I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] KETAKUTAN ROSIE



"Ya... Saya bersedia..."


Sebuah jawaban terucap dari mulut Rosie. Namun Caesar, dokter Gale, dan Nyonya pengurus Welfare house masih diam. Mereka saling menyelami pikiran mereka masing-masing seolah masih belum mengerti dengan jelas apa yang baru saja mereka dengar.


Rosie pun mengulangi kalimatnya,


"Saya bersedia, menjadi Rayne..."


***



***


Rosie telah mengatakan dengan jelas keputusannya di depan Nyonya pengurus Welfare house dan dokter Gale. Tidak lama kemudian dokter Gale meminta beberapa Tim dokter yang bertanggung jawab pada perawatan Rayne untuk melakukan meeting terkait rencana eutanasia pasif pada Rayne yang berhubungan dengan keputusan Nyonya pengurus Welfare house dan Rosie.


Rosie tidak menyangka bahwa saat ini ia berada pada posisi di mana keputusan yang hanya sekali dia ucapkan menjadi penentu nasib kehidupan seseorang. Sepanjang menunggu keputusan meeting Tim dokter, Rosie terlihat tampak sangat gugup. Berkali-kali dia menggigit ujung ibu jarinya dengan mimik wajah yang sangat tidak tenang.


Caesar sangat jelas melihat kegugupan di wajah Rosie. Caesar memberikan air mineral pada Rosie agar bisa sedikit menenangkan Rosie,


"Apa yang membuatmu sangat gugup?"


"Bagaimana aku tidak gugup... Baru beberapa menit yang lalu aku mengatakan bersedia. Sekarang Tim dokter sudah mau memutuskan untuk menghentikan alat penunjang hidup bagi Rayne. Bukankah itu artinya akulah yang membuatnya semakin cepat..."


"Itu bukan karena dirimu. Sejak kemarin pihak pengurus welfare house memang sudah mengusulkan untuk tidak perlu dilakukan prosedur perawatan intensif terhadap Rayne. Namun karena kami memiliki Standard Operasional Prosedur, maka kami tentu melakukan tindakan yang seharusnya, seperti pemasangan ventilator, dan sebagainya. Maka dari itu Gale memintaku untuk datang ke sini karena dia tahu Rayne akan menjadi kabar baik bagimu. Dia adalah pasien terminal yang sangat sesuai dengan kriteria calon pendonor wajah bagimu."


"Jadi dokter Gale memang dari awal sudah merencanakan ini semua?"


"Ya begitulah cara alam bekerja. Aku dan Gale sudah bicara secara pribadi dengan beberapa pengurus welfare house, termasuk Nyonya yang tadi menemui dirimu. Mereka sudah kehabisan dana untuk membiayai Rayne, sedangkan di sisi lain mereka juga ingin Rayne tetap berada di sisi mereka. Dan keputusanmu untuk menggantikan posisi Rayne, adalah kabar baik bagi mereka. Jadi kamu saat ini jangan berpikir bahwa dirimu yang menyebabkan Rayne kehilangan kesempatan hidupnya. Justru sebaliknya, kamu lah yang akan menghidupkan kembali Rayne."


"Sebenarnya aku masih memikirkan cara bagaimana aku bisa menjadi Rayne."


"Aku yakin kamu bisa menjadi dirinya. Saat kamu berusaha menjadi Rosie, bukankah kamu hanya perlu membiasakan diri menjadi Rosie... Dan sekarang seharusnya tidak sulit bagimu untuk menjadi Rayne..."


Rosie merenungkan ucapan Caesar.


Rayne memiliki keluarga di welfare house. Setidaknya jika Rosie menjadi Rayne, dia akan memiliki keluarga baru. Dia hanya akan berusaha untuk menyesuaikan diri sebagai Rayne.


"Aku hanya memiliki tujuan hidup untuk menciptakan kehidupan baru bagi diriku. Sejak aku bangkit dari kematian dari seorang Jasmine menjadi Rosie. Kali ini aku akan berusaha membuka lembaran hidupku sebagai seorang Rayne."


Caesar tersenyum mendengar kalimat optimis dari Rosie. Caesar yakin dengan Rosie menjadi Rayne, dia akan bisa menghapus ingatan kelam Rosie selama dia menjalani semua treatment dan perawatan yang menyakitkan selama enam tahun yang telah berlalu.


Beberapa menit kemudian beberapa dokter keluar dari ruangan meeting bersama dengan Nyonya pengurus welfare house. Dokter Gale dan Nyonya pengurus datang menghampiri Caesar dan Rosie yang duduk di kursi tunggu koridor di depan ruangan meeting.


