
Pengakuan
Malam ini Eric tidak bisa tidur, dia membolak - balikkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya namun tetap tidak bisa terlelap. Sedangkan Caesar sudah tidur nyenyak sejak dua jam yang lalu. Eric keluar kamar mencari udara segar.
Saat dia membuka pintu belakang, ternyata disana Brian sedang duduk sambil memegang secangkir teh. Eric yang tadinya ingin sendiri, akhirnya harus bergabung bersama Brian melewatkan malam.
"Kamu tidak bisa tidur?" sapa Brian.
"Ya, sejak beberapa bulan lalu aku sering mengalami insomnia."
"Perlu obat? Aku ada."
"Tidak perlu, aku hanya perlu rileks saja."
"Eric...."
"Ya?"
"Yang tadi pagi itu.... aku minta maaf."
Eric terdiam, dia bingung harus mengatakan apa untuk menanggapi ucapan Brian.
"Aku sama sekali tidak bermaksud melakukannya di hadapan kalian."
"Aku..... sebenarnya memaklumi. Tapi mungkin Caesar belum terbiasa melihat Nana dekat dengan pria selain aku dan Kevin."
"Tapi sejujurnya, aku tidak pernah melakukan lebih jauh dari itu. Kami tidak pernah melakukan skinship lebih dari itu."
Eric hanya tersenyum, dia yang merasa berpengalaman sebagai seorang pria yang dulu sering dekat dengan wanita-wanita tentu memiliki penilaian berbeda.
Seperti pepatah yang mengatakan bahwa; "Seorang bajingan akan memiliki pemikiran kepada orang lain sebagai bajingan juga". Tidak mungkin selama dua bulan ini Brian yang satu rumah dengan Nana, tidak pernah melakukan skinship yang lebih jauh dari seperti yang dia lihat tadi.
"Lupakanlah Brian, aku dan kamu adalah seorang pria. Kamu tidak perlu menjelaskannya pun aku sudah mengerti. Tapi selama kamu bisa melindungi Nana, aku percaya padamu."
Brian mendenguskan nafasnya, dia tahu Eric tidak percaya padanya,
"hah.... Aku tidak seperti kamu Eric...."
Eric dengan cepat melontarkan lirikan tajamnya pada Brian, tapi Brian hanya senyum nyengir santai,
"ehm.... kamu di masa lalu maksudnya..." dengan suara setengah mengejek lalu melanjutkan kalimatnya,
"Aku dan Nana dari dulu, bahkan sejak kami masih saling menyukai saat Nana di New York, saat bertemu tidak saling memancing skinship satu sama lain. Kami bahkan tidak pernah berciuman."
Eric terkejut mendengar pengakuan Brian.
"Bukankah Nana adalah cinta pertamamu? Dan kamu adalah cinta pertamanya?"
"Ya.... aku menyukai Nana sejak kecil, menyukai karena simpati. Tapi aku baru menyadari rasa suka itu berubah menjadi rasa ingin melindungi saat dia beranjak dewasa. Dan meningkat menjadi rasa ingin memiliki saat kami terpisah karena Nana kuliah di New York. Aku mengetahui kesulitan keluarganya, sehingga aku membiarkan Nana fokus kuliah dulu. Dan saat aku tahu di baru lulus, aku ingin mengatakan perasaanku. Namun tiba-tiba aku mendengar dari Kevin kalau Nana dijodohkan denganmu."
"Lalu bagaimana dengan Nana? sejak kapan dia menyukaimu?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi aku paling merasakan perubahan sikapnya saat dia kuliah di New York. Dan selama itu aku semakin yakin bahwa perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan."
Eric sejenak berpikir dan menarik sebuah kesimpulan dari pernyataan Brian.
"Apa itu artinya, saat ini dia juga kehilangan memori atas perasaannya terhadapmu?"
Brian diam beberapa saat, lalu mengangguk.
"Ya..... ingatannya saat ini, aku hanya orang yang dianggap sebagai kakak...."
