
Keesokan harinya,
Caesar, Rosie, Gunawan, Xing, dan Shaila pergi menuju Miami airport. Berkat surat keterangan yang diberikan dari dokter Felix dan Profesor Nick, Rosie memiliki ijin terbang sebagai pasien. Di samping itu karena kondisi tubuh Rosie sendiri juga sangat memungkinkan untuk melakukan penerbangan selama 3 jam dari Miami ke Boston.
Xing hanya sekedar mengantar keberangkatan mereka. Dan atas permintaan Eric yang telah bersepakat dengan Caesar, Xing kembali ke Singapore. Untuk selanjutnya urusan Rosie dan Gunawan adalah menjadi tanggung jawab Caesar.
"Jaga diri baik-baik. Setelah sampai di Boston nanti, aku akan mengabarimu."
Caesar memeluk erat Shaila yang rasanya terasa berat ia tinggal sendiri di Miami setelah mereka tinggal bersama hampir enam bulan.
"Miami dan Boston hanya 3 jam, kalau aku ada libur jaga, aku pasti akan ke sana." Shaila tersenyum dengan ceria agar Caesar bisa pergi dalam keadaan teguh hati meninggalkannya di Miami.
Shaila menoleh ke lounge khusus yang di sana ada Rosie dan Gunawan.
"Boleh aku bicara dengan Rosie?"
Caesar mengangguk dan memposekan tangannya isyarat untuk mempersilakan Shaila menemui Rosie dan Gunawan.
Shaila berlari kecil dengan gembira menuju lounge khusus tersebut dan langsung menggeser kursi ke samping Rosie.
Rosie sedikit terkejut, namun buru-buru Shaila menggenggam tangan Rosie dengan senyuman yang sangat menghangatkan.
"Rosie, kamu dan pakcik harus selalu sehat dan bahagia ya... Andai saja kita bisa berteman lebih awal, mungkin aku akan banyak membantumu dan pakcik... Ingat ya... Jika nanti aku bertemu lagi denganmu, kamu harus cantik dan bahagia..."
Mendengar setiap kata yang diucapkan Shaila dengan mata berkaca-kaca, membuat Rosie merasa sangat terharu. Hingga ia sedetik kemudian meneteskan air mata karena menatap mata Shaila yang seolah mengirim energi semangat kepada Rosie agar Rosie kuat menatap kehidupan yang ia jalani.
"Andai saja aku lebih awal mengenalmu,... aku akan rahasiakan dirimu dari Caesar" Shaila berbisik pada Rosie sambil bercanda.
Tawa Rosie pecah meskipun ia saat ini berderai air mata.
Lalu Rosie menulis di note-nya,
"Dokter Shaila pasti akan berkunjung ke Massachusetts, kan?"
"Tentu saja, aku pasti akan melihat perkembanganmu. Aku akan protes pada Caesar kalau dia sampai gagal membuatmu cantik, hahaha"
Rosie ikut tertawa, lalu menulis lagi,
"Aku akan merindukan dokter Shaila...."
Shaila sejenak membisu lalu memeluk Rosie lagi,
"Aku juga akan merindukanmu Rosie..." ucap Shaila sambil mengusap punggung Rosie dengan lembut.
"Sudah waktunya boarding, Ayo Rosie..." Caesar mengingatkan.
Shaila melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Caesar. Caesar membalas dengan mengelus dan mengecup kepala Shaila.
"See you baby..."
Caesar akhirnya meninggalkan Shaila dan berjalan menuju eskalator yang berujung ke gate, karena pesawat yang akan berangkat ke Boston, Massachusetts sudah boarding.
***
***
Tiga jam lima belas menit perjalanan yang ditempuh Rosie dan Gunawan dari Miami menuju Boston, Massachusetts.
Setelah mereka sampai di Kota Boston, Caesar dijemput seseorang yang ternyata adalah Glenn, teman yang telah bersamanya sejak SMP hingga sekarang. Selama Caesar di Miami, Glenn yang menempati apartment Caesar.
Glenn terkejut Caesar datang bersama seorang pria peruh baya dan seorang perempuan memakai kerudung yang wajahnya masih berbalut perban.
Glenn berbisik pada Caesar,
"Siapa mereka? kamu tidak bilang akan datang bersama mereka?"
"Nanti aku akan ceritakan padamu..."
"Dan...hei lihat barang-barangmu banyak sekali. Jadi kamu serius berencana tidak akan kembali ke Miami lagi...?"
"Itu juga nanti aku akan cerita."
