
Shaila sudah kehabisan daya dan upaya. Berkali-kali dia menjelaskan kepada Rasyid, Rasyid tidak pernah mau mengerti. Semakin Shaila banyak bicara untuk menjelaskan, maka itu akan semakin menyulut emosi Rasyid.
Shaila berada di titik paling lelah dalam hidupnya. Sejenak dia menatap ke arah kaca jendela sekolahnya. Shaila yang saat ini berada di gedung lantai tiga bisa melihat dengan jelas suasana halaman sekolah. Di sana tampak siswa-siswa yang melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Seharusnya duniaku seperti mereka. Seharusnya seperti itulah duniaku..."
Shaila terus mengamati teman-temannya yang bercanda sambil tertawa menikmati kegilaan masa muda mereka. Sedangkan dibandingkan dirinya yang saat ini malah galau dengan hal yang seharusnya belum saatnya dia rasakan.
Tiba-tiba di tengah lamunannya Shaila tertawa kecil,
"Zaman apa ini... aku baru menyadari kalau aku sendiri yang menjerat diriku dalam nasib seperti ini. Aku punya cita-cita adalah hakku. Aku tidak mau hanya berhenti di ujung jalan yang bahkan aku belum memulainya. Aku masih punya jalan masa depan yang panjang..."
***
***
"Abah.... Apakah pertunangan Shaila bisa dibatalkan saja?"
Klantang!
Sendok yang dipegang ayah Shaila terjatuh karena Shaila tiba-tiba saja melontarkan kalimat yang mengejutkan di tengah suasana makan malam yang tenang.
"Shaila.... " Ummi Shaila terbelalak.
"Katakan sekali lagi Shaila..." Ayah Shaila bertanya dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan.
"Ap-Apakah.... Shaila boleh membatalkan...."
Prakkk.
Kedua tangan ayah Shaila bertumpu dengan kedua siku menyangga dagunya.
"Shaila... kau tahu apa yang kau bicarakan?"
Shaila bungkam.
"Kau paham situasinya? Siapa kita dan siapa Rasyid?"
Shaila mengangguk pelan.
"Sedari awal abah sudah katakan bahwa kita sudah kepalang basah. Jika kita membatalkan pertunangan itu secara sepihak. Kita bukan lagi hanya tidak baik dengan Rasyid. Tapi seluruh warga Johor!"
Shaila lagi-lagi bungkam. Dia tidak berani mengeluarkan sepatah katapun lagi.
"Maafkan Shaila abah... Shaila salah..."
Shaila berdiri dari meja makan, lalu membalikkan badannya meninggalkan meja makan dan berlari ke tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Shaila tak memiliki tempat perlindungan. Mau bagaimanapun juga dia tak akan bisa lepas dari Rasyid.
Shaila menulis pesan melalui WhatsApp kepada Rasyid.
"*Assalamualaikum abang Rasyid...
Sebelumnya Shaila minta maaf jika Shaila menyinggung perasaan Abang Rasyid..."
Ada apa sayang?
Abang, mungkinkah kita sudah tak ada kecocokan?
Apa maksudnya?
Shaila merasa Abang Rasyid sudah berubah. Banyak sekali komitmen yang telah kita bangun sejak awal hubungan ini terjalin, sekarang satu demi satu runtuh...
Komitmen apa?
Bicaralah yang jelas, Abang tidak mengerti maksud Shaila.
Shaila terus memikirkan terkait ucapan Abang Rasyid yang mengatakan bahwa Shaila kelak tidak perlu bekerja jika sudah menjadi istri Abang...
Kenapa bahas itu lagi?
Masalahnya Shaila terus saja memikirkan itu... Shaila tidak bisa tinggal diam.
Ada hal yang perlu Shaila tegaskan di sini.
Shaila hanya ingin menjadi wanita mandiri bang...
Mandiri untuk apa? Kau tak akan kekurangan apapun Shaila...
Tapi Shaila punya cita-cita.
Aku tidak melarang kau punya cita-cita, tapi pada akhirnya kau akan tetap bersamaku. Jika aku ingin kau ambil studi di UK saja, sebaiknya kau harus patuh Shaila.
Bagaimana aku akan menjagamu, jika melihatmu saja aku tak bisa.
Aku ingin studi di Harvard...
