I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] RENCANA



Steven duduk di tempat duduk dekat sopir, sedangkan di kursi belakang, Gie Kwan dan Nyonya Kwan duduk berdampingan.


Suasana di dalam mobil kala itu sangat hening, namun tiba-tiba Gie Kwan memecah keheningan itu.


"Berapa lama kamu mengenalnya, Steven?"


"Maksud papa, dengan Regal?"


"Sejak di elementary school. Sejak aku pindah sebagai murid baru."


"Lalu sejak kapan kamu memiliki persaingan dengannya?"


Steven diam sejenak. Tentu saja dia tidak bisa menjawab. Mana bisa dia akan menjawab bahwa alasan utama dia bersaing dengan Regal karena Steven tahu Gie Kwan juga memiliki hawa persaingan dengan Eric Shine.


"Apa kamu tuli? Steven!"


"itu... karena... karena...."


"forget it! dengan karaktermu yang pecundang seperti ini, you can't compared with him, never!"


"aku melakukannya demi papa!"


"What?! for me?"


"Ya... aku sudah lama melihat papa selalu emosi setiap kali berurusan dengan sesuatu yang ada kaitannya dengan keluarga Shine. Jadi aku menyimpulkan sendiri, kalau papa membencinya. Dan kebetulan kala itu aku tahu bahwa Regal adalah putra keluarga Shine. Jika aku bisa menjadi lebih hebat daripada Tuan muda keluarga Shine, maka papa mungkin akan sedikit bangga padaku..."


***



***


Beberapa bulan kemudian, sesuai dengan janji Eric pada Caesar, akhirnya Caesar mendapat ijin untuk pergi ke Surabaya selama liburan Natal.


Caesar yang sudah sering bepergian ke luar negeri hanya ditemani Joni, asisten Eric yang telah lama mengikutinya sejak Caesar masih kecil.


Jika bepergian tanpa keluarganya, Caesar selalu menolak menggunakan jet pribadi milik keluarganya. Dia lebih senang menggunakan pesawat komersial kelas bisnis, kecuali untuk flight time lebih dari enam jam, dia akan memilih first class.


Caesar dan Joni kala itu sedang menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Caesar berkali-kali melihat jam tangannya.


"Paman, aku akan ke toilet dulu..."


"Baik Tuan..."


Caesar berjalan menuju toilet pria dengan berjalan terburu-buru sambil mengutak-atik ponselnya. Saat di depan pintu toilet,


"Brakkk"


Caesar menabrak orang yang berjalan keluar dari toilet. Pria paruh baya yang ditabrak Caesar pun langsung berdiri dibantu oleh Caesar.


"Maaf... Maaf... apakah anda terluka?"


"Tidak... tidak apa-apa..." pria itu tersenyum ramah sambil mencari-cari sesuatu.


"Apa anda mencari sesuatu?"


"Kacamata.... kacamata saya jatuh..."


"Saya Bantu mencari--- Krakkk!!!"


Caesar tidak sengaja menginjak kacamata pria itu, karena dia juga tidak tahu kacamata yang dimaksud jatuh di belakang Caesar.


"Saya minta maaf Sir, saya akan menggantinya."


Mendengar kata "Sir", pria itu baru sadar kalau Caesar bukan orang Indonesia.


"Tidak apa-apa, tidak perlu ganti...." pria itu semakin berjalan menjauh dan menuju arah pintu keluar kedatangan.


Caesar ingin sekali mengejarnya namun ia sudah tak tertahankan ingin segera menuju toilet.


"Haloo, paman. Kalau paman masih ada di dekat pintu kedatangan, tolong paman cari seorang pria sekitar usia 50 tahunan chinese, tapi dia berbahasa Indonesia, pakai jaket hitam bertuliskan Honda di punggungnya."


"Baik Tuan muda, ini saya sambil mencarinya. Oh.... sepertinya ketemu. Tapi dia tidak sendirian. Apa dia bersama seorang anak perempuan?"