"Kami sudah sepakat bahwa hari ini kami akan melepaskan ventilator dan semua alat pacu jantung yang terpasang untuk membantu pernafasan Rayne. Kemungkinan butuh beberapa menit atau beberapa jam sampai Rayne akhirnya mengalami gagal nafas dan semua aktivitas vital organnya sudah tidak berfungsi seluruhnya, artinya dia dipastikan meninggal."


Nyonya pengurus welfare house mendekati Rosie lalu tiba-tiba menyambut tangan Rosie.


"Kami berharap anda menepati janji, untuk menjadi pengganti Rayne..."


Rosie hanya terpaku mendengar Nyonya pengurus welfare house. Dia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.


Nyonya pengurus mengeluarkan beberapa buku yang mirip seperti buku catatan harian dari dalam tasnya.


"Ini adalah buku harian Rayne. Jika anda tidak keberatan, saya akan memberikan ini pada anda. Di dalamnya adalah semua curahan hati dan perjalanan hidup Rayne selama di welfare house. Semuanya ada empat buku diary. Dia mulai menulis diary sejak dia duduk di bangku Middle school. Mungkin ini akan membuat anda cukup mengenal bagaimana karakter Rayne."


Rosie sangat jelas melihat gurat wajah tua Nyonya pengurus welfare house yang menunjukkan kesedihannya. Tampaknya semasa hidupnya Rayne adalah gadis yang selalu memberi kesan kebaikan pada orang-orang di welfare house. Terutama Nyonya pengurus.


Kesekian kalinya Rosie hanya mengangguk. Sejujurnya dia tidak sanggup untuk berjanji menjadi sosok Rayne. Dia tidak ingin mengecewakan Nyonya pengurus jika nanti Rosie tidak bisa bertindak sebaik Rayne.


--------------------------------------


Hari itu juga,


Rosie mulai menempati ruang perawatan atas saran dari dokter Gale agar Rosie tetap berada di rumah sakit sembari menunggu kematian Rayne. Sementara Caesar sejak siang tadi menghubungi beberapa dokter yang akan menjadi penanggung jawab operasi transplantasi Rosie, setelah menghubungi Gunawan bahwa operasi transplantasi Rosie mungkin akan dilakukan pada hari itu.


Saat Rosie kembali mengenakan baju pasien rumah sakit, Rosie kembali gugup. Selama kurang lebih dua bulan Rosie sudah tidak pernah lagi merasakan kehidupan sebagai pasien rumah sakit, membuat dirinya kembali bernostalgia pada saat di mana dia harus berkali-kali bertaruh nyawa di meja operasi.


Pada saat itu mungkin Rosie tidak memiliki keberatan hati jika semisal operasi yang dia jalani mengalami kegagalan yang mengakibatkan dia bisa saja kehilangan nyawanya. Namun kali ini berbeda, sebab Rosie memiliki hutang kehidupan pada Rayne. Dia takut jika operasi transplantasinya gagal, padahal Rayne sudah terlanjur "dibunuh" hanya agar Rosie bisa melanjutkan hidup dengan wajah Rayne.


Klak!


Caesar membuka pintu ruang perawatan Rosie.


Rosie tampak lega dengan kedatangan Caesar.


"Kak Caesar, bagaimana kondisi Rayne?"


"Saat ini Tim dokter sudah melakukan pelepasan semua alat, mereka hanya tinggal menunggu Rayne mengalami gagal nafas."


Rosie serasa lemas mendengarnya. Dia bisa merasakan apa yang terjadi pada Rayne saat ini, karena dirinya pernah menjadi manusia setengah mati enam tahun yang lalu. Namun Rosie tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika semua alat penunjang hidup itu dilepas dengan kondisi Rayne saat ini. Ini sungguh seperti pembunuhan.


"Kenapa kamu gugup lagi? Sebaiknya jangan pikirkan bagaimana Rayne melalui semua itu. Jika kamu memang peduli padanya, sebaiknya persiapkan dirimu untuk menerima wajahnya sebentar lagi dan meneruskan harapan hidupnya."


"Berapa kali aku katakan. Dokter melakukan eutanasia pasif ini memang atas permintaan keluarga, dan lagi jika Rayne tidak meninggal saat ini, dia juga pasti akan meninggal. Jantungnya sudah mengalami pembengkakan, bahkan alat pacu jantung buatan yang diimplankan ke jantungnya sudah tidak berfungsi maksimal. Tim dokter hanya ingin mempersingkat waktu kematiannya saja. Apalagi pihak keluarga sudah menyerah atas pembiayaan Rayne. Justru mereka ingin kamu segera melakukan operasi transplantasi wajah Rayne, agar mereka seolah melihat Rayne hidup kembali."


"Itulah sebenarnya yang aku pikirkan. Aku takut pada saat aku menjalani operasi,.."


