
"Yes, I will..."
Regal merespon pertanyaan Jasmine tanpa menoleh sedikitpun.
Senyum Jasmine merekah seiring denagn suasana hatinya yang begitu lega saat Regal, yang merupakan salah satu orang yang membuat masalah di kelompoknya bersedia masuk kembali ke study group-nya dan membantunya.
"Tapi kamu harus menepati janjimu. Aku baru akan membantumu kalau kamu berhasil bicara dengan kakakku." Regal membalikkan tubuhnya sehingga kini Jasmine dan Regal saling berhadapan.
"Sure! Aku pasti akan melakukannya!" Jasmine dengan wajah sumringah meyakinkan Regal.
Rupanya Caesar melihat mereka berdua dari atas jendela lantai tiga di Gedung perpustakaan Grade 7.
Entah apa yang dipikirkan oleh Caesar menatap Regal dan Jasmine di halaman sekolah berjalan bersama dengan tatapan yang seolah tidak suka mereka sedang bersama.
Dan kedua kalinya Steven membuktikan asumsinya terhadap Caesar. Apa yang terlihat di mata Steven, hubungan Caesar dan Regal sangat rapuh dan tidak akan butuh usaha keras bagi dirinya untuk menjadikan mereka semakin hancur.
***
***
Suatu malam,
Caesar masuk ke ruang study Eric. Caesar berjalan menuju salah satu lemari buku yang tertutup dengan pintu kaca. Di sana kuncinya masih menggantung. Caesar pun membukanya.
Caesar terus mencari dengan hati-hati setiap lembaran folder yang ada di lemari tersebut.
Namun tidak beberapa lama, Eric masuk. Dia terkejut melihat Caesar.
"Caesar?"
"Iya dad,..." Caesar menjawab dengan santai.
"Kenapa kamu membuka lemari itu?"
"Why? Mungkin karena aku hanya ingin bernostalgia saja."
Eric segera menghampiri Caesar dan mengambil folder yang sedang dipegang Caesar lalu mengembalikan ke dalam lemari dan menguncinya sekaligus dia mencabut kunci tersebut kemudian memasukkan ke dalam saku jasnya.
"Jangan ingat masa-masa kelam itu lagi Caesar."
"Kenapa? Daddy masih belum melupakan kejadian 13 tahun lalu?"
"Saat kita tidak ingin mengingatnya, maka sebaiknya lupakan!"
"Bagaimana jika kita tidak bisa melupakannya?"
"Maka singkirkan semua hal tentang memori itu."
"Tapi kenyataannya, daddy tidak menyingkirkan semua dokumen itu."
"Caesar, ada apa denganmu?"
Eric menarik tangan Caesar dan mendudukkannya di sofa.
"Katakan pada daddy, kenapa kamu terus seperti itu pada Regal. Apa itu karena daddy lebih menuruti permintaan Regal yang ingin satu sekolah denganmu, padahal kamu tidak ingin."
"Itu hanya salah satunya, tapi selebihnya aku begitu kesal setiap kali melihatnya. Apa yang dilakukan olehnya selalu membuatku muak, apalagi saat dia mendapatkan apresiasi dari mommy."
"Tapi bukankah seharusnya kekesalanmu sudah mulai runtuh karena kalian sudah beranjak dewasa, kalian bisa bermain bersama, bisa menjadi teamwork, dan lagipula keadaan keluarga kita tidak ada masalah yang berarti."
"Maafkan aku daddy, aku tidak bisa meredam kekesalanku terhadap Regal. Bagiku dia hanya seorang pendatang yang sejak awal kehadirannya membawa luka padaku."
"Caesar, jika kamu mau menyalahkan atas awal kehancuran hubunganmu dengan ibumu. Orang yang harus kamu salahkan adalah aku."
(flashback)
13 tahun lalu
Caesar terbangun dari tidurnya jam 3 pagi. Dia tidak mendapati ibunya di sampingnya. Caesar keluar kamar, lalu dia mendengar dari ruang tengah seseorang menangis. Caesar menuruni tangga perlahan, dia melihat Bi Niken menangis sesenggukan dengan posisi duduk tersungkur dengan kepala yang bersandar di kursi.
"Bi Niken, mommy mana?"
Bi Niken tidak menjawab, dia malah berlari memeluk Caesar dan menangis sejadinya, membuat Caesar semakin tidak mengerti. Dia hanya bisa diam dan membatu.
Sampai akhirnya Caesar bertemu Neneknya dan tantenya yang juga melakukan hal yang sama. Memeluk dan menangis.
"Mommy mana, grandma?"
Semua orang membisu.