"Aku tidak tahu, tadi dia sendiri. Tolong tahan dia dulu. Sebentar lagi aku akan menuju ke sana."


Tidak lama Caesar keluar dari toilet, ia setengah berlari menuju tempat Joni. Ternyata di sana Joni sedang bersama dua orang, yang salah satunya adalah pria yang tadi berurusan dengannya.


"Sir...." Caesar berjalan dari arah belakang mereka.


Pria itu dan putrinya menoleh bersamaan ke belakang mereka saat mendengar suara seseorang memanggilnya.


Sejenak Caesar terdiam, terpaku, dan tertahan semua kalimat yang akan keluar dari mulutnya.


"Jasmine?" ucap Caesar dari dalam hatinya.


"kak Caesar?"


Jasmine hanya terbelalak melihat seroang laki-laki muda yang tak asing baginya. Mereka berdua saling berpandangan hampir lima menit.


"Ehem... kalian saling mengenal satu sama lain?" ayah Jasmine memecahkan suasana hening yang canggung tersebut.


"Iya pa, aku mengenalnya karena dia kakak dari teman sekolahku." jawab Jasmine.


"Oh begitu, baiklah perkenalkan nama saya Gunawan, ayah Jasmine...." ayah Jasmine dengan sangat ramah tersenyum.


"Sir, saya bermaksud untuk mengganti kacamata yang tadi tidak sengaja saya injak."


"Tidak apa-apa, simpan saja uangnya..."


"Maaf Sir, Tuan muda saya hanya tidak ingin berhutang kepada orang lain. Silahkan diterima."


Rupanya ayah Jasmine sempat salah mengira bahwa Caesar adalah seorang remaja pelancong biasa. Tapi saat Joni memanggilnya Tuan muda, ayah Jasmine merasa malu.


"Saya minta maaf, saya hanya tidak ingin membuat beban bagi orang lain, apalagi saya sempat mengira anda seorang anak muda yang sedang melancong, pasti akan lebih membutuhkan uang."


Caesar tertawa kecil mendengar penjelasan polos ayah Jasmine. Joni menyerahkan kartu namanya kepada ayah Jasmine.


"Ini adalah kartu nama saya, silahkan anda urus pembelian kacamatanya, nanti saya yang akan menemani anda."


Ayah Jasmine melihat kartu nama Joni.


"Shine? Jadi anda bekerja di Shine? Lalu artinya..." Ayah Jasmine bermaksud bicara dengan Joni


"Apa anda mengenal ayah saya?" Caesar tiba-tiba menimpali.


"Tidak, saya tidak mengenalnya... Hanya saja Nyonya Wilson sering menyebut Shine Corporation, saya pikir pasti ada hubungannya."


Caesar menganalisa di dalam pikirannya. Ia berpikir pantas saja waktu itu Caesar sempat mendengar Steven memanggil Jasmine dengan sebutan Young Lady Wilson.


"Anda mau ke mana? Biar saya antarkan pakai mobil yang menjemput saya." Caesar menawarkan bantuan pada Jasmine dan ayahnya.


"Silahkan Tuan..."Joni turut mengajak ayah Jasmine sebagai isyarat untuk jangan menolak tawaran Caesar.


"Eh... Saya mau ke rumah neneknya Jasmine, di daerah Pabean Cantikan. Kalau anda mau ke mana?"


"Saya mau ke sini." Caesar menunjukkan alamat yang ada di ponselnya.


"Ohh... ini daerah Ciputra. Tapi agak jauh dari tempat saya."


"Tidak masalah, sopir saya adalah orang Surabaya. Saya akan mengantar anda."


Jasmine dan ayahnya hanya menuruti saran Caesar. Di mata Jasmine, Caesar memang orang yang baik. Bahkan kepada semua orang yang pernah ia temui. Namun mengapa Regal selalu mendapat perlakukan tak acuh dari Caesar.


Akhirnya mobil jemputan Caesar tiba, untungnya mobil yang datang adalah tipe MPV dengan tiga baris kursi.


