
****
Pelukan
Insiden yang terjadi tadi pagi cukup membuat semua orang khawatir termasuk Caesar. Sejak dia mengetahui Nana tenggelam, Caesar cemas jika ibunya akan sakit lagi. Namun ada sisi bahagia yang dia lihat tadi pagi, ibunya kembali memeluk ayahnya. Meski cuma sebentar, tapi bagi Caesar ia merasakan kembali kehangatan keluarganya.
Sejak sore tadi Nana sudah tidur di kamarnya setelah dia mendapatkan pemeriksaan dari Brian. Nana sedikit demam.
"Daddy, mommy tidak apa-apa kan?"
"Kata uncle, mommy cuma butuh istirahat. Tapi mommy tidak terluka, jadi tidak perlu khawatir."
"Malam ini aku mau tidur di kamar mommy boleh?"
Eric tidak bisa menjawab pertanyaan Caesar, karena saat ini dia tidak memiliki hak apapun atas Nana.
Namun rupanya Brian mendengar percakapan mereka, dia lalu menimpali pertanyaan Caesar.
"Boleh...."
Caesar dan Eric menoleh ke arah suara dari dalam rumah. Lalu melihat Brian berdiri di pintu.
"Caesar mau menemani mommy tidur?"
Caesar mengangguk,
"Kalau begitu, Caesar ambil selimut sekarang... mumpung mommy masih tidur" Brian sambil berbisik.
Caesar berlari masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya di lantai dua dan mengambil selimut. Tidak berapa lama Caesar keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan membawa selimut.
"Uncle, antarkan aku ke kamar mommy"
Brian mengantarkan Caesar ke kamar Nana, Eric mengikuti mereka dari belakang sampai di depan pintu. Ia masih tidak berani masuk ke kamar Nana.
Brian lalu menata tempat di samping Nana untuk Caesar.
"Caesar sudah nyaman?" Brian sambil melirihkan suaranya.
Caesar mengangguk sambil menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. Lalu dia memeluk tubuh Nana yang masih terlelap tidur dengan bed cover yang menyelimuti hingga menutupi dadanya.
Eric melihat dari ujung pintu kamar dengan tersenyum menatap wajah bahagia Caesar karena rasa nyaman yang dirasakan Caesar tidur bersama Nana setelah berbulan-bulan tidak bisa tidur dengan Nana.
Saat tengah malam,
Nana terbangun karena tubuhnya sudah agak baikan, dia terkejut menyadari ada sosok tubuh kecil di sampingnya sedang terlelap memeluk tubuhnya yang tertutupi bed cover.
"Caesar...."
Nana menatap wajah Caesar sangat dalam.
Dalam hatinya, sungguh dia tidak pernah menyangka bisa melahirkan anak seperti Caesar. Nana benar-benar tidak bisa mengingatnya.
(suara hati Nana)
"Benarkah dia adalah anak yang aku lahirkan dari rahimku?
Bagaimana aku melewati masa indah saat mengandungnya?
Bagaimana aku bisa mengandungnya?
Aku benar-benar seorang ibu bagi seorang anak manusia?"
(off)
Nana tersenyum sambil terus membelai rambut Caesar yang masih terlelap. Wajah lucu Caesar yang melongo saat tidur membuat Nana semakin menumbuhkan rasa sayang dalam hatinya.
"Sekalipun aku tidak mengingatmu, tidak ada yang bisa merubah takdir bahwa aku adalah ibumu, Caesar..."
Nana memeluk Caesar dengan air mata yang tidak terasa mengalir di kedua matanya saat ia memejamkan matanya, berusaha meresapi setiap sentuhan kulitnya yang menyatu dengan kulit Caesar.
Nana memindahkan bed cover yang menutupi tubuhnya lalu menggeser tubuh Caesar masuk ke dalam bed covernya. Hingga tidak ada lagi barrier yang menghalangi sentuhan lembut antara ibu dan anak tersebut.
Nana hanya mengikuti nuraninya, meski ia kehilangan memorinya, tapi batinnya seolah mendorongnya untuk terus memeluk Caesar. Mungkin itulah wujud ikatan batin antara seorang ibu dan anak.
