
Bertemu Kembali
"Anda.....Siapa.....?"
Meski samar namun Eric jelas mendengar kalimat yang diucapkan Nana. Eric hanya sedikit terkejut tapi dia masih berpikir mungkin Nana masih linglung karena baru saja sadar dari koma. Kemudian Nana menoleh perlahan, matanya menyusuri setiap sudut ruangan sekitarnya yang terasa asing baginya. Lalu dia bergumam lagi,
"Saya.....dimana....?"
"Kamu di rumah sakit sayang...."
Berkali-kali Eric mencium tangan Nana yang digenggamnya dengan wajah terharu, bahagia, bercampur menjadi satu.
"Terimakasih kamu sudah sadar, Terimakasih banyak kamu sudah berjuang.... Nana... Aku berjanji akan selalu berada di sisimu dan menebus segala kesalahanku padamu."
Nana hanya menatap tingkah Eric dengan tatapan yang aneh. Dia berusaha ingin melepaskan tangannya dari genggaman Eric.
"Aku akan panggilkan perawat dulu."
Eric menghubungi perawat dan mengatakan jika Nana sudah sadar.
Tidak berapa lama Brian datang bersama beberapa perawat.
"Nana...! kamu sudah sadar?"
Nana tersenyum dan mengangguk perlahan. Kemudian Brian memeriksa kondisi vital seperti detak jantung, frekuensi nafas, dan alat-alat medis yang terpasang di tubuh Nana. Tiba-tiba Nana memegang tangan Brian yang masih sibuk memeriksanya,
"Kak,...Mama....Kak Kevin....mana?"
Brian tertegun mendengar pertanyaan Nana. Brian dan Kevin saling berpandangan. Mereka sama-sama berpikir bagaimana cara menjelaskan kepada Nana kalau mereka berdua sudah....
"Papa.....mana....?"
Belum selesai mereka terkejut dengan pertanyaan sebelumnya, kali ini mereka semakin tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
----------------------------------
Beberapa hari kemudian,
Eric berada di ruang konsultasi Brian untuk memastikan kondisi Nana yang dalam beberapa hari ini semenjak dia sadar, masih belum bisa diajak bicara, bahkan Nana berkali-kali mengatakan tidak mengenal Eric. Dia terus menanyakan orang tuanya dan Kevin.
"Nana terus menanyakan keberadaan orang tuanya dan Kevin... tapi dia tidak bisa mengenaliku. Apakah mungkin Nana kehilangan ingatan?"
"Itu yang sedang aku observasi. Aku melihat setiap detail perkembangan Nana dalam beberapa hari ini, dan membahasnya dengan tim dokter yang menangani Nana. Kami meyakini bahwa kondisi itu berhubungan dengan cedera kepala yang dialami Nana,"
Kevin sambil menunjukkan hasil CT scan otak Nana.
"Ini adalah kondisi cedera kepala yang dialami Nana, tulang tengkoraknya mengalami keretakan parah di bagian ini. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan pada lapisan otak besarnya, tepatnya di bagian yang dinamakan lobus temporal. Bagian otak ini salah satu fungsinya adalah untuk menyimpan memori, pengontrolan emosi, dan memperkuat ingatan baru. Kalau dilihat secara fisologis, ada dugaan bahwa Nana kemungkinan mengalami kehilangan memori selama beberapa waktu. Tapi berapa persen ingatan dan jangka berapa tahun memorinya yang hilang, kita masih belum tahu karena kita belum banyak melakukan interaksi intensif dengan Nana. Sekarang yang terpenting adalah mempertahankan kondisi vital Nana. Melihat perkembangan Nana dalam beberapa hari ini yang semakin membaik, kemungkinan besok Nana sudah bisa lepas dari ventilatornya."
"Lalu bagaimana jika dugaan Tim dokter benar-benar terjadi?"
"Jika dugaan itu terjadi, maka diagnosa yang sangat mungkin terjadi adalah Nana mengalami Amnesia Retrograde, yaitu kategori amnesia yang menyebabkan penderitanya tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang lalu. Gangguan ini cenderung mempengaruhi ingatan yang baru terbentuk. Biasanya memori yang paling diingat adalah ingatan lama, seperti kenangan masa kecil ."
Eric hanya terdiam, sepanjang hari dia terus melamun memikirkan penjelasan Brian tentang keadaan Nana. Eric sangat bahagia Nana sudah sadar, namun jika diagnosa tim dokter itu benar, maka tentu saja ia takut Nana tidak mengingat dirinya. Eric masih ingat saat pertama kali Nana mengucapkan kalimat "anda siapa" kepadanya.
Besoknya Brian dan beberapa perawat melepas ventilator oksigen Nana.
"Kak Brian, kak Kevin Mana?"
"Kevin sudah aku kabari, dia saat ini sedang ujian."
"Sebenarnya aku ini dimana?"
