I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 20. Perceraian





Perceraian


Brian keluar dari ruangan Nana setelah Nana tertidur. Brian melihat Eric duduk tertidur di sofa depan ruangan Nana dengan memangku Caesar yang kepalanya bersandar di pangkuan Eric.


Brian diam-diam mendekati mereka lalu jongkok mendekatkan wajahnya melihat setiap detail wajah Caesar. Brian mengelus pipi Caesar dan mencuil-cuil bibir Caesar yang tertidur dengan melongo, Brian sesekali tersenyum gemas.


Brian berdiri dan kembali menatap Eric. Pria ini beberapa tahun lalu adalah seorang manusia arogan yang keras kepala memperjuangkan cintanya demi kekasihnya dan mengabaikan Nana. Namun sekarang keadaannya malah berbalik, menjadi pria lemah yang berusaha sekuat tenaga berdiri demi Nana dan anaknya meski ia tersiksa batin dan jiwanya.


Tuhan tahu bagaimana mengatur manusia-Nya.


Bahkan sekecil apapun tindakan kita akan menjadi ganjaran di lain waktu.


Brian melangkah pergi kembali ke ruangannya meninggalkan Eric dan Caesar setelah ia menyelimuti Caesar yang masih tertidur lelap.


----------------------------------


Dua minggu kemudian,


Eric bersiap melakukan rapat dengan para Dewan Komisaris dan pemegang saham perusahaan Shine Grup.


Mama Julia masuk ke ruangan Eric,


"Eric, apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?"


"Aku sudah memikirkannya, ma..."


"Jika kamu melepaskannya kali ini, maka kamu hanya akan memiliki saham kurang dari 40% dan itu artinya kamu tidak lagi menjadi Presiden Direktur lagi."


"Iya, aku sudah memutuskan itu. Aku hanya melakukan pengalihan hak kepada yang memang seharusnya menjadi pemiliknya."


Rapat Besar Dewan komisaris dan para pemegang saham pun dimulai. Eric memulai segala pidatonya dan membacakan pernyataan keputusannya tentang pengalihan saham yang saat ini dipegangnya.


"Para hadirin, saat ini saya hanya menyampaikan keputusan yang telah disetujui oleh para Dewan komisaris inti pada rapat tertutup sebelumnya, hasil dari kesepakatan tersebut menghasilkan keputusan, bahwa saya Eric Shine selaku Presiden Direktur Shine Grup, akan melakukan pengalihan saham kepada Alina Widjaya sebesar 25% dan dan sisa hak saham yang saya miliki hanya tinggal 15% yang kelak keseluruhannya akan saya berikan kepada Caesar, putra saya. Dan selama Caesar masih belum memenuhi syarat sebagai pemegang saham, maka saya selaku wakil dari Caesar akan bertanggung jawab atas hal tersebut."


Semua para pemegang saham saling berdebat, ada yang menerima keputusan, ada juga yang masih berusaha mempertahankan Eric karena dianggap dia sangat kompeten dalam meningkatkan produktivitas perusahaan.


Mama Julia tampak pasrah dengan keputusan Eric. Dia tidak bisa memaksa putranya selama beberapa hari ini untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Entah apa yang ada di pikiran Eric, namun setiap kali ditanya Eric selalu menjawab bahwa ini semua ia lakukan demi Nana. Tapi Eric terlalu impulsif, sampai dia tidak memikirkan dirinya sendiri.


Eric pergi ke Rumah Sakit setelah rapat usai. Dia membawa serta copy dokumen pengalihan saham yang sudah ditandangani lawyer dan Eric.


Eric menemui Brian dan menyerahkan dokumen tersebut.


"Saat ini dokumen asli sudah dipegang oleh lawyer. Ini adalah copy-nya..."


Brian melihat seluruh isi dokumen satu per satu dengan seksama dan teliti.


"Baiklah, ini aku pegang sebagai bukti sementara."


