I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] PARANOID



Psikiatri... Psikolog... Mereka terus datang padaku.


Memangnya ada apa denganku?


Aku tak pernah merasa bermasalah dengan setiap tindakanku.


Mereka selalu berusaha menjadikan aku seperti pemikiran mereka.


Aku sering mendengar mereka mengatakan bahwa pikiranku salah.


Aku tak tahu bagian mananya yang salah?


Aku hanya merasa ketakutan, aku hanya ingin melenyapkan sesuatu yang membuatku ketakutan.


Tapi mereka mengatakan tidak terjadi apa-apa.


Dan berusaha memalingkan pikiranku bahwa aku baik-baik saja.


Padahal kenyataannya...


Aku selalu merasa kehilangan, ada hal yang telah dirampas paksa dari hidupku.


Dan bagi mereka, seolah itu bukan apa-apa.


***



***


Regal...


Regal...


Regal...


"Suara itu?" Regal tersentak dan membuka mata terbangun dari tidurnya.


Seketika kepala Regal terasa sangat berat, telinganya berdenging, dan pandangan matanya samar-samar melihat cahaya yang terbias dari tirai jendela kamarnya.


Regal melihat sekeliling, setiap sudut kamarnya.


"Hah.... mimpi itu datang lagi...!" Regal menunduk sambil mengoyak rambutnya dengan beringas.


Ini sudah 6 tahun yang lalu,


Tapi setiap kali aku tidur sendirian, aku selalu mendengar suaranya seolah terus memanggil namaku.


"Aaaarh!!! Kenapa kamu tidak lelah menggangguku!" Regal memukul-mukul kepalanya hingga bantal di sekitar kepalanya terkoyak.


Sejenak Regal berhenti.


Dia menghadap ke sebuah guling yang posisinya sejajar dengan wajah Regal.


Wajah Jasmine seolah tertampil dari kepala Regal dan terpantul ke guling tersebut hingga Regal seolah melihat setiap detail garis wajah Jasmine terukir di guling.


Regal menangis.


"Maafkan aku Jasmine... Aku tidak tahu harus bagaimana.... Semakin aku menyesali semuanya, semakin rasa bersalah yang menyakitkan ini terus menggangguku. Sedetik pun aku tidak pernah merasa tenang.... Bahkan aku tidak tahu di mana jasadmu, begitupun aku tidak menemukan jejak keberadaan ayahmu. Aku takut Jasmine.... Setiap kali ingatanku melemparkan aku ke masa lalu, aku selalu merasa lemah dan tak berdaya menahan rasa sakit ini...."


Regal terus sesenggukan menangis di hadapan guling yang tergeletak di depan wajahnya.


"Sekarang aku punya kekuatan, aku punya segalanya, tapi kenapa aku tak mampu mengembalikan dirimu... kenapa aku tak mampu melenyapkan rasa sakit yang tak jelas ini....!!!"


Bukkk... Bukkk... Bukkk...


Kali ini Regal memukul-mukul dadanya yang mulai terasa sesak.


"Aaaarrrgh!!! Apa kamu tahu rasanya hidup seperti ini!!!"


Regal berteriak pada guling yang tak bergerak.


Wajah Regal berangsur memerah seolah lapisan daging wajahnya hampir setengah matang. Tiba-tiba suara parau sesenggukan Regal berganti dengan suara isakan yang semakin lama terdengar seperti derik tawa.


Regal mengangkat dagunya hingga menengadah ke atas dan tertawa sambil menunjukkan seringai barisan gigi-giginya.


"Hahahaha... Hahahaha... Apa aku sudah gila..." Regal terus tertawa terpingkal hingga tubuhnya terjatuh dari atas ranjang tempat tidur.


"Ahh... Hahahaha... Mana mungkin orang yang sudah mati akan merasakannya. Tentu saja aku sudah gila jika aku berbagi curahan hati denganmu..." Regal menundukkan wajahnya kembali.


Air matanya tak bisa berhenti mengucur meski ia sedang tertawa. Semuanya berlangsung selama beberapa saat, hingga kemudian Regal sejenak terdiam dan suasana menjadi hening.


"Maafkan aku Jasmine... Maafkan aku...."


Akulah manusia yang paling berdosa kepadamu. Tapi aku berusaha menyangkalnya dan mencari kambing hitam orang lain....


Agar aku bisa hidup tenang....


____________________________


Satu bulan kemudian...


Klak!


"Aku bisa saja memberi resep itu padamu. Tapi itu akan berbahaya bagi dirimu sendiri. Lagipula kamu sudah tidak membutuhkan itu lagi."


Seorang dokter sedang bicara serius dan tegas di hadapan Regal. Dia adalah dokter Chen, seorang dokter spesialis kejiwaan yang telah menjadi psikiatri pribadi Regal sejak divonis mengidap Skizofrenia empat tahun lalu.