Selama di mobil, ayah Jasmine yang duduk di kursi paling belakang hanya tertidur karena ia tampak sangat lelah selama perjalanan.


"Ayahmu tampak lelah sekali..." Caesar mengawali bicaranya.


"Iya... kami langsung berangkat ke bandara, setelah papa mengantar Nyonya Wilson berkeliling. Jadi papa belum sempat istirahat."


"Jadi.... "Caesar agak ragu dan berhati-hati dengan apa yang akan dia ucapkan.


"Apa hubunganmu dengan keluarga Wilson?"


"Sebenarnya aku tidak bermaksud menutupi, hanya saja memang aku menghormati Nyonya Wilson yang selalu memperkenalkan aku sebagai putrinya di beberapa pertemuan formal."


"Itu sebabnya Steven memanggilmu Young Lady Wilson?"


"Jadi Steven dan Regal belum tahu... kamu..."


"Mungkin mereka hanya tahu aku sebagai putri angkat Nyonya Wilson. Tapi mereka tidak tahu status keluargaku."


Caesar tersenyum.


Sesuai harapan Caesar, langkahnya untuk menawarkan tumpangan bagi Jasmine dan ayahnya, membuat Caesar mengetahui siapa sebenarnya Jasmine.


Sejak awal saat pertama kali Caesar kebetulan bertemu Jasmine di depan Minimarket Caesar tahu jika Jasmine memang dari keluarga yang memiliki masalah. Hanya saja Caesar tidak menyangka mengapa Jasmine bisa sekolah di tempat yang sama dengan dirinya, bahkan memiliki kedekatan dengan Regal. Hal tersebut yang membuat Caesar menjadi penasaran dengan sosok Jasmine.


"Aku tidak akan memberi tahu siapapun. Tenang saja. Termasuk Regal."


Jasmine tersentuh dengan ucapan Caesar.


"Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman?" Caesar menawarkan tangannya untuk disalami.


Jasmine tidak menunggu lama untuk menyalami tangan Caesar.


"Tentu..." Jasmine menyalami tangan Caesar sambil tersenyum.


***



***


Sementara di kediaman Steven,


"Apa kalian tidak dengar, papa mengatakan bahwa setelah kenaikan grade, kalian tidak perlu mengawasiku lagi."


"Kami bekerja untuk Tuan Gie Kwan. Kami akan berhenti melakukan pengawasan jika memang Tuan Gie Kwan yang memintanya."


Steven memarahi dua orang yang selama ini ditugaskan untuk menjadi pengawas Steven selama di luar rumah. Tentu saja Steven merasa risih dan kehilangan kebebasan. Bahkan dua orang bayaran ayahnya itu juga mengawasi selama Steven di sekolah. Meskipun hanya ada di luar, namun pengawas itu sepanjang waktu menunggu Steven setiap hari sejak Steven memasuki gerbang hingga jam sekolah berakhir.


"Steven!" Gie Kwan tiba-tiba muncul menuruni tangga lalu berjalan menuju meja makan. Di sana Nyonya Kwan sudah menyiapkan sarapan.


"Papa kapan datang?" Suara Steven melemah.


"Semalam." Gie Kwan menjawab dengan singkat.


"Papa...." Steven bermaksud membuka percakapan.


"Makan saja dulu makananmu sekarang!"


Steven hanya patuh pada ucapan Gie Kwan. Setelah dia menyelesaikan makanannya, dia menunggu Gie Kwan sampai selesai makan.


"Ayo kita berangkat." Gie Kwan sambil mengusap mulutnya.


Steven mengerti komando ayahnya yang mengajaknya untuk berangkat bersama dalam satu mobil.


"Jika kamu ingin membahas tentang dua bodyguard itu, harus aku tegaskan padamu, mereka bekerja atas perintahku."


"Tapi selama beberapa bulan terakhir ini aku sudah tidak membuat masalah lagi Pa..."


"Siapa bilang mereka hanya mengawasimu."


"Maksud papa?"


