
***
HATI CAESAR (Bagian 1)
Dua bulan kemudian,
Hari ini Eric mengunjungi Nana, ia baru saja menyelesaikan konferensi bersama para anggota Dewan di parlemen membahas program sustainability di bidang pembangunan dan infrastruktur. Rencananya lusa ia akan berangkat ke Dubai dengan membawa program yang diusulkan oleh para Dewan tersebut untuk dibahas di Konferensi rutin tahunan UN-Habitat yang merupakan salah satu Lembaga Internasional milik United Nations (PBB) yang mengatur pengembangkan kota-kota dan pemukiman dengan perumahan yang memadai, infrastruktur, dan akses universal ke pekerjaan dan layanan dasar seperti air, energi, dan sanitasi.
Rencananya Eric akan mengajak Nana ikut ke Konferensi tersebut. Sebenarnya ini sebelumnya Nana juga beberapa kali diajak Eric mengikuti konferensi internasional, karena biasanya pejabat perwakilan negara akan datang bersama istrinya dalam konferensi internasional berskala besar seperti ini. Kecuali jika untuk masalah kunjungan secara personal ke negara lain untuk MoU.
"Hah? Ke Dubai? Seminggu?"
"Iya sayang... kita berangkat lusa... kamu bersedia kan...?" Eric sambil mengelus rambut Nana.
Nana kembalikan badannya menghadapkan dirinya ke kaca jendela kantor dan menatap ke luar jendela yang menampakkan situasi tengah kota.
"Kenapa mendadak? Dan kenapa aku harus ikut?" Nana berusaha ngotot.
Eric mendekati tubuh istrinya memeluknya dari belakang, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang dengan menyandarkan dagunya ke bahu Nana.
"Sayang... Aku kesana menggantikan Tuan Wan sebagai Menteri Infrastruktur, beliau harus mendampingi Tuan Lee ke Manchester. Mereka ada program MoU disana, sedangkan ke Dubai nanti adalah konferensi rutin UN-Habitat yang diadakan United Nations, jadi aku yang harus mewakili Tuan Wan."
"Lalu masalah kantor gimana? Selama setahun ini aku sering meninggalkan urusan kantor karena mendampingi kamu."
Eric membalikkan tubuh Nana menghadap dirinya lalu merapatkan tubuhnya dengan tetap melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang Nana dan salah satu tangan lainnya menyingsingkan rambut Nana ke telinga Nana.
"Maaf sayang, saat ini posisiku belum berada dalam situasi dimana aku bisa melakukan tawar menawar apalagi menolak. Sekarang ini aku masih membangun relasi dengan baik di dalam politik dan relasi internasional juga. Jadi anggap saja ini adalah usaha untuk mencari relasi. Panggung politik ini bagiku adalah sebagai batu lompatan saja, tujuan utamaku adalah untuk melindungi dan membesarkan nama Shine Group."
"Tapi Caesar juga tidak bisa ikut.... kalau ijin selama seminggu dia bisa ketinggalan pelajarannya..." Nana menggerutu sambil memalingkan wajahnya dari hadapan Eric.
"Anggap saja ini bulan madu kita...." Eric meraih janggut Nana lalu akan menciumnya, namun Nana membalikkan tubuhnya dan berjalan ke meja kerjanya.
"hmm... dasar otak laki-laki..."
Eric tersenyum melihat sikap sinis istrinya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Nanti aku jemput ya..."
"Hmm... iya..." Nana menjawab tanpa menoleh ke arah Eric.
Eric hanya tersenyum dengan tingkah istrinya yang kesal terhadapnya. Namun ia tahu Nana tidak serius kesal kepadanya. Dia yakin istrinya pikirannya tidak sependek itu.
----------------------------------
Malam harinya,
Nana menemani Caesar belajar di kamar Caesar, sedangkan Eric terlihat masih sibuk di ruang bacanya. Semenjak Eric masuk ke jajaran kabinet pemerintahan eksekutif, dia sangat sering menghabiskan waktu di ruang bacanya jika ia sedang berada di rumah.
