I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] ALIVE



Caesar spontan menoleh dan membalikkan tubuhnya kembali ke arah dalam kamar tersebut.


Di hadapan Caesar, berdiri seorang gadis dengan postur tubuh kurus yang kira-kira hanya setinggi 160 cm, dan yang membuat Caesar terpaku, adalah seluruh wajah gadis itu terbalut perban. Namun masih jelas terlihat pembengkakan di wajah gadis tersebut.


Gadis itu membungkukkan badannya isyarat memberi salam pada seorang dokter yang berdiri di hadapannya, ia lalu duduk di bed agar memudahkan dokter memeriksanya.


Rosie tidak menaruh curiga apapun, namun ia tampak sedikit bingung dengan dokter yang hanya berdiri di depannya selama beberapa menit tanpa melakukan apa-apa.


Rosie menulis di atas kertas notenya.


"Doctor, What can I help you for checkup?"


Caesar berjalan mendekat dan membaca note tersebut.


Caesar bukan menjawab, ia malah hanya terpaku diam dan beralih melirik ke arah papan nama yang tertulis di white board yang terpasang di bed.


"Rosie...." Caesar bergumam sambil mengingat ucapan Shaila beberapa hari yang lalu.


(flashback)


"*Putrinya bernama Rosie. Dia dari Singapore juga. Rasanya dia dari keluarga yang kurang mampu. Pakcik sendiri bekerja sebagai tukang kebun dan tinggal di Panti Sosial yang dikelola rumah sakit ini. Jadi saat aku tahu dia berasal dari Singapore, aku sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluargaku."


"Dia pernah cerita bahwa dia memiliki donatur yang bertanggung jawab membiayai biaya pengobatan putrinya. Tapi dia tidak mau menceritakan kronologi apa yang menimpa putrinya. Dia juga tampak sangat insecure dan menutup diri dari orang lain. Bahkan rekam medik Rosie sendiri dimasukkan ke dalam data pasien khusus. Aku hanya tahu dia berada di instalasi perawatan tempatku bertugas, tapi hanya Profesor Nick dan asistennya yang diperbolehkan memeriksanya*."


(end)


Caesar kembali menatap wajah Rosie berusaha menemukan kemiripan dengan Jasmine, namun sia-sia. Caesar bahkan sudah hampir lupa dengan wajah Jasmine.


"Miss Rosie, I'm so sorry... I think I come in wrong room... Sorry for bothering you..."


Rosie hanya mengangguk. Lalu Caesar pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Melihat sikap dokter yang aneh tersebut, Rosie justru mulai curiga. Ini pertama kalinya ada seorang dokter yang baru menyadari salah masuk kamar, dan bahkan baru sempat melihat papan nama untuk mengecek nama pasien setelah menatap dirinya selama beberapa menit.


Rosie mulai cemas,


"Mungkinkah.... itu adalah orang yang dikirim Tuan Eric?"


Tangan Rosie gemetar hingga pensil dan buku notenya terjatuh ke lantai.


Gunawan tiba dan saat membuka pintu kamar, dia mendapati Rosie yang termenung di atas bednya. Pensil dan buku notenya pun terjatuh.


"Rosie... Ada apa?" Gunawan sambil memungut pensil dan buku note Rosie.


Rosie tidak menjawab.


"Apakah tadi ada seseorang yang datang?" Gunawan meletakkan note dan pensil di antara kedua tangan Rosie.


Rosie menulis,


"Tadi ada seorang dokter yang datang ke sini, dia tampak mencurigakan. Pada akhirnya dia hanya mengatakan kalau dia salah kamar."


Gunawan mengelus rambut Rosie,


"Kamu hanya merasa cemas sendiri karena terlalu terbawa suasana perasaan hatimu yang khawatir pada dokter Shaila tadi."


Rosie menggeleng, namun Gunawan berusaha menenangkannya.


"Tenanglah anakku, kamu jangan terlalu banyak memiliki kecemasan tak beralasan. Di sini ada banyak dokter, ada banyak ruangan, jadi wajar jika ada yang salah kamar. Sekarang istirahatlah..."


Rosie mungkin saat ini menuruti ucapan ayahnya. Namun dalam hatinya masih tak dapat dipungkiri bahwa ia masih dalam kekhawatiran.


***



***


Caesar baru keluar dari instalasi ruang perawatan pasien departemen ortopedi. Yang dia lihat barusan itu sangat jelas bahwa orang yang masuk ke kamar Rosie adalah Gunawan, ayah Jasmine.


