
[Permintaan Maaf Author]
Sebelumnya aku minta maaf ya kawan-kawan... Karena kondisi kesehatan dan tugas di tempat kerjaku, sehingga novel ini tidak update selama hampir 2 minggu.
Ke depannya, aku janji akan lebih sering update. Karena aku mulai semangat lagi.
Semoga kalian masih tetap setia membaca novel ini.
Terimakasih banyak πππππ
-------------------------------------------
[SEASON 2] MENJADI SASARAN
Steven berdiri di depan jendela ruang UKS.
"Jadi kamu di sini, Steven?"
Steven menoleh ke arah suara perempuan yang menyebut namanya.
"Jasmine?"
"ini... aku sejak tadi mencarimu." Jasmine menyodorkan makanan siap saji yang dia beli di kantin sesaat setelah ia beranjak pergi dari meja makannya tadi.
"Untuk apa kamu ke sini? Apa kamu ke sini untuk mengolokku seperti yang lainnya? Bukankah saat ini aku cukup menyedihkan?" Steven terus bicara tanpa melihat wajah Jasmine.
"Tidak... aku tidak begitu." Jasmine serius.
Steven meletakkan makanannya di meja lalu beranjak pergi.
"Kamu mau ke mana?"
"Bukan urusanmu. Dan ambil kembali makananmu."
Steven melangkahkan kakinya keluar pintu UKS, tapi di sana sudah ada Regal yang berdiri di depannya.
Regal berusaha menghalangi jalan Steven,
"Selagi ada orang yang memperlakukanmu dengan baik, maka seharusnya kamu menerimanya." Regal sambil melirik Steven.
Namun Steven seolah enggan menatapnya.
"Aku tidak lapar. Aku hanya ingin ketenangan, jadi menyingkirlah." Steven berjalan begitu saja melewati Regal.
Jasmine menatap bento yang diletakkan Steven lalu mengambilnya kembali. Ia tampak murung. Sepertinya Jasmine harus menghabiskan uang sakunya hari ini untuk membeli bento tersebut.
"Biar aku saja yang makan." kata Regal.
"huh..." Jasmine hanya bengong.
"Ini, anggap aku memesan makanan padamu."
Regal mengambil bento yang ada di tangan Jasmine lalu menggantinya dengan dua lembar uang. Jasmine seolah terhipnotis dan hanya pasrah begitu saja saat Regal mengambil bento yang ada di tangannya.
***
***
Sidang peradilan kasus korupsi dan gratifikasi Hardy Corporation hari ini secara resmi diselenggarakan. Gie Kwan tidak memiliki pilihan lain selain menghadiri persidangan. Dia bersama Tim lawyernya mengikuti semua proses persidangan.
Jason Chang dan pejabat Eselon empat yang sebelumnya telah mendapat keputusan dakwaan hukuman, dihadirkan untuk memberi kesaksian.
Gie Kwan tidak bisa berkutik saat bukti rekaman suara percakapan di telepon dengan pejabat eselon empat diputar dalam persidangan. Tim Badan Investigasi bekerja sama dengan badan intelejen dan perusahaan provider seluler berhasil mendapatkan rekaman riwayat panggilan telepon pada tanggal 16 Januari tiga tahun lalu usai pertemuan antara pejabat eselon dari Otoritas Bangunan dan Konstruksi dengan Jason Chang. Penyelidikan itu juga berdasarkan rekaman cctv dari restoran hotel yang menunjukkan bahwa pejabat eselon empat tersebut menghubungi seseorang usai melakukan pertemuan dengan Jason Chang.
Posisi Gie Kwan saat ini sangat terpojok. Dia tidak bisa mengelak dan mencari alasan apapun. Terlebih saat Hakim memutuskan untuk meningkatkan status Gie Kwan sebagai tersangka. Pada saat itu, Gie Kwan tiba-tiba pingsan. Seisi ruang persidangan ramai dan ricuh. Para jurnalis dan reporter tentu tidak akan melewatkan bahan berita besar tersebut.
Hanya selang beberapa detik kemudian, berita merebak ke seluruh penjuru negara bahkan internasional.