Glenn tidak banyak bertanya lagi setelah mendengar jawaban Caesar. Ia hanya membantu mengangkut koper ke dalam mobil SUV-nya. Namun dia tidak bisa melepaskan pengamatan matanya dengan dua orang asing itu. Glenn diam-diam terus mencuri pandangan untuk melihat dengan jelas wajah kedua orang asing yang datang bersama Caesar.
"Mereka itu siapa? Caesar tidak bilang dia akan datang bersama dua orang ini. Dan terlebih, perempuan itu.... apakah dia pasien Caesar? Tapi baru kali ini aku melihat Caesar membawa pulang pasiennya. Apalagi sampai jauh-jauh didatangkan dari Miami...." Glenn terus berpikir dalam diam.
Sekitar sepuluh puluh menit kemudian mereka sampai di apartment Caesar. Apartment yang berada di pusat kota Boston tersebut merupakan apartment yang dibelikan Eric kepada Caesar saat Caesar memutuskan untuk menetap di Amerika sejak ia menempuh pendidikan di Harvard.
Gunawan dan Rosie mengikuti langkah Caesar dan Glenn masuk lift menuju lantai tujuh belas, tempat di mana apartment Caesar berada.
Glenn membuka pintu apartment. Rosie baru melangkah ke dalam apartment, dia sudah terbelalak melihat betapa luasnya apartment Caesar. Bahkan lebih luas dari suite room yang ia tempati kemarin malam. Padahal suite room yang disewakan Caesar untuknya di Four Seasons, bagi Rosie sudah merupakan ruangan yang luas dibandingkan rumahnya di Surabaya.
Rosie tanpa sadar menyebarkan pandangan mengitari ke setiap sudut ruangan yang didesain minimalis modern dengan dilengkapi furniture yang lengkap namun tertata rapi.
"Apartment ini sudah memiliki sistem smarthome. Semua fasilitas elektronik di sini bisa terkoneksi secara otomatis. Kecuali ini, kita harus menggunakan remote untuk mengaturnya." Caesar sambil mengambil sebuah remote.
Caesar menekan sebuah tombol pada remote yang ada di tangannya. Seketika cermin di ruang tengah yang tadi hanya merefleksikan pantulan suasana ruangan, tiba-tiba berubah menjadi kaca film transparan yang menampakkan view pusat kota Boston terlihat dengan jelas dari kaca.
"Tenang saja, kaca film ini satu arah, dia hanya menembuskan view dari luar ke sini. Tapi orang luar tidak bisa melihat kita sekalipun pada saat malam hari, sisi ruangan ini lebih terang daripada di sisi luar kaca ini." Sambung Caesar.
Rosie takjub, ia bahkan tak mendengar kalimat apa yang sedang dijelaskan Caesar. Kakinya seolah melangkah dengan sendirinya mendekati kaca tersebut, tangannya perlahan menyentuh meraba permukaan kaca yang menembuskan pandangan secara langsung ke pusat Kota Boston.
Ini pertama kalinya dia melihat pemandangan aktivitas kehidupan manusia normal. Bertahun-tahun dia seperti terkurung di dalam ruangan perawatan, bahkan ketika keluar ia harus diam-diam dalam penyamaran.
Dan saat ini, tanpa ia harus bersembunyi dirinya bisa melihat tanpa terbatas waktu. Dia bahkan bisa memuaskan matanya sejauh manapun ia memandang.
***
***
Glenn berbisik di telinga Caesar,
"Perempuan itu dari mana? Dia tampak seperti baru kali ini tinggal di sini."
Caesar menoleh ke arah Glenn dengan tatapan membidik,
"Nanti malam saja aku ceritakan."
Seketika Glenn langsung diam.
Caesar berjalan mendekati Rosie,
"Ini adalah rumah kalian mulai sekarang. Apartment ini sudah didesain dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang bagus. Di sisi lain mezanine sana ada sebuah kamar. Mungkin saja kamu menyukainya."
Rosie mengikuti langkah Caesar menaiki tangga menuju mezanine lantai dua. Di sana hanya ada sebuah kamar. Selama Rosie masuk ke rumah ini, dia memang sepertinya hanya melihat dua kamar saja. Tidak mungkin ia akan diantar ke kamar Glenn. Jadi pasti kemungkinannya adalah kamar Caesar sendiri.
Caesar membuka pintu kamar yang dimaksud.
"Silakan masuk.... Dulunya ini adalah kamarku. Ya... sementara Pak Gunawan dan Rosie berada dalam satu kamar, tapi tenang saja karena di kamar ini masih ada dua bed. Karena memang apartment ini hanya memiliki dua kamar utama, dan satu kamar yang aku buat sebagai ruang study."