"Itu memang Pak Gunawan.... Tapi siapa Rosie? Apakah Jasmine punya adik atau kakak perempuan? Kalau dilihat dari posturnya... Tapi saudara juga pasti punya postur yang sama. Lagipula saat terakhir kali Jasmine meninggal, dia masih berusia 14 tahun. Tubuhnya masih kecil. Tidak bisa dibandingkan dengan gadis yang tadi aku temui." Caesar terus bergumul dengan pikirannya sendiri.


Caesar berencana besok ia akan menemui Gunawan dan bertanya langsung padanya.


Caesar memutuskan kembali menuju apartmentnya. Sesampainya di apartment, Shaila sudah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


"Sudah lama menungguku?"


"Uh... tidak juga. Mungkin baru sekitar tiga puluh menit yang lalu."


"Maaf membuatmu menunggu...."


"No problem..."


Shaila melihat ekspresi Caesar yang tidak biasa. Biasanya Caesar selalu antusias bertemu dengannya. Namun kenapa hari ini seolah biasa saja.


Caesar sudah berganti pakaian dan makan bersama Shaila. Mereka makan dalam posisi duduk berhadapan di meja makan berukuran 2x1,5 meter.


"Baby, apakah pakcik yang waktu itu kamu ceritakan bernama Gunawan?" Caesar tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Shaila di saat mereka tengah makan.


"Aku tidak tahu siapa nama panjangnya. Yang aku pernah dengar dia dipanggil Mr. Wan... Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu? Kamu mengenalnya?" Shaila tampak penasaran.


Caesar tidak menjawab pertanyaan Shaila, ia malah terus memburu Shaila dengan pertanyaan lain.


"Apa kamu tahu mengapa putrinya di rawat di Miami Hospital? Juga terakhir kali kamu mengatakan bahwa putrinya dirawat di Miami Hospital atas bantuan donatur. Dari mana kamu mendapatkan informasi itu?"


"Kronologi lengkapnya aku tidak tahu. Ada yang mengatakan putrinya sudah bertahun-tahun di rawat di sana. Dan tentang donatur itu, aku dengar sendiri dari pakcik... Karena dia mengatakan kalau dia sendiri yang membiayai operasi putrinya, dia tak akan mampu."


"Bertahun-tahun???"


"Kenapa kamu jadi tertarik dengan masalah pakcik? Apa kamu mengenalnya?"


"Dia.... sepertinya adalah seseorang yang aku kenal.... Tadi saat aku mendatangi dokter Felix, aku melihat dia keluar dari sebuah kamar. Saat aku memastikannya lagi. Ternyata memang benar... Dia adalah ayah dari seorang teman."


"Teman? Man or woman?"


"Woman. Tapi kamu tidak perlu cemburu, dia sudah meninggal... enam tahun yang lalu..."


"Enam tahun lalu? Itu saat kamu masih belum masuk Harvard?"


"Ya.... dia adalah.... salah satu korban bom yang meninggal di sekolah kita enam tahun lalu."


"Astaghfirullah...." Shaila spontan mengucapkan istighfar mendengar jawaban Caesar.


"Namanya Jasmine, dia adalah teman wanita pertama yang dekat dengan Regal. Bisa dibilang dia mungkin cinta pertama Regal. Karena aku tidak pernah melihat Regal berusaha melindungi orang lain sebelumnya."


"Kalau dipikirkan lagi, tragedi itu sangat melekat di memori kita. Untuk pertama kalinya terjadi bom bunuh diri di sekitar sekolah. Saat itu aku yang sudah berada di Harvard pun juga mengikuti perkembangan berita itu. Cukup mengagetkan saat aku tahu Regal adalah salah satu korbannya."


Caesar hanya terdiam dan tatapan matanya kosong. Shaila tahu Caesar memang sudah lama tidak pernah membahas itu. Apalagi kejadian itu juga menjadi titik balik bagi Caesar.


Caesar memutuskan untuk menarik saham dari Shine Group kemudian digunakan untuk mengakuisisi perusahaan partner, demi melepaskan diri dari Shine Group. Agar Shine Group seutuhnya memiliki satu successor, yaitu Regal.


Caesar sudah banyak berkorban demi adiknya untuk menebus kesalahannya saat itu. Bahkan Caesar harus masuk ke Harvard saat semester genap, karena enam bulan sebelumnya ia harus membantu orang tuanya memulihkan Regal.


Shaila menggenggam tangan Caesar.


"Maaf kalau aku membuatmu mengingat kembali kejadian itu, baby..."


