I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 25. Pertemuan




 


Pertemuan


Caesar mulai merapikan baju-bajunya ke dalam koper dibantu oleh pengasuhnya dan Mama Julia. Dia tampak bersemangat karena besok dia akan berangkat ke Amsterdam bersama Eric. Mama Julia melihat tingkah cucunya yang sangat antusias.


"Caesar tidak pernah tampak sebahagia itu sebelumnya,...." batin Mama Julia.


"Grandma, aku tadi beli baju untuk mommy. Daddy yang memilih."


Mama Julia mengangguk sambil tersenyum. Dia tahu cucunya sangat bahagia akan dengan Nana.


----------------------------


Keesokan harinya, Eric menjemput Caesar di rumah Mama Julia. Mereka berangkat menggunakan Jet pribadi dengan jadwal flight sore agar bisa sampai di Amsterdam pagi hari keesokan harinya. Karena Eric mengambil jadwal flight tercepat sekitar 17 jam dengan satu kali transit.


Sepanjang perjalanan, Caesar tidak berhenti terus menanyakan kabar Nana. Setiap kali Caesar terbangun dari tidurnya, selalu menanyakan berapa jam lagi mereka akan sampai di Amsterdam.


-------------------------------


Pagi ini Nana berjalan di taman kota menggunakan tongkat elbow ditemani Grace.


"Hari ini kak Brian tampak aneh, tidak seperti biasanya dia mengijinkan kita jalan-jalan ke taman kota hanya berdua."


Grace hanya tersenyum menanggapi Nana, sebenarnya ia tahu bahwa pagi ini Brian ke Schiphol Airport untuk menjemput Eric dan Caesar. Brian berpesan pada Grace untuk merahasiakan dulu kedatangan Eric dan Caesar.


-------------------------------


Schiphol Airport,


09.00 a.m


Eric dan Caesar berjalan dari ruang arrival sambil membawa koper. Brian melihat Eric dan Caesar lalu melambaikan tangannya.


"Apa kabar Eric..."


"Apa kabar Brian..."


Kedua pria itu saling merangkul dan menepuk punggung satu sama lain, lalu Brian membungkuk menyapa Caesar yang mendongak melihatnya sambil membawa tas ransel.


"Hallo... Hoe gaat het Caesar? welkom in Amsterdam..."


(Dalam bahasa belanda artinya Halo apa kabar Caesar, selamat datang di Amsterdam)


Brian mengusuk rambut Caesar, namun Caesar hanya tersenyum dan menjauhkan kepalanya dari tangan Brian. Dalam hati Caesar sebenarnya ia tidak begitu suka dengan sosok Brian yang selama ini dekat dengan ibunya. Bahkan sepengetahuan Caesar, ayahnya sering menghubungi Brian jika ingin tahu kabar tentang ibunya, Nana.


"Siapa sih orang yang bernama Brian? Kenapa orang itu selalu berada di samping mommy?"


Pertanyaan itu selalu muncul dalam kepala Caesar setiap kali ia mendengar ayahnya menyebut nama Brian.


Bagi Caesar yang masih polos, keberadaan Brian yang masih asing memang menyebabkan dia cemburu karena setahu Caesar Brian bukanlah bagian dari keluarganya. Dia hanya memiliki satu Paman, Kevin. Dan itupun juga sudah meninggal. Setahu Caesar, laki-laki yang boleh dekat dengan ibunya selain mendiang pamannya hanyalah ayahnya dan dirinya.


Sepanjang perjalanan dari Schiphol menuju rumah Brian, Caesar hanya diam sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela. Entah sejak awal bertemu dengan Brian, ia merasa bahwa pria itu akan merusak moment pertemuannya dengan ibunya.


"Apa yang dilakukan mommy dengan pria itu? Apakah karena lelaki itu, mommy meninggalkan Singapore?" batin Caesar.


Baik Eric maupun Mama Julia memang tidak pernah mengatakan kepada Caesar tentang kepergian Nana ke Amsterdam yang dikarenakan skandal Eric. Mereka hanya mengatakan kepada Caesar bahwa Nana pergi ke Amsterdam untuk berobat, namun Caesar tidak pernah tahu bahwa ibunya pergi bersama dengan seorang pria dewasa yang seumuran ayahnya, bernama Brian.


Tiga puluh menit kemudian, mobil Brian sudah sampai di depan rumahnya. Rumah itu tampak sepi, karena Nana dan Grace masih berada di taman.


"Kenapa sepi sekali Brian?"


"Nana dan Grace masih jalan-jalan ke taman, sekaligus Nana terapi jalan di sana. Ayo masuk dulu."


Brian mengajak Eric dan Caesar masuk ke rumah lantai dua bergaya minimalis klasik dengan luas 10 × 12 meter persegi. Rumah dengan dinding luar warna putih, yang di dilapisi wallpaper berwarna biru langit kombinasi warna peach, sehingga memberikan nuansa segar.


