
***
Kebimbangan
Hari berikutnya,
Eric, Mama Julia, Erica dan bersama jajaran komisaris mengadakan rapat internal untuk penyerahan saham kepada Nana secara resmi. Nana didampingi beberapa lawyer yang dulu pernah menjadi bagian dari Widjaya Group.
Moment ini terasa de javu seperti tujuh tahun lalu saat Shine Group mengakuisisi Widjaya Group. Namun situasinya sekarang berbeda.
Eric yang dulu menatap Nana dengan pandangan setajam mata elang dan mencaci Nana dalam hati sebagai wanita dingin yang munafik. Kini justru ia melihat Nana dengan pandangan seorang suami yang iba melihat istrinya, tatapannya mengisyaratkan ungkapan dalam hatinya,
"Kamu tidak perlu bersikap seperti ini terhadapku Nana, aku akan dengan rela menyerahkan seluruh hidupku untukmu."
Nana masih sibuk memeriksa setiap dokumen yang ada di depannya bersama para lawyernya. Dia sebenarnya merasa bahwa Eric sedang menatapnya, namun ia hanya mengabaikan begitu saja.
Selama proses meeting, beberapa dewan komisaris banyak yang memberikan pertanyaan interogatif pada Nana. Tentu saja Nana yang baru pulih tidak banyak memberi penjelasan. Namun selalu saja Eric melindungi dan membela Nana.
"Saya pikir ini terlalu awal jika kita memutuskan posisi Nana. Karena selama satu tahun absennya di perusahaan ini, apa bisa dia menangani masalah yang sedang berlangsung maupun yang akan datang? Bahkan kita sudah banyak melakukan reshuffle untuk beberapa jabatan." Salah satu dewan komisaris beropini.
"Iya benar, seperti yang sudah terjadi beberapa waktu lalu, meski Eric terjegal skandal, namun justru elektabilitasnya di mata asosiasi pengusaha dan perusahaan investment masih sangat kuat. Ini menunjukkan tidak ada yang mampu dibandingkan dengan Eric sejauh ini." Dewan komisaris lainnya turut menimpali.
"Cukup...." Mama Julia menengahi
"Kita tidak akan terlalu jauh membahas posisi apa yang akan kita berikan pada Nana. Maksud Eric disini, dia hanya akan menyerahkan hak saham itu kepada Nana." lanjut Mama Julia.
"Tapi jika hak saham itu diambil alih, otomatis Nana memegang posisi terkuat. Posisi apa yang lebih kuat dari Presiden Direktur?" salah satu Dewan menyanggah.
Nana tidak tahan dia terus dipojokkan. Dia baru menyadari betapa kuatnya posisi Eric baik secara personal maupun kapabilitasnya di mata Dewan komisaris. Tentunya itu karena kharisma Eric yang mampu memberikan pengaruh luar biasa dalam menarik para shareholder dan perusahaan investment.
Kali ini Eric berdiri,
"Saya rasa perlu memberikan penjelasan disini. Saya sudah menawarkan posisi Presdir kepada Nana, namun ia hanya mengatakan bahwa posisi yang diinginkannya hanya menjadi Direktur Utama Widjaya Group. Namun karena hak saham yang dipegangnya saat ini juga menyangkut saham Shine Group, maka dia juga tidak bisa lepas tangan. Maka dari itu, biarkan Nana sendiri yang menentukan jabatan yang dia inginkan di Shine Group."
Para dewan komisaris menjadi saling berpendapat dan membuat argumen masing-masing.
Eric melihat wajah Nana yang semakin pucat, dia sebenarnya tidak tega melihat Nana yang terus terpojok. Dia harus melakukan sesuatu.
"Nana mungkin selama absen dalam satu tahun ini banyak kehilangan momen mengikuti perkembangan perusahaan kita. Maka setidaknya kita akan memberikan kesempatan padanya menjabat posisi sebagai wakil Presiden Direktur Shine Group."
"Tapi Eric..." salah satu paman Eric berusaha menyanggah,
"Satu lagi...." Eric segera meneruskan kalimatnya.
"Semalam saya sudah bertemu dengan Tuan Lee Hsien bahwa saya menyetujui untuk bergabung dengan parlemen kabinetnya selama era pemerintahannya."
