I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 14. Keputusan





Keputusan


Amsterdam,


Pukul 22.00


Brian tidak bisa memejamkan matanya, dia berusaha membungkus badannya dengan bed cover namun ia masih saja gelisah. Dia menyalakan kembali lampu tidurnya lalu duduk sambil mengusap kusut rambutnya. Pikirannya saat ini sedang tidak bisa tenang. Brian berjalan ke meja belajarnya yang tidak jauh dari tempat tidurnya, dia lalu membuka laci dan melihat sebuah bingkai foto yang di dalamnya terpampang foto dirinya, Kevin, dan Nana yang berada di tengah mereka dengan wajah cemberut. Brian tersenyum melihat foto itu, ingatannya kembali ke masa dimana saat mereka bermain bersama saat rumah mereka berada di satu komplek.


(flashback #1)


Brian dan Kevin sedang bermain sepeda di taman depan rumahnya, Nana baru turun dari mobil sambil menenteng tas. Nana menghentikan langkahnya dan memperhatikan mereka.


"Mama, aku boleh main sepeda juga?"


"Kamu itu perempuan, main sepeda kalau jatuh nanti kamu luka dan kulitmu jelek. Bukankah kamu harus perform piano minggu depan di sekolah kamu?"


Lalu Nana menunduk dan berjalan masuk ke rumahnya. Brian memperhatikan Nana dan sebenarnya ia ingin mengajak Nana bermain.


(flashback #2)


Nana baru masuk SMP sedang masa orientasi, dia berpakaian seperti badut dan menjadi bahan bully seniornya. Saat itu Brian melewati gerbang depan sekolah Nana, dia dan Kevin bersekolah di SMA yang bersebelahan dengan SMP Nana. Brian melihat Nana yang tampak imut dengan rambut diikat 6 kecil-kecil, pipi yang diwarnai pink merona, ujung hidung yang diwarnai merah, dan menggunakan kacamata paman dolit. Brian bahkan dipaksa Kevin masuk gerbang sekolah, tapi dia mencuri kesempatan untuk memperhatikan Nana.


(flashback #3)


Saat Brian dan Kevin lulus SMA, Nana datang memberi bunga untuk Kevin. Tapi ternyata Nana juga memberikan bunga untuk Brian, pertama kalinya Brian menerima bunga dari seorang gadis. Karena biasanya dia tidak pernah mau menerima surat ataupun bunga dari teman-teman gadisnya. Dia langsung membuangnya ke tempat sampah, bahkan di depan si gadis tersebut. Namun kali ini Brian mendapat bunga dari Nana dan dia langsung mencium bunga itu, meski dia melihat Nana sepertinya terpaksa memberinya bunga karena disuruh Kevin, sebab Nana tampak malu dan tidak nyaman saat memberinya bunga.


(flashback #4)


Brian dan Kevin mengadakan acara makan-makan di rumah Kevin karena mereka baru saja diterima di kedokteran UI. Mereka mengundang beberapa teman dekat mereka termasuk salah satunya adalah gadis yang menyukai Brian. Dia menyatakan cinta kepada Brian saat itu, tapi malah Brian menatap Nana dan menjawab kepada gadis itu kalau dia saat ini tidak mau pacaran dan dia sedang menunggu seseorang.


(flashback #5)


Nana hendak pergi ke New York untuk melanjutkan studinya. Brian yang saat itu sedang koas, berusaha menyelesaikan tugasnya dengan cepat agar tepat waktu untuk pergi ke bandara sebelum Nana boarding. Pada saat Brian sampai bandara, Nana ternyata sudah berangkat. Brian kembali ke Rumah Sakit dan langsung dimarahi oleh pembimbing koasnya karena meninggalkan rumah sakit saat sedang bertugas.


(flashback off)


Brian masih tersenyum melihat bingkai foto itu, dia berpikir sejenak. Lalu mengetik sebuah proposal permohonan pengunduran diri sebagai lecturer assistant.


Karena Brian ingin kembali ke Singapore.


--------------------------------


Eric duduk di kursi kantornya menghadap ke kaca jendela yang langsung berhadapan dengan pusat kota. Eric masih memikirkan permohonan Kevin malam itu di Rumah Sakit yang membuatnya tidak bisa tidur selama beberapa hari ini. Kemudian Richo masuk ke ruangan Eric.


"Aku mendapatkan informasinya."