Dua jam kemudian, Nana masuk ke ruang baca sambil membawakan secangkir teh lemon hangat untuk Eric. Ketika Nana masuk, Eric masih mengetik sesuatu sambil menggunakan kacamata kerjanya. Jika dalam suasana serius seperti itu, Eric yang biasanya terlihat seperti pria penggoda di mata Nana, saat ini Eric justru terlihat sebagai pria matang berusia 35 tahun yang memiliki postur sempurna, wajah tampan dan tegas, serta memiliki integritas terhadap tanggung jawabnya sebagai seorang pejabat negara.
Eric yang sedari tadi sibuk memandangi laptopnya, baru menyadari jika Nana sudah berada di dekatnya meletakkan secangkir teh lemon hangat.
"Sekarang sudah jam 10 malam, apa masih banyak yang harus dikerjakan?" Nana bertanya sembari meletakkan secangkir teh.
"Yah.... aku harus merekap semua hasil rapat tadi pagi."
"Ada yang bisa aku bantu?" Nana menawarkan bantuan.
Eric langsung menghentikan gerakan jarinya yang sedang mengetik. Lalu mendongak ke atas menatap istrinya yang berdiri di sampingnya.
"Hmm... sepertinya tidak perlu. Kamu cukup duduk di depanku agar mataku terasa lebih segar saat melihatmu di depanku." canda Eric.
Nana hanya menyibakkan rambutnya yang tergerai sambil mengangkat sebelah bibirnya mengisyaratkan bahwa dia tidak akan jatuh dalam gombalan Eric yang murahan.
Nana berdiri dan melihat beberapa amplop besar berwarna cokelat yang tertumpuk di meja. Dia mengambil satu per satu amplop tersebut dan membaca setiap label yang tertempel di bagian muka amplop.
"Kenapa amplop ini pengirimnya dari alamat yang sama? Dan kenapa mereka tidak menjadikan satu amplop saja? bukankah setiap amplopnya ini berisi dokumen yang tidak terlalu tebal?"
Eric menghentikan ketikan tangannya, iris matanya bergerak dengan cepat seolah mata Eric mencerminkan kebingungannya menjawab pertanyaan Nana. Lalu Eric menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang didudukinya. Dia memejamkan mata sambil berusaha menjawab pertanyaan Nana.
"Ada sekelompok dewan dari beberapa fraksi partai yang memberikan tawaran kepadaku untuk bergabung dengan mereka. Tapi aku tidak memberi tanggapan kepada mereka. Jadi aku terus mendapat kiriman surat tersebut."
"Hah...."
Nana menghembuskan nafasnya.
Eric beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas duduk di samping Nana dengan mengelus bahu Nana.
"Sayang, kamu tidak perlu khawatir... aku tahu yang aku lakukan. Jadi jangan terlalu mencemaskan urusanku di pemerintahan."
Eric berusaha menenangkan Nana. Eric tahu Nana saat ini mulai mencemaskan posisinya di parlemen.
Nana menggenggam tangan Eric yang masih bertengger di bahu Nana.
"Sayang.... aku tahu semua ini adalah tantangan bagimu. Tapi dunia politik itu juga kejam. Jika dalam dunia bisnis, aku tidak perlu cemas karena jiwamu sudah mengakar kuat di sana sehingga kamu sudah pasti mampu mengatasinya. Tapi di dunia politik, kamu sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun, rekan, dan keluarga. Ingat bahwa tujuan awalmu masuk ke pemerintahan adalah untuk menjaga dan melindungi Shine Group. Tapi jika kamu menyelam terlalu dalam, aku takut kalau...."
Nana tidak bisa mengeluarkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya. Eric langsung berpindah ke hadapan Nana. Ia menatap dengan sangat dalam wajah Nana yang sudah tampak bersedih.