Caesar hanya tersenyum,


"Fine... The past has passed away... Sekarang kita telah menjalani masa depan... Besok ikut aku menemui Pak Gunawan di rumah sakit..."


Shaila mengangguk sambil tersenyum.


----------------------------------------


"Caesar sudah hampir satu semester ini internship di Miami Hospital. Kenapa kamu tidak memberi tahuku, Xing?" Eric meremas kertas yang ada di tangannya.


"Maafkan saya Tuan, saya juga baru mengetahuinya. Dari informasi yang saya dapatkan beberapa bulan yang lalu bahwa Tuan Caesar internship di Massachusetts Hospital."


"Kenapa kamu tidak antisipasi hal itu? Mereka berada di satu negara!"


"Kami sudah berusaha Tuan. Pada awalnya Rosie dirawat di John Hopkins Hospital, karena Rumah Sakit itu hanya menerima dokter lulusan dari medical college John Hopkins University, jadi sangat kecil kemungkinan Tuan Caesar yang merupakan lulusan medical college Harvard University, akan bertugas di sana. Tapi karena kondisi Rosie juga terus membaik, maka kami putuskan untuk memindahkan Rosie ke Rumah Sakit pinggiran USA yang lokasinya lebih jauh dari Boston. Karena kami juga terus memantau pergerakan Tuan Caesar."


"Kalau kamu terus memantau kenapa bisa terjadi hal semacam ini? Cepat atau lambat, dia akan bertemu dengan Gunawan..."


"Mengingat Rosie dan Gunawan sudah memiliki identitas baru, saya rasa Tuan Caesar tidak semudah itu...."


"Kamu pikir Caesar sebodoh itu?"


Sejenak ruang study Eric hening.


"Pindahkan Rosie ke rumah sakit lain. Entah di manapun itu."


"Kami akan coba menghubungi Pak Gunawan dan pihak rumah sakit."


"Dan jangan lupa untuk memblokir informasi data tentang rekam medik Rosie. Hubungi professor Nick!"


Xing meninggalkan Eric di ruang study.


Sementara Eric, masih terus memikirkan apa yang akan terjadi jika Caesar tahu Jasmine masih hidup dan bertemu dengannya tanpa sempat ia bisa mencegahnya.


Eric bahkan tak bisa membayangkan jika Regal sampai mengetahuinya.


"Mungkinkah ini sudah saatnya? Tapi aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat?"


------------------------------------------


Keesokan harinya,


Shaila dan Caesar berjalan menuju gedung instalasi perawatan pasien departemen ortopedi, mereka berdua akan menemui Gunawan.


"Kenapa kamu terlihat gugup, baby? seperti akan bertemu calon mertua..." goda Shaila.


"Tentu saja aku akan lebih gugup bertemu dengan orang tuamu..." Caesar membalas Shaila


"Maksudmu???!" Shaila tampak tersipu tapi ia pura-pura marah pada Caesar.


"Tak perlu ku jelaskan, kamu sudah mengerti. Wajahmu sekarang terlihat seperti udang rebus. hahaha...."


"Ihhh... sangat menjengkelkan!"


Caesar dan Shaila saling bercanda sepanjang perjalanan menuju gedung departmen ortopedi. Orang yang sekilas melihatnya pun juga bisa mengerti mereka sudah sangat begitu akrab tanpa sungkan satu sama lain. Bahkan meskipun Caesar lebih muda satu tahun dari Shaila. Ia tetap memanjakan Shaila sesekali. Begitupun dengan Shaila yang juga hampir melupakan jarak usia di antara mereka berdua.


Sesampainya Caesar dan Shaila di departemen ortopedi, mereka langsung menuju instalasi perawatan dan mengarah ke kamar yang ditempati Rosie.


Sebelum Caesar dan Shaila memasuki kamar Rosie, Shaila menahan gagang pintu kamar lalu menanyai Caesar. n


"Apa kamu sudah siap bertemu dengan pakcik, baby? Semoga saja dia adalah orang yang sesuai dengan apa yang kamu pikirkan....."


Caesar mengangguk,


"Ya, semoga saja dia adalah benar Pak Gunawan..."


Saat Caesar memberi tanda agar Shaila segera membuka pintu, Shaila pun langsung bertindak.


Seketika Caesar dan Shaila terpaku melihat apa yang ada di depan mata mereka.


Kamar Rosie kosong!


"Apa? Kenapa bisa jadi begini? Baru semalam aku melihat langsung gadis itu di sini, dan Pak Gunawan berpapasan denganku dan masuk ke kamar ini...."