Caesar ingin marah dan menangis karena semua orang membuatnya semakin tertekan dan frustasi atas ketidak jelasan dimana ibunya berada.
Hingga Eric pun pada suatu ketika membawa Caesar ke Rumah Sakit, di sana dia melihat tubuh Nana terbujur kaku dengan banyaknya alat medis yang terpasang di tubuhnya.
"Rasanya baru kemarin aku bersama dengannya, merasakan pelukannya, aroma tubuh dan kehangatan dekapannya masih jelas bisa kuingat dan kurasakan. Tapi saat aku membuka mata, dia telah tiada, bahkan kini aku tidak bisa melihat wajahnya." batin Caesar.
Sejak malam itu hidup Caesar dan Nana berubah. Nana seperti orang lain bagi Caesar. Bahkan saat Eric menyuruh Caesar memanggil kakak.
Eric tidak pernah tahu setiap malam Caesar pergi ke kamar Nana dan membayangkan ibunya sedang tidur di sana. Bahkan home dress yang dipakai Nana sebelum kecelakaan malam itu terjadi, selalu menjadi teman tidur Caesar.
(flashback end)
"Coba daddy bayangkan, saat sebelum mata terpejam, orang yang kita sayangi masih ada di samping kita. Tapi saat kita membuka mata, kita telah kehilangannya."
"Lalu apa hubungannya dengan Regal? Itu murni kesalahan Daddy..."
"Ya... tapi saat aku baru saja merajut kembali hubungan itu dengan mommy, Regal datang dalam bentuk kesakitan yang membuat mommy harus menjauhkan diri dariku. Mana mungkin aku bisa melupakan itu semua? Hingga saat ini bahkan mommy sedikit demi sedikit terus menjauh. Aku hanya ingin kembali seperti dulu."
"Apa yang telah terjadi di masa lalu tidak bisa kita ulang kembali untuk dibenahi. Yang tersisa saat ini hanya masa depan yang perlu kita bangun untuk memperbaikinya."
Caesar berdiri dan melangkahkan kakinya tanpa melihat wajah Eric.
"Caesar, kamu sudah beranjak dewasa, daddy berharap banyak padamu. Kelak kamu yang akan meneruskan Shine Group menggantikan daddy."
"Menjadi successor, dijodohkan dengan orang yang tidak aku cintai, lalu berselingkuh dan menyebabkan istriku kecelakaan hingga koma. Apa daddy berharap aku akan mengulang cerita itu lagi?" Caesar terkekeh seolah sedang menertawakan pengalaman hidup yang pernah dilalui ayahnya.
Eric tak bisa berkata apapun. Dia memang bersalah, dia rela terus diperundungi di sepanjang hidupnya atas kebodohan yang pernah dia lakukan pada keluarganya.
"Jangan membenci Regal.... Jangan membenci Regal...."
Eric bergumam namun suaranya terdengar jelas, bahwa dia sedang memohon kepada Caesar.
Caesar hanya menoleh dengan membalikkan tubuhnya sedikit.
"You'll never understand me at all, daddy..."
Caesar pergi meninggalkan Eric yang masih termenung di ruang study dengan langkah yang cepat lalu masuk ke kamarnya dengan gebrakan pintu yang terdengar dari ruang study.
----------------------------------
Jasmine mengendap-endap berjalan sambil seolah mencari seseorang di gedung grade 11. Rupanya Jasmine sedang berusaha menepati janjinya kepada Regal, bahwa ia akan berusaha bicara dengan Caesar.
Tidak sulit bagi Jasmine mendapatkan informasi tentang Caesar Shine, karena selain Caesar adalah salah satu siswa yang berprestasi, dia pun juga diberi informasi tentang Caesar dari Regal tentunya.
Jasmine menuju kelas Biologi, tempat di mana Caesar kemungkinan saat ini berada karena sesuai jadwal seharusnya pelajaran yang ditempuh terakhir kali sebelum istirahat adalah Biologi.
Di Grade 11, ada empat kelas Biologi. Namun Jasmine tidak tahu kelas mana yang ditempati Caesar.
"Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan Kak Caesar Shine?" Jasmine bertanya pada salah satu siswa di dekat kelas.
Rupanya siswa yang ditanyai Jasmine adalah Noah, Glenn, dan Gwenn.
"Who are you?" Gwenn bertanya penasaran.
"Saya Jasmine, teman Regal. Saya ada keperluan berbicara dengan senior Caesar." Jasmine tampak berhati-hati dalam merangkai kalimat yang diucapkannya.
"Kamu teman Regal? Oh... hampir saja aku salah paham padamu. Pasti kamu bertemu Caesar karena disuruh Regal?" Gwenn terus bertanya.