Mama Julia tersenyum mendengar statement Eric. Beberapa dewan komisaris tampak tersenyum puas dengan keputusan Eric bergabung dalam parlemen kabinet Perdana Menteri Lee. Namun ada juga yang merasa tidak puas dengan keputusan Eric memberikan jabatan kepada Nana.
"Tujuan saya bersedia bergabung dengan kabinet Tuan Lee Hsien karena memang ingin menguatkan akar Shine Group. Selama kita tidak bersentuhan dengan pelanggaran hukum dan ilegalitas, siapapun tidak akan berani menyentuh kita."
"Dan tentu saja, kita tidak perlu khawatir dengan eksistensi Shine Group, karena selama kita berurusan dan berkontribusi pada negara, akan semakin memberi pengaruh yang positif di mata internasional. Jadi siapapun yang menjabat sebagai Presiden Direktur Shine, selama kita bisa memberi pengaruh pada negara, itu tidak akan masalah. Asalkan kita tetap di jalur yang legal." Mama Julia menambahkan.
Nana tidak bisa menyembunyikan lagi ekspresinya. Eric memang sosok yang tidak ada habisnya membuat Nana tercengang.
"Sekuat itukah powermu Eric Shine.... Bahkan meski aku mengambil semua yang kamu miliki, aku tetap tidak bisa menjatuhkanmu." Nana bergumam dalam hati sambil terus menatap Eric dengan tatapan matanya yang tajam.
Sesaat Eric menatap Nana yang sedang menatapnya, namun Nana buru-buru memalingkan wajahnya. Eric hanya tersenyum melihat ekspresi Nana.
Dalam senyum Eric menyiratkan ungkapan kepada Nana,
"Kamu bisa mengandalkan aku, Nana.... Aku bisa melindungi dan menjagamu...."
--------------------------------
Beberapa hari kemudian,
Eric sedang berada di ruang kantornya bersama Richo dan beberapa karyawan yang membantunya menata beberapa berkas dan barang-barang.
"Tuan Eric, Nyonya Nana ingin bertemu dengan anda..." Jessica tiba-tiba masuk.
"Persilahkan dia masuk." Eric tampak senang mendengar Nana menemuinya.
"Apa kabar kak Eric, maaf aku mengganggumu... Aku kemari untuk meminta surat kuasa penyerahan semua dokumen laporan perusahaan selama satu tahun. Tadi aku ke bagian umum, mereka bilang aku harus menghadap ke dirimu dulu."
"Apa kabar Nana, senang bertemu kembali. Benar, aku yang mengintruksi. Karena memang ada beberapa dokumen rahasia yang secara personal ingin aku serahkan padamu. Richo, suruh mereka keluar dulu.
Eric menyuruh Richo, beberapa karyawan dan sekretaris Eric yang dari tadi di ruangan itu untuk keluar. Tanpa banyak kata mereka semua keluar, hingga tinggal Nana dan Eric berdua di ruangan tersebut.
Eric lalu memberikan hard disk kepada Nana.
"Ini Nana, semuanya sudah direkap di dalam. Termasuk laporan yang bersifat rahasia yang hanya diketahui oleh Presiden Direktur. Jadi begini Nana, setiap perusahaan memiliki daftar blacklist beberapa perusahaan untuk bekerjasama, perusahaan kompetitor yang membahayakan perusahaan kita, case yang masih dalam proses penyelidikan, serta nama-nama direktur dari perusahaan lain yang perlu kita waspadai, semuanya sudah ada disitu."
Nana melirik hard disk di depannya,
"Kenapa kamu percaya padaku? Apa kamu yakin aku bisa menanganinya?"
"Aku percaya...." Eric menjawab mantap sambil tersenyum.
"Jadi kak Eric benar-benar percaya bahwa aku akan membawa kemajuan bagi Shine?"
"Jika tidak percaya kepadamu, lalu kepada siapa? Selama aku tidak disini, kamu yang akan menangani semua urusan perusahaan. Setidaknya aku percaya kamu tidak akan berniat menghancurkan Shine."