"Kegagalan operasi transplantasi wajah tidak akan berdampak pada jantung maupun otak yang secara langsung berpengaruh pada kondisi vital hidupmu. Sekalipun kamu gagal, kamu tidak akan mati. Mungkin hanya kerusakan wajah."


Caesar sudah berusaha menenangkan Rosie dengan penjelasannya, namun rupanya penjelasan Caesar tidak berpengaruh apa-apa. Justru Rosie saat ini seperti terlihat memaksakan dirinya untuk kuat, padahal tangannya sampai gemetar.


Rosie ingin bicara, tapi ia harus menenangkan dirinya. Sehingga dia hanya bisa bergumam sendiri,


"Tapi aku tetap takut. Bagaimana jika gagal--"


Caesar mendengar Rosie bergumam sendiri dan melihat Rosie yang sambil menggigit ujung jari tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mendekap mendekap tubuhnya sambil berkali-kali mengusap lengan kanannya.


Tiba-tiba Caesar menarik Rosie ke dadanya dan memeluknya. Rosie yang hanya setinggi setengah dada Caesar, langsung terdiam mematung dan pasrah dengan tindakan impulsif Caesar.


"Tenanglah.... Aku tahu kamu sangat takut dengan situasi sekarang ini. Aku janji ini adalah operasi terakhir bagimu... Setelah ini, tidak akan lagi instrumen pisau dan alat-alat bedah lainnya yang akan menembus kulitmu..."


Caesar baru menyadari ia bisa merasakan irama detak jantung Rosie yang menempel pada dadanya. Irama jantung yang sangat kencang itu seperti orang yang baru saja berlari maraton. Caesar mencoba memahami dan menelaah rasa takut Rosie.


Caesar tahu ini bukan yang pertama kalinya bagi Rosie menjalani operasi. Namun dengan melihat kondisi Rosie yang masih sangat setakut itu, Caesar bisa membayangkan jika setiap menjelang akan menjalani operasi, Rosie selalu ketakutan seperti ini.


Perlahan Caesar memejamkan matanya menyelami apa yang dirasakan Rosie saat ini. Selama enam tahun belakangan, Rosie mungkin merasakan hal seperti ini sendirian. Bahkan Gunawan sendiri berpikir Rosie adalah gadis yang kuat dan ikhlas. Tapi melihatnya seperti ini, sepertinya Rosie tidak menunjukkan ketakutannya pada ayahnya.


"Tenang saja Rosie, ini akan menjadi operasi terakhir untukmu. Aku janji."


Ucap Caesar sambil mengelus rambut Rosie.


Beberapa menit kemudian,


Ponsel Caesar yang berada di sakunya berdering.


"Kak Caesar, lepaskan aku. Aku tidak bisa bernafas..."


Caesar mendadak tersadar bahwa saat ini dirinya memeluk erat Rosie. Lalu ia buru-buru melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku. Aku hanya bermaksud menenangkan kamu saja."


"Iya, terima kasih..." Rosie sambil mengangguk.


Caesar mengambil ponselnya dan di layar ponselnya tertulis nama "Gale".


"Halo..."


Sejenak suasana hening seketika. Rosie berusaha mencuri dengar suara yang keluar dari speaker ponselnya Caesar, karena ia sangat penasaran. Namun Caesar malah berpindah posisi membalikkan tubuhnya dari hadapan Rosie dan berjalan keluar dari ruang perawatan Rosie untuk berkonsentrasi mendengarkan siapapun orang yang ada di seberang telepon sana yang tidak lain adalah dokter Gale.


***



***


-------------------------------------


**Halo semuanya, para reader yang aku sayangi.


Turut prihatin dengan pandemi yang dialami oleh dunia belakangan ini, termasuk negara kita Indonesia.


Setiap harinya selalu ada kawan atau saudara kita yang mengalami positif covid19.


Setiap hari juga selalu ada yang meninggal dunia.


Sedikit doa terpanjat untuk kalian di manapun berada:


- Bagi kalian yang masih sehat,


Semoga selalu dilimpahkan perlindungan, kesehatan dan keselamatan.


- Bagi kalian yang menjadi pejuang garda depan sebagai petugas kesehatan, petugas keamanan,


Semoga dilimpahkan perlindungan, kekuatan, kesehatan, dan keselamatan dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan membalas pengabdian kalian.


- Bagi kalian yang telah berstatus ODP, PDP, atau yang telah terkonfirmasi positif,


Percayalah kalian pasti akan sembuh. Kalian tidak sendiri, ada banyak kawan dan keluarga kalian yang mendukung kalian. Kesembuhan kalian adalah harapan dan kabar baik bagi dunia, bahwa kalian adalah manusia kuat dengan kekebalan yang luar biasa.


Tuhan selalu bersama kita semua....


🙏🙏🙏🙏🙏**