"Aku harap dengan begini setidaknya Nana bisa memiliki jaminan setelah kami berpisah."


"Eric, aku hanya ingin kamu menandatangani surat perceraian itu, tapi kenapa kamu sampai melakukan hal sejauh ini?"


"Aku tidak melakukan apa-apa, itu semua memang hak Nana. Aku yang seharusnya malu karena selama ini aku kakiku berdiri diatas kepala Nana. Shine Grup tidak akan menjadi seperti sekarang ini jika tanpa bantuan keluarga Nana saat itu. Dan tanpa Nana juga, Shine Grup juga tidak akan mendapatkan banyak penghargaan di bidang Real Estate. Tapi orang-orang hanya tahu akulah yang melakukannya. Padahal itu semua adalah kerja keras Nana dan tim Widjaya Grup yang menyokong kami dari lini bawah."


"Jadi kamu sudah benar-benar berubah pikiran?"


"Perceraian hanya tulisan hitam diatas putih. Aku hanya tidak mau memiliki ikatan masa lalu. heh... "


Eric sedikit tertawa menertawakan dirinya sendiri.


"Bisa dikatakan aku memang seorang pengecut yang tidak berani menerima bahwa aku adalah masa lalu yang kelam bagi Nana. Aku juga seorang pecundang tidak tahu diri, yang berusaha lari dari kenyataan..... Kenyataan bahwa akulah tokoh utama dalam derita hidup Nana. Tapi aku malah ingin menghapus kenyataan itu."


Brian menghela nafas, ia terdiam dan memandangi Eric yang duduk di depannya. Di mata Brian, Eric memang sudah banyak berubah.


Namun tentang keputusan Eric, Brian juga tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya seorang konduktor yang segala sumber keputusan tetap ada di tangan Eric.


"Apa setelah ini kamu akan menyerah untuk Nana?"


"Tidak. Aku tidak menyerah. Perceraian ini hanya permulaan, aku akan mulai dengan lembaran baru sebagai sahabat Nana. Jika memang Tuhan masih memberiku kesempatan, maka aku bisa terus di sisi Nana. Namun jika Tuhan mengembalikan ingatan Nana dan membuat Nana membenciku lagi, maka aku tidak ada pilihan selain menjauh darinya, itupun juga demi kebaikannya."


"Dan pada saat itu kamu akan menyerah?"


Eric menggeleng,


"Meskipun Nana membenciku, itu adalah urusan hati Nana. Namun hatiku, aku tidak tahu sampai kapan hati dan jiwaku terus terikat dengan Nana. Dan aku juga tidak akan berusaha melepaskan ikatan itu.... Meskipun nantinya Nana akan memiliki hidup bersama orang lain..."


"Itu artinya kamu akan menyiksa dirimu sendiri Eric...."


"Aku akan lebih tersiksa jika melihat Nana semakin menderita meski aku memaksa dia bertahan di sisiku."


Brian seolah bercermin melihat dirinya sendiri. Beberapa tahun yang lalu, ia berada di posisi Eric. Saat dia memendam perasaannya pada Nana, dia hanya mengejar bayangan Nana namun tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Sampai akhirnya Nana menikah dengan orang lain.


Namun bedanya, Brian saat itu berusaha untuk mengalihkan pikirannya agar ia tidak terus terikat dengan perasaannya. Sedangkan Eric, dia malah memilih untuk tetap bertahan meski dia harus melihat orang yang dicintainya bersama orang lain.


Sungguh ironi....


----------------------------


"Daddy... apa mommy akan ingat kita lagi?"


"Kita berdoa saja ya...."


"Hari ini ulang tahun mommy.... biasanya mommy selalu memasak buat kita di rumah."


Eric tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.


"Caesar kenapa tidak beritahu daddy?"


"Bukankah seharusnya daddy ingat?"