Nana tersenyum sinis,
"Kamu berusaha percaya padaku karena statusku masih istrimu. Bagaimana jika posisiku sebagai mantan istrimu, apa kamu masih akan percaya padaku?"
Eric mengeryitkan dahinya, lalu Nana melanjutkan ucapannya,
"Sebenarnya aku kemari juga untuk menagih surat perceraian yang sudah kamu tanda tangani."
Sejenak Eric diam, dia berpikir pasti Brian yang memberi tahu Nana tentang surat perceraian itu. Namun Eric juga tidak menyalahkan Brian karena Nana juga berhak tahu.
"Jadi kamu sudah tahu? Suratnya ada di rumah. Nanti aku akan mengantarkannya padamu, atau aku akan menjemputmu untuk mengambilnya di rumah?"
"Aku mau bertemu di kantor saja besok."
"Tapi Caesar juga pasti senang melihatmu..."
"Setiap hari aku bertemu dengan Caesar di sekolahnya... Tolong jangan mencari alasan dengan mengatas namakan Caesar."
"Ya... aku tahu. Tapi kita belum pernah berkumpul bertiga sejak kamu kembali dari Amsterdam. Tidak ada salahnya kita makan bersama satu meja sebagai keluarga. Aku akan menjemputmu besok malam. Karena nanti malam aku ada pertemuan dengan Tuan Lee."
"Keluarga? Keluargaku hanya Caesar."
"Tapi aku adalah ayahnya Caesar, kita juga belum resmi bercerai. Surat itu masih belum sampai ke meja hijau."
"Kenapa kamu sangat arogan?"
Mendengar ucapan Nana, Eric melangkah mendekati Nana. Namun Nana tidak gentar dan tetap berdiri tegak.
"Nana.... aku tidak tahu apa yang mendasarimu berubah kasar seperti ini. Jika itu karena kamu yang tidak bisa mengatasi dilema dan kebimbangan hatimu, kenapa kamu tidak berusaha mencari tahu dan mengikuti hati nuranimu...."
"Yang aku lakukan saat ini adalah mengikuti hati nuraniku."
Eric menggeleng,
"Aku sangat mengenalmu, ini bukan seperti kamu. Sebenarnya apa yang kamu butuhkan? apa yang kamu inginkan?"
"Kebutuhan dan keinginanku adalah mengambil kembali hak orangtuaku, dan membalas semua yang kamu lakukan pada mereka...."
"Itu bukan keinginanmu. Mereka sudah tidak ada, urusan mereka tidak ada hubungannya dengan yang kamu lakukan disini. Sekarang tatap mataku, tanya dalam hatimu sendiri, apa yang kamu butuhkan dan kamu inginkan?"
Nana memalingkan wajah menghindari tatapan Eric.
"Jawab dalam hatimu Nana, apa kamu benar-benar ingin hidup dengan cara seperti ini? Apa yang sebenarnya kamu inginkan jauh di lubuk hatimu, Nana?"
"Aku tidak perlu menjelaskan padamu kak Eric..."
"Jika kamu memang ingin membalasku, jangan memilih cara hidup seperti ini, melihatmu menjadi penuh ambisi dan kebencian seperti ini justru akan menyakiti dirimu sendiri. Aku tahu kamu sebenarnya tidak memiliki kebencian itu."
Nana melangkah menghindar, namun Eric meraih bahu Nana dan menghadapkan wajahnya. Wajah mereka saling berhadapan, dan mata mereka saling bertatapan.
"Apa benar-benar sudah tidak ada sedikitpun ruang di hatimu yang bisa aku ketuk kembali? Jika memang kamu memilih Brian, aku bisa mengalah. Tapi caramu membalas dendam seperti ini, itu akan membuatku sakit karena melihatmu tersiksa. Aku bukan orang yang harus kamu lawan, Nana....."
"Semua sudah terlambat kak Eric, semua sudah terlambat.... Aku tidak akan bisa kembali padamu. Dan aku juga tidak mau terus hidup dalam bayang masa lalu bersama kak Brian."
"Apa itu yang benar-benar kamu inginkan?"
Nana tidak bisa menjawabnya, Eric semakin yakin bahwa Nana saat ini memang sedang bimbang dengan dirinya sendiri.
