
Malam itu di apartment Caesar,
Caesar tak bisa menahan dirinya untuk melepaskan hasrat pada wanita yang saat ini berada di dekat tubuhnya.
Gejolak yang sedang menggebu dalam dirinya seolah menuntunnya untuk terus mencium Shaila, hingga ia pun mencoba merabakan tangannya turun ke pinggang Shaila.
Namun buru-buru Shaila menarik wajahnya menjauh dari Caesar dan menahan tubuh Caesar.
"Uhmmm.... Aku rasa aku harus mandi dulu..."
"Huff... Again?!" keluh Caesar.
"Please Dear...," Shaila menempelkan jari telunjuknya dan mengatupkan bibir Caesar.
Shaila membalikkan tubuhnya sambil sesekali menoleh ke arah Caesar yang semakin membuat Caesar seolah diuji kesabarannya oleh Shaila.
Caesar kecewa, namun sebenarnya ia sudah mengerti akan berakhir seperti itu. Shaila selalu menghindar ketika Caesar berinisiatif untuk melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar berciuman.
Sejak awal Caesar menghargai keputusan Shaila yang ingin menjaga kesuciannya sampai ia benar-benar menikah.
Tapi Caesar tidak munafik dengan darah muda yang bergejolak dalam tubuhnya. Sebagai pria normal, hidup satu atap bersama dengan kekasihnya, berciuman, lalu apalagi yang akan bisa terjadi...
***
***
Shaila menutup pintu kamarnya, dengan nafas yang terengah-engah.
"Hufff..." Shaila mendengus sambil menekan dadanya yang naik turun karena nafasnya yang tak teratur.
Shaila melemparkan dirinya ke atas tempat tidur berukutan 180x200cm. Hingga ponselnya terjatuh.
Shaila memungut ponselnya dan baru ingat jika ponselnya mati karena kehabisan daya baterai. Shaila mencharge sambil mengaktifkan ponselnya,
"16 Missed Call from Abi?" gumam Shaila.
"Halo... Abi...? Ada apakah?"
Shaila langsung menelpon ayahnya dan berbicara dengan logat khas Malaysia.
Baru sebentar Shaila berbicara dengan ayahnya, wajahnya beringsut menjadi murung.
Sementara itu,
Caesar memasuki kamarnya lalu melepas jam tangan dan meletakkan di meja kabinet samping tempat tidurnya. Kemudian membuka satu per satu kancing bajunya, hingga ia menyambar handuk di lemarinya.
"Sraaasssss...."
Suara shower menyemprotkan air sedikit hangat membasahi rambut Caesar hingga perlahan hampir seluruh tubuhnya pun basah.
Tubuh Caesar telah banyak berubah. Kini pria berusia dua puluh lima tahun itu memiliki dada yang membidang, punggung yang lebar, dan perut yang bergelombang karena enam otot perut yang menonjol namun tetap terlihat rata saat ia memakai baju.
Caesar menengadahkan wajahnya dan memejamkan matanya menikmati setiap siraman shower yang terus menghangatkan kepalanya.
Sekelebat ingatan mulai terlintas kembali di kepala Caesar.
Terlintas bayangan wajah pria yang terlihat sekilas oleh Caesar saat Shaila membuka pintu di koridor pintu instalasi rumah sakit siang tadi.
Bayangan wajah pria itu perlahan membentuk bayangan klise wajah ayah Jasmine.
"Terimakasih... sebaiknya anda lupakan kami, putriku sudah tenang...."
"Di mana dia? Apa saya boleh melihatnya sebentar?"
"Tidak...."
"Meskipun hanya mengucapkan Salam perpisahan?"
"Maafkan saya,..."
"Baiklah... Saya akan memberikan bunga ini untuk anda... Tolong berikan bunga ini padanya. Dan juga tolong sampaikan maafku.
"Ya... Terimakasih Caesar...."
Wajah Ayah Jasmine tersenyum terakhir kali dilihat Caesar di airport ketika Caesar mengucapkan perpisahan sebelum ayah Jasmine pulang ke Surabaya di antar oleh jet pribadi milik keluarganya.
Ingatan Caesar kembali pada memorinya saat dia menyaksikan tragedi enam tahun yang lalu di depan matanya sendiri. Di mana tubuh Jasmine yang hampir seluruhnya terkena luka bakar dan bahkan sulit dikenali. Sementara Regal yang berada sekitar sepuluh meter di depan Jasmine, hanya menderita patah di kakinya.
Sangat masuk akal jika Jasmine pada akhirnya meninggal dunia setelah tiga hari koma di rumah sakit.
-----------------------------------------
Tiga hari kemudian.