"Jadi Gie Kwan benar-benar masuk Rumah Sakit?" Eric melihat berita televisi di kantornya.
"Benar, sejak dia dikarantina hingga selama persidangan berlangsung, Gie Kwan merasa tertekan sampai dia mengalami vertigo dan gastritis, itu klarifikasi yang disampaikan oleh lawyernya kepada media." ucap Rahul, salah satu ajudan di kementeriannya.
"Gie Kwan bukan orang seperti itu, aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu. Dan satu-satunya cara dia melancarkan rencananya adalah dia harus keluar dari karantina. Menjadi tahanan rumah pun dia pasti akan diawasi secara ketat. Jadi dia harus berada di tempat yang zona pengawasannya tidak terlalu ketat." ucap Eric serius.
"Apa dia akan melarikan diri?"
"Tidak, dia bukan orang yang gegabah. Tapi tentu tujuannya adalah terbebas dari dakwaan. Dia awalnya sudah berhasil menumbalkan bawahannya, tapi pada akhirnya badan investigasi dan badan intelejen berhasil membuat Gie Kwan tidak bisa berkutik dengan bukti yang mereka paparkan."
"tok... tok..." seseorang mengetuk pintu.
Salah satu sekretaris Eric masuk dengan membawa sebuah surat. Lalu menyerahkan surat tersebut kepada Eric.
Eric langsung membuka surat tersebut dan dia sungguh terkejut dengan apa yang dibacanya.
Rahul curiga dengan sikap Eric. Dia berusaha mengamati surat yang sedang dipegang oleh Eric.
"Ini adalah tulisan tangan Gie Kwan... As i expected, he never give up for any reason." Eric menyerahkan surat tersebut kepada Rahul dengan ekspresi gelisah.
---------------------------------
Eric duduk terdiam di dalam ruang studinya. Tatapannya kosong mengarah jauh ke luar jendela yang merupakan tempat paling terang di ruangan tersebut karena semburan cahaya bulan pada saat itu.
Sudah hampir dua jam Eric hanya terpaku dalam posisi yang sama. Kepalanya masih terus memutar ingatan kejadian siang tadi sesaat setelah ia menerima surat dari lawyer Gie Kwan, Eric memberanikan diri untuk menemui lawyer Gie Kwan di sebuah pinggiran kota yang tidak tersentuh kamera pengawasan kota.
(flashback)
"Tuan Gie Kwan meminta bantuan anda karena dia yakin hanya anda yang bisa membantunya kali ini." salah satu lawyer Gie Kwan bicara dengan nada agak memelas.
"Tidak ada yang bisa menjamin apakah aku tidak akan menjadi tersangka jika aku melakukannya. Aku pun juga dalam posisi yang tidak aman saat ini." Eric mengatakan dengan serius.
"Saya tahu, itu sebabnya Gie Kwan tidak memiliki siapapun yang bersedia membantunya."
"Jika anda bersedia membantu beliau, setidaknya kami akan menjamin keselamatan dan keamanan keluarga anda."
"Apa maksud kalian?"
"Kami tidak punya banyak waktu untuk bicara lebih banyak. Tapi tentu Tuan Gie Kwan akan sangat berterimakasih pada anda dan akan membalas budi baik anda."
Eric sangat mengerti makna kalimat yang diucapkan lawyer dan ajudan Gie Kwan. Mereka tidak sedang bernegosiasi dengannya, namun sedang memberikan ancaman pada Eric.
"Aku berdiri di atas nama partai dan kabinet pemerintah eksekutif. Para tetua partai percaya padaku. Aku...."
Eric mulai merendahkan suaranya. Namun ia harus memiliki keputusan tegas saat ini.
"Aku tidak bersedia menjadi saksi palsu. Aku akan tetap mengatakan hal yang seharusnya aku katakan. Aku hanya bisa membantu mendoakan Gie Kwan, semoga ia selalu sehat."
Eric meninggalkan tempat tersebut.
(flashback end)
Nana membuka pintu ruang study, dia melihat Eric sedang duduk sambil merokok. Setelah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat Eric merokok.