"Apa yang kamu butuhkan Nana?"
Eric melangkah mendekati Nana, dia meraih bahu Nana.
"Lepaskan aku kak Eric,..."
"Tidak." Eric menjawab kalem.
"Lepaskan!!!"
Nana menggigit tangan Eric yang sedang menggenggam bahunya hingga berdarah. Eric sama sekali tidak goyah. Dia berusaha menahan sakit dan tidak dirasakannya.
Nana berteriak dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Apa salahku padamu?! Kenapa kamu begitu kejam! Kamu menghancurkan aku lalu datang dengan segala bentuk sikap yang membuatku bimbang! Aku sangat ingin membencimu!!!"
Nana menampar wajah Eric hingga berkali-kali dengan tangis yang sudah tidak bisa ia tahan.
Eric memegang wajah Nana dengan lembut lalu mengecup pipi Nana yang sudah basah. Nana membiarkan sentuhan Eric menenangkan dirinya.
"Nana, maafkan aku... Jangan kamu siksa dirimu seperti ini, kita bisa mulai dari awal lagi."
"Tidak mungkin, aku tidak akan mungkin kembali padamu...." Nana menggeleng.
"Berikan aku kesempatan sekali lagi untuk bisa membuktikan bahwa aku layak menjadi suami untukmu, dan ayah bagi anak-anakmu."
"Tidak.... semuanya sudah terlambat."
Nana melepaskan tangan Eric yang memegang wajahnya,
"Tolong lain kali jangan bersikap seperti ini padaku. Besok aku harap kamu membawa surat perceraian itu."
Nana lalu berjalan pergi setelah mengusap air mata di pipinya.
Eric terduduk lemas, melihat Nana pergi. Dia memang selalu lemah, selemah-lemahnya sebagai pria jika harus berhadapan dengan Nana. Hatinya sudah tidak bisa lepas dari Nana.
Sebenarnya sejak dia pertama kali berhubungan dengan Nana, Eric merasakan bahwa Nana adalah wanita yang mampu membuka hatinya. Namun Eric selalu memungkirinya.
Dan lima tahun hidup bersama Nana sejak kelahiran Caesar, rasa cinta itu sudah tumbuh. Namun karena kekhilafan sesaat bersama Edis membuatnya merusak kebahagiaan yang telah ia bangun sendiri.
Seandainya malam sialan itu tidak pernah terjadi....
--------------------------------
Siang itu Nana membaca setiap dokumen yang ada di dalam hard disk yang diberi oleh Eric.
Nana baru menyadari jika Eric memang orang yang visioner dalam mengatasi masalah di perusahaannya, wajar jika ia memiliki power yang sangat kuat baik di internal Shine Group maupun bagi relasi yang bekerja sama dengan Shine Group.
Namun Nana masih belum menemukan titik kelemahan Eric yang bisa dijadikan Nana untuk menjatuhkan Eric.
Hingga pikiran Nana akhirnya terfokus pada satu hal.
Nana langsung merapikan laptopnya dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
---------------------------------
Nana mendatangi sebuah tempat yang baru pertama kalinya ia datangi.
Sebuah Rumah Sakit Jiwa.
Nana berdiri di depan jendela sebuah kamar pasien yang disana tampak seorang wanita yang usianya sekitar 30 - 33 tahun. Nana melihat wanita itu duduk diam meringkuk sambil menulis beberapa coretan tidak jelas di kertas.
"Jadi dia adalah wanita bernama Edis?" dalam hati Nana.
Tidak berapa lama, seorang wanita paruh baya datang melihat Nana lalu menghampirinya.
Di sebuah tempat duduk di taman, Nana duduk bersama seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya Edis.
"Tujuan saya sebenarnya ingin meminta kerjasama dari anda agar bisa meminta tuntutan kepada Eric Shine atas keterlibatannya dalam kasus yang menimpa putri anda, Edis. Sejujurnya, saya baru tahu jika Eric Shine adalah orang yang sekejam itu pada putri anda..."
Ibunya Edis hanya tersenyum lembut.