Seperti terjadi ledakan bunga dalam hati Eric, ternyata selama ini dia salah menyangka bahwa Brian dan Nana adalah sepasang kekasih dan juga tentang perasaan mereka. Dia merasa seperti memiliki kesempatan untuk menarik hati Nana kembali padanya.
"Brian, sepertinya aku sudah mengantuk. Aku mau tidur dulu menemani Caesar."
Eric meninggalkan Brian untuk tidur, dalam hati Eric yang saat ini sedang bermekaran, dia ingin menyusun harapannya agar bisa membuat Nana jatuh hati kembali padanya. Dia masih memiliki kesempatan memperbaiki segalanya.
Sementara Brian tetap duduk di teras belakang. Seperti kebiasaannya, dia memejamkan matanya sambil memijit diantara kening dan pangkal hidungnya, saat ini pikirannya kembali melanjutkan hal yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya dan membuatnya tidak bisa tidur.
Pikiran Brian memutar kembali memori saat dia berusia 7 tahun.
(Flashback)
"Plakkk!"
Sebuah tamparan mendarat di pipi seorang wanita cantik blasteran Indo - Uzbek.
"Silahkan tampar aku! Aku memang menunggu kesempatan ini agar aku bisa memiliki bukti kuat bercerai denganmu!"
"Shahnoza!"
Brian kecil sedang melihat pertengkaran kedua orangtuanya dari atas sela-sela pilar anak tangga. Ayah Brian sedang marah besar kepada wanita yang tidak lain adalah ibu Brian.
"Aku sudah tidak mau hidup denganmu Andri. Kamu selalu lebih mementingkan pekerjaanmu daripada keluargamu!"
"Aku bekerja juga untuk kita, kamu dan anak-anak kita. Tapi kamu tidak seharusnya berselingkuh dengan sepupuku!"
"Hubungan kami sudah direstui, jika kita bercerai, aku akan segera menikah dengan Romi."
Wanita tersebut menaiki tangga dan melewati Brian yang masih duduk di anak tangga. Brian mendongak dengan tatapan memelas ke hadapan wanita itu, namun wanita itu hanya sejenak melihat Brian dan melanjutkan masuk ke dalam kamar.
Tidak berapa lama wanita bernama Shahnoza itu keluar membawa koper. Brian mencoba menahan ibunya yang akan pergi.
"Mama mau kemana, Ma! Mama Brian ikut!"
Wanita itu hanya sedikit mengusap pipinya yang basah tanpa menoleh sedikitpun ke arah Brian, dia meneruskan langkahnya masuk ke dalam mobil.
Brian berlari akan menyusul ibunya, namun ditahan oleh rengkuhan lengan ayahnya. Brian kecil terus meronta sambil menangis.
"Mama! Jangan pergi! Mama...! Maafkan Brian kalau nakal! Mama!"
(flashback off)
"Dokter.... dokter Brian....!"
Grace menepuk-nepuk lengan Brian yang masih terpejam namun air matanya terus mengalir. Grace cemas dan terus berusaha membangunkan Brian.
Brian tersentak dan membuka matanya, dia melihat Grace yang sudah berdiri di samping kursinya.
"hah... sudah pagi. Aku ketiduran disini."
"Dokter....."
Brian langsung mengangkat tangannya mengisyaratkan kepada Grace untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tahu Grace pasti ingin bertanya yang barusan dia lihat. Brian beranjak dari kursi dan masuk ke dalam rumah.
"Grace, Nana sudah bangun?"
"Sudah, Miss Nana baru selesai mandi..."
"Eric sudah bangun?"
"Sepertinya sedang jogging bersama anaknya."
30 menit kemudian,
Eric dan Caesar baru saja pulang dari jogging. Brian segera mengajak mereka untuk sarapan bersama. Disana Nana sudah duduk bersama Grace. Suasana mendadak jadi hening dan kikuk. Lalu Brian berusaha mencairkan suasana.
