
(Flashback Regal)
Tubuh Regal sudah terbaring di ranjang ruang perawatan rumah sakit selama setelah dokter psikiatri yang menjadi penanggung jawab Regal datang ke tempat kejadian di mana Regal mengamuk lalu menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Regal dan membawanya ke rumah sakit untuk kembali mendapatkan perawatan kejiwaan secara medis.
Eric masuk ke ruang perawatan dan melihat Nana yang terus memegangi tangan Regal sejak mereka tiba di rumah sakit.
"Dokter sudah menyuntikkan obat agar dia tenang. Biarkan saja dia istirahat..." Eric sambil mengelus pundak istrinya.
"Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" Nana bertanya pada Eric sambil terus menatap Regal tanpa melihat Eric yang berada di sampingnya.
"hhah..." Eric menghembuskan nafas sejenak sebelum ia menjelaskan kepada Nana tentang kondisi Regal.
***
***
"Dokter menyatakan Regal mengalami Skizofrenia paranoid." ucap Eric pada Nana saat mereka duduk di kursi luar kamar perawatan Regal.
"Skizofren???" Nana menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi bibirnya seakan tak percaya dengan ucapan Eric yang menyatakan bahwa Regal mengalami Skizofrenia.
Eric mengangguk pelan lalu melanjutkan penjelasannya.
"Selama beberapa bulan setelah Regal melewati masa-masa kritis, dokter psikiatri yang melakukan observasi pada Regal memang menganggap sikap trauma yang ditunjukkan Regal lebih pada gejala kemunduran psikososial, seperti menyendiri, jarang bicara, dan apatis. Sehingga dokter menyimpulkan indikasi yang terjadi pada Regal adalah gejala katatonik. Hal tersebut terjadi karena ada penolakan dari dalam diri Regal terhadap kenyataan hidup yang tak bisa diterima oleh Regal. Tentang insiden bom, kematian Jasmine, dan perasaan bersalah yang sangat besar kepada Jasmine. Namun sejauh itu dokter masih belum melihat adanya delusi dan halusinasi yang diciptakan oleh pikiran Regal karena dia cenderung pasif dan diam. Hingga adanya kejadian hari ini..."
"Hari ini...? maksudnya apa?" Tanya Nana dengan rasa penasaran menunggu penjelasan Eric selanjutnya.
"Selama ini Regal bukan hanya bersikap katatonik, tapi dia juga menciptakan delusi dan memendamnya di dalam pikirannya sendiri hingga delusi-delusi itu menggema dalam pikirannya. Kita maupun dokter psikiatri selama ini tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran Regal. Hal itulah yang membuat halusinasi mengakar kuat dan mempengaruhi pikirannya sejak lama. Secara manusiawi akhirnya Regal membentuk sebuah pertahanan diri. Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa Regal selama ini masih terus waspada dan takut terhadap insiden bom itu yang kemungkinan akan terulang kembali, berbaur dengan rasa sakit hati ingin membalas karena ia tak dapat menerima kenyataan, dan rasa bersalah karena ia telah membuat Jasmine menjadi korban. Saat dia menghajar sopir paruh baya yang memakai topi dan jaket hitam itu, adalah suatu bentuk pertahanan diri yang terbentuk dalam diri Regal, yang kemungkinan Regal mengira bahwa orang itu adalah pelaku yang sama pada saat insiden bom. Padahal jelas-jelas sopir pelaku insiden bom bunuh diri itu tubuhnya sudah hancur dua tahun yang lalu. Hal inilah yang membuat dokter psikiatri akhirnya mendiagnosa Regal bahwa ia mengalami Skizofrenia paranoid."
Nana hanya bisa mendengar apa yang dijelaskan Eric tentang putranya. Dia tak bisa mengeluarkan sepatah kalimat pun. Nana membayangkan betapa tersiksanya Regal selama ini yang memendam rasa sakit takut, sakit hati, rasa bersalah, dan kehilangan karena insiden bom tersebut.
"Dokter mengatakan sikap Regal yang terjadi hari ini termasuk dalam kategori Skizofrenia paranoid yang fatal. Dia sudah lama merangkai pertahanan diri dan kemungkinan sudah menjadi bagian dalam dirinya. Dan mungkin sewaktu-waktu akan kambuh dalam situasi dan kondisi tertentu. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran Regal, dan kita juga tidak bisa memaksa Regal untuk mengeluarkan isi pikirannya. Karena semua itu sudah di luar bawah sadarnya. Jika Regal saja tidak bisa mengendalikan pikirannya, apalagi orang lain meskipun berada di sekitarnya...."
Eric terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya dalam hatinya.
"Dan aku mungkin juga berkontribusi pada kondisi Regal saat ini, aku terpaksa melakukan ini semua karena untuk melindungi semuanya. Bersabarlah Nana... Regal... dan juga Caesar... Aku akan mengurus semuanya. Aku berjanji demi melindungi kalian semua..."
