
Caesar mengepalkan tangannya dengan erat mendengar semua provokasi Regal kepada Shaila.
"Aku tahu Regal pasti tidak akan melepaskan aku begitu saja meskipun masalah perjodohan ini sudah selesai."
Caesar memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafas. Dia mulai berpikir keras lagi. Satu-satunya yang ada di dalam pikiran Caesar saat ini adalah bagaimana menghindari Regal agar ia bisa tetap melindungi identitas Rosie.
***
***
"Kalau mau aku sarankan, sebaiknya kamu tidak perlu mencari tahu semua kehidupan kakakmu. Bukankah selama ini kamu juga sudah hidup tenang, Regal?" Shaila menatap dalam-dalam mata Regal, berusaha untuk mengintimidasi Regal.
Namun Regal sama sekali tidak bergeming dengan ketegasan Shaila. Regal malah dengan santai menanggapi sikap Shaila yang sudah terbawa emosi sejak tadi sambil meneguk teh yang ada di meja depannya.
"Tadinya aku pun juga begitu. Aku sama sekali tidak tertarik mencari tahu tentang dia. Tapi semuanya berubah setelah ayah kami mendesak pernikahan dengan keluarga Weishi. Aku yakin bukan tanpa alasan ayah kami tiba-tiba mempercepat renacana pernikahanku. Kecuali ada sesuatu yang mendesaknya..."
Caesar yang mendengar ucapan Regal langsung terdiam. Dia tahu langkah Eric mempercepat rencana pernikahan Regal dan Yuri dimulai persis saat Caesar mengetahui keberadaan Rosie. Caesar tidak menyangka sejak ia membawa Rosie ke tangannya, hal tersebut akan membuat ayahnya berinisiatif mempercepat pernikahan Regal.
"Dan aku yakin itu adalah atas desakan Caesar...!"
Regal langsung mengutarakan isi pikirannya tanpa basa-basi di depan Shaila tanpa ia tahu bahwa Caesar juga mendengarnya.
"Caesar? Apa maksudmu? Dia tidak pernah sekalipun berusaha mengatur hidupmu, apalagi mendesak Tuan Eric hanya agar cepat menikahkanmu. Apalagi dia juga tahu kamu dan Yuri tidak saling mencintai. Selama bertahun-tahun aku bersamanya, aku hampir tidak pernah melihat dia bertemu dengan Tuan Eric di Amerika. Dia justru malah menghindar setiap kali ayah kalian sedang perjalanan dinas di sana. Lagipula, bukankah anak kesayangan Tuan Eric adalah dirimu. Kalau dipikir lagi, jika memang Caesar yang menghasut untuk mendesak Tuan Eric, sangat kecil kemungkinan dia akan menyetujuinya jika itu menyangkut dirimu. Siapa yang akan rela anak kesayangannya diatur-atur oleh orang lain apalagi jika sampai itu merugikan baginya..."
"Waw... sampai segitunya kamu membela dia..." Regal dengan ekspresi yang menunjukkan tidak senang.
"Aku membelanya karena aku tahu bagaimana dia berusaha melakukan semua hal demi dirimu... Semuanya...!"
"Andai kamu tahu Regal, bahwa Caesar selama ini menghabiskan separuh masa depannya hanya untuk menebus penyesalan terhadap dirimu." Suara hati Shaila seolah bergema di dalam hatinya.
"Aku lelah, Regal... jadi kita akhiri saja pertemuan ini. Aku tidak akan memberikan jawaban apa-apa sekalipun aku tahu siapa Rayne... Sebaiknya kamu cari tahu sendiri..."
"Ya... tentu saja aku mencari tahunya sendiri meski tanpa sepengetahuan Caesar. Tapi setidaknya aku sudah membuktikan asumsiku bahwa, yang pertama ternyata kamu sudah tahu siapa Rayne, itu artinya dia bukanlah orang asing di dalam circle kalian. Dia bukanlah wanita random yang asal dibayar oleh Caesar. Yang artinya selain dia butuh uang, dia pasti memiliki hubungan dengan kalian berdua. Tentu dirimu tidak akan serta merta mendukung hubungan mereka jika Rayne adalah wanita serampangan. Bisa jadi... dia adalah seorang pasien yang kalian kenal... bukan begitu?"
Mata Shaila secara refleks membelalak dengan bibirnya yang gemetar secara tidak sadar. Nampaknya Regal benar-benar berhasil menganalisa dirinya selama percakapan mereka berlangsung.
"Jangan main asumsi sembarangan, Regal!"
"Wah... Dan kini kamu berusaha mematahkan asumsiku. Semakin jelas bahwa asumsiku ternyata tepat sasaran. Hahaha..." Regal semakin merasa lucu dengan sikap Shaila yang terlalu polos di depannya.
Shaila berdiri dari bangku tempat duduknya.
"Aku sudah tidak perlu bicara apapun lagi dengan dirimu. Jadi sebaiknya aku pergi sekarang."
Shaila berjalan melengang meninggalkan Regal yang masih duduk di cafe sambil memicingkan senyumnya mengiringi langkah Shaila hingga keluar dari cafe.
