I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 23. Memory




 


 


Memori


Brian masuk ke kamar perawatan Nana,


"Apa sudah siap?"


Perawat Grace mengangguk, Nana sudah siap diatas kursi rodanya. Hari ini mereka bertiga akan berangkat menuju Jakarta, baru kemudian akan menuju Amsterdam.


Sebuah mobil sudah siap menunggu di depan pintu utama Rumah Sakit. Nana digendong Brian masuk ke dalam Mobil. Sementara perawat Grace melipat kursi roda Nana.


Beberapa meter dari posisi mobil Brian, Eric berdiri memperhatikan Nana yang sedang digendong Brian. Matanya tampak sayu melepas kepergian Nana yang akan berangkat meninggalkan Singapore.


(suara hati Eric)


Semuanya memang seperti yang pernah kita ucapkan dari awal.


Aku dan kamu sebagai suami istri, hanya sebagai status....


Bahkan disaat seperti ini seharusnya aku yang berada di sampingmu,


Meski aku masih suamimu, hatiku sudah terpaut padamu, tapi bahkan menyentuhmu aku tidak mampu....


I'm Sorry Wife....


Aku tidak pernah merasakan sesakit ini mencintai seseorang, namun aku tidak pernah menyesalinya,


Aku akan tetap bertahan menunggumu meski satu atau seratus tahun sekalipun.


(end)


Saat digendong Brian, Nana sempat melihat Eric berdiri dengan tatapan kosong ke arahnya. Hingga pintu mobil tertutup, Eric tampak masih berdiri disana.


Namun saat mobil mulai melaju, Eric sudah pergi. Nana sempat melirik ke arah jendela, namun Eric sudah tidak ada dari posisinya berdiri tadi.


Kemudian ketika mobil berbelok keluar dari gerbang, Nana menoleh ke belakang.


Disana Eric muncul dari balik tembok di dekat posisinya berdiri tadi.


Nana hanya terdiam sambil menggenggam tangannya. Nana kembali memikirkan pengakuan Eric semalam, entah kenapa dia sama sekali tidak ada rasa benci pada Eric. Dia justru semakin ingin menggali memorinya kembali.


"Siapa Eric bagiku...." batin Nana


Sementara itu, Eric hanya bisa melihat mobil yang ditumpangi Nana pergi. Dia sebenarnya sangat ingin menemui Nana walau sebentar. Namun ia takut tidak sanggup menahan gejolak hatinya.


Eric mengemudi mobilnya menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, Eric hanya membayangkan setiap moment bersama Nana selama mereka hidup bersama.


Eric berhenti di lampu merah, dia melihat beberapa pasangan lansia yang sedang menyeberang.


Mereka tampak saling melengkapi, saling melemparkan senyum, seperti tak akan ada habisnya rasa cinta diantara mereka.


Eric tersenyum sambil menahan rasa pedih di dadanya yang muncul kembali.


(suara hati Eric)


Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku hanya ingin mengenalmu,


menjalani hidup normal seperti orang-orang ini asalkan bersamamu,


membesarkan anak-anak kita bersama,


menggenggam tanganmu setiap saat tanpa ada rasa takut dan bersalah seperti sekarang ini....


Kita pernah hampir meraihnya, namun justru akulah yang merusak segalanya....


 


Di waktu yang sama, Nana melempar tatapannya ke luar jendela. Dia terus mengingat setiap kata yang diucapkan Eric terakhir kali kepadanya saat di kamar perawatan.


(suara hati Nana)


Yang aku ingat, kamu tiba - tiba datang memperkenalkan dirimu,


Namun ternyata aku tidak pernah tahu bahwa aku pernah menghabiskan waktu denganmu,


Entah itu dalam kesengsaraan seperti yang kamu ucapkan kemarin, atau mungkin ketentraman meski itu hanya sedikit,


Kamu bilang selama itu aku membencimu,


Tapi kenapa aku tidak merasakan kebencian itu sama sekali,


Bahkan saat kamu bilang mencintaiku,


Aku juga tidak merasakan rasa itu sama sekali,


Apakah aku harus bahagia.... atau bersedih....


Yang aku rasakan sekarang hanyalah kehampaan.....


 


Disaat yang bersamaan, mobil yang ditumpangi Nana sedang memutar lagu, kebetulan lagu itu juga sedang diputar di mobil yang dikemudikan Eric.