Brian menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nana,
"Sebelumnya kamu mengalami kecelakaan dan kamu dirawat di Rumah Sakit."
"Mama papa sudah tahu?"
"Mereka sudah tahu tapi mereka masih di luar negeri. Mereka pasti akan segera kemari."
Nana meraih tangan Brian dan menggenggam erat.
"Aku takut, aku tidak mengenal siapapun disini...."
"Disini ada aku, kamu tenang saja... kamu bisa mengandalkan aku..."
Brian menggenggam tangan Nana untuk menenangkannya. Bahkan dia mengelus kening Nana, membuat Nana terlihat lebih tenang dan mulai tersenyum.
Eric yang berdiri di samping bed Nana hanya mampu melihat adegan itu dengan menahan rasa cemburu. Nana sama sekali tidak melihat ke arahnya, seolah Eric seperti orang yang tak terlihat bagi Nana.
Mama Julia dan Erica masuk ke ruangan Nana, dan melihat Nana yang sudah sadar. Mama Julia langsung memeluk Nana dengan isakan tangis yang membuat Nana heran.
"Aunty Julia?"
"Iya sayang... ini Mami... Mami kangen sekali sama kamu..."
"Mami...?"
Nana masih tampak bingung dengan ucapan Mama Julia, begitupun dengan Mama Julia dan Erica yang bingung dengan ekspresi Nana. Mereka masih belum tahu tentang kondisi Nana.
"Nana, ini mami...."
"Mami? Aunty Julia, bukan Mami."
Nana dengan polosnya sama sekali tidak mengerti siapa Mami yang dimaksud Julia. Erica dan Mama Julia memandangi Brian dan Eric yang hanya diam, seolah mereka menyembunyikan sesuatu tentang kondisi Nana.
"Kamu tidak mengenali Mami? Eric?"
"Eric?"
Eric merasa deg-degan saat namanya disebut oleh Nana. Kemudian Nana menoleh ke arah laki-laki yang ada di samping kirinya, yang sejak tadi berdiri di sana.
Eric terbata dengan ucapannya karena ia ragu dan bingung bagaimana memulai bicaranya.
"Kak Eric.... anak aunty Julia?"
Deg.
Entah Eric terasa sangat sakit mendengar kalimat itu dari mulut Nana. Dia benar-benar tidak mengingat apapun yang sudah mereka jalani bersama. Namun Eric tetap berusaha tersenyum dan menguatkan dirinya.
"Iya.... Aku Eric. Salam kenal."
Julia dan Erica sangat kaget mendengarnya. Brian hanya diam dan menghela nafas. Dia sebenarnya juga tidak menyangka Eric bisa berperan dengan baik untuk mengikuti pikiran Nana.
Eric mengajak Erica dan Mama Julia keluar ruangan Nana saat Brian melakukan observasi terhadap Nana.
"Eric, apa yang terjadi dengan Nana? Apa dia hilang ingatan?"
"Tim dokter masih menduga seperti itu, tapi mereka perlu observasi lagi untuk mendiagnosa Nana.... Jadi untuk sementara ini kita ikuti saja jalan pikiran Nana. Dari sejak dia membuka matanya, dia terus menanyakan Mama Lisa, Kevin, dan Om Hari."
"Ya Tuhan...."
Mama Julia menangis di bahu Erica. Dia sangat kasihan pada Nana, dia tidak menyangka betapa ujian hidup Nana tidak ada habisnya.
"Mama merasa bersalah... seolah semua ini karena mama yang telah melibatkan Nana..."
"Ma....ini bukan salah mama..."
"Bagaimana kalau Nana benar-benar tidak bisa mengingat apapun, bahkan Caesar...."
"Dokter masih melakukan analisa Ma... Semua ini masih kemungkinan. Mereka juga belum tahu sampai sejauh mana Nana kehilangan ingatannya."
"Eric, kamu tidak akan meninggalkan Nana dengan kondisi seperti ini Kan?"
"Ma.... Eric sekarang bahkan tidak bisa sedetik pun jauh dari Nana.... Kenyataan ini, sangat berat bagi Eric. Melihat Nana seperti ini membuat Eric semakin merasa berdosa. Mama pernah bilang bahwa Eric pasti suatu saat akan menuai karma dari dosa Eric terhadap Nana. Mama benar.... saat ini Eric mulai merasakan itu perlahan...."
Mama Julia semakin pecah tangisnya mendengar ungkapan Eric. Erica memeluk Mama Julia dan menenangkannya sambil berusaha menguatkan diri yang juga menahan perasaan iba terhadap Nana dan Eric.
"Untuk Caesar, aku akan pelan-pelan menjelaskan padanya. Aku akan tetap menunjukkan kenyataan yang sebenarnya pada Caesar. Semoga dia bisa menerima kondisi ibunya."