"Maaf Miss, kami sudah menjalani hidup tenang selama hampir satu tahun ini. Kami tidak mau lagi mengusik keluarga Shine, apalagi jika dikaitkan dengan masa lalu putri saya. Sebenarnya, bukan keluarga Shine yang berdosa pada kami, tapi kami-lah yang berdosa pada keluarga Shine. Ini adalah masalah yang terjadi sangat lama sekali di antara keluarga saya dan keluarga Shine."
Nana terdiam dengan apa yang diucapkan ibunya Edis.
Apa maksudnya dengan dosa masa lalu.
Nana menjadi semakin penasaran.
"Kalau boleh tahu, masalah apa yang terjadi antara keluarga anda dan keluarga Shine?"
Sekarang giliran ibunya Edis yang penasaran.
"Maaf Miss, kalau boleh tahu anda siapa?"
Nana menundukkan kepalanya dengan menghela nafasnya.
"Nama saya Alina Widjaya, saya adalah mantan istrinya Eric Shine." ucap Nana dengan suara lirih.
Ibunya Edis terbelalak kaget, dia menutup mulutnya yang hampir menganga dan matanya yang tampak berkaca-kaca. Ibunya Edis langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung menjatuhkan dirinya dengan menekuk lututnya di hadapan Nana.
Nana sangat terkejut dengan respon ibunya Edis yang tiba-tiba bersimpuh di hadapannya.
"Nyonya, apa yang anda lakukan?!"
Nana hampir mau berdiri dari tempat duduknya menghindari ibu Edis. Namun ibunya Edis memegangi lutut Nana sambil menundukkan kepalanya sehingga ia tidak bisa berdiri.
"Miss.... jadi anda adalah istrinya Tuan Eric?Tolong ampuni kami miss.... tolong maafkan kami...."
Ibunya Edis sesenggukan di hadapan Nana. Nana lalu mendudukkan ibunya Edis di sampingnya.
"Nyonya.... kenapa anda bersikap seperti ini?"
"Miss.... kecelakaan yang terjadi saat itu benar-benar tidak disengaja. Edis mengira bahwa yang di dalam mobil saat itu adalah Tuan Eric Shine, dia tidak bermaksud mencelakai keluarga anda..."
"Nyonya.... apa maksud anda? Bisakah anda jelaskan pada saya pelan-pelan?"
"Sebenarnya beberapa saat sebelum terjadi kecelakaan, saat itu memang Eric dan Edis sedang bertengkar. Edis yang tidak ingin ditinggalkan oleh Eric, dia memohon agar Eric tidak meninggalkannya. Namun Eric lebih memilih mencintai istrinya yang saat itu sedang koma. Eric yang merasa bersalah karena dia yang menyebabkan istrinya koma, dia berusaha untuk menebus kesalahannya dan mengabdikan dirinya demi istrinya, yaitu Miss Nana...."
"Apa memang begitu yang anda dengar?"
Ibunya Edis mengangguk, lalu menyeka air matanya dan melanjutkan kalimatnya.
"Edis saat itu merasa putus asa karena dia tidak memiliki harapan untuk kembali pada Eric. Sehingga dia ingin bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke mobil Eric yang kebetulan saat itu dia lihat akan keluar dari parkir, saat dia berlari menuju mobil ternyata di dalamnya adalah bukan Eric Shine, melainkan ibu dan kakak Miss Nana, mereka yang terkejut karena melihat Edis yang tiba-tiba berlari ke depan mobil, berusaha menghindari Edis dan banting setir, sehingga terjadilah kecelakaan tragis itu."
Ibunya Edis menggenggam kedua tangan Nana dan mencium tangan Nana.
"Maafkan saya Miss.... Saya yang tidak bisa mencegah Edis melakukan semua dosa ini... Sejak awal saya tidak pernah setuju dengan hubungan mereka karena memang dosa kami terhadap keluarga Shine sangat besar. Ayah Eric meninggal karena ada hubungannya dengan perbuatan suami saya yang membawa lari uang perusahaan di saat Shine Group hampir bangkrut. Kami sudah tinggal di Hongkong selama beberapa tahun, tapi Edis malah kembali ke Singapore dan masuk ke perusahaan Shine menjadi sekretaris Eric. Dan saat Nyonya Julia menyuruh kami menjauhi Eric, karena Eric akan dijodohkan dengan Miss Nana, saya memutuskan untuk tinggal di Melbourne dan menjalani hidup tenang selama beberapa tahun. Namun rupanya obsesi Edis terhadap Eric masih belum usai, dia kembali ke Singapore dan mengemis cinta pada Eric yang saat itu sudah hidup bahagia bersama istri dan anaknya."