--------------------------------
Nana mengalunkan lagu dari setiap tuts piano yang dimainkannya,
(Song: Only Hope - Mandy Moore)
*
There's a sing that's inside
(Ada sebuah nyanyian yang ada di dalam)
Of my soul
(dari jiwaku)
It's the one that I've tried to write
(Itu yang telah aku coba tuliskan)
Over and over again
(Lagi dan lagi)
I'm awake in the infinite cold
(Aku terjaga dalam dingin tak terbatas)
But you sing to me over and over and over again
(Tapi kamu bernyanyi untukku berulang kali)
*
So I lay my head back down
(Maka aku menundukkan kepalaku)
And I lift my hands and pray
(Dan aku mengangkat tangan dan berdoa)
To be only yours I pray
(Hanya untuk menjadi milikmu aku berdoa)
To be only yours
(Hanya untuk menjadi milikmu)
(Aku tahu kini hanya kamu harapanku)
*
I give you my destiny
(Aku memberikanmu takdirku)
I'm giving you all of me
(Aku meberikanmu segalanya milikku)
I want your symphony
(Aku ingin simfonimu)
Singing in all that I am
(Bernyanyilah dengan semua itu)
At the top of my lungs
(Di bagian atas paru-paruku)
I'm giving it my all
(Aku berikan segalanya)
*
So I lay my head back down
(Maka aku menundukkan kepalaku)
And I lift my hands and pray
(Dan aku mengangkat tangan dan berdoa)
To be only yours I pray
(Hanya untuk menjadi milikmu aku berdoa)
To be only yours
(Hanya untuk menjadi milikmu)
(Aku tahu kini hanya kamu harapanku)
Nana terus memainkan setiap tuts piano dengan irama yang membuat dirinya dan siapapun yang mendengarnya terhanyut.
Hingga Nana tidak menyadari Eric sedang berdiri bersandar di pilar tangga memperhatikannya.
Saat Nana menghentikan alunan tangannya, dia baru menyadari Eric disana sedang menatapnya. Nana langsung canggung.
"Ehem, kak Eric sejak kapan ada disini?"
"Sejak aku mendengar kamu bernyanyi."
Wajah Nana merona karena malu.
"Aku baru tahu kalau kamu masih bisa bermain piano."
"Oh iya? Apa selama beberapa tahun ini aku tidak pernah bermain piano?"
"Entahlah, tapi seingatku selama lima tahun kamu di rumahku, aku tidak pernah melihatmu bermain piano. Bahkan di kamarmu juga tidak ada piano."
Nana menundukkan kepalanya, lalu mengetuk-ngetuk salah satu anak tuts piano, pikirannya jauh melayang ke masa lalu saat dia masih remaja.
"Sebenarnya aku memang tidak begitu suka dengan piano. Karena mamaku sangat terobsesi aku menjadi seorang pianist, aku selalu dimarahi jika absen les piano atau kalah dalam kontes performance.
Saat aku SMP aku tidak punya teman karena aku selalu berlatih piano. Namun ketika SMA aku tidak lagi bermain piano, karena aku ingin fokus belajar untuk mendapatkan beasiswa."
"Aku tahu."
Nana kaget mendengar tanggapan Eric.
"Darimana kak Eric tahu?"
Eric diam saja, sebenarnya dia tahu dari mimpinya beberapa bulan yang lalu, ketika Nana masih koma. Di dalam mimpinya, Eric melihat Nana menangis meronta diseret oleh Mama Lisa karena tidak mau les piano.
Lalu Eric mengalihkan pembicaraannya,
"Oh iya Brian, Grace, dan Caesar kemana?"
"Kak Brian ke klinik, suster Grace mengajak Caesar ke supermarket. Bukankah kak Brian tadi sudah menempelkan note di pintu kamar kak Eric?"
"Oh....iya.... kenapa aku jadi lupa."
Eric tiba-tiba kikuk karena dia salah bicara.
"Kak Eric...."
Nana melirihkan suaranya sambil tetap menunduk menatap tuts pianonya.
"Sebenarnya.... aku orang seperti apa selama beberapa tahun ini? Apakah aku seorang ibu yang baik bagi Caesar?"