Nana bisa membaca situasi saat ini, pasti Eric sangat tertekan. Namun seberapa besar tekanan yang pernah dihadapi Eric tidak pernah membuatnya sampai seperti sekarang ini.
Nana mencabut rokok yang ada di tangan Eric.
"Jika kamu tidak bisa menanggungnya sendiri, kenapa tidak mau membaginya denganku?"
Eric tiba-tiba memeluk Nana dengan punggung yang merengkuh hampir seluruh tubuh Nana.
"Aku tidak ingin kehilangan kalian lagi..."
"Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu?"
"Jika sesuatu terjadi padaku, pastikan bahwa kamu akan selalu mengenangku dan jagalah anak-anakku bersamamu...."
Nana semakin kalut dengan ucapan Eric yang seolah akan pergi selama-lamanya.
"Apa Gie Kwan merencanakan sesuatu?"
Eric mengangguk.
"Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman Gie Kwan kepadaku. Hanya saja aku takut dia akan menyerang keluargaku. Terutama dirimu dan anak-anak...."
Nana memegang tangan Eric dan menangkupkan telapak tangan Eric ke pipinya.
"Kita sudah pernah melalui masa-masa yang paling sulit dalam hidup kita, aku yakin kali ini kita pun bisa..."
"Kamu tidak tahu apa yang kita hadapi saat ini, Gie Kwan bagaikan ****** gila yang terlepas dari pemiliknya. Dia dibuang untuk kedua kalinya dari partai Kwan, partai keluarganya sendiri. Aku yakin dia kali ini tidak akan tinggal diam. Dan tentu sasarannya adalah aku. Karena semua orang di Partai Kwan lebih mengandalkan aku daripada dirinya. Selama ini aku bukan tidak tahu, tapi hanya berusaha menutup mata dan telinga demi keharmonisan hubungan kami. Namun aku gagal... Dia tetap menganggapku sebagai orang yang merebut posisinya."
"Dia yang menggali lubang kuburnya sendiri. Dia harusnya belajar dari kasus yang menerpanya beberapa tahun yang lalu. Itu bukan salahmu, sayang..."
Nana memegang wajah Eric dengan kedua tangannya.
Semakin Nana bersikap lembut padanya, semakin beban itu terasa berat di dalam hati Eric. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin keluarganya menanggung akibat dari setiap keputusan yang dia ambil.
Semoga saja apa yang dikatakan ajudan Gie Kwan tidak seperti yang dibayangkan oleh Eric.
----------------------------------
Keesokan harinya,
Sidang dakwaan perkara pidana korupsi yang menjerat Gie Kwan dilanjutkan. Sesuai rencana Gie Kwan dan tim lawyernya, mereka mengajukan kasasi dengan menunjuk beberapa saksi untuk membela Gie Kwan.
Eric yang saat itu dihadirkan oleh jaksa, diminta memberikan penjelasan dan terkait keterlibatan dirinya dalam melakukan persetujuan dengan bukti bubuhan tanda tangan yang ada dalam proposal anggaran.
Eric memberikan keterangan sesuai dengan kebenarannya, namun tidak sedikitpun Eric mengucapkan kalimat yang memojokkan Gie Kwan. Hanya saja Gie Kwan masih kecewa dengan penolakan Eric yang mengabaikan permintaan bantuannya.
Gie Kwan sudah memperhitungkan hal ini pasti akan terjadi. Karena ia tahu Eric adalah orang yang lurus.
Namun, permintaannya kepada Eric kemarin memang untuk memastikan apakah Eric termasuk dalam orang-orang yang ada di dalam "Daftar Hitam Gie Kwan" atau tidak. Dan ternyata Eric memilih bersama orang-orang yang masuk dalam "Daftar Hitam Gie Kwan".
Pada akhirnya Gie Kwan didakwa dengan hukuman penjara selama 7 tahun. Meskipun Gie Kwan telah mengajukan kasasi, namun itu tidak mengubah apapun. Gie Kwan tetap mendapatkan hukuman sesuai dengan pasal sebelum ia dan Tim lawyernya mengajukan kasasi.