Pertanyaan Caesar sangat menampar Eric. Bahkan Caesar yang masih polos pun tahu seharusnya ayahnya ingat ulang tahun ibunya. Tapi Eric malah tidak ingat ulang tahun Nana, padahal mereka sudah tinggal satu atap selama bertahun-tahun.


(suara hati Eric)


"Laki-laki macam apa aku ini, bahkan Caesar lebih ingat ulang tahun Nana."


(off)


Eric terdiam sejenak lalu memutar mobilnya menuju ke sebuah tempat.


"Kita mau kemana daddy?"


"Kita mau membelikan hadiah untuk mommy..."


"Aku juga ikut dad?"


"Tentu saja, mommy pasti senang ketemu kamu..."


"Tapi saat mommy ketemu Caesar waktu itu, mommy tiba-tiba sakit..."


"Sekarang mommy sudah sembuh, Caesar gak usah takut ya..."


"Kalo sembuh, mommy kenapa gak ingat kita dad?"


Eric semakin tidak bisa menjawab pertanyaan putranya. Caesar memang anak yang kritis, apalagi dia memang selalu menanyakan kondisi Nana setiap hari. Eric menyadari meski Caesar tinggal bersama Grandma Julia dan aunty Erica, Caesar masih sangat merindukan sosok Nana di sampingnya. Eric juga tidak bisa berjanji apakah mungkin keluarga kecilnya bisa bersatu lagi.


Sesampainya di Rumah Sakit, Eric membawa kue dan buket bunga sedangkan Caesar membawa bungkusan kado kecil. Mereka menuju kamar perawatan Nana.


Namun saat mereka sampai di kamar perawatan Nana, kamar itu kosong. Eric dan Caesar menuju ruang bagian fisioterapi setelah mereka mendapat informasi dari perawat bahwa Nana ada jadwal fisioterapi.


"Suster, apakah tadi pasien bernama Alina ada jadwal fisioterapi?"


"Setengah jam yang lalu sudah selesai Tuan, tadi keluar bersama dokter Brian."


"Kemana ya sust?"


"Saya kurang tahu, Tuan..."


Eric lalu menelpon Brian, namun tidak diangkat. Beberapa kali Eric menelpon, tetap tidak ada jawaban. Eric terus berkeliling dengan Caesar mencari Nana dan Brian.


"Daddy, aku capek..."


"Sabar ya.... sebentar lagi kita ketemu Mommy..."


"Kakiku sakit daddy..."


Eric melihat putranya sudah tidak sanggup berjalan. Mereka memang hampir setengah jam berkeliling beberapa lantai di gedung Rumah Sakit tersebut.


Akhirnya Eric menggendong Caesar dengan satu tangannya yang membawa buket bunga, sedangkan tangan lainnya masih membawa kotak kue. Caesar memeluk Eric sambil membawa kado.


Saat Eric keluar dari lift, Eric melihat dua orang perawat membawa buket bunga dan menyebut-nyebut nama Nana dan dokter Brian.


Eric yang masih menggendong Caesar dengan barang-barang yang ada di tangannya, mengikuti dua perawat tersebut. Lalu mereka masuk ke sebuah Hall.


Eric mengikuti mereka masuk, namun tidak jauh dari sana ada terpasang banner


"Happy Birthday Nana" dan beberapa dekorasi yang sudah terpasang dengan sangat indah.


Tepat pada saat itu Brian sedang mendorong kursi roda Nana yang saat itu mata Nana ditutupi dengan sehelai kain.


Saat Brian membuka kain yang menutupi mata Nana, tangis Nana pecah karena terharu. Beberapa perawat yang ada di sana juga menyoraki mereka. Nana semakin menangis karena terbawa suasana haru, Nana memeluk Brian dan menangis di dada Brian.


Brian terkejut dengan tindakan spontan Nana, Brian belum sampai membalas pelukan Nana, dia melihat ke arah pintu.....


Disana Eric sedang menatap mereka....


Brian melihat Eric menghadapkan wajah Caesar ke belakang bahunya agar Caesar tidak melihat Nana yang sedang memeluk dirinya.