Apakah kedokteran itu cuma di Harvard? Di UK masih ada universitas Oxford, Cambridge, Manchester, London, Edinburgh, Amsterdam, Copenhagen, Munich, Karolinska dan masih banyak lagi.
Kau memang selalu mengada-ada untuk mencari celah Shaila...
Astaghfirullah, Shaila tidak begitu. Shaila memang ingin ambil studi di Harvard itu sungguh karena alasan studi, tak ada alasan apapun.
Tanpa kau studi di Harvard, kau juga bisa jadi dokter. Aku akan bicara pada ayahmu jika memang ayahmu yang bersikeras menginginkan kau ke Harvard.
Abah tak ada hubungannya dengan ini...
Jadi itu memang kehendakmu semata?
Iya. Itu memang keinginan Shaila.
Lalu apa yang kau mau, di mana-mana setiap pasangan selalu ingin berdekatan. Bukankah kau juga dulu ingin seperti itu, Shaila*.
Iya.
Tapi itu dulu.
Sekarang Shaila berpikir bahwa Abang Rasyid terlalu mengekang Shaila.
Jika Shaila terus berada dekat dengan Abang Rasyid, Shaila tidak akan fokus menempuh studi*.
....
"Kenapa Abang Rasyid tidak membalas lagi?" gumam Shaila dalam hati.
Shaila mendenguskan nafasnya lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Pandangan Shaila menatap ke arah langit-langit sambil melamun.
Shaila masih berusia delapan belas tahun. Pemikirannya berbeda dengan Rasyid. Jika Shaila masih memiliki banyak keinginan, dia baru menapaki jalan yang akan ia tempuh. Sedangkan Rasyid, usia dua puluh lima tahun sudah cukup baginya untuk melakukan penjajakan. Dia sudah waktunya berpikir ke depan.
Antara Rasyid dan Shaila memiliki dunia yang berbeda, pemikiran yang berbeda, dan energi yang berbeda juga. Shaila berpikir jika memang hubungan ini terus dipaksakan, dia yang akan pasti kalah. Apa yang di bangun selama ini pasti akan sia-sia dan runtuh begitu saja.
Beberapa minggu kemudian, Shaila menghadapi ujian masuk Harvard untuk mendapatkan LoA. Shaila memilih jalur pretasi untuk mendapatkan privilege masuk Harvard. Sehingga ia memiliki kesempatan mengikuti tes lebih dulu bahkan sebelum ia dinyatakan lulus dari sekolahnya.
Ternyata Rasyid meminta bantuan temannya untuk melacak nama Shaila sebagai pendaftar tes jalur khusus. Setelah mengetahui Shaila tidak main-main dengan apa yang dikatakannya. Rasyid memutuskan untuk tidak menghubungi Shaila.
Selama Rasyid tidak menghubungi Shaila, ternyata Shaila juga tidak memiliki inisiatif untuk menghubungi Rasyid lebih dulu. Rasyid bahkan meminta bantuan Sharif untuk memancing Shaila.
"Aku sudah katakan padanya, dia sudah bilang iya... dia akan menghubungimu Rasyid..."
"Tapi kenyataannya dia tak ada hubungi aku,..."
"Aku sangat geram pada adikmu. Kenapa dia seolah terus menghindar dan menghindariku. Apa jadinya nanti hubungan kami jika dia terus seperti ini."
"Rasyid.... dia memang masih labil. Kau sebaiknya maklumi dia. Tak banyak pengalaman yang dia miliki. Orang pertama yang membuatnya mengenal cinta adalah kau. Tapi kau juga yang me mengekang dia. Jadi mungkin saja dia saat ini berada dalam fase jenuh."
"Jadi kau merasa aku terlalu mengekang dia? Sekarang apakah kau akan merasa tenang jika kekasihmu berada di luar sana. Sementara kau tak dapat melindunginya, bahkan tak bisa melihatnya apakah di sekitarnya ada orang yang jahat."
Sharif hanya bisa diam. Dia tahu sifat posesif Rasyid memang karena terlalu mencintai Shaila. Namun Sharif juga tak bisa serta merta menyalahkan Shaila karena bagaimanapun juga, Sharif juga pernah merasakan dan mengalami fase yang sedang dialami Shaila.