"Bingo...!" Regal tertawa sendiri melihat sikap Shaila yang seolah seperti seorang pencuri yang baru saja terpergok. Berusaha menyangkal lalu melarikan diri pergi begitu saja.
----------------------------------------
Swooosh
Pancaran air dari shower steam bath chamber mengguyur tubuh Regal. Air hangat dengan suhu 38 detajat itu membasahi seluruh sela kulit putih Regal. Sebuah bekas luka bakar di punggung Regal yang masih jelas tertimbul dari kulitnya yang putih mulus.
(flashback)
"Jasmine?! Di mana Jasmine?"
Regal meronta berusaha menggapai kabinet di samping tempat tidur agar ia bisa turun dari bed. Namun kakinya tak bisa digerakkan hingga akhirnya ia pun terjatuh dari bed.
"Aaakh!!!!"
Regal berteriak karena kakinya terasa sangat ngilu dengan gipsum yang mulai retak di bagian lututnya.
Seorang suster dan perawat laki-laki datang dan terkejut melihat Regal yang sudah bergelimpangan di lantai. Darah berceceran dari tangannya yang baru saja tercabut jarum infus, sedangkan kakinya bbergerak terseok-seok kaku karena dalam kondisi tergipsum.
Saat kedua perawat itu membantu Regal untuk naik kembali ke bed, Regal malah memberontak.
"Tolong antarkan aku ke pasien bernama Jasmine..."
Bukannya menolak dengan jawaban, kedua perawat itu malah tetap bersikeras memaksa meletakkan tubuh Regal ke atas bed.
"Aku mohon... aku ingin melihat kondisi pasien bernama Jasmine..."
Regal semakin geram dengan sikap kedua perawat yang tak mengindahkan permintaannya untuk membawanya ke ruang perawatan Jasmine. Regal menarik kerah baju perawat laki-laki tersebut dengan wajah setengah memohon.
Caesar dan Eric berusaha memegangi Regal memisahkan tubuh perawat laki-laki yang menjadi sasaran amukan Regal. Tapi kali ini justru kemarahan Regal semakin brutal seolah ia makin tak punya upaya lagi selain mengamuk dengan brutal agar tubuhnya dibebaskan.
"Regal!!! Regal!!!"
Eric memeluk tubuh Regal menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng agar Regal tak menyakiti orang lain.
"Daddy... Jasmine tadi bersamaku. Di mana dia?"
Caesar yang melihat adiknya yang marah di dalam keputus asaan, mencoba menenangkan.
"Jasmine...."
Eric menoleh ke arah Caesar yang mencoba bersuara, lalu menggelengkan kepalanya seolah mengisyaratkan untuk mengatakan kepada Caesar bahwa "sebaiknya jangan katakan apa-apa dulu padanya"
"Tidak daddy, kita harus mengatakannya agar dia berhenti terus meminta bertemu Jasmine lagi. Ini sudah beberapa minggu sejak Regal membuka mata dan terus mencari Jasmine."
Eric menundukkan kepalanya ke bahu Regal yang sedang dalam dekapannya.
"Apa maksud kalian? Apa yang harus dikatakan?"
Regal semakin kesal dengan sikap Eric dan Caesar yang berusaha menyembunyikan sesuatu padanya tentang Jasmine.
"Katakan!!!"
Regal terus memukuli punggung Eric yang terus bertahan memeluk tubuhnya.
"Gadis itu.... tidak cukup kuat untuk bertahan... Sebenarnya, dia sudah meninggal di hari ketiga setelah insiden itu..."
Bola mata Regal seolah berhenti bergerak saraf pupilnya seolah tak bisa menerima respon cahaya yang masuk ke matanya.
Semua terasa putih seperti kabut....
(flashback ends)
Swooosh....
Kabut putih dari uap air hangat yang mengalir dari shower mengaburkan pandangan di kaca transparan steam bath chamber yang lalu digosok oleh Regal dengan tangannya, hingga sebagian wajah Regal kini mulai terlihat jelas.
Regal melangkah keluar dari steam bath chamber lalu menuju bath up yang telah ia siapkan untuk berendam.
Regal merebahkan dirinya ke dalam bath up yang dipenuhi dengan air yang melingkupi hampir seluruh bagian tubuhnya, dengan memejamkan matanya sambil mengangkat menengadahkan tangannya ke atas langit-langit.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu meski sudah enam tahun berlalu..."
***
***
----------------------------------------
Halo kawan-kawan,
Terima kasih banyak atas kesetiaan kalian membaca novel ini.
Tidak lupa saya mengajak kalian untuk bergabung dengan "GROUP CHAT AUTHOR" agar kita semakin dekat dan menjalin komunikasi.
Segala informasi dan pemberitahuan novel, update, dan revisi akan saya bahas di Group Chat.
Oh iya, tentu saja SETIAP HARI ADA REWARD berupa KOIN atau POIN dari author atas apresiasi kalian membaca novel ini.
Juga jangan lupa baca karya novel author yang lain ya...
Selalu dukung karya author,
LIKE & FAVORITE
GABUNG GROUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
Dukungan kalian sangat Luar Biasa 👍🏻