"Bagaimana hasil investigasimu Richo? Kamu sudah bertemu dengan orang suruhan ibuku yang mengawasi Edis selama di Melbourne?"


"Iya, aku sudah bertemu dengannya, dia mengatakan memang benar bahwa saat itu dia melihat Edis memeriksakan kehamilannya, lalu melaporkan kepada Nyonya Julia. Dia membenarkan bahwa Nyonya Julia saat itu memang datang ke Melbourne untuk bertemu dengan Edis. Tapi orang itu tidak tahu dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Hanya saja ketika kedua kalinya dia mengawasi Edis saat ke Rumah Sakit, Edis tampak diopname. Setelah itu, dia tidak tahu lagi perkembangannya karena dia diperintahkan oleh Nyonya Julia untuk kembali ke Singapore."


"Lalu kamu sudah menyelidiki Rumah Sakit mana yang saat itu didatangi Edis?"


"Menurut informasi dari orang itu, ada di Royal Children's Hospital. Sulit untuk melakukan penyadapan ke database Rumah Sakit disana, karena mereka sudah menggunakan teknologi security yang sangat canggih. Kecuali kalau kita memiliki kenalan orang dalam atau sesama dokter yang bisa dimintai bantuan untuk mendapatkan akses informasi disana."


"Baiklah, kalau begitu aku akan meminta bantuan rekanku yang lain."


"Baiklah, kalau nanti ada sesuatu yang lain, segera hubungi aku."


Richo meninggalkan ruangan Eric saat Eric masih duduk terpaku berusaha menganalisa setiap informasi yang disampaikan Richo. Orang suruhan ibunya itu membenarkan bahwa Edis hamil, artinya orang tersebut tidak menyembunyikan informasi atau mengatakan informasi palsu. Dia juga mengatakan bahwa ibunya saat itu menemui Edis di Melbourne, dan itu sesuai dengan yang dikatakan Edis. Akan tetapi kenapa setelah itu orang tersebut mengatakan bahwa Edis datang ke Rumah Sakit dan mendapatkan perawatan?


Eric tahu bahwa Royal Children's Hospital adalah Rumah Sakit yang profesional. Jika memang Edis dipaksa menggugurkan kandungannya maka seharusnya dia tidak melakukan di Rumah Sakit professional yang memiliki reputasi tinggi. Dan pada akhirnya ibunya malah justru menyuruh orang tersebut untuk kembali ke Singapore.


Eric terpikirkan untuk menghubungi Kevin, namun ia mengurungkan niatnya. Karena pasti Kevin akan berpikir bahwa Eric masih memiliki perhatian terhadap Edis. Eric terus memutar otak mencari tahu untuk mendapatkan informasi dengan jelas tentang riwayat perawatan medis Edis.


Akhirnya Eric menyuruh Erica untuk meminta bantuan Kevin.


Tiba-tiba ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal, Eric tahu pasti kemungkinannya itu adalah Edis. Selama ini Eric memang mengatur teleponnya untuk langsung memblokir nomor yang tak dikenal, tapi kali ini dia membuka pemblokirannya dan memang sengaja agar memancing Edis.


"Halooo..."


"Eric, akhirnya kamu mau menerima panggilan teleponku. Kamu masih marah padaku?"


"Ada apa?"


"Sebenarnya.... aku sudah tahu tentang istrimu... aku turut menyesal dan berduka. Kamu yang tabah ya..."


"Ya, terimakasih."


"Eric apa kita bisa bertemu?"


"Untuk apa?"


"Aku tidak enak hati semenjak kamu meninggalkan aku di hotel saat itu. Itu semua kesalahpahaman, aku ingin menjelaskannya padamu."


Eric sebenarnya sangat enggan bertemu dengan Edis, tapi dia berpikir kembali untuk memanfaatkan pertemuannya dengan Edis agar dia bisa menggali informasi dengan sejelas-jelasnya.


"Okeh, aku akan tentukan tempatnya nanti siang."


Setelah mendengar persetujuan Eric untuk bertemu dengannya, Edis merasa lega dan berharap dia bisa memperbaiki keadaan.


Siang itu Eric bertemu dengan Edis di sebuah restoran di dekat Singapore River.


Sebelumnya Eric menyuruh salah satu anak buah Richo untuk membantunya memata-matai Edis saat Eric nanti bertemu dengan Edis. Eric sengaja datang lebih dulu untuk mengatur tempat agar anak buah Richo bisa mengawasi mereka saat bertemu.


