I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] MEMBELA CAESAR



"Mommy..."


Regal masih tidak percaya ibunya melayangkan sebuah tamparan di wajahnya. Hingga ia masih mematung karena keterkejutannya.


"Apa kamu sadar sikap aroganmu itu menjadikan dirimu seperti orang yang tak mengenal batasan. Caesar kakakmu! Kakak kandungmu! Bukan musuhmu!"


"Sayang tenanglah..."


Eric berusaha menenangkan Nana yang masih terengah-engah karena kemarahan yang baru saja ia lampiaskan kepada Regal.


Namun Nana masih belum selesai dengan luapan kemarahannya pada Regal.


"Kamu tahu berapa banyak hal yang telah kami berikan padamu, hingga kami tanpa sadar telah mengabaikan Caesar. Dan kamu masih terus merasa belum cukup...?"


***



***


"Ini makanlah nak..."


Gunawan menyuguhkan bubur kacang hijau yang masih suam-suam kuku kepada Rosie yang sedang manggambar dan meletakkannya di meja dekat tempat duduk Rosie.


Melihat ayahnya yang membawakan makanan untuknu, Rosie berhenti menggambar dan meletakkan pensil sketsanya di meja dan sebagai gantinya ia mengambil bubur kacang hijau dan meletakkan mangkuknya di pangkuannya lalu menyendoknya smbil sesekali ditiup sebelum ia memasukkan ke dalam mulutnya.


"hmm... ini enak pa..." Ucap Rosie dengan berusaha menggerakkan bibirnya yang masih tertekan balutan perban dari pipinya.


Gunawan tersenyum melihat anaknya yang antusias memakan bubur kacang hijau buatannya.


"Susah sekali mencari biji kacang hijau yang masih ada kulit hijaunya. Kebanyakan memang sudah diplenceti jadi warna kuning. Tapi kamu pinginnya yang masih ada ijonya..." Celoteh Gunawan dengan nada khas medok Surabaya-nya.


"Papa juga lebih suka kacang ijo yang masih ada kulit ijonya kan...."


"Ya kalau udah diplenceti, sampe gak ada ijonya ya bukan kacang ijo lagi namanya..." protes Gunawan.


Rosie tertawa karena menyadari ucapan ayahnya ada benarnya. Tawa Rosie disambut dengan tawa Gunawan hingga mereka tertawa bersama. Namun Rosie perlahan menghentikan tawanya.


"Andai saja mama masih ada..."


Ekspresi Gunawan langsung berubah mendengar kalimat yang diucapkan Rosie.


"Kamu merindukan ibumu?"


Rosie diam, dengan mengangguk pelan seolah ia takut akan menyinggung perasaan ayahnya. Namun Gunawan malah tersenyum merespon Rosie.


"Dia juga pasti merindukanmu... Tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan anaknya..." Hibur Gunawan sambil mengelus rambut Rosie.


Rosie tersenyum mendengar ayahnya. Lalu ia kembali menyadarkan dirinya bahwa hal sempurna yang pernah ia miliki adalah ayahnya yang selama ini menjadi orang tua tunggal bagi Rosie.


"Ibu juga pasti merindukan papa... Dia pasti bangga memiliki suami sempurna sepertimu pa..."


Rosie dan Gunawan saling berpelukan menyemangati satu sama lain. Mereka berdua kini juga memang hanya memiliki satu sama lain dalam menjalani setiap perjalanan hidup yang mereka lalui.


Caesar melihat mereka berdua dari luar pintu yang sedikit terbuka. Dia berada di sana sejak Rosie mengatakan bahwa ia sangat merindukan ibunya.


Caesar beranjak melangkah pergi dari ruang perawatan tersebut untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan hingga langkah kakinya terhenti di sebuah kantin Rumah Sakit.


Caesar hanya memesan sebuah nasi goreng dan moka hangat. Sembari menunggu pesanannya, Caesar merogoh sakunya melihat ponselnya yang mati sejak pagi tadi setelah ia mengirim pesan foto sertifikat pernikahan kepada Eric, ayahnya.


"Maafkan aku daddy, mommy... Aku belum siap memberikan penjelasan kepada kalian. Yang jelas aku sudah memberi tahu bahwa aku sudah memiliki bukti bahwa aku sudah menikah."


Caesar menundukkan kepalanya di antara kedua sisi lengannya yang menjulur ke meja di depannya.


Namun tiba-tiba Caesar mendengar seseorang meletakkan sebuah benda di meja. Mungkin saja itu makanan pesanannya. Caesar mendongakkan wajahnya.


"Rosie...?"


Ternyata itu adalah Rosie yang membawakan semangkuk sup kacang hijau untuk Caesar.


"Kakak sudah makan?"


Sejenak Caesar hanya diam dan seolah ia tak percaya Rosie datang padanya. Ini adalah pertama kalinya Caesar dan Rosie bertemu setelah mereka mendapatkan sertifikat pernikahan.


"Kak Caesar?" Rosie tampak keheranan dengan sikap Caesar yang hanya mematung tak bersuara.


"Kamu... dari mana kamu tahu aku di sini?" Tanya Caesar.


"Sepertinya aku melihatmu datang ke depan ruang perawatanku. Untuk memastikannya, aku kemudian keluar kamar dan ternyata benar kamu... Sudah tiga hari ini kamu tidak datang ke kamar perawatan. Kenapa?"


Caesar menghela nafas menata pikirannya untuk mengeluarkan kalimat apa yang akan ia jelaskan pada Rosie saat ini selama tiga hari ini ia memang sengaja menghindari Rosie.