"I...iya..." Jasmine sedikit gugup menghadapi Gwenn yang tampak sinis.
"Dia sedang di ruang siaran radio saat ini, kamu bisa menemuinya di sana." Ucap Gwenn.
"Oh... thank you so much, senior..." Jasmine sangat lega dan senang dengan jawaban Gwenn yang sangat membantunya.
Jasmine pergi menuju ke ruang siaran radio.
"Sepertinya gadis itu yang dekat rumah kita?" ucap Glenn tiba-tiba.
"Kamu mengenalnya?" tanya Gwenn.
"Wait.... bukankah kita pernah bertemu dengannya saat di depan Minimarket waktu dulu? Saat bersama Caesar juga kan? Dan terakhir kali aku juga melihatnya sedang bersama Regal." Noah berusaha mengingat moment dia pernah bertemu Jasmine.
"Berarti dia tidak berbohong kalau dia teman Regal." Gwenn menjawab santai.
"Kalau dia teman Regal, seharusnya dia tidak menemui Caesar karena disuruh Regal. Baru saja beberapa hari yang lalu kita tahu kalau apa yang keluar dari mulut Caesar saat dia bertemu Regal." Noah tampak terbelalak
"Oh my..... Aku juga lupa kalau di ruang siaran itu juga ada senior Shaila.
Jasmine terus berjalan menuju ruang siaran radio yang berada di gedung yang sama dengan Grade 11.
Awalnya Jasmine ragu membukanya, namun dia memberanikan diri untuk membukanya.
"Fiuh.... lebih cepat lebih baik." gumam Jasmine.
Pada saat Jasmine membuka pintu, tepat di tembok samping pintu, Caesar dan Shaila sedang bercanda.
Shaila mencubit kedua pipi Caesar hingga wajah Caesar tampak konyol. Jasmine yang terkejut dengan adegan mereka berdua, secara tidak sadar menjatuhkan buku yang sedari tadi dibawanya.
***
***
Shaila dan Caesar juga tidak kalah terkejut. Dengan cepat mereka berdua memperbaiki posisi berdiri mereka dengan tegak.
"Kamu.... kenapa di sini?" Caesar penasaran melihat Jasmine sedang di hadapannya.
"Saya mencari kak Caesar...."
Caesar tersentak. Tapi belum sempat Caesar bertanya alasan Jasmine mencarinya,
"Saya minta maaf, lain kali saja mungkin saya akan bertemu..." Jasmine membungkukkan badannya lalu berlari pergi.
Jasmine dirundung rasa malu yang besar karena ia mengira telah mengganggu moment Caesar bersama dengan kekasihnya.
Saat Jasmine berlari melewati halaman lapangan olahraga, Jasmine tiba-tiba dilempar sebuah bola basket oleh seseorang.
"Brakkk"
Seluruh alat tulis dan buku yang dibawa Jasmine jatuh ke tanah semua.
"Kenapa aku selalu melihatmu di mana-mana? Nona muda Wilson?"
"Ah Steven...." Jasmine melihat sebentar, lalu berjongkok merapikan barangnya. Jasmine hanya fokus untuk merapikan barang-barangnya tanpa sedikitpun mempedulikan Steven.
"Apa kamu tuli? Aku sedang bicara denganmu!"
"Sebentar Steven, biar aku rapikan barangku dulu..."
Steven melihat Jasmine semakin gigih merapikan barangnya, tanpa mempedulikan dirinya.
"Dukk!"
Kali ini Steven sengaja memukul kepala Jasmine dengan bola.
Jasmine kaget, barang-barang yang telah dia pegang jatuh kembali.
Steven tersenyum, dia merasa senang, dan kali ini mungkin dia akan mendapatkan perlawanan dari Jasmine.
Tapi di luar dugaan Steven, Jasmine tidak melawan, malah justru kembali merapikan barangnya yang tercecer.
Steven berjalan menjauh. Rupanya dia kembali mengambil ancang-ancang untuk melempar Jasmine dengan bola.
"Dukkk!" Steven melepaskan lemparannya.
Dan kali ini, karena dilempar dari jarak jauh, tentu saja akan terasa lebih keras.
"Brukkk!" Jasmine kehilangan keseimbangan hingga jatuh tersungkur ke samping.
"Aduh, kepalaku terasa pusing" Jasmine memegangi kepalanya,
Saat dia akan bangkit, Jasmine terhuyung-huyung dan tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Jasmine melihat noda darah di dadanya.
"Apa? Darah apa ini?"
Lalu Jasmine meraba hidungnya. Benar, ternyata dia mimisan.
Steven sedikit terkejut, namun kemudian dia biasa saja.