Eric tertegun mendengar pertanyaan Nana, ia hanya menghela nafas lalu berjalan mendekati Nana dan berdiri bersandar di piano yang dimana Nana sedang duduk di depannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Saat aku kemarin malam tidur bersama Caesar, aku merasa seperti ada ikatan yang sangat kuat antara aku dan Caesar. Aku berusaha mengingat setiap moment bersamanya, namun sedikitpun aku tidak bisa mengingatnya. Aku hanya penasaran aku orang seperti apa..."
"Kamu adalah ibu yang sangat sempurna bagi Caesar."
"Bisakah kak Eric ceritakan padaku bagaimana aku saat mengandungnya, melahirkannya, dan menjadi ibu baginya?"
Pertanyaan Nana sangat memukul Eric hingga membuatnya membisu. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan bibirnya. Eric jelas tidak mampu menjawabnya.
Bagaimana mungkin Eric akan jujur mengatakan bahwa Nana hamil Caesar karena ia yang memperkosanya....
Bagaimana bisa Eric akan terus terang bahwa selama Nana hamil Caesar, dia harus menyembunyikan dari Eric dan tidak mendapat kasih sayang dari Eric seperti wanita hamil yang lainnya....
Bagaimana Eric akan sanggup mengatakan bahwa selama Nana menjadi ibu bagi Caesar, Eric selalu memaksanya untuk melayaninya, namun pada akhirnya ia yang mengkhianati Nana, walaupun malam itu Eric tidak bermaksud berselingkuh dengan Edis. Tetapi fakta bahwa Nana pada akhirnya mengalami kecelakaan karena melihat ia bersama Edis di hotel, itu semua tetap merupakan kenyataan yang tak bisa terbantahkan....
"Kak Eric, kenapa diam? Apa aku ibu yang tidak baik bagi Caesar?"
"Ti...Tidak Nana... sebenarnya.... bukan kamu yang tidak baik.... tapi aku...."
Eric ragu meneruskan kalimatnya. Dia tidak takut untuk berterus terang. Dia hanya takut melukai Nana lagi. Karena memang kenyataannya sangat menyakitkan bagi Nana.
"Kak Eric.... kamu tidak perlu menutupinya. Aku sudah tahu. Malam itu saat sebelum aku berangkat ke Amsterdam, aku tahu kamu masuk ke ruanganku dan mengungkapkan semua perasaanmu padaku."
Deg.
Eric semakin tercengang. Kali ini wajahnya semakin pucat. Kakinya seolah tidak mampu berdiri. Namun Eric tidak mau terlihat lemah di depan Nana.
"Kak Eric, aku tidak mempertanyakan hubungan kita, aku hanya ingin mendengar tentang bagaimana saat aku menjalani kehidupanku sebagai ibu bagi Caesar. Aku hanya ingin mengikuti naluriku sebagai wanita yang pernah melahirkannya. Aku tidak peduli dengan perlakuan dan kelakuanmu, yang aku ingin dengar darimu, bagaimana aku menjalani hidup sebagai ibu Caesar dari sudut pandangmu."
Nana berhasil membungkam rapat mulut Eric. Wanita di hadapannya ini benar-benar menguji mentalnya. Jika saja bukan Nana, mungkin Eric hanya akan berlalu begitu saja. Namun wanita di depannya saat ini adalah wanita yang membuatnya menjadi pria paling lemah di sepanjang kehidupan yang pernah ia jalani.
Eric duduk bersandar di tembok dengan pandangan menerawang jauh. Pikirannya sedang menyelami memori yang ingin ia pilah untuk disampaikan dalam menjawab pertanyaan Nana.
"Aku memang tidak mengenal banyak tentangmu saat itu Nana, bahkan tentang kehamilanmu.... Kebodohanku yang pertama, aku.... melakukan semuanya di luar kesadaranku saat itu, hingga kamu hamil. Dan kebodohanku yang kedua, aku baru mengetahuinya saat usia kandunganmu 7 bulan. Setelah itu disusul dengan kebodohan-kebodohanku yang lain hingga aku melakukan kebodohanku yang paling fatal."
"Itu karena kamu masih mencintai wanita yang bernama Edis?"