"Terimakasih banyak Tuan... ini sungguh lebih dari cukup... Lalu kalau kamar ini kami tempati..."
"Tidak usah khawatir, ruang studiku cukup luas, di sana juga ada bed. Aku bisa tidur di sana... Oh iya, ini adalah bagian paling favorite di kamar ini...."
Caesar menunjukkan sudut ruangan di dekat kaca,
"Dulu saat aku bosan, aku selalu duduk di sana sambil mengamati setiap sudut kota Boston. Semoga selama kamu di sini, kamu bisa menghilangkan rasa bosanmu."
Rosie mengangguk namun ia masih tidak berani menatap mata Caesar.
"Baiklah, aku akan keluar dulu. Pak Gunawan dan Rosie silakan beristirahat..."
Caesar melangkah keluar kamar sambil menutup pintu.
***
***
"Pssstttt!" "Hmpppph!"
Caesar membungkam mulut Glenn dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri Caesar menahan kepala Glenn.
"Bersumpahlah dulu kalau kamu tidak akan memberi tahu siapapun atau aku tidak akan memberi tahumu lagi!"
Glenn mengangguk dengan mulut yang masih dibungkam tangan Caesar. Lalu Caesar melepaskan tangannya.
"Ya... Dia adalah Jasmine...."
"Tapi dia sudah meninggal bro... enam tahun yang lalu. Bukankah kamu sendiri yang waktu itu mengantarnya sampai lepas landas saat peti mayatnya diangkut dengan menggunakan pesawat jet pribadi ayahmu."
"Saat itu aku tidak melihat langsung mayatnya. Aku hanya bertemu dengan Pak Gunawan di landasan saat ia akan boarding."
"Jadi selama ini mereka menipu semua orang... Dan kali ini dia memiliki nama baru sebagai Rosie...?"
"Itu bukan inisiatif mereka. Tapi selama enam tahun ini mereka melakukan semua kehendak ayahku. Aku tidak bisa mengatakan lebih detail. Intinya ini semua adalah ide ayahku,...."
Mulut Glenn bahkan hanya bisa menganga mendengar ucapan Caesar.
"Aku bertemu dengan mereka awalnya karena Shaila yang dekat dengan mereka lebih dulu. Tapi Shaila baru mengatakan padaku setelah aku sendiri yang menyelidikinya."
"Lalu apa tujuanmu membawanya kemari? Apa ayahmu menyerahkan mereka padamu?"
"Tidak, aku lah yang memaksa ayahku menyerahkan mereka. Bahkan sebelum ayahku mengatakan ia setuju. Rosie akan menjalani serangkaian operasi plastik di sini. Kemudian dia akan menjalani kehidupan normal setelah ia kembali pulih."
"Ya... aku tahu sendiri bagaimana saat itu kamu sangat terpukul dengan kematiannya. Hanya saja aku masih tidak habis pikir mengapa ayahmu merahasiakan semuanya padamu selama bertahun-tahun. Dan jika saja kamu tidak mengetahuinya, aku yakin dia tak akan mengatakan padamu."
"Memang, tapi ayahku melakukan itu semua agar keluarga Pak Gunawan tidak terlibat lagi dengan masalah keluargaku. Terlebih lagi dengan Regal."
"Jadi ayahmu sengaja mengisolasi Jasmine dan membuat identitas baru untuknya kemungkinan karena dia benar-benar ingin menghapus kehidupan Jasmine."
"Ya... memang seperti itu..."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Apanya?"
"Jadi kamu ikhlas merelakan kehidupan pribadimu tersita untuk mereka? Bahkan kamu rela meninggalkan Shaila di Miami demi kembali ke Massachusetts untuk pengobatan Rosie..."
"Aku sudah berjanji pada Shaila, jika ini semua telah selesai. Maka aku akan kembali padanya. Dia sangat memahami situasiku saat ini. Dia juga sangat mendukung pemulihan Rosie."
----------------------------------------
"Shaila, abah dan ummi sudah memutuskan untuk kembali ke Kuala Lumpur. Abah sudah memutuskan pensiun karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk bekerja."
Malam itu Shaila sedang berbicara via telepon dengan kakaknya untuk mengetahui perkembangan abahnya yang beberapa hari minggu lalu dikabarkan stroke.
"Jadi begitu.... Lalu bagaimana kondisi abah sekarang bang?"
"Abah sudah bisa makan, dan bisa buang air kecil tidak pakai kateter lagi..."