"The external wounds begin to dry already, so now Rosie could drink and eat soft food... But don't chew too often because the temporomandibular joints dextra and sinistra are still not perfectly integrated..."
Dokter Felix yang merupakan dokter spesialis bedah ortopedi memberikan penjelasan pada Gunawan sambil menunjukkan kedua rahang kanan dan kiri Rosie.
"Food texture must be gradual. itu can occasionally practice personally, too... Nurse Medela will help you..." Dokter Felix menambahkan.
"Thank you doctor...." ucap Gunawan
"Get well soon Rosie... "
Rosie mengangguk.
Dokter Felix tersenyum sambil mengusap kepala Rosie yang masih terikat perban dari wajahnya.
Dokter Felix bersama nurse Medela dan dua orang dokter resident keluar dari kamar perawatan khusus Rosie.
Melihat hal tersebut, Shaila memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk ke dalam ruang perawatan khusus Rosie. Dia membawa makanan yang ia masak pagi tadi untuk diberikan kepada Gunawan.
"Morning pakcik...." Shaila tersenyum ramah.
"Oh... dokter Shaila..."
"Ini saya bawa sedikit makanan untuk pakcik, pasti pakcik kangen rendang... ini saya bawakan rendang masakan saya sendiri. Semoga cocok dengan selera pakcik."
Shaila meletakkan kotak makanan di meja.
"Rosie, ini dokter Shaila yang papa ceritakan padamu."
Rosie menyapa Shaila sambil menyipitkan matanya, isyarat dia sedang tersenyum dan senang dengan kedatangan Shaila.
"Saya baru bisa mengunjungi Rosie karena memang sangat ketat di sini. Nurse Medela adalah nurse senior yang bertanggung jawab di kamar ini, dia orangnya seram sekali kalau menegur orang yang tak taat peraturan.... Pakcik tidak bilang kalau kamar Rosie dipindahkan dari bangsal tempat saya jaga..."
"Maaf... Saya memang sejak Rosie dipindahkan ke kamar ini, saya sama sekali belum keluar dari kamar ini, karena mendampingi Rosie..."
"Lalu kata dokter bagaimana kondisi Rosie sekarang pakcik?"
"Dokter Felix tadi mengatakan Rosie sudah bisa makan dan minum, tapi makanannya harus bertekstur sangat lembut, karena sambungan otot rahangnya yang kiri maupun yang kanan masih belum menyatu sempurna..."
Shaila melirik ke arah buku gambar terbuka yang memperlihatkan gambar sketsa yang belum selesai.
"Rosie bisa menggambar?"
Rosie mengangguk.
"Ya... pasti jenuh berada di sini terus...."
"Dia.... ya berusaha untuk tidak bosan... salah satunya dengan menggambar..."
"Kenapa tidak berjalan-jalan saja...?"
Gunawan dan Rosie saling berpandangan mendengar ucapan Shaila. Lalu mereka berdua kompak menggeleng.
"Apa tidak diperbolehkan oleh nurse Medela?"
"Bukan... bukan begitu. Hanya saja kami memang tidak banyak berinteraksi dengan lingkungan di sekitar sini... " Gunawan menjawab mewakili Rosie.
"Dan tentang keberadaan kami di sini... jangan banyak ceritakan pada orang lain. Terutama terkait kondisi Rosie..." ucap Gunawan lirih.
Rosie menarik lengan baju ayahnya. Buru-buru Gunawan mengalihkan pembicaraannya.
"Ohh... dokter Shaila tadi membawakan saya rendang... terimakasih banyak dokter..."
"Jangan sungkan pakcik... Saya pergi dulu ya, karena saya harus visite pasien di ruang jaga saya."
Shaila keluar dari kamar perawatan Rosie, dia merasa janggal dengan reaksi Rosie dan Gunawan. Mungkin dia tidak terlalu tertarik dengan urusan pribadi mereka. Tapi kenapa ayah Rosie sampai mengungkapkan untuk tidak banyak bercerita tentang keberadaan Rosie.
Pertama tentang privasi Rosie yang dirawat di ruangan khusus dan hanya dokter tertentu yang boleh melakukan visite pada Rosie. Bahkan sebelumnya meski Rosie berada di bangsal umum, dia tetap harus di-visite oleh tim dokter khusus.
Kedua, dilihat dari segi manapun, Gunawan ayah Rosie tampak seperti orang biasa saja. Bahkan dia hanya tukang kebun rumah sakit. Dan tinggal di Panti Sosial.
Atau bisa jadi ini berhubungan dengan siapa donatur tetap Rosie.
Teka teki itu terus berkecamuk dalam pikiran Shaila.
