangannya ke ponselnya.
Dia bahkan terus mengingat ungkapan kesedihan ayahnya, Gunawan yang berusaha disembunyikan di hadapan Caesar.
"Kita sudah terlalu dalam menyelam di dalam keluarga Shine, Rosie... sampai kapan lagi kita akan terus menyelam lautan tanpa dasar di dunia keluarga Shine? Kamu tahu apa yang telah kamu lakukan sekarang?"
--------------------------------------
Kring.... Kring....
Kring.... Kring....
Regal sayup-sayup membuka matanya mendengar suara dering ponselnya yang mengganggunya di tengah lelap tidurnya. Saat Regal membuka matanya, tampak di hadapannya seorang gadis cantik yang semalam telah menemani dirinya menginap di apartment.
Regal seperti sudah biasa dengan pemandangan wanita yang terlelap dalam satu selimut dengannya. Dia terbangun seperti biasa dan mencari letak ponselnya yang sejak tadi sudah berdering.
"Haloo Ben..."
"Halo Regal... Maaf aku baru pagi ini membuka email yang kamu kirimkan padaku. Aku sudah melakukan pemindaian data terhadap Caesar Shine. Sepertinya aku tidak bisa melakukan pencetakan kartu identitas untuknya. Karena dia sudah terdaftar sebagai pemegang green card of American civilian. Jadi meskipun namanya masih tertera di dalam kartu keluarga Shine, dia tidak bisa mendapatkan kartu identitas sebagai warga negara Singapore. Karena dia tidak bisa memegang dua status kewarganegaraan."
"Jadi begitu? Lalu apakah kakakku tetap bisa mendaftarkan pernikahannya di Singapore meskipun dia tidak memiliki kartu identitas?"
"Tentu saja bisa... Asalkan kakakmu menyerahkan bukti surat keterangan ijin pernikahan antar dua negara, dan bukti surat perceraian..."
"Surat perceraian? Apa aku tidak salah dengar?"
"Ya... Surat perceraian... Karena di sini status Caesar Shine, sudah menikah...."
"Ap....Apa maksudmu? Kamu bilang Caesar Shine sudah menikah? Apa kamu tidak salah melihat data orang lain!"
"Jelas sekali ini adalah Caesar Shine. Di sini keterangan yang aku dapat dari pusat data personal census, bahwa kakakmu mendaftarkan pernikahannya baru tiga hari yang lalu. Lalu mengapa kakakmu memintamu menanyakan prosedur pernikahan lagi saat dia masih terhitung menjadi pasangan baru? Sepertinya itu akan sangat sulit untuk melakukan pengajuan perceraian, karena Amerika Serikat menganut sistem monogami, yang di mana perceraian hanya bisa dilakukan pada saat usia pernikahan kakakmu minimal dua tahun. Kecuali jika dia mengajukan pembatalan pernikahan."
Blarrr...!
Telinga Regal seolah mendapat aliran lahar panas yang melelehkan isi otaknya dan hampir meledakkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin itu terjadi? Caesar menikah? Dengan siapa? Bahkan Shaila masih berada dalam pengawasanku. Itu mustahil! Bagaimana itu bisa terjadi!"
Hati dan pikiran Regal bergejolak secara bersamaan dalam ritme emosi yang sangat kuat. Bahkan dia sampai tidak bisa mengeluarkan sepenggal kalimat kepada Ben. Refleks dia membanting ponselnya. Hingga kepingan lempeng tembaga microchip ponselnya semburat ke lantai.
Kepala Regal seolah berputar setelah mendengar semua penjelasan Ben, temannya yang merupakan aparatur pemerintah yang ia mintai tolong untuk membuat kartu identitas untuk Caesar. Bukan keberhasilan selangkah yang ia dapatkan, malah justru ia mendengar informasi yang sangat menggemparkan isi kepala Regal.
Mimi terbangun mendengar hantaman benda yang dibanting Regal.
"Ada apa kak?"
Mimi yang masih hanya berbalut selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke seperdelapan dadanya, mencoba mendekati Regal yang sudah duduk di sampingnya.
Regal masih tidak menjawab pertanyaan Mimi, dia terus memegangi kepalanya dengan sedikit menjambak rambutnya sendiri karena kekalutan pikirannya.
Namun Mimi masih terus mengejar rasa penasarannya,
"Ada apa kak? Ceritakan padaku...." Rayu Mimi sambil mengusap punggung Regal yang masih belum sama sekali berbalut sehelai benang.