"Hari ini aku mau mengajak kalian jalan-jalan ke taman di dekat sini. Oh iya, di taman sini ada playground juga, Caesar mau ikut?"
Caesar menggeleng. Dia masih kesal kepada Brian, mana mungkin dia mau diajak jalan-jalan dengan Brian. Lalu Grace membisikkan sesuatu pada Caesar. Caesar langsung menoleh ke Grace dan Brian.
"Benarkah?"
Brian mengangguk dengan senyum renyah, seolah dia tahu maksud pertanyaan Caesar.
Hanya Eric dan Nana yang tidak tahu obrolan rahasia ketiga orang tersebut. Eric menatap curiga kepada Caesar. Namun Caesar malah menyembunyikan ekspresinya dengan ekspresi pura-pura cemberut.
"Ada apa dengan anak ini?" batin Eric.
-------------------------------
1 jam kemudian
Brian, Eric, Caesar, Nana, dan Grace sudah sampai di taman. Brian dibantu Grace dan Eric merapikan alas piknik mereka. Sementara Nana berjalan-jalan menggunakan tongkat elbow sambil melatih otot kakinya.
"Aunty, dimana playgroundnya?" Caesar bertanya pada Grace yang masih sibuk menyiapkan buah-buahan.
"Grace, kamu ajak dulu Caesar main ke playground, sebentar lagi juga ini sudah selesai."
"Iya dokter..."
Grace lalu mengajak Caesar ke tempat playground yang berada di sisi lain taman. Sementara Eric membersihkan beberapa piring sambil terus memperhatikan Nana yang berjalan tidak jauh dari tempat piknik mereka. Brian melirik Eric,
"Nana sudah dua pekan memakai tongkat elbow. Dia memang memiliki tekad besar untuk bisa berjalan lagi. Bahkan orthopedist-nya mengatakan kesembuhan Nana relatif cepat, karena dia orang yang gigih dan tidak mudah menyerah."
"Ya... Nana memang orang seperti itu. Dia tidak mau lama-lama bergantung dengan orang lain."
"Tampaknya kamu sudah sangat mengenal Nana..." celetuk Brian.
"Aku sudah hidup selama tujuh tahun dengannya, tentu saja aku mengenalnya." Eric menimpali.
"Tapi tetap saja kamu tidak peka, sekarang baru menyesal." Brian mengejek Eric.
Eric agak melemparkan piring kecil yang dibersihkannya tadi. Dia tampak kesal dengan ejekan Brian.
"Kamu memberiku tantangan?"
"Coba saja buktikan, kalau kamu memang mencintainya. Bukankah seorang pria harus berjuang?"
"Maksudmu? kamu memberiku kesempatan untuk memperjuangkan Nana?"
"Apa aku pernah melarangmu? Kamu saja yang merasa berdosa. Rasakan itu dosamu. Jika kamu terus meratapi dosamu tanpa berjuang kembali, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan dia lagi. Sejujurnya Nana sedang bimbang, tapi yang jelas dia bimbang bukan karena aku."
Eric kembali mencerna kata-kata Brian. Mungkinkah Brian memang sudah mendukungnya untuk memperjuangkan Nana. Tapi Eric saat ini masih takut menyakiti Nana.
Namun segala sesuatu tidak pernah berhasil jika tidak dicoba. Eric hanya perlu menampilkan dirinya di hadapan Nana. Selanjutnya biarkan Nana yang akan menentukan arah kemana hubungan mereka akan mengalir.
"Nana...." Eric tiba-tiba berdiri di samping Nana.
"Kak Eric..."
Nana mendadak kikuk dengan Eric berada di sampingnya lalu ia melanjutkan berjalan-jalan dengan tongkatnya.
"Apa kamu seeing datang kemari?"
"Iya... bersama suster Grace."
"Maaf soal kemarin, Caesar...."
"Iya aku mengerti. Dia pasti juga terpukul melihat ibunya bersama pria lain."