"Alhamdulilah...."
"Kapan rencana kau nak balik, Shaila?"
"Saya masih tak tahu bang... insya Allah secepatnya..."
"Rasyid kemarin kemari, menjenguk abah. Dia juga menanyakan kau..."
"Abang Rasyid?"
"Ya... kalian sudah lama tak saling berhubungan lagi...."
"Dia sudah menikah bang, untuk apa saya menghubungi pria yang sudah menikah jika tak ada penting pun?"
"Kau tak tahu? Istrinya Rasyid meninggal karena kecelakaan seminggu setelah mereka menikah, saat istrinya berangkat bekerja."
"Ya Allah... " Shaila menutup mulutnya.
"Rasyid minta nomor telpon kau, Shaila... Lalu abang kasih nomormu."
Shaila terdiam.
"Abang... Shaila sudah memutuskan serius dengan Caesar..."
"Kau tak boleh pacaran dengannya Shaila... Dia tak seiman dengan kita. Sekalipun dia muallaf, dia tak bisa bimbing kau kelak."
"Abang... Caesar adalah orang yang selama ini tulus mencintai Shaila. Bahkan sejak kami sama-sama di high school... Jadi Shaila memberi kesempatan untuknya. Dan sejauh ini Caesar tak pernah mengecewakan Shaila..."
"Shaila, pacaran seusia kau, ke mana lagi arahnya jika bukan pernikahan. Dan jika kau mau bersenang - senang dengannya, kau boleh saja. Tapi sudah tak patut, usiamu sudah waktunya menikah. Jadi sebaiknya jangan main-main lagi..."
"Shaila bilang serius, bang... Shaila juga akan menerima jika ia melamar Shaila. Dia juga----" Kalimat Shaila dipotong oleh abangnya Shaila.
"Caesar itu memang pria baik, dia dari keluarga terhormat, berprestasi, dan hampir tak punya kekurangan apapun Shaila... Abang tak akan masalah dengan hubungan kalian.... jika saja kau dan dia seiman..."
Shaila diam. Lalu menghela nafas dalam dan menjelaskan kalimat panjang untuk abangnya.
"Dulu Abang sendiri bilang pada Shaila harus move on dari Abang Rasyid saat dia memutuskan Shaila dan menikah dengan orang lain, karena ia tak mau Shaila mengambil studi di Amerika. Saat itu Abang juga bilang bahwa Shaila bisa mendapatkan yang lebih baik dari Abang Rasyid. Abang tahu kah? Bahkan sampai sekarang dalam hati Shaila perasaan cinta terhadap Abang Rasyid sebenarnya masih ada. Hanya saja rasa sakit Shaila kepadanya lebih besar. Dan Caesar yang selama ini merawat Shaila. Dia selama delapan tahun mencintai Shaila. Selama tujuh tahun dia menunggu cintanya berbalas, dan akhirnya baru setahun yang lalu Shaila menerimanya. Itu pun Shaila harus mengarungi waktu selama empat tahun move on dari bang Rasyid setelah dia memutuskan Shaila."
"Cinta itu bisa dibangun Shaila. Dulu kau menerima Caesar karena apa? Tentu karena kau meyakinkan dirimu bahwa kau apa salahnya mencoba menerima dia. Jadi kenapa kau tak yakinkan dirimu lagi?"
"Karena Abang Rasyid sudah pernah membuat Shaila kecewa bang..."
"Shaila... kau masih tanggung jawab abang. Kau adik perempuan abang. Jika kau tak dapat imam yang baik, yang tak dapat membimbingmu, maka abang akan berdosa. Abah pun juga pasti akan berdosa. Kalau kau menginginkan Abah, umi, Abang berdosa, maka silakan teruskanlah.... Assalamualaikum!"
Abangnya Shaila memutus panggilan teleponnya.
"Walaikumsalam..."
Shaila menjawab dengan nada suara yang sumbang.
Shaila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu meringkuk memeluk bantal dengan menempatkan seluruh wajah dan sebagian kepalanya di bawah bantal. Di bawah bantal ia menangis sejadinya.
Shaila semakin larut dalam emosinya, memuaskan dirinya dengan tangisan untuk melepaskan luka berat di dalam hatinya. Dia Tak menyangka malam ini ia harus berdebat dengan abangnya, karena mantan tunangannya.
--------------------------------------
**Halooo kawan-kawan...
Mohon maaf author dua hari ini telat update, karena author sedang menulis novel baru.
Klik saja di profil Author ya...
***Halo sobat pembaca***
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**