Kini mereka berdua sedang mendengarkan lagu yang sama.


(backsound in the car)


Wise men say


Only fools rush in


But I can't help falling in love with you


Shall I stay?


Would it be a sin


If I can't help falling in love with you?


Like a river flows


Surely to the sea


Darling, so it goes


Some things are meant to be


Take my hand,


Take my whole life, too


For I can't help falling in love with you


Like a river flows


Surely to the sea


Darling, so it goes


Some things are meant to be


Take my hand,


Take my whole life, too


For I can't help falling in love with you


For I can't help falling in love with you


(Song: Can't Help Falling in Love)


"Diiinnn....!!! Diiinnn....!!!"


---------------------------------


Eric sampai di rumah Mama Julia dan langsung menuju kamar Caesar.


Eric melihat Caesar duduk di balkon jendela yang tertutup. Caesar hanya menatap ke luar jendela sambil menopangkan wajahnya di kedua lututnya. Tangan kirinya memeluk kedua lututnya, sedangkan tangan kanannya seolah menggambar sesuatu dengan jarinya di kaca jendela.


"Dia seperti itu sejak beberapa hari yang lalu."


Erica tiba-tiba berada di samping Eric yang memandangi putranya dari ujung pintu kamar.


Eric hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Dia menyadari Caesar memang mulai berubah sejak dia mengetahui Nana mengalami amnesia.


Sebelumnya, saat Nana masih koma, Caesar setiap hari selalu bertanya tentang ibunya. Ada banyak harapan yang tersimpan dalam hatinya untuk bisa bertemu ibunya kembali dan menjalani kehidupan bersama ibunya seperti dulu.


Namun saat Nana sudah sadar, kenyataan yang tak sesuai harapan, Nana bahkan tidak mengenali Caesar. Dan itu sangat membuat Caesar terluka. Sejak itu Caesar tidak pernah lagi menanyakan tentang ibunya. Tapi Eric tahu Caesar lebih memilih memendam kerinduannya, hingga Eric menyadari bahwa Caesar kini sudah tidak seperti dulu lagi. Setiap hari dia lebih banyak diam.


Dan beberapa hari yang lalu, sepertinya Caesar sudah tahu saat Nana akan dibawa ke Amsterdam. Caesar semakin lebih banyak mengurung diri di kamar. Segala aktivitas yang dia lakukan, segalanya ia lakukan dengan tetap membisu.


Eric berjalan perlahan ke arah Caesar. Eric harus kuat, meski ia pun juga sedang hancur. Namun ia harus lebih menguatkan Caesar.


"Caesar..... "


Eric jongkok di dekat Caesar. Namun Caesar hanya diam dan sama sekali tidak mengubah posisi duduknya.


"Daddy juga merindukan mommy... "


Mendengar ucapan Eric, Caesar berhenti menulis dengan jarinya di kaca. Lalu membungkukkan badannya dan menutupi wajahnya sepenuhnya ke lututnya. Caesar sesenggukan menangis. Namun ia malu tidak ingin daddynya melihat ekspresinya.


Eric memeluk Caesar yang semakin sesenggukan menangis.


"Maafkan daddy.... "


Eric tidak pernah tahu rasanya bagaimana berpisah dengan ibunya. Eric mungkin hanya merasakan sakit karena penyesalannya terhadap Nana.


Namun bagi Caesar, sakit yang ia rasakan adalah rasa kehilangan dari seorang anak terhadap ibunya. Caesar yang sejak kecil memang selalu dekat dengan Nana. Bahkan setiap hari ia selalu menghabiskan waktu bersama Nana siang dan malam, baik sedang terlelap maupun terjaga. Namun semuanya sekarang hanya menjadi sebuah harapan belaka. Entah kapan ia bisa memiliki ibunya lagi yang saat ini bahkan sedang membuka kehidupan baru dengan lembaran memori yang baru bersama orang lain.


----------------------------


Beberapa Jam kemudian,


Nana sudah sampai di Jakarta, Brian mengajak Nana ke makam Hari Widjaya, Lisa, dan Kevin.


Nana terduduk di depan ketiga nisan yang berjajar berdampingan tersebut. Memory Nana kembali mengingat masa - masa bersama keluarganya saat mereka masih tinggal di Jakarta.


