I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] MEMBIASAKAN DIRI



"Apakah suatu saat kamu akan meninggalkan aku juga?"


"Apa?"


Rosie sontak terbelalak dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Caesar.


as


"Ah lupakanlah... aku hanya bercanda. Tentu saja kamu pasti akan pergi dari sini setelah pulih dan membuka lembaran hidup baru bersama ayahmu dan juga keluargamu."


"Bicara apa aku ini? Kenapa aku bertanya pada Rosie dengan kalimat yang tidak masuk akal begitu?"


Caesar bergumam dalam hati menyesali pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Kak Caesar..." Tanpa diduga Rosie menjawab pertanyaan Caesar.


"Jika memang kami harus membayar kebaikanmu dan Tuan Eric, dengan kesetiaan kami. Maka kami dengan ikhlas akan melakukannya..."


Caesar mematung dengan jawaban Rosie.


"Maksudku, aku dan papa akan setia mengabdi untuk keluarga Shine sebagai pelayan..." Rosie meneruskan kalimatnya.


***



***


Beberapa hari kemudian,


Caesar masih sering mengurung diri di kamar setiap pulang dari rumah sakit. Kadang dia juga tidak pulang ke apartment jika dia mendapat giliran jaga IGD. Dan sejak obrolan terakhir dengan Rosie saat mengembalikan cincin dari Shaila, Caesar jarang mengobrol dengan Rosie. Kecuali untuk menginformasikan perkembangan kondisi Rosie dan terkait transplantasi wajah yang akan dijalani Rosie.


Rosie pun juga merasa bahwa belakangan ini Caesar semakin sering menghindarinya. Rosie sendiri tidak mengerti apa yang terjadi. Namun dia tidak ambil pusing, dia fokus pada tugasnya sebagai satu- satunya wanita yang ada di apartment Caesar, sebagai pengurus rumah, juru masak, dan laundry. Gunawan juga turut membantu Rosie dalam mengurus apartment Caesar kadang sekaligus sebagai sopir.


Pagi itu, seperti biasanya Rosie memasak untuk sarapan Caesar dan Glenn. Dia bangun paling awal, jam 5 pagi untuk membuatkan sandwich smoke beef dan sup sereal.


Tapi tidak seperti biasanya, Rosie melihat Caesar sudah duduk di table bar di dapur. Terlihat secangkir teh sudah berada di depan Caesar.


"Kak Caesar... Sudah bangun?"


"hmm... aku baru pulang dari rumah sakit."


"Bukankah tadi malam kak Caesar baru pulang ke rumah sakit? Jadi semalam kembali ke rumah sakit lagi dan baru saja pulang?"


"Ya.... semalam aku mendapat kabar dari seorang senior bahwa ada gadis dari panti asuhan yang memiliki kelainan jantung bawaan, namun dia baru terdiagnosis beberapa bulan yang lalu. Dan kemarin kondisinya kritis. Harapan hidupnya sangat kecil, karena dia sudah mendapatkan operasi berkali-kali dalam beberapa tahun ini. Tapi katup jantungnya kembali menyatu dan terjadi penyempitan lagi. Padahal gadis itu usianya baru 19 tahun. Aku tidak tahu apakah ini berita baik atau sebaliknya. Tapi bisa aku katakan, kamu saat ini memiliki harapan menemukan pendonor."


"Apakah gadis itu tidak bisa diselamatkan?"


Caesar menggeleng.


"Sudah terlambat, operasi pembuatan katup buatan bagi penderita pulmonary stenosis biasanya dilakukan pada saat seseorang berusia anak-anak dan remaja. Dia sudah melakukan beberapa kali operasi, tapi katup jantungnya terus mengalami penyempitan, sehingga jantungnya sudah mengalami pembengkakan. Itu sangat berisiko jika dilakukan operasi, jantungnya akan terhenti sewaktu-waktu."


Rosie terdiam, dia tidak mengerti bagaimana seharusnya. Perasaannya tidak tega untuk mengambil kesempatan pada pasien yang diceritakan oleh Caesar. Bagaimanapun juga, gadis itu memiliki masa depan, terlebih dia usianya dua tahun lebih muda dari Rosie. Harapan hidupnya pasti lebih besar daripada dirinya.


"Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau empati. Tapi gadis itu terlalu muda. Apakah dia tidak memiliki keluarga? Saudara? Teman dan sahabat?"