Gie Kwan digelandang keluar dari ruang persidangan oleh beberapa petugas. Gie Kwan sempat menoleh ke arah Eric yang sudah duduk di kursi audience dan kebetulan sedang menatap dirinya. Kini Gie Kwan dan Eric saling bertatapan.
Samar-samar Eric melihat Gie Kwan mengucapkan sebuah kata,
"Sorry...."
Eric mengerutkan dahinya untuk memastikan apa yang diucapkan Gie Kwan. Namun Gie Kwan terlanjur keluar pintu, di sana puluhan gerombolan reporter mulai mengepungnya demi kepentingan bahan berita mereka. Hingga Eric tidak lagi bisa melihat sosok Gie Kwan yang tenggelam di antara kumpulan para reporter.
-----------------------------------------------
Di hari yang sama,
30 menit setelah keputusan persidangan, berita tentang hukuman penjara yang diterima oleh Gie Kwan telah menyebar luas melalui media televisi, radio, dan website.
Steven berdiri di koridor depan kelas, dia melihat pemberitaan melalui ponselnya. Dia ingin tak percaya namun itulah kenyataan yang harus ia terima.
Saat Steven berjalan melewati sepanjang koridor kelas, ia melihat tatapan siswa yang seolah mengintimidasinya. Biasanya ia akan melawan dan mungkin akan menghajar mereka. Namun kali ini ia dalam posisi yang tak mungkin melakukan hal seperti itu, karena kehidupan keluarganya kini menjadi sorotan media.
Steven mempercepat langkahnya hingga setengah berlari menuju halaman belakang sekolah. Terbesit di pikirannya untuk melompati pagar belakang sekolah dan melarikan diri.
"Apa yang kamu lakukan!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Jasmine?! Sejak kapan kamu di sini?"
"Aku mengikutimu sejak tadi hingga ke sini. Aku tahu kamu----"
"It's not your business! Go away!"
Steven berhasil melompati pagar belakang sekolah, Jasmine tak bisa mengikuti Steven. Ia hanya bisa menatap langkah Steven.
Tapi dari kejauhan, Jasmine melihat sebuah mobil menghampiri Steven. Awalnya Steven hanya berbicara dengan dua orang yang berasal dari mobil tersebut.
Dua orang tersebut beberapa minggu lalu adalah bodyguard Steven. Namun entah kenapa dua orang itu tampak memaksa Steven masuk ke dalam mobil. Steven tampak memberontak dan berusaha melarikan diri.
Steven berlari kembali menuju pagar belakang sekolah yang tadi ia lompati.
"Jasmine, segera pergi dari sini!"
"Apa?!"
"Bawa Regal umh------"
Namun belum sampai ia bahkan menyentuh pagar, kedua orang berbadan besar itu membungkam mulut Steven sambil menarik tubuh Steven yang kurus dan memasukkannya ke dalam mobil lalu pergi.
Sesaat ada seseorang yang lain di dalam mobil selain dua orang bodyguard tadi, bertatapan dengan Jasmine sebelum mobil akhirnya melaju meninggalkan sekolah.
Jasmine masih terpaku dengan apa yang dia lihat. Kakinya lemas, seluruh tubuhnya gemetar, mulutnya bahkan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia ketakutan.
"Yang baru saja terjadi itu.... Apa yang terjadi? Apa yang berusaha diucapkan oleh Steven..."
Jasmine mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berlari mencari Regal. Dia berusaha mencari ponselnya namun rupanya ponselnya tertinggal di kelas.
Jasmine terus terngiang dan berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Steven saat terakhir kali.
"Mengapa Steven menyuruhku pergi dari sini? Bawa Regal.... apa maksudnya..."
Jasmine terus berlari sambil terus memikirkan makna ucapan Steven.
"Brakk!"
Jasmine menabrak Caesar.
"Jasmine?" Caesar melihat wajah Jasmine yang pucat pasi.
"Jasmine, apa kamu melihat Regal? Ponselnya tidak bisa dihubungi..."Caesar tampak khawatir.
Jasmine hanya tertegun tak bisa bicara. Caesar menggoncang tubuh Jasmine.