--------------------------------------
Rosie menulis di note-nya lalu menyodorkan pada ayahnya.
"Papa, apa saja yang telah papa ceritakan pada dokter Shaila?"
Gunawan membaca tulisan Rosie dan mendengus.
"huh... ini salah papa... Papa pernah mengatakan kalau papa pernah tinggal di Singapore."
Rosie terbelalak karena terkejut, dia langsung menulis kembali note-nya.
Gunawan membaca note lagi lalu menjawab,
"Ya... itu papa memang tidak tahu siapa dia. Papa saat itu hanya spontan menjawab saat dia bertanya papa berasal dari mana. Dia tampak ramah dan sangat baik. Bahkan beberapa kali membantu papa. Sangat berat rasanya jika papa harus berbohong padanya...."
"Ingat ucapan Tuan Xing, papa.... Kita harus menjaga nama Tuan Eric. Tuan Eric bersedia membiayai semua biaya perawatan ini selama enam tahun ini, atas dasar tanggung jawab dan kita telah berjanji untuk tidak mengungkit kejadian itu. Semua ia lakukan demi melindungi kita juga."
"Papa mengerti..., Maka dari itu papa berharap semoga Shaila tidak banyak bercerita pada siapapun..."
"Apa papa bisa menjamin dokter Shaila tidak akan menceritakan tentang kita pada siapapun?"
Gunawan menggeleng.
"Maka dari itu kita harus membatasi diri dari siapapun. Sejak awal kita harus meninggalkan kehidupan lama kita dan menjalani hidup baru sebagai orang lain.... Bahkan anggota keluarga kita dan Nyonya Wilson tahu aku sudah meninggal... Kita sudah sampai sejauh ini papa..."
Mata Gunawan tampak berair dan sebentar lagi menetes.
"Sudahlah papa.... jangan meratapi nasib kita lagi. Menjalani kehidupan kedua sebagai Rosie adalah pilihanku. Aku hanya ingin terus hidup dan kelak bisa menjaga papa. Cuma papa yang aku miliki..."
"Maafkan papa, Rosie... Seandainya saja papa adalah orang yang kuat dan memiliki kekuasaan, kita tidak akan seperti ini. Maafkan papa yang miskin dan tidak berdaya ini..."
Rosie hanya bisa membalas pelukan Gunawan. Dia tak bisa lagi menangis. Jika dulu mungkin dia akan banyak meratapi dan mengasihani dirinya sendiri.
Tapi enam tahun ini hidup sebagai manusia Frankenstein sudah cukup membuatnya belajar bahwa ia harus bangkit dan tidak perlu mengingat semua yang terjadi di masa lalunya.
Pasrah untuk mati berkali-kali di meja operasi, lalu kembali membuka mata keesokan harinya. Sudah bukan lagi menjadi momok baginya.
Meski setiap kali ia selalu membayangkan bagaimana jika selama operasi dia tidak akan bangun lagi.
Saat ini yang hidup adalah Rosie...
Jasmine sudah meninggal....
---------------------------------------
"Halo baby, apa kamu sudah selesai?" Suara Shaila terdengar dari ponsel yang digenggam Caesar.
"Uhm... aku masih ada janji bertemu dokter Felix..."
"Jadi sebentar lagi aku akan pulang dulu... aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."
"Ya baiklah... aku akan usahakan pulang tepat saat makan malam... "
"Kenapa tiba-tiba bertemu dengan Dokter Felix?"
"Ada seorang pasien remaja yang aku visite mengalami nyeri tulang tanpa sebab, dan diketahui ada benjolan di sekitarnya, symptomnya menyerupai tumor tulang, jadi aku perlu memastikan dengan berkonsultasi pada Dokter Felix."
Tiba-tiba Shaila ingat sesuatu tentang Rosie dan Gunawan.
"Oh iya... apakah aku bisa meminta bantuanmu..?"
"Apa?"
Shaila diam, suasana percakapan mereka hening sejenak. Shaila hanya sedang mempertimbangkan apakah tepat jika ia meminta tolong pada Caesar.
"Ahh... tidak jadi..."
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti, baby..."
Caesar memutus panggilan teleponnya lali melihat jam tangannya.
"Tadi nurse bilang Dokter Felix baru selesai jadwal visite jam 6 sore. Masih sekitar 30 menit lagi, aku rasa tidak masalah. Lebih baik aku yang menunggunya daripada terlambat."
Caesar berjalan menuju gedung departmen ortopedi. Namun sesampainya di sana dokter Felix memang belum ada di tempat. Dia sedang visite. Caesar tidak keberatan menunggu di depan ruang konsultasi dokter Felix.