30 menit kemudian Edis datang dengan penampilan lamanya saat dia dan Eric masih memiliki hubungan. Edis sengaja memakai pakaian yang dulu menjadi favorit Eric saat Edis memakainya. Eric tampak biasa saja melihat Edis, hatinya sudah tidak berdebar seperti dulu lagi ketika dia bertemu dengan Edis. Di mata Eric saat ini Edis hanyalah seseorang yang pernah menyakitinya dan memiliki banyak rahasia yang harus dibongkarnya.


"Hai Eric.... maaf aku terlambat."


"Nggak, aku juga baru sampai. Ada apa kamu mau ketemu aku?"


"Aku mau pesan minuman dulu ya," sembari Edis memanggil salah satu waitress, lalu memesan sebuah minuman.


"Kok kamu memilih tempat begini? Bukannya kamu paling nggak suka tempat ramai dulu?" Edis sambil mengikat rambutnya yang terurai.


"Aku sekarang lebih suka tempat ramai daripada tempat sepi. Karena aku bisa lebih banyak melihat situasi orang-orang di sekitarku. Jadi langsung saja kamu jelaskan kenapa kamu mau bertemu denganku?"


"Lalu kenapa kamu mencari alasan untuk meminjam ponselku setelah itu? Bukankah seharusnya kamu langsung bilang kalau dia menelpon."


"Aku cuma tidak mau merusak suasana...."


"Suasana apa? Kamu pikir dia akan mengganggu mood-ku? Edis.... diantara kita sudah tidak ada lagi yang perlu dilanjutkan. Perlu aku perjelas bahwa sejak aku bertemu denganmu aku hanya ingin memastikan alasan kamu pergi meninggalkan aku."


"Lalu kenapa kamu masih peduli? Jika memang kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku, kenapa kamu masih peduli alasanku meninggalkan kamu?"


"Aku paling tidak suka dibodohi dan dibohongi. Jadi aku ingin memastikan kesalahanku saat itu kenapa kamu sampai membohongiku seperti orang bodoh!"


"Aku tidak berbohong padamu Eric! Sampai detik ini pun kalau bukan karena cintaku yang masih bertahan untukmu, aku tidak akan mengambil risiko kembali ke Singapore!"


"Edis, katakan sebenarnya tujuanmu datang kepadaku."


"Aku tidak memiliki tujuan apapun selain memilikimu lagi."


"Bulshit! Kamu meninggalkan aku demi uang! Aku bahkan bisa memberimu lebih dari 10 juta dollar jika kamu mau berjuang bersamaku. Jangan bilang jika saat itu kamu sedang butuh uang untuk perawatan Daniel. Kamu lari ke Melbourne karena hutang kan? Bahkan kamu memfitnah ibuku dengan mengatakan dia yang melakukan sabotase Rumah Sakit. Apa kamu waras? Di mataku kamu tidak lebih dari seorang pembohong Edis!"


Edis hanya diam, melihat Eric tampak murka. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Eric sudah tidak bisa mempercayainya.


"Kamu sudah berubah, Edis... Kamu bukan orang yang pernah aku kenal sebelumnya."


"Ya... aku memang berubah. Aku memang berubah saat aku tahu kamu akan menikah dengan wanita lain! Kamu saat itu selalu meyakinkan aku bahwa kamu akan menikahiku, tapi kamu malah menyetujui perjodohan itu, Eric! Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? Kamu lebih memilih terbang ke Jakarta padahal aku disini juga sedang kebingungan dengan masalah Daniel. Tidak bisakah kamu lebih mengutamakan kepentinganku, Eric?"


Eric diam namun matanya saat ini menatap Edis dengan tajam. Dia mulai mengerti sisi lain dari Edis yang selama ini tidak ia sadari karena dibutakan oleh cintanya terhadap Edis. Selama 7 tahun dia bersama Nana, tidak pernah sekalipun Nana menuntutnya untuk mengutamakan dirinya, bahkan meski Nana tahu Eric membuangnya ke Phuket dan ke Bali yang saat itu sedang dalam keadaan hamil. Eric baru menyadari bahwa sebenarnya penilaiannya terbalik. Wanita berdarah dingin yang sesungguhnya adalah Edis.