"Katakan, apa kamu melihat ada sesuatu pada Regal?!"
Jasmine menggeleng.
"Aku tidak bersama dengan Regal, tapi aku baru saja bersama Steven... Dia mengatakan.... Bawa pergi.... Regal...." Jasmine mengatakan dengan terbata-bata.
"Steven bicara seperti itu? Kamu yakin?!"
Jasmine mengangguk.
"Kita harus segera mencari Regal sekarang juga!"
Caesar dan Jasmine dibantu dengan Glenn dan Noah mereka mencari keberadaan Regal. Di setiap sudut kelas, halaman, ruang klub, perpustakaan, laboratorium, gedung olahraga, lapangan, dan di atap sekolah, mereka tidak menemukan Regal.
"Kalian belum menemukan Regal?" Caesar sangat cemas.
Glenn dan Noah menggeleng.
"Di mana Jasmine?" Tanya Caesar lagi.
"Tadi aku lihat dia ikut mencari Regal."
"Sepuluh menit lagi waktunya jam pulang sekolah, apa kita tidak menunggunya sampai dia keluar dari sekolah saja?"
"Justru pada saat itu, Regal akan keluar sekolah dan akan hal yang aku takutkan terjadi."
"Sebenarnya kenapa ayahmu tiba-tiba menyuruhmu mencari adikmu?"
"Aku tidak bisa menjelaskan. Tapi aku yakin ayahku tidak main-main."
Caesar dan teman-temannya terus mencari Regal.
***
***
Hingga akhirnya waktu jam pulang sekolah pun tiba.
Jasmine tidak berhasil menemukan Regal. Namun ia selalu teringat pada kejadian saat Steven dipaksa masuk ke dalam mobil.
"Aku yakin Regal akan diculik, jika Regal sampai keluar dari gerbang, dia akan...." Jasmine berlari menuju gerbang depan dengan penuh kecemasan.
Saat Jasmine sudah keluar melewati gerbang, dia berputar-putar mencari Regal.
Jasmine seperti mendengar suara Regal. Lalu Jasmine pun menoleh.
"Regal..."
Suara yang samar ia dengar memang suara Regal. Dia sedang berbicara dengan seorang sopir yang masih duduk di bangku kemudi. Sepertinya pria tersebut sedang bertanya alamat.
Jasmine berlari menuju ke arah Regal.
"Regal!"
Regal menoleh ke arah Jasmine. Jasmine segera menarik tubuh Regal.
"Ayo pergi dari sini! Kak Caesar mencarimu!"
Regal menuruti langkah Jasmine meninggalkan pria yang sedang bertanya alamat tersebut.
Namun tanpa diduga, saat Jasmine menoleh ke belakang dan melihat pria itu mengemudikan mobil yang seolah melaju ke arahnya.
Jasmine merasa pria itu seperti akan menabraknya dan Regal. Jasmine menarik Regal untuk berlari ke belakang tiang listrik.
"Bruakkkkk!"
Hingga akhirnya mobil tersebut menabrak tiang listrik.
Caesar mendengar suara tabrakan tersebut dan segera berlari ke arah suara itu.
"Sial...! Regal...!"
Baru beberapa detik Caesar berlari,
"Boooommm!!!!"
Suara dentuman keras disertasi teriakan histeris dari para siswa yang berada di sekitar gerbang depan sekolah.
Semua siswa berlarian, suasana sangat kacau dan riuh. Caesar sejenak tercengang dengan apa yang dia lihat.
Sebuah kepulan asap dan api yang membakar sebuah mobil di depan sekolahnya.
Mata Caesar tertuju pada tubuh manusia yang bergelimpangan di dekat mobil tersebut.
"Regal.... Jasmine...."
***
***
***
Enam tahun kemudian....
"Hello Rayna, how do you feel today? Ready for next surgery?"
"Yes, anytime...."
-----------------------
**Halo sobat pembaca
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
πKLIKπ
β€οΈ FAVORITE
ππ» LIKE
βοΈ VOTE POIN Sebanyaknya
π° TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU β€οΈβ€οΈβ€οΈ**