"Aku tidak bisa memastikan. Tapi dari keterangan pihak panti asuhan mengatakan gadis itu sejak bayi berada di sana. Tidak ada keluarga yang mencarinya dan berusaha mengadopsinya. Mungkin karena sejak anak-anak dia memiliki kondisi fisik yang lemah karena kelainannya itu."


"Apakah aku bisa bertemu dengannya?"


"Kamu mau bertemu dengannya?"


"Ya...." Rosie mengangguk.


"Rosie... aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa, tapi jika aku jadi dirimu, aku tidak akan mau tahu. Karena itu akan membuatku semakin merasa terbebani."


"Setidaknya jika aku mengenalnya, maka aku akan lebih tenang membiasakan diri sebagai dirinya."


Caesar tertegun mendengar jawaban Rosie.


Rosie melanjutkan langkahnya menuju dapur dan mulai membuat masakan. Caesar masih tetap duduk di table bar sambil melihat cangkir teh yang ada di hadapannya. Lebih tepatnya dia sedang melamun.


"Rosie..."


"Ya..."


"Apakah semudah itu bagimu untuk melupakan masa lalumu dan menjadi orang yang baru?"


"Maksudnya? Aku tidak mengerti."


"Mengapa kamu menerima saja saat ayahku memintamu hidup menjadi orang lain? Bahkan menghilangkan jati dirimu. Bahkan mungkin juga membuang perasaanmu. Aku tahu kamu memiliki perasaan untuk Regal. Tapi kamu bisa dengan mudahnya berusaha melupakan dia?"


"Aku tidak berusaha melupakan dia." Rosie menjawab dengan tanpa ekspresi.


"Apa?" Caesar mengerutkan alis matanya mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Rosie.


"Sulit bagi seseorang melupakan orang lain yang sudah pernah hadir dalam kehidupan kita. Perlu waktu untuk melupakannya. Selama enam tahun ini adalah waktu yang amat sangat cukup bagiku terbiasa hidup tanpanya. Apakah kak Caesar yakin bahwa cinta ada karena terbiasa?"


"Hmm..."


"Maka dengan terbiasa kita hidup tanpanya, terbiasa tak bicara dengannya, terbiasa tak bertemu dengannya, terbiasa tak mendengar kabarnya, maka secara alami perasaan itu akan hilang dengan sendirinya."


Rosie berjalan mendekati Caesar dan menuangkan teh hangat pada cangkir Caesar yang telah kosong.


"Jangan berusaha melupakannya, apalagi membencinya. Semakin kita berusaha, maka semakin kita memikirkan cara untuk bisa melupakannya. Tapi yang akan terjadi, kita justru akan terus terpikir masa-masa di mana kita masih bersamanya. Itu akan menyakitkan."


"Lalu apa yang kamu lakukan untuk membiasakan diri agar secara alami tidak memikirkannya?"


Rosie berpikir sejenak.


"Kalau aku... mungkin karena aku selalu memikirkan kondisiku, bertahun-tahun aku tidak ada waktu memikirkan orang lain. Memikirkan setiap saat aku menjalani operasi, dan berusaha memikirkan untuk menerima diriku yang baru. Memikirkan bagaimana agar aku bisa menjalani hidupku dengan kondisiku yang seperti ini."


"Membiasakan diri untuk menjalani hidup dengan kondisi yang sekarang ini... jadi begitu..." Caesar bergumam.


"Kak Caesar tidak harus melakukan seperti yang aku katakan. Sepertinya dirimu mungkin akan lebih sulit melakukannya karena dirimu sudah terbiasa hidup yang selalu ada kaitannya dengan kak Shaila. Mungkin kamu bisa mencari seseorang yang bisa membuatmu bahagia selain kak Shaila."


Klang.


Caesar tidak sengaja menjatuhkan sendok teh yang dipegangnya. Dia terkejut dengan kalimat yang dia dengar dari Rosie. Rosie pun juga terkejut, dia pikir dia telah salah bicara. Hingga membuat Caesar marah.


"Maafkan aku kak... aku minta maaf kalau aku salah bicara. Aku tidak bermaksud mengatakan kamu harus mencari pengganti kak Shaila. Maksudku, sejauh yang aku tahu kak Caesar memang tidak banyak dekat dengan orang lain. Bahkan dengan kak Glenn. Kalian jarang berkomunikasi dengan terbuka. Mungkin sebaiknya kamu harus membuka hati pada kak Glenn, itu akan membuatmu sedikit teralihkan."