"Rasyid... Kita pernah berusia delapan belas tahun. Sedangkan Shaila belum pernah berusia dua puluh lima tahun. Jadi seharusnya kita menyadari fase yang sekarang dialami Shaila, adalah fase yang pernah kita rasakan. Bukankah kita sebaiknya memberinya kesempatan."
"Justru karena aku pernah merasakan menjadi seusia Shaila, aku bisa tahu bagaimana situasinya. Amerika itu tidak baik bagi Shaila. Dia anak yang polos. Dia pikir di Harvard hanya ada anak-anak yang cerdas dan kutu buku? Tentu saja tidak. Shaila masih belum tahu apa-apa."
Rasyid duduk lemas. Pikirannya kalut.
"Kau tahu bahwa Shaila itu sangat berharga bagiku, Sharif... Dia bagaikan batu intan yang masih suci dan cemerlang. Selama bertahun-tahun aku selalu menjaganya agar tetap bersih dan indah. Tentu saja aku tak mau dia tergores sedikitpun. Bahkan aku menahan hasratku sebagai seorang pria dewasa untuk menyentuhnya agar aku bisa tetap menjaganya. Tapi mengapa dia tak bisa mengerti bahwa keindahan yang ada pada dirinya itu bisa memancing pria lain untuk memilikinya. Aku sungguh tidak rela..."
Sharif tidak bohong, dia akhirnya pulang ke Singapore hanya untuk berbicara dengan Shaila. Sharif memang sengaja tidak memberi kabar bahwa dirinya pulang. Agar Shaila tidak memiliki kesempatan untuk menghindarinya juga jika dia tahu kepulangannya adalah untuk membicarakan Rasyid.
Dan pada saat Sharif sampai di rumah, dia tidak langsung bertemu dengan adiknya. Ummi mereka mengatakan bahwa Shaila belajar bersama dengan grup studinya. Sharif bisa bersabar menunggu adiknya.
Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Shaila juga belum pulang. Sedangkan Shaila tidak bisa dihubungi.
"Ummi, apakah Shaila memang biasa pulang malam?"
"Kadang-kadang... tapi dia tidak sendirian. Biasanya dia diantar teman-temannya. Tadi dia juga berangkat juga dijemput temannya."
"Laki-laki apa perempuan?"
"Perempuan, dia sering main di sini juga..."
Meski jawaban umminya begitu tenang, namun Sharif tak bisa tenang. Dia selalu ingat ucapan Rasyid,
"Sekarang apakah kau akan merasa tenang jika kekasihmu berada di luar sana. Sementara kau tak dapat melindunginya, bahkan tak bisa melihatnya apakah di sekitarnya ada orang yang jahat."
Sharif semakin cemas, akhirnya dia memutuskan menjemput Shaila di perpustakaan umum meski hanya menggunakan sepeda.
Sekitar lima belas menit waktu yang dibutuhkan Sharif untuk sampai di perpustakaan. Dan sesampainya di sana, Sharif melihat Shaila baru keluar dari perpustakaan.
Ketika Sharif akan menghampiri Shaila, dia melihat seorang anak laki-laki berpostur tinggi, bahkan sedikit lebih tinggi dari Sharif, datang mendekati Shaila. Shaila tampak sangat akrab dengan anak tersebut bahkan Shaila tak sungkan mencubit lengan dan memukul pipi anak laki-laki itu disaat mereka tengah bergurau. Shaila tampak tertawa lepas.
"Shaila!"
Shaila menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dan pada saat dia tahu siapa yang memanggilnya. Shaila makin terkejut.
"Abang Sharif...."
Sharif berjalan ke arah Shaila dan menarik paksa tangannya.
"Ayo pulang. Sudah jam berapa ini?"
"Iya Abang... ini Shaila juga mau pulang..."
Sharif melihat dengan seksama wajah anak laki-laki yang tadi bercanda dengan Shaila. Tapi anak itu malah tersenyum ramah.
"Saya Caesar, teman Shaila..."
Sharif melihat Caesar masih memakai seragam sekolah. Dan terlihat atribut kode grade Caesar yang menunjukkan dia grade 11. Satu tahun di bawah Shaila.
Sharif tak banyak bicara. Dia menarik tangan Shaila dan mengajaknya pulang.
---------------------------------------------
Sesampainya di rumah,
Brakk!
"Assalamualaikum..." Shaila berlari memeluk umminya.