"Tapi Nana mungkin saja tidak mengenali Caesar sebagai anaknya...."
"Caesar juga aku ajak untuk bermain peran. Yang terpenting dia tetap bisa dekat dengan Nana."
----------------------------------------
Selama beberapa minggu Nana sudah banyak menunjukkan perkembangan fisik yang sangat baik, dia sudah lepas dari semua alat medis sekalipun infus. Tapi dia masih menggunakan kursi roda karena patah tulang kakinya masih belum menyatu dengan sempurna.
Selama beberapa minggu itu pula Brian selalu berada di samping Nana. Eric hanya bisa melihat mereka tanpa bisa berbuat banyak, karena memang Nana lebih membutuhkan Brian daripada dirinya.
"Eric, bisa ke ruanganku sebentar?"
Eric mengikuti Brian masuk ke ruangannya dan disana Brian memberikan dokumen hasil observasi dan analisa tim dokter penanggung jawab Nana. Eric membacanya dengan seksama dan semakin lama dia semakin gemetar, hingga dia meletakkan dokumen tersebut di meja dengan pandangan kosong.
"Nana..... benar-benar....."
"Seperti yang kamu lihat, hasil analisa para tim dokter saraf dan psikiater selama beberapa minggu ini mereka melakukan observasi dan pengujian. Hasilnya, Nana hanya mengingat usianya terakhir kali adalah 19 tahun. Dan kami juga menguji beberapa kejadian selama 10 tahun terakhir, namun hasilnya nihil... dia tidak mengingat sama sekali. Yang dia ingat hanya memori saat dia usia 19 tahun ke belakang. Maafkan aku Eric, aku harus mengatakan bahwa sepertinya Nana sudah kehilangan segala memori tentang kamu."
"Jadi....dia sama sekali tidak ingat..."
"Apakah antara usia 19 tahun itu kamu sudah mengenal Nana?"
"Ya... aku mengenalnya tapi kami tidak saling bicara pada saat itu. Aku hanya dua kali bertemu dengannya, yang pertama saat perjamuan para sahabat dekat ayahku, saat itu aku masih berusia 15 tahun dan Nana sekitar usia 10 tahun. Lalu yang kedua saat ibuku sering menemui Om Hari karena saat itu Shine Grup sedang bangkrut, saat itu aku berusia 19 tahun, Nana sepertinya berusia 14 tahun. Dan sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya, sampai kami akhirnya bertemu kembali dalam perjodohan itu."
"Pantas saja Nana tidak begitu familiar denganmu. Tapi sebenarnya bukankah itu awal yang baik untuk memulai segalanya?"
"Maksudmu?"
"Kamu bisa saja mulai berkenalan dengan Nana, mengenalnya sebagai pribadi yang baru, dan tentu saja itu akan memberi kesan baru bagi Nana terhadapmu. Karena selama itu Nana memang belum mengenal dekat denganmu. Jadi kamu bisa memulainya sebagai Eric yang memiliki kesan baru."
"Brian...."
"Tapi jangan kamu pikir aku berubah pikiran memihak padamu. Aku melakukan semua ini agar Nana tidak mengalami tekanan seperti yang selama ini dia rasakan saat bersamamu. Dan tentang putra kalian, sebaiknya jangan mengatakan bahwa dia adalah anak kalian. Kenalkan Caesar kepada Nana sebagai adik angkat."
Entah Eric harus bahagia atau sedih, dia memang saat ini tidak punya kesempatan untuk memiliki Nana, namun setidaknya dia bisa tetap dekat dengan Nana.
"Oh iya Eric, tentang masalah dokumen perceraian itu, aku harap kamu tidak lupa dengan janjimu."
"Iya.... aku akan selalu ingat.... aku hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk melakukannya...."
Eric meninggalkan ruangan Brian. Dia berjalan melewati ruangan terapi Nana. Dia melihat dari kejauhan Nana tampak ceria meski rasa sakitnya belum pulih. Sesekali Eric tersenyum sendiri melihat kepolosan Nana.
Mungkin Tuhan saat ini sedang memberikan Karma bagi Eric, dia kehilangan cintanya dari Nana, kehilangan ingatan Nana tentang dirinya, kehilangan segala perhatian dari Nana, dan kehilangan statusnya sebagai suami Nana.
Namun Eric juga menimbang bahwa Tuhan sedang memberikan anugerah padanya. Tuhan kembali mempertemukan dirinya dengan Nana dan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki dirinya di mata Nana.
(suara hati Eric)
"Hai Nana..... namaku Eric, aku hanya ingin berteman denganmu. Maukah kamu berteman denganku...."
-------------------------------------------
Kira-kira bagaimana respon Nana terhadap Eric?
Bagaimana reaksi Nana bertemu dengan Caesar?
Apakah Nana pada akhirnya menyatakan perasaannya pada Brian?
Tetap setia membaca Novel ini,
Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....