"Tidak... bukan. Aku hanya tidak sengaja menjatuhkan sendok. Itu saja."


Caesar melihat wajah Rosie yang merasa bersalah.


"Sudahlah, aku akan ke kamar. Aku lelah mau istirahat. Kamu lanjutkan saja memasak."


"Lalu sarapannya? Apakah aku antarkan ke kamarmu saja?"


"Tidak usah. Nanti kalau aku lapar, aku akan turun dan mengambilnya sendiri. Sisihkan saja punyaku."


-----------------------------------


Keesokan harinya,


Sesuai janji Caesar pada Rosie, dia bersedia membawa Rosie ke rumah sakit untuk bertemu dengan gadis yang akan menjadi pendonor wajah bagi Rosie.


Selama di perjalanan, Rosie terlihat gugup. Namun dia berusaha menenangkan dirinya sendiri karena dia lah yang ingin bertemu dengan gadis itu.


Sesampainya di Rumah Sakit, Caesar mengajak Rosie ke departemen Thorac dan Kardiovaskular. Tidak berapa lama mereka sampai di sebuah instalasi khusus. Di sana Rosie melihat seorang gadis terbaring dengan ventilator yang terpasang di hidung dan mulutnya.


Rosie menyentuh kaca instalasi yang langsung tembus pandang dengan ruangan di mana gadis itu terbaring. Rosie melihat papan tulisan yang bertuliskan,


Rayne, 19.


"Jadi namanya adalah Rayne? Dia gadis yang sangat manis." Rosie bergumam sendiri.


Seorang dokter kemudian keluar dari dalam ruang instalasi ketika ia melihat Caesar dan Rosie berada di luar ruangan tersebut. Dia keluar untuk menemui Caesar.


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


Caesar bertanya pada seniornya yang baru keluar dari ruang instalasi.


"Kondisinya terus memburuk. Tim dokter sudah tidak bisa melakukan banyak hal untuknya. Dia hanya menunggu waktu sampai tubuhnya tidak bisa bernafas lagi. Tapi pihak welfare house justru menginginkan penghentian pemberian treatment dan melepaskan semua alat penunjang hidupnya."


"Maksudnya dengan eutanasia pasif?"


"Ya... Pihak welfare house sudah kehabisan anggaran keuangan untuk Rayne, bahkan uang donasi untuk Rayne semakin lama semakin berkurang nominal yang didapat. Saat ini pihak welfare house fokus pada anak-anak lain berkebutuhan khusus yang masih memiliki harapan hidup. Mereka sudah menyerah pada Rayne."


Rosie terus menatap tubuh Rayne yang terbujur di atas bed perawatannya.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiri dokter senior Caesar. Kemudian dia berbicara dengan dokter tersebut. Tapi selama mereka berbincang, beberapa kali dokter tersebut melihat ke arah Rosie dan Caesar.


Dan akhirnya wanita itu berjalan mendekat ke arah Rosie.


"Permisi... Apakah anda yang bernama Rosie?"


Rosie terkejut karena wanita itu mengetahui namanya.


"iya... benar..."


"Dokter Gale baru saja mengatakan bahwa anda adalah orang yang mencari donor wajah."


Rosie menatap Caesar dan dokter senior Caesar yang diketahui bernama dokter Gale.


Sudah jelas pasti dokter Gale sudah mengatakan pada wanita paruh baya itu bahwa jika Rayne akan meninggal tidak lama lagi, maka dia akan menjadi pendonor wajah untuk Rosie.


"Saya adalah pengurus Welfare house yang membesarkan Rayne. Saya tahu anda sedang mencari seseorang yang bersedia mendonorkan wajahnya untuk anda. Maka dari itu anda ke sini untuk melihat Rayne?"


Rosie terdiam. Nyonya paruh baya itu memang tidak salah. Tapi ucapannya seolah Rosie saat ini sedang menantikan kematian bagi Rayne, agar Rosie bisa secepatnya mendapatkan wajah Rayne.