Eric bisa menilai bahwa suasana rumah itu didesain khusus untuk Nana oleh Brian. Karena warna peach dan biru adalah warna yang juga mendominasi kamar Nana di Rumah Eric. Lagi-lagi Eric menilai dirinya memang tidak mengerti apa-apa tentang Nana. Jika dibandingkan dengan Brian ia memang selalu kalah.


Langkah Brian mengantarkan Eric dan Caesar menuju kamar di lantai dua.


"Ini adalah kamar kalian, kamarku ada di sebelah. Maaf jika ruangannya kecil. Karena disini kamar yang paling luas adalah kamar Nana di lantai bawah."


"Ini sudah cukup, Brian...."


"Oh iya.... kalian silahkan berganti pakaian atau istirahat. Aku mau masak untuk kalian. Karena Nana juga sebentar lagi kembali, jadi dia juga pasti sudah lapar."


Eric mengangguk. Tatapan mata kekagumannya terus mengikuti langkah Brian. Bagi Eric, Brian adalah pria sempurna untuk Nana. Segala kemampuan dan perhatian yang ada pada Brian untuk Nana tidak pernah ada pada dirinya. Bagaimana mungkin dirinya akan bersaing dengan Brian.


"Daddy...."


Caesar menarik ujung baju Eric,


"Iya sayang?"


"Caesar nggak suka dengan uncle itu."


"Caesar.... bukannya Caesar sudah beberapa kali bertemu dengan uncle Brian? Kenapa sekarang jadi begitu?"


"Waktu itu Caesar tahu uncle dokter itu yang menolong mommy, tapi sekarang kenapa uncle itu tinggal bersama mommy? Uncle itu juga yang membawa mommy pergi dari Singapore, meninggalkan daddy dan Caesar. Apa mommy akan menikah dengan uncle itu?"


Deg.


"Caesar.... kenapa dia bisa bicara begini?"


batin Eric.


Eric menjelaskan pada Caesar dengan hati-hati, ia tidak ingin menyakiti hati putranya, juga tidak ingin putranya salah paham dengan Brian dan Nana.


"Sayang.... Daddy dan mommy tidak berpisah, kita masih satu keluarga, jadi uncle Brian tidak merebut atau menikah dengan mommy...."


Eric terpaksa meyakinkan Caesar dengan kebohongannya, meski ia tidak tahu masa depan pernikahannya dengan Nana akan dibawa kemana nanti. Padahal dia sudah menandatangani surat perceraian mereka.


Saat Eric dan Caesar masih berada di kamar, Nana dan Grace datang. Brian yang sedang memasak belum menyadari kedatangan mereka.


Mendengar suara berisik di dapur, Grace dan Nana menuju dapur dan duduk di depan meja bar dapur. Brian terkejut melihat kedatangan mereka,


"Eh, kalian sudah datang? Aku pikir kalian masih beberapa jam lagi pulangnya. Aku belum selesai masak. Grace, bantu aku bikin salad."


"Tidak biasanya kak Brian masak banyak, kita mau piknik? atau merayakan sesuatu?"


Brian tidak menjawab, rencananya dia nanti akan memberi kejutan pada Nana tentang kedatangan Caesar dan Eric. Lalu Brian mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ehm... coba kamu cicipi sup ini, gimana?"


Brian meniup sup dengan hati-hati sebelum dicicipi oleh Nana, lalu kemudian menyuapkannya pada Nana. Dengan lugunya Nana menyeruput kuah yang disuapkan Brian.


Mereka tidak menyadari dua pasang mata sedang mengamati mereka selama beberapa detik yang lalu.


Eric dan Caesar melihat adegan yang baru saja terjadi sejak mereka menuruni tangga.


Sedangkan Brian baru menyadari saat Eric sudah berada di bawah tangga yang tepat di depan meja bar dapur.


Brian merasa kikuk, namun Nana yang sedang membelakangi Eric tidak mengerti kenapa Brian tiba-tiba bersikap kikuk seperti orang yang sedang terpergok. Lalu Nana menoleh ke belakang.


Eric menyapa Nana dengan senyum tipis.


Sebenarnya hatinya masih tidak beraturan melihat adegan antara Brian dan Nana barusan. Namun dia tidak bisa berbuat banyak. Mungkin saja mereka sudah biasa sering melakukannya saat Eric tidak ada disini. Meski Brian dan Nana hanya melakukan hal sepele, jika dibandingkan adegannya dulu bersama Edis, namun entah hati Eric terasa sangat sakit.


Nana masih tertegun melihat Eric dan Caesar berada di rumah Brian. Nana langsung menoleh ke Brian.


"Kak Brian.... mereka???"