"Seminggu ini aku tidak bisa tidur. Sekalipun aku minum obat tidur yang anda resepkan, aku tetap tidak bisa menghilangkan mimpi buruk itu." Regal dengan wajah lunglai berbaring di sofa bed yang jaraknya sekitar tiga meter dari meja praktik dokter Chen.


"Regal, kamu sudah hampir lebih setahun ini tidak datang padaku. Sekarang tiba-tiba kamu datang dan langsung meminta obat itu. Obat itu pernah sekali aku berikan pada saat terakhir kali kamu mengalami skizofrenia. Itupun hanya tiga kali. Selanjutnya aku hanya menggunakan diazepam jika memang dibutuhkan untuk memberi efek ketenangan. Tapi sebelum itu, katakanlah... apa yang membuatmu tidak tenang?" Tanya dokter Chen.


Regal terdiam, dia malah memjamkan matanya lalu tiba-tiba bulir air mata muncul dari ujung kelopak matanya, dan menetes.


"Dia muncul lagi..." Regal bersuara dengan lirih.


Dokter Chen berdiri dari kursinya dan mendekati Regal lalu mengambil kursi lain untuk didudukinya di samping sofa bed tempat Regal berbaring.


Dia seolah siap mendengarkan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Regal.


Regal menoleh ke arah dokter Chen yang sedang duduk di sampingnya berbaring.


"Ku mohon jangan ceritakan pada Daddy..." Wajah Regal seolah mengukir bahwa ia sedang memohon pada dokter Chen.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, segera dokter Chen langsung mengangguk meyakinkan Regal.


"Setelah lebih dari setahun ini aku bisa menghilangkan bayangannya dari pandanganku, tapi belakangan ini entah bayangan itu muncul lagi di kepalaku..." Regal bicara dengan pandangan matanya yang menatap kosong ke langit-langit.


Dokter Chen masih terus menunggu Regal melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak tahu kenapa aku selalu merasa dia tetap hidup dan terus menggangguku... Seolah dia ingin aku datang kepadanya, dia seperti butuh aku. Dia adalah gadis yang bahkan tak tahu bagaimana cara melindungi dirinya sendiri. Perasaan ini.... dia memohon padaku.... " Kalimat Regal terhenti sejenak, ia memejamkan matanya dan menutupinya dengan salah satu tangkai siku tangan kirinya.


"Aku ingin melindunginya... Dulu aku pernah gagal, tapi kali ini aku sudah mampu melindunginya, saat ini aku sudah menjadi pria dewasa yang memiliki segalanya... Tapi dia juga selalu tiba-tiba menghilang..."


Dokter Chen mengerjapkan kedua bibirnya.


"Regal... Mungkin saja... dia hanya ingin agar kamu mengingatnya. Tidak lebih dari itu...." Dokter Chen bicara dengan sangat hati-hati agar rangkaian kalimatnya tak bertentangan dengan persepsi Regal.


"Ya.... anda benar dokter.... saat ini dia hanya makhluk yang cuma bisa aku ingat saja.... Obsesiku padanya sama sekali tak bisa membuatnya kembali hidup..."


Dokter Chen mengerutkan alisnya, sudut matanya jatuh hingga membentuk garis wajah sayu. Sejujurnya ia tak pernah ingin menganggap Regal sebagai pasiennya. Dia ingin memeluknya sebagai putranya atas semua kesakitan yang telah dirasakan Regal.


Sepanjang dia menjadi dokter psikiatri kasus Regal adalah kasus remaja yang paling berat dari sekian sebanyak kasus yang telah ia tangani. Rasa trauma dan paranoid yang dialami Regal bukan hanya memukul psikologi Regal, tapi juga perlahan membentuk kepribadian Regal dalam menerima dan menjalani kehidupannya saat ini.


Dokter Chen adalah orang yang menyarankan Eric untuk menjodohkan Regal dengan seorang gadis agar Regal bisa mendapatkan cinta kembali untuk menutupi lubang di hatinya. Namun ternyata tidak se-sederhana itu.


Regal yang selalu menyembunyikan setiap bagian dari kepribadiannya, membuat orang di sekitarnya selalu salah dalam menganalisa sifatnya. Begitupun dokter Chen, bahkan dokter Chen sendiri beberapa kali salah menganalisa sikap Regal yang sering berkamuflase.


Dokter Chen bukannya menutup mata dengan perilaku Regal yang dikenal sebagai womenizer di kalangan sosialita muda kelas atas. Namun dokter Chen hingga saat ini berasumsi bahwa apa yang dilakukan Regal semata-mata merupakan usaha kerasnya untuk menenggelamkan paranoid yang dideritanya.


________________________