Waktu sudah menunjukkan lebih dari 30 menit sejak Caesar sudah menunggu di depan ruang konsultasi dokter Felix. Tapi dokter Felix belum datang.
Seorang nurse datang menyampaikan pesan kepada Caesar bahwa ia bisa langsung menemui dokter Felix di instalasi ruang perawatan pasien tempat dokter Felix melakukan visite.
Caesar menuruti pesan nurse tersebut dan menuju ke instalasi ruang perawatan pasien.
Sesampainya di instalasi ruang perawatan, Caesar diberitahu nurse yang berjaga bahwa dokter Felix berada di ruang perawatan pasien khusus.
Caesar berjalan menuju ruang tersebut, dan pada saat Caesar masih berjalan di koridor, dokter Felix beserta dokter resident dan nurse keluar dari sebuah ruangan yang berjarak 20 meter dari tempat Caesar berdiri.
Dokter Felix berbicara dengan seorang pria di depannya yang tampak seksama mendengarkan setiap ucapan dokter Felix. Pria itu adalah orang yang beberapa hari lalu membuat Caesar berpikir bahwa pria itu sekilas mirip dengan ayah Jasmine.
Meskipun Caesar saat ini hanya bisa melihat wajah pria itu dari arah samping, namun Caesar sangat bisa mengenali wajah yang tak asing bagi dirinya.
Caesar membalikkan badannya sebelum Gunawan menyadari Caesar ada di sana. Lalu berjalan menjauh untuk menunggu dokter Felix.
Gunawan masuk kembali ke kamar Rosie.
"Bagaimana kata Dokter Felix, papa?" Rosie menuliskan pertanyaan di note-nya.
"Dokter Felix hanya berpesan seperti biasanya. Besok dia akan menghubungi dokter spesialis bedah plastik yang menangani operasi kemarin untuk melakukan visite."
"Papa makanlah... papa belum makan sejak tadi siang..."
"Papa sudah makan rendang yang dikasih dokter Shaila tadi...."
"Tapi itu kan tadi siang. Sekarang papa belum makan.... Aku nggak apa-apa kok, papa bisa tinggalin aku sebentar ke kantin untuk beli makanan.... Kalau papa sampai sakit, siapa yang akan jaga aku?"
Kalimat terakhir yang ditulis Rosie membuat Gunawan luluh.
"Baiklah..... papa akan membeli makanan... Kamu tunggu di sini ya... Kalau ada apa-apa cepat pencet tombol panggilan bantuan ke ruang nurse."
Rosie mengangguk.
Akhirnya Gunawan meninggalkan kamar Rosie untuk membeli makanan di kantin Rumah Sakit.
Gunawan keluar melalui pintu belakang, karena instalasi ruang perawatan tersebut memiliki dua arah pintu, dari bagian depan dan bagian belakang instalasi.
Selang beberapa menit setelah Gunawan meninggalkan ruangan Rosie, Caesar mendatangi kamar yang tadi dia melihat pria yang dia yakini adalah ayah Jasmine.
Ruangan tersebut tertutup, awalnya dia ragu apakah dia perlu memastikannya atau tidak. Namun saat Caesar menyadari hanya di saat ini saja ia memiliki kesempatan untuk mendatangi kamar tersebut.
"Jika bukan sekarang, maka aku tidak yakin akan ada kesempatan di lain waktu.... Setidaknya saat ini aku sedang memakai jas snelli... aku juga perlu memakai masker untuk berjaga-jaga jika saja aku salah orang." gumam Caesar sambil memakai masker di wajahnya.
Caesar meyakinkan pada dirinya untuk mantap membuka kamar tersebut.
Perlahan Caesar membuka pintu dan melihat tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
"Tidak ada orang? Tapi di dalam kamar ini jelas terlihat sedang ditempati seorang pasien. Tapi ke mana pasiennya?" Caesar bergumam dalam hati.
"Ahh lupakanlah...." Caesar membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu hendak meninggalkan kamar tersebut.
"Gruduukkk...!"
Terdengar seseorang sedang menabrak sebuah benda.
Caesar spontan menoleh dan membalikkan tubuhnya kembali ke arah dalam kamar tersebut.
Di hadapan Caesar, berdiri seorang gadis dengan postur tubuh kurus yang kira-kira hanya setinggi 160 cm, dan yang membuat Caesar terpaku, adalah seluruh wajah gadis itu terbalut perban. Namun masih jelas terlihat pembengkakan di wajah gadis tersebut.
***
***
----------------------------------------
Halo kawan-kawan, di manapun kalian,
Stay Safe and Keep Health ya....
***
***
**Halo sobat pembaca
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**