"Awalnya iya, tapi sejujurnya saat malam terakhir sebelum kecelakaan itu, aku hanya ingin mengkonfirmasi tujuan Edis meninggalkan aku 7 tahun yang lalu. Tapi saat aku terlena, aku bahkan tidak merasakan apa-apa. Bahkan saat aku bersamanya saat itu, justru pikiranku malah mengingat orang lain...."
"Cukup.... kak Eric mau bilang itu aku?"
Eric mengangguk.
Namun Nana hanya memincingkan sebelah bibirnya.
Eric mengalihkan pandangannya, dia menyadari Nana pasti tidak akan percaya.
"Kenyataannya memang seperti itu, Nana... Meskipun aku tidak menampik fakta bahwa aku disebut melakukan perselingkuhan. Tapi sebenarnya itu terlalu kejam buatku, karena aku memang tidak melakukannya dengan sengaja. Dan aku tidak bermaksud membuatmu datang ke hotel malam itu...."
"Cukup...!"
Nana memotong penjelasan Eric agar menghentikan kalimat-kalimat yang tidak ingin ia dengar.
"Maaf kak Eric, aku tidak tertarik dengan penjelasanmu. Aku tidak ingat dan tidak mau mengingatnya.... Aku hanya ingin kembali menjadi ibu yang baik bagi Caesar, bukan sebagai wanita yang kembali menerimamu. Jadi apa gunanya kamu menjelaskan semua itu padaku?"
Nana kemudian meraih tongkatnya dan berdiri.
Eric berusaha membantunya namun Nana menolaknya.
"Maaf, tolong lepaskan tanganku kak Eric, aku bisa sendiri."
"Nana... maaf kalau aku menyakitimu..."
Eric tetap memegangi tangan Nana, namun Nana berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Eric.
Eric kemudian melepaskan tangannya dan membiarkan Nana berjalan. Eric melihat bagaimana Nana berjalan dengan terhuyung-huyung, mata Eric semakin sayu melihat wanita yang dicintainya itu hingga ia tidak tahan untuk meraihnya.
Eric menarik Nana dari belakang dan membalikkan tubuh Nana lalu memeluknya dengan erat namun terasa sangat lembut.
Nana tidak berdaya dalam pelukan Eric. Pelukan yang ia rasakan entah kenapa membuatnya sangat nyaman.
Nana bisa mendengar degub jantung Eric yang berpacu dengan cepat, sama seperti degub jantungnya saat ini.
"Tunggu sebentar Nana.... sebentar saja...."
"Kak Eric, lepaskan aku..."
Nana bersuara lirih tanpa ada perlawanan.
Eric melepaskan pelukannya dan menggenggam bahu Nana.
"Jika aku mengatakan bahwa aku masih sangat berharap kamu kembali, apa kamu percaya, Nana?"
Nana terkejut dengan pertanyaan Eric, dia bahkan tidak bisa menatap wajah Eric. Nana berusaha memalingkan wajahnya dan melepaskan tangan Eric yang menggenggam bahunya.
Nana berhasil melepaskan tangan Eric karena memang Eric tidak bermaksud memaksanya.
Nana berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Eric yang masih berdiri.
Perasaan Eric semakin kacau. Baru saja kemarin dia bisa dekat dengan Nana. Tapi hari ini dia malah menghancurkan segalanya karena tidak bisa menahan dirinya.
Nana menutup pintu kamarnya dan bersandar di balik pintu. Dadanya berdebar hebat. Kejadian yang baru saja terjadi membuatnya terguncang. Perasaannya menjadi tidak karuan.
"Aku ini kenapa???"
-------------------------------
Spoiler:
Eric dan Caesar kembali ke Singapore, Brian mengajak Nana mengantar mereka ke bandara namun Nana tidak bersedia. Brian tahu ada masalah yang terjadi antara Nana dan Eric.
Nana mengakui pada Brian jika dia tidak membenci Eric, namun juga tidak bisa kembali pada Eric. Dia ingin memastikan perasaannya dengan tinggal lebih lama di Amsterdam sampai ia bisa berjalan.
Sebab saat Nana kembali ke Singapore nanti, ia akan mengambil kembali hak saham di perusahaan Shine.
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....