"Maafkan Nana... Ma, Pa, Kak.... Nana tidak bisa mengingat seperti apa dan bagaimana hidup Nana bersama kalian selama beberapa tahun ini....


Maafkan Nana Pa... Nana tidak ingat bagaimana papa yang ternyata memperlakukan Nana begitu baik, membiarkan Nana mengenyam pendidikan di New York dan bahkan menyerahkan seluruh apa yang papa miliki untuk Nana. Bahkan Nana tidak ingat bagaimana saat Papa berjuang dengan penyakit papa.... Nana kehilangan semua kenangan itu pa....


Mama.... Maafkan Nana yang tidak bisa mengantarkan mama di saat - saat terakhir mama. Mama yang saat itu mengalami kecelakaan setelah semalaman menjaga Nana. Tapi Nana bahkan tidak bisa mengingat apapun itu. Maafkan Nana ma...."


Brian yang berdiri di belakang Nana, berjongkok merangkul bahu Nana untuk menguatkan Nana.


"Kak Kevin.... Maafkan Nana.... Begitu besar pengorbanan kak Kevin kepada Nana. Sekarang Nana harus gimana kak? Nana bagaikan melompat ke dimensi yang berbeda. Nana tiba-tiba saja kehilangan kalian, seperti baru kemarin Nana bahagia saat lulus SMA. Lompatan ini terlalu jauh buat Nana, sampai Nana tidak mampu mengenali siapa Nana.... Siapa Eric, siapa Caesar, siapa mereka yang pernah menjadi bagian dalam hidup Nana dalam beberapa tahun terakhir ini.... Nana merindukan kak Kevin...."


Nana kembali duduk di kursi rodanya. Grace mendorong kursi roda Nana dan masuk ke dalam mobil pergi menuju ke bandara untuk melanjutkan ke Amsterdam, sebelumnya mereka akan transit dulu ke Singapore.


"Sampai jumpa, Ma... Pa... Kak Kevin.... "


-----------------------------


21 jam kemudian,


Nana, Brian, dan Grace sudah sampai di Amsterdam. Sebelumnya mereka transit dulu dari Jakarta ke Singapore, lalu menuju ke Amsterdam.


Sepanjang perjalanan Nana lebih banyak diam. Pikirannya seperti berada dalam dimensi lain. Brian dan Grace berkali-kali bertanya pada Nana, namun jawaban Nana selalu singkat.


Dulu Nana sangat ingin bisa dekat dengan Brian. Tapi sekarang setelah dia bisa hidup bersama dengan Brian, rasanya masih terasa hampa. Seperti ada yang hilang dalam dirinya.


Meskipun Nana kehilangan memorinya, tapi rasanya hatinya juga terasa hampa. Tidak ada rasa kecewa, bahagia, atau bahkan kebencian. Nana juga tidak tahu mengapa.


Brian, Grace, dan Nana sudah sampai di homestay. Brian memasukkan beberapa koper ke dalam rumah, sementara Grace membantu Nana.


"Bagaimana dengan rumahnya, Nana? Aku sengaja menyewa rumah karena lebih nyaman. Suasananya juga sangat tenang, jadi kamu bisa berjalan - jalan dengan Grace."


"Apa rumah sakitnya jauh dari sini dokter?"


"Sekitar 1,5 mil tapi disini jarang sekali ada kemacetan kecuali kalo ada perayaan tertentu. Oh iya Nana, kamar kamu ada di lantai bawah di samping kamar Grace. Kamarku ada di lantai dua. Grace, kalo ada apa-apa langsung telepon aku ya, di rumah ini teleponnya terhubung secara paralel."


"Baik dokter..."


"Makasih kak...."


Brian melihat Nana masih tampak murung. Dia beranggapan mungkin karena Nana belum terbiasa dengan suasana di tempat asing, apalagi hidup dengan Grace dan dirinya yang juga merupakan orang asing bagi Nana. Meskipun Brian sudah bertahun - tahun mengenal Nana, tetap saja dia tidak pernah tinggal serumah berdua dengan Nana.


Hari berganti hari, tidak terasa Nana sudah satu minggu berada di Amsterdam. Namun selama seminggu itu, Nana masih tidak menunjukkan keceriaannya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk fisioterapi berlatih berjalan dan bermain piano.