"Regal... setelah ini ia tidak akan di rawat di rumah sakit jiwa, kan?" Tiba-tiba Nana melontarkan pertanyaan yang membuat hati Eric terasa ngilu.
"Regal akan kembali ke rumah. Aku meyakinkan dokter agar ia bisa di rawat di rumah. Aku yakin Regal bisa pulih seperti sedia kala." Jawab Eric meyakinkan Nana.
"Mengapa.... rasanya aku merasa seperti sedang mendapatkan karma..." Nana menunduk menutupi wajahnya yang masih merona karena terlalu lama menangis.
Eric hanya diam. Dia bukannya tidak mengerti apa yang dimaksud Nana. Karma yang dimaksud Nana adalah Edis.
Eric hanya menghela nafas dan sama sekali tidak bisa menyanggah pernyataan Nana. Dia menunggu apa yang akan dikatakan Nana selanjutnya.
"Dulu ada seseorang yang mengalami Skizofrenia karena kehilangan anaknya dan laki-laki yang dicintainya. Mungkin seperti inilah yang dia rasakan, hingga pada akhirnya dia mencelakai orang yang salah, mengira bahwa orang yang di dalam mobil adalah lelakinya, tapi ternyata adalah orang lain yang tak bersalah. Saat ini Regal mungkin beruntung karena banyak orang yang mendukungnya, tapi wanita itu... dia malah justru dipenjara di rumah sakit jiwa..." Nana bercerita dengan lirih.
Eric tak menyangkal. Dia membiarkan Nana memperundunginya dengan terus mengungkit cerita masa lalunya. Eric sama sekali tak menyalahkan ataupun marah kepada Nana. Dia hanya terus diam mendengarkan ucapan Nana.
"Mungkinkah tangan Tuhan sedang bekerja untuk mengadili kita? Bahwa meski secara keseluruhan dia bersalah, tapi ada rasa sakit yang ia terima yang ternyata menjadi doa baginya dan didengar oleh Tuhan..."
"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dia... Cerita yang pernah kamu dengar, itu tidak sepenuhnya benar..." Eric berkata dengan lirih.
"Aku tidak tahu mana yang benar atau salah karena aku sendiri tidak tahu. Tapi satu hal yang aku tahu dalam hidup ini adanya hukum tabur tuai. Siapapun yang menabur kebaikan atau keburukan sebesar biji zaitun, maka dia akan mendapatkan ganjarannya. Apa yang terjadi pada keluarga kita ini bisa jadi adalah ganjaran bagi Kita..."
"Sayang.... itu sudah berlalu sangat lama, jika Tuhan ingin menghukum karena wanita itu, Tuhan sudah melimpahkannya padaku. Kamu dan anak-anak kita tidak ada hubungannya dengan itu semua... Apa yang menimpa Regal saat ini bukan karena karma, tapi karena murni kelalaianku melindungi kalian..."
Eric menurunkan tubuhnya ke hadapan Nana sambil memegangi lutut Nana yang sedang duduk.
"Aku pastikan yang terjadi pada Regal adalah musibah untuk yang terakhir kalinya. Regal juga tidak akan dirawat di asylum. Dia akan tetap pulang ke rumah kita. Berkumpul bersama kita..." Eric sambil mendongak menatap ke arah Nana yang masih terus menunduk sama sekali tak melihat ke arah wajah Eric.
Eric memeluk Nana yang hanya memasrahkan tubuhnya begitu saja, namun tak membalas pelukan Eric.
Di sudut lain, Caesar melihat kedua orang tuanya. Dia hanya bisa manatap Eric dan Nana yang sedang bersedih atas kondisi Regal saat ini. Caesar tahu posisinya semakin tidak mudah, tapi Caesar sudah merelakan semuanya.
Caesar tak bisa berbuat banyak untuk Regal. Tapi dia akan merelakan banyak hal demi Regal.
***
***
Halo kawan-kawan,
Terima kasih banyak atas kesetiaan kalian membaca novel ini.
Tidak lupa saya mengajak kalian untuk bergabung dengan "GROUP CHAT AUTHOR" agar kita semakin dekat dan menjalin komunikasi.
Segala informasi dan pemberitahuan novel, update, dan revisi akan saya bahas di Group Chat.
Oh iya, tentu saja SETIAP HARI ADA REWARD berupa KOIN atau POIN dari author atas apresiasi kalian membaca novel ini.
Juga jangan lupa baca karya novel author yang lain ya...
- Klik profil Author
- Lalu klik Karya
- Pilih judul novel
Selalu dukung karya author,
LIKE & FAVORITE
GABUNG GROUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
Dukungan kalian sangat Luar Biasa 👍🏻