(suara hati Brian)


"Maafkan aku Eric, Caesar...."


(off)


Buket bunga dan kue yang dibawa Eric terjatuh dari tangannya, seperti ada suatu pukulan hebat dari dalam hatinya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Eric sudah tidak sanggup melihat situasi yang ada di depan matanya.


Eric merasa sangat sakit namun ia berusaha sekuat mungkin demi Caesar yang saat ini dalam gendongannya.


Padahal rasa sakit ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Nana yang saat itu melihatnya di hotel bersama Edis.


(suara hati Eric)


Nana.... seperti inikah rasa sakitmu saat itu?


Atau mungkin.... lebih sakit dari ini?


(off)


Eric membalikkan tubuhnya dan memeluk Caesar di dadanya agar Caesar tidak sempat melihat Nana.


Eric berjalan dengan tatapan kosong dan pikiran yang terus melayang pada ingatan saat Nana pergi dari hotel setelah memergoki dirinya dan Edis.


Eric hanya mengerti sebagian kecil luka hati Nana. Dia tentu tidak bisa membayangkan bagaimana yang dirasakan Nana pada saat itu sampai dia mengalami kecelakaan.


------------------------


Eric masih ingat jelas wajah bahagia Nana tadi siang saat dia memeluk Brian. Selama ini Nana tidak pernah berlari memeluk Eric dalam keadaan apapun.


Eric membuka brangkas dokumen di kamarnya, lalu mengeluarkan Surat Perceraian.


(flashback #1)


Nana berbicara pada Eric saat mereka baru saja menikah,


"....dan jika saat itu tiba, kita bisa bercerai..."


(flashback #2)


Saat Nana hamil dan bertanya tentang jawaban Eric,


"Lalu masalah perceraian itu...?"


"Jangan pikirkan itu dulu, sekarang kita harus memikirkan dan bekerja sama untuk membesarkan anak ini."


(off)


Eric menggoreskan bolpoinnya dengan ragu-ragu. Sejujurnya saat ini dia tidak mau bercerai dengan Nana, dan sampai kapanpun.


Namun pikiran Eric kembali dibayangi wajah Nana saat menangis,


Ketika Nana diperkosa oleh Eric sampai berusaha bunuh diri di bath-up....


Ketika Nana ketakutan bertemu dengan Eric di Bali dan memohon agar tidak menggugurkan kandungannya....


Ketika Nana memergoki Eric di hotel dan menyetir dengan hati yang kacau sampai mengalami kecelakaan fatal....


Eric pun menandatangani Surat Perceraiannya....


Eric melemparkan bolpoinnya ke lantai hingga patah lalu dia menundukkan kepalanya ke meja dan menutupinya dengan kedua lengannya.


Eric tahu diri bahwa selama ini dia hanya memberikan luka bagi Nana.


Dia selalu tidak punya cara untuk membahagiakan Nana. Meski saat ini dia mengaku mencintai Nana, tapi kenyataannya dia selalu menjadi orang yang gagal membahagiakan Nana.


Eric selalu merasa tidak berguna menjadi laki-laki jika dihadapkan dengan kegagalannya sebagai suami Nana.


Suami yang tidak pernah tahu kebiasaan istrinya....


Suami yang tidak pernah tahu apa yang disukai istrinya....


Suami yang tidak pernah tahu cara membuat istrinya tersenyum....


Dan suami yang bahkan tidak tahu ulang tahun istrinya....


Hati Eric terasa sangat sakit....



---------------------------


Spoiler:


Nana tidak sengaja melihat sebuah koran yang memberitakan kecelakaan Mama Lisa dan Kevin. Nana membaca dengan detail koran tersebut, hingga ia menyadari bahwa ternyata dia telah kehilangan semua anggota keluarganya.


Bagaimana kondisi Nana setelah itu?


Mungkinkah dia akan mengingat siapa Eric?


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....