"Walaikumsalam... Loh... Ada apa ini?" Ummi bingung melihat Shaila langsung berlari ke arahnya sambil menangis, sedangkan Sharif wajahnya tampak merah padam.
"Ummi tidak tahu apa yang dilakukan Shaila?" Sharif mulai merendahkan suaranya tapi masih terdengar dia seperti menekan suaranya.
"Ada apa?"
"Dia bergaul dengan laki-laki, padahal dia sudah menjadi calon istri seseorang."
"Tidak! Shaila hanya berteman dengan dia bang!" Shaila berteriak membela diri.
"Teman? Kau dan Rasyid juga berawal dari teman Kan..."
"Sebelum Shaila bertunangan dengan Abang Rasyid, Shaila sudah berteman dengan Caesar. Shaila sudah anggap dia sebagai adik."
"Adik? Kau tahu dulu aku selisih berapa tahun dengan Fahira? Dia dua tahun lebih tua dariku. Tapi kami akhirnya bisa pacaran. Bisa jadi kau pun begitu."
"Sharif! Jangan kau bicara sembarangan. Kau menilai adikmu seburuk itu? Ceritakan apa yang terjadi!" Ummi membela Shaila.
Sharif berusaha merendahkan intonasi suaranya,
"Ummi, Sharif tidak pernah sekalipun melihat Shaila bercanda dan tertawa dengan seorang anak laki-laki manapun dengan sebebas itu. Tampaknya dia memang sudah sangat akrab dengan anak itu...."
Sharif kembali menoleh ke arah Shaila.
"Bahkan selama aku melihat kau dengan Rasyid, kau tak pernah bergurau dengan seleluasa begitu, Shaila. Lalu apa kepentingannya datang ke perpustakaan jika dia adalah siswa dari grade di bawahmu. Tidak mungkin jika dia anggota grup studimu..."
"Shaila berani sumpah bang... Shaila tidak memiliki hubungan apapun selain berteman dengannya."
"Kau boleh berteman dengan siapa saja Shaila. Tapi masalahnya kau adalah tunangan seseorang. Apa kau masih belum sadar statusmu?"
Shaila menundukkan wajahnya. Ummi mengelus punggung Shaila agar lebih tenang.
"Kau tahu aku pulang ke sini karena aku ingin menjelaskan hubunganmu dengan Rasyid. Selama kau tidak dihubungi Rasyid, kau bahkan tidak punya inisiatif untuk menghubunginya. Jika kau sibuk, tapi kau masih punya waktu untuk bertemu dengan anak laki-laki itu, sedangkan untuk menghubungi tunanganmu kau tak punya waktu?"
Shaila bungkam.
"Sini ponselmu!" Sharif meminta ponsel Shaila.
Tanpa dipaksa, Shaila membuka kode kunci dan menyerahkan ponselnya pada Sharif.
Sharif melihat ponsel Shaila, dia terus mengamati semua isi chat dan sosial media Shaila. Sharif juga mengecek isi chat Shaila dengan Caesar. Namun tidak ada yang aneh, bahkan Shaila tidak bohong soal dia hanya berteman dengan Caesar. Karena memang isi chat mereka hanya bercanda saja. Tidak ada kalimat mesra atau kalimat aneh lainnya.
Sharif terus scroll ke atas dan bawah. Hingga tatapan matanya terhenti pada scroll terakhir. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat Sharif penasaran. Dia melihat sebuah chat yang diarsipkan.
Dan saat Sharif membukanya, dia melihat nomor itu tidak diberi nama oleh Shaila.
Tanpa ijin Shaila, Sharif membuka chat dari nomor tak dikenal yang diarsipkan Shaila.
Seketika rona wajah Sharif berubah, wajah yang sedari tadi merah padam karena amarah Sharif yang menggebu kepada Shaila langsung berubah menjadi pucat pasi setelah ia melihat semua chat yang diarsipkan Shaila.
"Dari mana kau mengenalnya, Shaila?"
Shaila tetap diam. Dia sudah menebak apa yang sudah terjadi.
"Shaila, apa kau tak punya mulut?"
"Dia... yang menghubungi Shaila. Shaila tak tahu dia dapat nomor Shaila dari siapa..."
Sharif terduduk lemas.
Dia berulang kali mengusap kepalanya.
"Mengapa kau tak bilang pada abang?"
Shaila hanya diam.
***
--------------------------------------
Halo sobat pembaca
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️