"Oh iya, Eric dan Caesar baru saja tiba pagi ini. Karena Caesar sedang liburan, jadi dia datang kemari menjenguk kamu."


Nana kembali menatap Eric dan Caesar yang masih berdiri. Pandangan Nana tertuju pada Caesar.


Nana sudah tahu jika Caesar adalah putranya, meski dia tidak mengingat apapun memori tentang Caesar. Namun entah sejak dalam beberapa minggu ini sepertinya Nana sangat merindukan Caesar.


Pandangan mata Nana seolah ingin memeluk Caesar, wajahnya seperti seseorang yang baru menemukan oase.


"Caesar.... sini...."


Seperti di bawah alam sadarnya, Nana mengulurkan kedua tangannya dengan posisi seolah ingin memeluk Caesar.


Namun Caesar malah melihat Nana tidak seperti sebelumnya, pandangannya seolah sedang mengutuk Nana. Sorot mata Caesar tampak jelas terlihat ia sedang marah.


Nana sedikit heran dengan ekspresi Caesar yang ditunjukkan padanya, tapi dia tetap mengulangi untuk menarik perhatian Caesar.


"Caesar kenapa? Sini...."


"Nggak, aku nggak mau!"


Caesar berteriak pada Nana dan berlari ke arah depan rumah.


Nana terkejut melihat respon Caesar, begitu juga dengan Eric, Brian, dan Grace. Eric langsung membuyarkan ketegangan di ruangan tersebut.


"Aku mau menyusul Caesar dulu..."


Eric mengejar Caesar dan mendapatinya sedang berjongkok di rumput depan rumah sambil memainkan batu.


"Caesar...."


Eric berjongkok dan meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Caesar.


"Daddy...."


Caesar langsung berdiri dan memeluk tubuh ayahnya dengan erat hingga Eric jatuh terduduk. Caesar menangis sejadi-jadinya di pelukan Eric. Eric mengelus punggung Caesar dengan lembut untuk menenangkannya. Tapi Caesar masih terus sesenggukan.


"Caesar nggak suka melihat mommy bersama uncle Brian."


"Seorang pria harus kuat, nak.... Daddy tahu kamu sedang kesal, tapi salah satu kekuatan pria adalah harus mampu menahan dirinya."


"Tapi Caesar sudah menahan diri, daddy.... Tapi uncle jahat. Mommy juga jahat."


Eric masih mengelus punggung putranya,


"Mereka tidak jahat, Mommy sedang sakit... Uncle Brian adalah dokter yang membantunya untuk sembuh."


"Tapi kenapa mommy hanya baik pada uncle, sedangkan pada kita tidak? Dia lupa sama kita, kenapa sama uncle tidak? Mommy tidak adil!"


Nana menatap Eric dan Caesar dari jendela, namun dia masih bisa dengan jelas mendengar setiap suku kata yang mereka ucapkan. Air mata Nana seperti di luar kontrolnya, tiba-tiba saja mengalir.


Eric menegakkan tubuh putranya berdiri di hadapan duduknya.


"Caesar, sebagai laki-laki kita harus kuat untuk melindungi orang yang kita cintai. Caesar mencintai Mommy?"


Caesar mengangguk, sambil menyeka air matanya.


"Kalau begitu, apapun yang mommy lakukan... Caesar harus mencintai dan tetap melindungi mommy. Daddy yakin, suatu saat mommy akan mengingat kita."


Caesar mengangguk mantap. Eric lalu pura-pura minta tolong Caesar untuk membantunya berdiri, namun dia menarik tangan Caesar dan merengkuhnya dalam pelukannya. Kedua pria itu kini sedang tertawa saling menertawai diri mereka sendiri.


Nana mengusap air matanya yang sudah melelehkan wajahnya. Dia kemudian berjalan dengan terhuyung-huyung masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mau Eric dan Caesar melihatnya menangis.


Brian memperhatikan sikap Nana, dia hanya diam dan menghela nafas. Brian tahu meski Nana sudah kehilangan memori tentang Eric dan Caesar karena kerusakan otaknya, namun hatinya Nana masih utuh. Bagaimanapun di dalam hatinya, masih utuh sebagai seorang ibu.



---------------------------------


Spoiler:


Brian akhirnya menceritakan perasaan Nana pada Eric bahwa selama ini Nana hanya menganggap sebagai kakak, karena perasaan Nana terhadap Brian sebenarnya tumbuh sejak Nana kuliah di New York.


Itu artinya perasaan Nana terhadap Brian ikut hilang dalam memori sepuluh tahun yang tidak bisa diingat Nana.


Nana akhirnya mengungkapkan pada Eric bahwa dia sedang berusaha mengembalikan perannya sebagai seorang ibu bagi Caesar, namun setelah mengungkapkan hal itu malah membuat Nana menjadi semakin kikuk terhadap Eric, hingga terjadilah insiden Nana tenggelam di danau.


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....