"Sesuai janjiku sejak awal, aku akan melindungi Shine Group, yang tentunya semua yang ada di dalam Shine Group adalah keluargaku, utamanya adalah dirimu dan anak-anak kita."
Nana memaksakan bibirnya untuk tersenyum mendengar Eric yang berusaha menenangkan dirinya meski masih terlihat kecut,
"Aku hanya bisa mendukungmu dengan segala kemampuan yang aku miliki. Aku yakin bahwa kamu mampu melindungi kami."
"Jadi... kamu mau ikut ke Dubai kan?"
Nana mengangguk, sambil memejamkan matanya lalu tersenyum.
Eric tahu jawaban Nana memang terpaksa. Namun setidaknya dia memiliki kepastian bahwa Nana akan tetap berada di sampingnya meski ia pergi ke belahan dunia manapun.
"Besok, aku akan mengantar Caesar ke rumah Mama dan menitipkannya selama dua minggu."
"Apa?! Dua minggu?" Nana tersentak.
"Bukankah tadi kamu bilang cuma seminggu?"
"Hehehe.... yang seminggu lagi adalah untuk bulan madu kita." Eric menggoda Nana dengan mengusap-ngusap rambutnya ke bahu Nana.
"Hmm.... Dasar ya... Lalu bagaimana urusan kantor?"
"Urusan kantor sementara serahkan saja pada Erica,...."
Eric dan Nana masih terus berdebat sambil sesekali bercanda dengan kemesraan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang menyaksikan mereka dari sudut bibir pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.
Dia adalah Caesar.
(Suara hati Caesar)
"Daddy dan Mommy akan menitipkan aku lagi ke rumah Grandma? Lalu mereka akan bersenang-senang tanpa mengajakku. Aku tahu mereka sibuk, aku bisa mengerti. Tapi di saat mereka memiliki waktu bersama, bahkan mereka tidak mengajakku bersama mereka. Ini tidak adil..."
Caesar berjalan lesu menuju kamarnya, ia masuk kamar dan mengemasi barang-barangnya yang besok akan dibawa ke rumah neneknya.
Tes
Tes
Tes
"Hiks... Hiks..."
Caesar mengusap matanya dengan lengan kirinya sementara tangan kanannya masih memegangi tas ransel yang akan diisi beberapa barangnya.
Dalam hati Caesar terasa sakit sekali, ia mengira setelah kedua orang tuanya berkumpul kembali, ia akan mendapatkan kembali kasih sayang yang selama setahun lebih ini absent dari kehidupannya.
Tapi nyatanya, kedua orang tuanya kini memiliki status baru sebagai seorang pejabat negara yang justru malah semakin menjauh dari dirinya.
Caesar hanya ingin kehidupan yang normal.
Memiliki orangtua biasa, namun memiliki cinta yang luar biasa.
Seperti sebelum terjadi kecelakaan waktu itu.
------------------------------------
Preview Eps selanjutnya:
Caesar menjalani kehidupan sepinya tanpa kedua orang tuanya selama dua minggu di rumah neneknya.
Meskipun neneknya sangat memanjakan dirinya, namun Caesar merasa sangat hampa.
Saat Caesar mendengar Nana dan Eric sudah kembali dari Dubai, ia sangat senang dan ingin segera pulang.
Namun ternyata saat Caesar sampai di rumah, Nana sakit.
Eric menjelaskan pada Caesar bahwa Nana sedang hamil dan harus bedrest.
Karena kondisi Nana yang mengalami hiperemesis dan anemia, maka Nana harus bedrest.
Caesar kembali merasakan kerinduan pada ibunya yang setiap saat bisa menemaninya.
Namun Caesar tidak bisa berbuat banyak, selain menuruti saran ayahnya.
Nantikan Episode selanjutnya....
----------------------------------
****Halo sobat pembaca**
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa, DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
THANK YOU ❤️❤️❤️**