"Nyonya... Saya kemari bukan untuk memastikan kondisi Rayne sebagai kandidat pendonor wajah. Saya ke sini karena sata tulus ingin melihat kondisi Rayne. Saya mendengar sedikit kisah hidup Rayne. Maka dari itu saya ingin melihatnya sebagai bentuk empati saya."


"Rayne adalah gadis yang memang memiliki kecacatan sejak lahir. Komite yayasan Welfare house kami sudah memutuskan untuk menghentikan pengobatan dan perawatan untuk Rayne. Sejujurnya kami ingin Rayne meninggal dengan wajar. Kami agak keberatan jika Rayne menjadi pendonor wajah."


"Nyonya, saya tidak memaksa anda. Anda bukan orang yang pertama kali menolak saya, tidak ingin orang yang disayanginya wajahnya diambil oleh orang lain."


"Rayne adalah gadis yang banyak dicintai oleh adik-adiknya di welfare house. Saat beberapa hari ini anak-anak di Welfare house merindukan Rayne, kami tidak bisa berbuat banyak. Jadi kesimpulannya, jika saja anda bersedia menggantikan Rayne untuk mereka, maka kami selaku pengurus Welfare house tidak keberatan jika anda ingin mendapatkan wajah Rayne."


"Apa? Maksud anda, saya akan menggantikan Rayne dan hidup seperti dirinya? Tapi saya memiliki seorang ayah."


"Anda tidak perlu meninggal kehidupan anda. Anda hanya perlu berperan sebagai Rayne di depan anak-anak. Hanya itu harapan kami. Rencananya hari ini kami meminta dokter mulai melepaskan alat-alat di dalam tubuh Rayne. Dan setelah itu...."


Wanita paruh baya itu tidak melanjutkan kalimatnya.


Rosie dengan jelas dapat melihat kesedihan yang tergambar dalam wajah wanita itu. Dia akan sangat kehilangan Rayne jika setelah ini Rayne benar-benar akan meninggal.


Saat ini keputusan ada pada Rosie. Jika dirinya menerima tawaran dari Nyonya pengurus Welfare house, maka itu artinya Rosie akan hidup sebagai Rayne.


"Apa yang harus aku lakukan, kak Caesar?"


"Kenapa kamu masih bertanya? Bukankah ini adalah kesempatan yang baik, karena jika kamu menjadi Rayne, kamu akan kembali mendapatkan identitas baru, dan kamu akan menjalani kehidupan yang baru."


Ucapan Caesar membuat Rosie sejenak termenung.


Caesar benar.


Meskipun saat ini Rosie tidak lagi menjadi seorang Jasmine, namun perjalanan hidup yang ia jalani sebagi Rosie manusia Frankenstein akan selalu membuat Rosie teringat dengan masa lalunya sebagai Jasmine.


Rayne adalah gadis yang sudah memiliki riwayat hidup. Dengan Rosie yang bersedia meneruskan hidup Rayne, maka dia tidak hanya membantu Rayne, tapi juga membawa keuntungan baginya.


Jasmine sudah pernah mati.


Maka jika kali ini Rosie yang akan mati, itu tidak akan masalah.


"Baiklah... Aku bersedia..."


***



***


---------------------------------------


***Halo semuanya, para reader yang aku sayangi.


Turut prihatin dengan pandemi yang dialami oleh dunia belakangan ini, termasuk negara kita Indonesia.


Setiap harinya selalu ada kawan atau saudara kita yang mengalami positif covid19.


Setiap hari juga selalu ada yang meninggal dunia.


Sedikit doa terpanjat untuk kalian di manapun berada:


- Bagi kalian yang masih sehat,


Semoga selalu dilimpahkan perlindungan, kesehatan dan keselamatan.


- Bagi kalian yang menjadi pejuang garda depan sebagai petugas kesehatan, petugas keamanan,


Semoga dilimpahkan perlindungan, kekuatan, kesehatan, dan keselamatan dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan membalas pengabdian kalian.


- Bagi kalian yang telah berstatus ODP, PDP, atau yang telah terkonfirmasi positif,


Percayalah kalian pasti akan sembuh. Kalian tidak sendiri, ada banyak kawan dan keluarga kalian yang mendukung kalian. Kesembuhan kalian adalah harapan dan kabar baik bagi dunia, bahwa kalian adalah manusia kuat dengan kekebalan yang luar biasa.


Tuhan selalu bersama kita semua....


🙏🙏🙏🙏🙏***