"Papa memberi tugas kepada mereka untuk mengawasimu sejak mengetahui hubunganmu dengan putra keluarga Shine."


"Artinya papa melakukan pengawasan kepada Regal? Untuk apa?"


Gie Kwan yang sedang menghadap ke luar kaca hanya terdiam sejenak sambil menggigit kuku jarinya.


"Papa..."


Gie Kwan sempat tersentak dengan panggilan Steven.


"Mengapa papa melakukan pengawasan kepada Regal? Apakah papa sedang merencanakan sesuatu?"


Gie Kwan menghela nafas panjang lalu menepuk pundak Steven.


"Kamu tahu Steven, manusia itu memiliki berada di puncak rantai makanan, artinya manusia memiliki naluri sebagai predator jika memang ia merasa harus dilakukan."


"Predator? Apa hubungannya dengan melakukan pengawasan kepada Regal?" Steven masih bergeming dalam hatinya.


"Kelak, semua manusia di dunia ini akan saling memangsa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dan diantara mereka yang akan menjadi mangsa, tentu mereka akan waspada terhadap musuh yang mungkin sewaktu-waktu akan bergerak."


"Aku tidak mengerti pa..."


"Dan apakah kamu tahu, bagi predator yang bergerak sendiri. Mereka tidak akan bisa bertahan hidup jika melawan sekelompok predator lainnya. Kecuali jika.... dia mengetahui kelemahan lawan."


"Maksud papa.... ini tentang...."


"Sebentar lagi, Papa mungkin akan sedikit melibatkanmu untuk melakukan permainan kecil."


"Permainan kecil?"


"Permainan spy agent."


"Apa yang sebenarnya papa rencanakan?"


---------------------------------


Beberapa hari kemudian di ruang study Eric.


Eric sedang memiliki beberapa tamu. Dan di antara mereka adalah anggota dewan dari partai Kwan dan pejabat eselon ll di bawah kementerian yang dipimpin Eric.


"Pejabat dewan yang lainnya sudah mencium kasus ini sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya saja mereka sedang mencari bukti yang kuat untuk bisa melaporkannya kepada badan investasi." ucap salah satu pejabat Eselon


"Tuan Eric, kita harus bergerak sebelum badan investigasi juga mencurigai kita." ucap salah satu dewan partai Kwan.


"Kita tidak perlu menghindari mereka. Jika mereka memang melakukan investigasi menyeluruh, maka seharusnya mereka akan melihat tidak adanya keterlibatan kita dalam kasus itu."


Salah satu dewan tampak pucat,


"Tapi partai Kwan, kita pernah menerima sejumlah uang yang diberikan oleh Tuan Gie Kwan sebagai bentuk sumbangan kepada partai. Mereka pasti menilai itu adalah bentuk money laundry yang dilakukan Tuan Gie Kwan."


"Mereka pasti saat ini mencurigai partai Kwan bersekongkol dengan Tuan Gie Kwan."


"Apa yang harus kita lakukan Tuan Eric? Apa anda memiliki rencana?"


-------------------------------------


Preview Episode Selanjutnya:


Gie Kwan diperiksa oleh Corrupt Practices Investigation Bureau, atas kasus penggelapan dana dan manipulasi anggaran. Pasa akhirnya ia dijatuhi tahanan selama 7 tahun. Namun tidak ada satupun anggota partai Kwan yang membantunya. Itu semua karena Eric Shine sebelumnya menyatakan mengeluarkan Gie Kwan dari partai Kwan.


Gie Kwan yang sakit hati terhadap tindakan Eric Shine, semakin membenci Eric.


Tak disangka pengawasan yang dilakukan Gie Kwan selama ini terhadap Regal adalah untuk mempersiapkan kemungkinan kejadian yang berhubungan dengan kasus yang menjeratnya saat ini.


Steven baru menyadari bahwa ternyata rencana papanya terhadap Regal adalah untuk menghancurkan Eric Shine. Steven tidak menyangka bahwa ayahnya membayar orang untuk mencelakai Regal.


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**