***
***
Saat Steven hendak berjalan mendekati Jasmine,
"Cukup Steven!"
Regal datang dari arah belakang Jasmine dengan membawa tisu yang dia berikan kepada Jasmine.
Jasmine yang masih syok, hanya menerima tisu dari tangan Regal sambil menatap Regal dengan wajah penuh iba.
"Ckk! Dasar bodoh!"
Regal yang sempat bertatapan dengan Jasmine, merasa kesal sendiri dengan sikap Jasmine yang tidak mau melawan.
"Steven! Levelmu semakin buruk saja, menyiksa orang yang lemah! Kita sudah bukan anak-anak, tapi sikapmu kekanakan!"
Steven kesal dengan ucapan Regal, dia melempar bola ke arah belakang dirinya lalu berlari ke arah Regal dan menarik kerah baju Regal.
"Kamu bicara apa tentangku barusan?! Hah! Lihat siapa dirimu! Anak yang tak dianggap! Bahkan kakakmu saja menganggapmu sebagai aib!"
Regal meremas tangan Steven yang mencengkeram kerah bajunya.
"Kamu tidak tahu apa-apa! Jangan ikut campur masalah keluargaku" Regal memelototi Steven.
"Hahaha.... T-i-d-a-k d-i-a-n-g-g-a-p!" Steven justru malah mengejanya kalimatnya.
"Buakkk!" Sebuah tinju mendarat di pipi Steven.
Steven tak gentar, dia langsung bangkit dan membalas Regal. Dalam sekejap halaman di dekat lapangan olahraga mendadak ramai dan riuh. Para siswa tidak menyoraki tapi juga tidak memisahkan. Mereka sibuk bergumam sendiri dengan sesama teman yang juga turut menonton.
Sementara dari kejauhan, Glenn dan Noah berlari setelah mendapat laporan bahwa Regal dan Steven berkelahi.
Dengan sigap, Glenn dan Noah memisahkan Regal dan Noah, mereka masing-masing saling memegangi Regal dan Steven.
"Apa kalian gila! Jika sampai ada yang melapor pada Guru, kalian akan diskors!" Noah membentak Steven.
Regal menghempaskan tangan Glenn yang memeganginya. Dia berbalik badan menjauhi Steven, Glenn, dan Noah.
Di luar dugaan, Regal menarik tangan Jasmine dan menyeretnya berjalan bersamanya. Mereka meninggalkan tempat itu.
"Dasar pecundang!" Steven berteriak pada Regal.
"Plakkk!" Noah menampar Steven.
"Kau berani--"
"Apa!! Kau memang anak yang sulit diatur! Aku akan melaporkannya pada ayahmu!"
"Apa?!" Mata Steven berkaca-kaca.
"Tunggu saja sampai hukumanmu tiba!" Noah menyeret Steven meninggalkan lapangan olahraga.
Dari kejauhan, tampak Caesar sedang memperhatikan adegan yang baru saja usai. Caesar tidak sendiri, dia bersama Gwenn.
"Gadis itu tadi yang mencarimu, kalau aku tidak salah baca namanya Jasmine, aku rasa Regal berkelahi dengan Steven demi membela gadis itu." Gwenn berkata sambil menyilangkan kedua lengannya di dadanya.
"Aku tidak bertanya padamu. Tapi... terimakasih atas informasinya...." Caesar tersenyum pada Gwenn sambil membalikkan tubuhnya.
Dan setelah tubuhnya sepenuhnya berbalik membelakangi Gwenn, ekspresi wajah Caesar berubah menjadi waspada bagai seekor singa yang sedang membidik mangsanya.
"Jasmine.... jadi itu namanya...." Caesar berbisik pada dirinya sendiri.
--------------------------------
Waktunya Diskusi!!!
Apa yang dipikirkan Caesar terhadap Jasmine?
A. Apakah Caesar berpikir untuk merebut Jasmine
B. Apakah Caesar berpikir untuk menyingkirkan Jasmine?
C. Apakah Caesar tidak melakukan apa-apa?
Preview Episode Selanjutnya,
Setelah mendapatkan laporan dari Noah tentang konflik Steven dengan Regal, Tuan Kwan akhirnya memberi hukuman pada Steven sebagai bentuk kekesalannya karena Tuan Kwan merasa dilawan dan dipermalukan oleh keluarga Shine.
Meskipun Steven dihukum oleh Tuan Kwan, siapa yang menyangka bahwa ternyata Tuan Kwan sedang merencanakan untuk menghancurkan Eric Shine dengan cara menghancurkan Regal, setelah Tuan Kwan mengetahui dari Steven bahwa Regal adalah anak kesayangan Eric dan Nana.
***Halo sobat pembaca***
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**