Caesar tampak shock dengan apa yang dia lihat. Kamar yang saat ini ada di depannya tampak bersih dan rapi. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan seperti semalam yang dia lihat.


Caesar menuju kamar mandi dan membukanya, di sana pun juga sudah bersih. Bahkan tempat sampahnya juga bersih.


Caesar membuka lemari, di sana juga bersih. Hanya tinggal aroma desinfektan.


"Aku yakin mereka pasti sudah meninggalkan tempat ini beberapa jam yang lalu. Bahkan tempat ini semuanya sudah disterilkan."


"Tenang baby, mungkin saja mereka hanya pindah kamar atau pindah departemen. Kita tanyakan saja pada nurse yang berjaga di lobi instalasi.


Shaila dan Caesar pun segera menuju lobi ruang instalasi. Dan pada saat mereka menanyakan kepada nurse yang berjaga, jawaban yang mereka terima,


"the patient is not recorded in this hospital..."


"What??? How could? They have move from here?" Caesar semakin tampak terbawa emosi.


"I'm so sorry... I no have information yet anymore about her..."


"Please check again. Last night I just visited them..."


Caesar memaksa nurse tersebut untuk kembali mengecek di komputernya. Nurse tersebut menuruti saja yang diinginkan Caesar. Namun hasilnya tetap nihil. Bahkan Caesar yang sudah tidak sabar pun sampai mengetik sendiri, mengecek sendiri, namun hasilnya...


"Data not found"


Caesar hanya bisa mendengus dan menunduk dengan posisi bahu yang hanya disangga dua lengannya yang tertahan tegak di atas meja.


Caesar tak habis pikir bagaimana bisa secepat itu mereka bergerak. Baru saja semalam Caesar melihat sendiri kondisi gadis bernama Rosie itu wajahnya masih mengalami pembengkakan sekalipun sudah terbalut dengan perban. Tidak akan mungkin gadis itu dan Pak Gunawan yang hanya berdua bisa pergi begitu saja. Tentunya rumah sakit tidak akan mengijinkan.


"Sudahlah baby, mereka tidak tahu apa-apa. Yang paling tahu di mana mereka adalah dokter yang menanganinya. Kita harus bertanya ke dokter Felix dan Profesor Nick."


"Tapi apa kamu yakin mereka akan memberi tahu kita?"


Shaila menggeleng.


"Aku tidak yakin. Tapi aku yakin mereka pasti tahu alasan terkait kerahasiaan seluruh informasi data Rosie. Aku bahkan tidak bisa mengakses data medical record Rosie. Padahal dengan id-ku, aku selalu bisa mengakses medical record pasien di seluruh rumah sakit ini."


Mendengar ucapan Rosie, Caesar semakin tak bisa membendung rasa penasarannya.


"Terakhir kali kamu mengatakan mereka memiliki donatur, bukan? Apa kamu yakin dia mengatakan seperti itu?"


Shaila sebenarnya sangat yakin dengan apa yang dia dengar dari Gunawan pada saat itu. Tapi melihat tatapan Caesar dengan mata yang sangat tajam membidik bagaikan siap menembak Shaila jika ia sampai salah bicara. Shaila mengangguk perlahan sambil mengedipkan matanya karena sedikit takut dengan tatapan Caesar.


"Dan lagi...." Shaila ragu-ragu untuk menggerakkan mulutnya.


Caesar menunggu apa yang hendak diucapkan Shaila dengan tatapan mata yang masih sama. Membuat Shaila menciut.


"Apa?"


"Dan lagi... kita bisa bertanya pada tukang kebun teman kerja pakcik sesama tukang kebun."


Shaila bergeming, sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan pada Caesar.


***



***


------------------------------------------


Kata Penutup


Rupanya Caesar masih belum berhasil bertemu dengan Gunawan. Tapi apakah sebenarnya Caesar sudah mulai curiga siapa Rosie?


A. Sepertinya tidak, dia masih mengira Rosie adalah kakak atau adiknya Jasmine.


B. Mungkin saja, tapi Caesar masih perlu mencari bukti kebenarannya.


C. Tentu saja tidak. Caesar realistis. Dia tahu Jasmine sudah meninggal.


D. Pasti sudah curiga, Caesar tidak bodoh. Dia orang yang analitis.


---------------------------------------


Halo kawan-kawan, di manapun kalian berada,


STAY SAFE & KEEP HEALTH


***



***


**Halo sobat pembaca


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️****