Melihat Rosie semakin menatap matanya sambil menunggu apa yang akan diucapkan Caesar, semakin membuat Caesar salah tingkah dengan beberapa kali ia menghindari tatapan Rosie.


"Kak Caesar sengaja menghindariku?" Rosie langsung menancapkan satu kalimat yang membuat Caesar justru membeku di tempat.


"Apa? Kak Caesar bilang apa?" Celetuk Rosie yang jelas tak mendengar apa yang dikatakan Caesar.


"Aku... minta maaf...." Kali ini Caesar sedikit mengeraskan suaranya berharap Rosie bisa mendengarnya.


"Maaf? Untuk apa?"


Benar saja Rosie mendengar ucapan Caesar namun ia justru semakin bingung dengan permintaan maaf Caesar.


"Apakah itu tentang sertifikat pernikahan yang di dalamnya ada namamu dan Rayne?"


Caesar mengiyakan dengan mengisyaratkan kedipan mata.


Rosie malah tersenyum menanggapi Caesar.


"Yang menikah dengan dirimu adalah Rayne. Aku pun juga hanya meminjam identitas gadis itu. Aku hanya substitusi dari gadis itu. Jadi bukankah kita sama saja? Lalu mengapa kamu merasa bersalah kepadaku?"


"Aku pernah berjanji padamu untuk memberikan kebebasan memiliki kehidupan baru sebagai orang yang baru setelah operasi terakhir ini... Tapi aku malah orang yang mengikatmu tetap di sini..."


Rosie mendengarkan Caesar dengan serius, namun Caesar malah justru tak menatap Rosie selalu menghindar dari tatapan Rosie.


"Aku tahu kamu kesulitan dalam posisimu saat ini, seolah kamu terpasung di tempat ini. Dan akulah membuatmu seperti itu. Bahkan aku tidak mengatakan alasan mengapa aku membutuhkan sertifikat pernikahan itu..."


Rosie mengatupkan kedua bibirnya seolah menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Ia ingin membiarkan Caesar terus menjelaskan padanya.


"Apa kamu benar-benar ingin tahu alasannya?"


Rosie hanya mengangguk pelan.


Caesar seolah ragu dengan kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Sebenarnya Caesar sudah tidak ingin melibatkan Rosie lagi dengan keluarganya, dia sendiri yang berjanji pada Gunawan dan Eric. Tapi malah dirinya yang menyeret Rosie ke dalam arus perselisihan dengan Regal untuk kedua kalinya.


Caesar tiba-tiba seolah membungkam mulutnya, padahal Rosie sedang duduk di depannya terus menatapnya dengan seksama, menunggu Caesar untuk mengatakan sesuatu kepadanya.


"Apakah tidak apa-apa aku menyebut nama anak itu di depan Rosie? Mengapa rasanya aku begitu ketakutan? Mengapa aku jadi takut untuk menyakiti Rosie?" ucap Caesar dalam hati .


Caesar memejamkan matanya selama beberapa menit, sementara Rosie masih menunggunya.


"Ada seseorang yang sangat ingin aku menikahinya. Tapi aku tidak pernah menganggapnya sebagai laki-laki dan perempuan. Aku sudah lama mengenalnya sebagai adik. Dan sebagai tunangan adikku. Dan saat di New York, terjadi sebuah kecelakaan.... Ada seseorang yang sengaja membiusku dan mencoba membuatku tidur dengan orang tersebut. Tapi aku tidak mau itu terjadi.... Karena hatiku.... Tidak ada lagi tempat untuk mencintai seseorang. Sudah terlalu lemah untuk mencoba mencintai dan kehilangan..."


"Jadi itu sebabnya kamu meminjam nama Rayne? Agar kamu bisa menghindari pernikahan dengan dirinya?"


"Ya... maafkan aku... Aku tidak memiliki pikiran kepada siapapun selain Shaila dan dirimu. Shaila tidak bersedia melakukannya, karena dia tidak mau lagi terikat lagi denganku...."


"Kamu begitu yakin bahwa aku akan bersedia menyetujui permintaan itu, karena aku memang harus membalas budi kepada keluargamu...."


"Tidak... Bukan begitu...."


"Aku Sangat mengerti kak.... Kamu sudah banyak membantu keluargaku... Jadi mungkin ini saatnya aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu keluargamu....


Rosie dengan lapang dada menerima alasan Caesar, namun di sisi lain justru Caesar malah semakin merasa bersalah padanya.


"Ya Tuhan... apa yang aku lakukan... Maafkan aku tidak jujur padamu, Rosie. Aku tak bisa mengatakan bahwa orang yang telah menjebakku adalah Regal dan tunangannya..."


***



***


-------------------------------------


Halo kawan-kawan,


Terima kasih banyak atas kesetiaan kalian membaca novel ini.


Tidak lupa saya mengajak kalian untuk bergabung dengan "GROUP CHAT AUTHOR" agar kita semakin dekat dan menjalin komunikasi.


Segala informasi dan pemberitahuan novel, update, dan revisi akan saya bahas di Group Chat.


Oh iya, tentu saja SETIAP HARI ADA REWARD berupa KOIN atau POIN dari author atas apresiasi kalian membaca novel ini.


Juga jangan lupa baca karya novel author yang lain ya...


Selalu dukung karya author,


LIKE & FAVORITE


GABUNG GROUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


Dukungan kalian sangat Luar Biasa 👍🏻