Brian sangat protektif, Nana hanya boleh keluar jika bersama dengannya atau Grace meski sekedar berjalan di halaman depan rumah. Bahkan Nana tidak diijinkan untuk menggunakan media internet apapun. Jika Nana ada masalah, Grace yang akan menelpon Brian.


Nana memahami sikap Brian yang terlalu mencemaskannya, dia memang tidak jauh berbeda dengan Kevin. Selalu memperlakukan Nana seperti anak kecil. Memang pada saat awal Nana tersadar dari koma, Nana lebih banyak membutuhkan Brian di sampingnya untuk melakukan banyak hal.


Namun sekarang sudah lebih tiga bulan setelah Nana tersadar, dia menjadi sudah menjadi lebih tegar dan mandiri. Nana saat ini hanya ingin hidup normal, dia tidak mau dianggap sebagai orang yang hilang ingatan. Dia hanya perlu menguatkan diri untuk bangkit melanjutkan hidup dengan kembali membangun diri sebagai Nana yang kenyataannya sekarang sudah berusia 29 tahun.


Hari itu, Brian pagi - pagi sudah berangkat ke klinik tempat dia bekerja dulu saat di Belanda.


"Kak Brian kemana suster Grace?"


"Tadi dokter Brian sudah berangkat ke Klinik"


"Suster, apa aku boleh pinjam ponselnya?"


Grace masih ragu meminjamkan ponselnya kepada Nana. Dia takut kejadian terakhir kali saat Nana tantrum terulang lagi.


"Ehm.... Kenapa Miss Nana tidak pinjam ke dokter Brian saja?"


"Kak Brian tidak akan mengijinkan aku."


"Miss, maaf saya hanya mengikuti instruksi dari dokter Brian. Kalau sampai terjadi seperti waktu itu, dokter Brian pasti akan sangat marah. Mohon mengertilah Miss..."


Nana hanya mengangguk, namun sebenarnya ia kecewa karena Grace tidak kooperatif dengannya. Sebenarnya dia ingin sekali melihat perkembangan kasus Eric. Entah apa yang mendorong Nana. Dia sangat penasaran dengan sosok Eric. Seperti apa Eric sebenarnya.


"Suster Grace, apakah suster pernah merasakan sangat penasaran dengan seseorang, tidak penasaran untuk ingin mendekati, tapi hanya ingin tahu seperti apa orang tersebut?"


"Tentu saja pernah, tapi pada akhirnya akan ada rasa suka dan kecewa. Kalau ternyata dia sudah melakukan banyak hal yang Kita kagumi, kita akan semakin menyukainya. Tapi kalau ternyata dia memiliki sifat atau pernah melakukan sesuatu yang kita tidak suka, maka pastinya kita akan kecewa atau bahkan membencinya."


"Tapi bagaimana kalau kita sudah jelas tahu orang itu pernah melakukan sesuatu yang menyakiti kita, bahkan dia sendiri yang mengakui bahwa dia sudah berbuat jahat pada Kita, tapi kita masih tidak membencinya?"


"Mungkin saja ada rasa cinta di hati kita. Karena biasanya jika kita mencintai seseorang, seburuk apapun orang tersebut, akan selalu ada maaf untuknya."


Nana terdiam. Mungkinkah dia pernah mencintai Eric? Tapi itu mustahil bagi Nana, karena dia bahkan tidak mengingat memori apapun bersama Eric. Bagaimana bisa ia akan memiliki perasaan seperti itu pada Eric. Tapi Nana juga sama sekali tidak memiliki rasa benci pada Eric.


Sebenarnya apa yang ada dalam hatinya?


Nana masih berusaha mencari kepingan hatinya meski ia sadar ingatannya akan sulit untuk didapatkannya lagi.



---------------------------------


Spoiler :


Di episode selanjutnya,


Setelah 2 bulan, Eric meminta ijin kepada Brian bahwa ia akan datang ke Amsterdam bersama dengan Caesar.


Nana sudah tidak menggunakan kursi roda, dia sudah menggunakan tongkat elbow.


Pertemuan menjadi pertemuan pertama kali bagi Eric dan Nana setelah mereka berpisah.


Nana justru salah tingkah selama di dekat Eric. Hingga akhirnya terjadi kecelakaan kecil di danau saat dia bersama Eric.


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....