Tangan Regal langsung menyambar lengan Mimi,
"Apa wanita sepertimu selalu ingin tahu urusan orang lain?"
"Aa-aku... hanya ingin sedikit membantumu meringankan masalahmu dengan menceritakan padaku...."
Kali ini Regal menyambar lengan Mimi satunya yang sejak tadi menahan selimut yang menutupi dadanya. Dan saat Regal menyambar kedua lengan Mimi, tak ada lagi pertahanan Mimi untuk tetap menjaga selimut itu menutupi tubuhnya.
"Kamu ingin membantu meringankan masalahku?"
Mimi dengan tatapan yang kali ini sedikit ketakutan memandang wajah Regal, terpaksa harus mengangguk.
Melihat Mimi yang dengan innocent mengangguk seolah dia memasrahkan dirinya atas segala yang akan dilakukan Regal, tanpa menunggu jeda waktu lama, Regal membalikkan tubuh Mimi dan mendorongnya hingga kepala Mimi bahkan hampir terbentur penyangga kepala spring bed.
Mimi tahu usahanya untuk menenangkan Regal malah berujung pada kekesalan Regal sehingga membuatnya harus menerima pelampiasan emosi Regal dengan menjadikan dirinya lagi-lagi sebagai boneka kepuasan Regal.
Mimi tidak banyak protes saat setiap dorongan tubuh Regal menyakitkan setiap otot tubuh Mimi. Dia hanya bisa menahannya dengan terus menvengkeram bed cover sambil menggigit bibirnya. Ini bukan pertama kalinya Mimi mendapatkan perlakuan seperti itu dari Regal, dan Mimi juga bukanlah satu-satunya yang pernah merasakan hukuman dari Regal.
Namun Mimi tidak pernah sekalipun menyesali menjadi salah satu wanita penenang Regal. Rasa kagum Mimi terhadap kejeniusan, ketampanan, dan kepopuleran Regal sebagai pewaris tunggal perusahaan paling adidaya di Asia Tenggara tersebut telah membutakan hatinya, dan mematikan setiap rasa sakit meski setiap bagian tubuhnya terasa bagaikan dikoyak-koyak. Hal itu masih menutupi pikiran waras Mimi terhadap pria yang jelas-jelas hanya memanfaatkan tubuhnya sebagai pelampiasan.
"Ahh... sakit..." keluh Mimi namun ia tak berani menyuarakannya.
Namun semakin Mimi berusaha bertahan dengan posisinya, Regal seolah semakin kasar menyerangnya. Ibarat sekumpulan lebah yang sedang menyengat setiap bagian tubuhnya secara brutal dan tanpa ampun.
Pada akhirnya Mimi hanya perlu melemaskan setiap otot-ototnya dan membiarkan setiap dorongan, cekikan, dan cengkeraman Regal sampai melebamkan beberapa permukaan kulitnya.
Brakk...
Brakk...
Suara gebrakan rangka spring bed yang menjadi tempat eksekusi Regal terhadap Mimi, bertabrakan dengan tembok bahkan sampai terdengar sangat keras dan mungkin saja juga sampai terdengar di tembok sebaliknya.
"Sekarang apa kamu senang memiliki kesempatan bisa meringankan masalahku?"
Regal berbisik ke telinga Mimi dengan nafas yang terengah-engah.
Mimi tak bisa menjawab lagi, tenaganya sudah hampir tak tersisa untuk menahan serangan kasar dari Regal.
Kesialan pagi itu benar-benar menjadi milik Mimi yang pada saat itu harus menjadi media "penenang" bagi Regal.
----------------------------------------
Halo kawan-kawan,
Terima kasih banyak atas kesetiaan kalian membaca novel ini.
Tidak lupa saya mengajak kalian untuk bergabung dengan "GROUP CHAT AUTHOR" agar kita semakin dekat dan menjalin komunikasi.
Segala informasi dan pemberitahuan novel, update, dan revisi akan saya bahas di Group Chat.
Oh iya, tentu saja SETIAP HARI ADA REWARD berupa KOIN atau POIN dari author atas apresiasi kalian membaca novel ini.
Juga jangan lupa baca karya novel author yang lain ya...
Selalu dukung karya author,
LIKE & FAVORITE
GABUNG GROUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
Dukungan kalian sangat Luar Biasa 👍🏻