"Nyonya.... Kenapa anda mengatakan semua ini pada saya seolah anda membela Eric Shine? Anda tidak melakukan pembelaan apapun terhadap putri anda...."
Ibunya Edis menghela nafas panjang dan kali ini dia menatap mata Nana.
"Miss Nana... ini semua adalah karma untuk keluarga saya. Dari awal obsesi Edis terhadap Eric adalah obsesi yang salah. Sedangkan hubunganmu dengan Eric Shine adalah sebuah ikatan suci.... Saat kembali dari Melbourne, Edis sering bercerita pada saya bahwa Eric sudah berubah. Dia mengatakan bahwa Eric sudah mulai jatuh cinta pada istrinya, bahkan saat malam sebelum Miss Nana mengalami kecelakaan tragis itu karena memergoki mereka di hotel Marina, sebenarnya Eric tidak ingin melakukan apa-apa, dia hanya ingin pulang karena mengkhawatirkan istrinya di rumah. Namun entah iblis apa yang merasuki Edis sehingga dia dengan lancang mengangkat telepon darimu. Eric yang saat itu mengetahui Miss Nana datang, dia sangat marah pada Edis karena menyebabkan kesalahpahaman diantara kalian. Eric mengejar Miss Nana dan meninggalkan Edis di hotel sendirian meski Edis memohon-mohon pada Eric. Terlebih saat Miss Nana mengalami kecelakaan tragis hingga koma. Kebencian Eric terhadap Edis semakin mendalam sampai ke pembuluh darahnya...."
Nana hanya terdiam dan membisu mendengar semua ucapan ibunya Edis.
"Saya melihat sendiri dengan jelas aura kebencian Eric terhadap Edis saat dia datang bersama polisi saat mengetahui Edis yang menyebabkan kecelakaan yang menimpa ibu dan kakak Miss Nana, dia bahkan mencekik Edis hingga hampir tewas, meski saat itu kondisi mental Edis sudah depresi berat...."
"Nyonya.... saat ini saya dan Eric Shine sedang dalam proses bercerai.... sepertinya semua cerita anda pada saya tidak akan mengubah keadaan apapun...."
"Miss.... segala keputusan memang ada pada kalian. Tapi setahu saya, Eric Shine sangat mencintaimu.... Dan statemennya di konferensi pers beberapa bulan lalu, dia mengatakan bahwa dia tidak akan bercerai denganmu, karena dia sangat mencintai keluarganya...."
***
***
Nana masih merenungi ucapan ibunya Edis kepada dirinya.
Dia sama sekali tidak menyangka tujuannya untuk mendatangi Edis dengan maksud ingin menjadikannya sebagai senjata untuk menjatuhkan Eric, tapi malah mendapatkan kenyataan yang tidak terduga.
Jika saja yang mengatakan semua itu adalah Erica, atau Mama Julia, atau Brian, mungkin Nana akan mudah menyangkalnya dan berdalih karena mereka memang orang yang membela Eric.
Namun yang tadi bercerita dan mengatakan semua kenyataan itu adalah ibunya Edis, orang yang seharusnya membenci Eric. Tapi kenapa dia malah justru mengatakan hal seperti itu pada Nana.....
Kebimbangan ini terus menghantui pikiran Nana,
Jika ia meyakini Eric mencintainya, lalu kenapa Eric ingin bercerai dengannya....
Nana hanya berusaha memainkan pikirannya dan berusaha mengaitkan semua kesimpulan....
--------------------------------
Bagaimana Nana akan mendapatkan jawaban atas kebimbangan hatinya?
Apakah akhirnya Nana bisa kembali bersatu dengan Eric???
NANTIKAN EPISODE TERAKHIRNYA
BESOK!!!!
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik:
"Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....