Eric kaget dengan ucapan Nana.
"Kamu.... sudah ingat?"
Nana menggeleng,
"Aku sama sekali tidak ingat, tapi aku tahu. Sejak aku tahu skandal penyebab kecelakaan itu, aku sekaligus sudah tahu statusku, siapa aku, dan bagaimana kondisi keluargaku yang sebenarnya. Tapi aku memang masih tidak bisa mengingat sama sekali semua memori itu. Tapi entah selama beberapa pekan ini, aku terus memikirkan Caesar."
Eric tersenyum lega. Ternyata di hatinya masih ada nama Caesar, setidaknya meskipun Nana tidak memiliki nama Eric di hatinya.
"Kak Eric, kenapa melihatku seperti itu?"
"Aku.... senang.... Setidaknya kami tidak sepenuhnya kehilangan dirimu."
"Kami?"
"Ehm.... tentu saja maksudnya aku dan Caesar...."
Wajah Nana merona, jantungnya terasa berdebar dengan sangat kencang. Nafasnya jadi tidak beraturan. Pikirannya mendadak tidak fokus.
"Kak Eric, sepertinya aku mau duduk disana."
Nana berjalan dengan tergesa-gesa menuju kursi taman di samping danau. Eric mengikutinya.
"Nana, hati-hati...."
Nana terus berusaha menghindarkan wajahnya dari Eric. Dia tidak mau Eric melihat ekspresinya yang sedang blushing.
"Kenapa aku ini?" batin Nana.
Tiba-tiba beberapa anak berlarian pada saat Nana sudah di pinggiran danau. Mereka tidak sengaja menabrak Nana sehingga ia terpeleset dan tergelincir, tongkat Nana terlempar dari tangannya sehingga Nana kehilangan keseimbangan lalu tercebur ke danau buatan tersebut sedalam 3,5 meter.
Melihat Nana tercebur, Eric tanpa komando langsung terjun ke danau yang tidak memiliki tepian tanah tersebut. Karena danau di taman itu bentuknya seperti kolam yang tidak memiliki batasan pagar. Dan pinggiran dinding kolamnya dilapisi tembok miring, sehingga siapapun yang jatuh akan langsung tenggelam.
Nana tidak bisa menggerakkan kakinya di dalam air, ia sudah kehabisan nafas. Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh tubuhnya. Nana yang dalam keadaan antara hidup dan mati langsung merangkul tubuh orang tersebut.
Melihat Nana yang sudah lemas dan setengah tidak sadar, Eric yang awam dengan teknik medis langsung menyalurkan udara melalui bibirnya. Namun tidak berhasil. Lalu Eric mengangkat tubuh Nana ke permukaan kolam danau.
Di pinggiran danau, beberapa orang sudah berkumpul termasuk Brian yang sudah berdiri dengan cemas. Eric menggendong Nana yang sudah lemas dan meletakkan di tempat yang datar sesuai komando Brian.
Brian memeriksa denyut nadi Nana dan membaringkan tubuh Nana yang sudah lemas. Dia melakukan resusitasi jantung paru-paru dan pada saat dia akan memberi nafas buatan, Brian menyuruh Eric yang melakukannya.
Eric dengan komando Brian mengangkat tengkuk leher Nana dan memberikan nafas buatan.
Beberapa detik kemudian, Nana memuntahkan air dari mulutnya hingga terbatuk-batuk. Eric yang sejak tadi sangat khawatir, secara spontan langsung memeluk Nana dan mencium Nana hingga ia tidak menyadari banyak orang yang melihat mereka.
Brian tersenyum lega melihat Nana sudah sadar. Bahkan dia melihat Nana membalas pelukan Eric, seolah Nana merasa berterimakasih dan mengutarakan ketakutannya karena insiden yang barusan terjadi kepada Eric.
---------------------------------
Mungkinkah Nana kembali menemukan perasaannya terhadap Eric?
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....