"Saat ini aku tidak bisa menemuimu lagi, aku akan mendampingi istriku. Mulai sekarang jangan pernah lagi mencoba hubungi aku."


Edis kelabakan mendengar ucapan Eric. Saat Eric berdiri dan bersiap pergi, Edis meraih tangan Eric dan memohon pada Eric.


"Eric, jangan mengancamku seperti itu! Aku mohon kamu jangan pergi, aku tidak akan pernah lagi meninggalkan kamu atau membohongimu...."


Eric tanpa menoleh sedikitpun melepaskan tangan Edis dan pergi meninggalkan Edis.


"Eric....!!!"


Edis berteriak memanggil Eric yang sudah berjalan jauh hingga Eric masuk ke dalam mobilnya, Edis tetap tidak menyerah mengejar Eric bahkan sampai memukul kaca bagian depan mobil karena Eric mengabaikannya.


"Tuan, kita tidak bisa pergi dengan begini... wanita itu..."


"Biarkan saja dia."


Eric mendapat email dari Erica. Dia melampirkan sebuah dokumen riwayat perawatan medis Edis saat di Melbourne. Eric langsung menelpon Erica.


"Apa maksudnya itu Rica?"


"Menurut penjelasan dari Kevin, Edis mengalami kehamilan Blighted Ovum atau embrio yang tidak berkembang karena tidak ada janin di dalamnya atau sel telur kosong. Sehingga hal itu pasti akan keguguran dengan sendirinya karena janinya memang tidak berkembang, bukan karena faktor lain."


Eric mendengar penjelasan dari Erica semakin marah kepada Edis. Tapi dia tidak mau bicara dengan Edis lagi.


"Joni, kamu langsung saja tancap gasnya."


"Tapi Tuan, wanita ini terus berada di depan mobil kita. Saya tidak berani kalau menabraknya..."


Eric keluar dari mobil dan menarik lengan Edis dan menggiringnya menjauh dari mobilnya.


"Eric... aku mohon kamu jangan tinggalkan aku."


Edis berusaha menggapai wajah Eric dan membelainya tapi Eric menjauhkan wajahnya.


"Kamu tidak hanya membohongiku Edis, tapi kamu berusaha menghancurkan hubunganku dengan keluargaku! Masalah kehamilan itu aku sudah tahu semuanya! Jangan pernah lagi muncul lagi dihadapanku atau aku sendiri yang akan menghilangkanmu!"


Eric meninggalkan Edis dan membiarkan Edis menangis yang sedang berada dalam ambang keputus asaan. Sepertinya harapannya untuk mendapatkan Eric sudah tidak bisa dia dapatkan lagi.


-------------------------------------


Kevin baru keluar dari ruangan Direktur National University Hospital. Lalu dia menelpon Brian.


"Halooo Brian..."


"Bagaimana Vin?"


"Aku sudah mengajukan proposal lamaranmu kepada Direktur Rumah Sakit. Beliau ingin menginterview langsung. Kapan kamu bisa datang?"


"Aku kemarin baru menyerahkan surat pengunduran diriku ke universitas. Kemungkinan membutuhkan waktu beberapa hari lagi prosesnya."


"Jadi.... kamu memang benar-benar serius memutuskan untuk menjadi dokter penanggung jawab Nana?"


"Meskipun aku belum tentu bisa memilikinya, tapi setidaknya aku memiliki kesempatan untuk berkorban demi dia. Bukankah dulu aku masuk kedokteran karena ingin supaya terlihat mengagumkan di depan Nana. Dan di saat-saat seperti ini perjuanganku akan sia-sia jika tak memiliki arti bagi kehidupan Nana."


"Brian, aku percaya padamu, aku tidak akan menghalangimu tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak. Melihat kondisi Nana saat ini yang masih koma, aku harap kamu juga jangan terlalu berharap lebih...."


"Aku mengerti Kevin, biar aku yang akan berjuang sendiri."


"Baiklah, sampai jumpa... sampai ketemu lagi di Singapore."


Kevin tersenyum mendengar keputusan Brian, sekarang tinggal menunggu keputusan dari Eric. Dia berharap semoga Eric bersedia menceraikan Nana. Karena Kevin masih mengira Eric belum bisa lepas dengan perasaannya terhadap mantan kekasihnya. Terlebih lagi tadi pagi Erica meminta bantuannya untuk mencari tahu informasi tentang riwayat medis kekasih Eric. Kevin berpikir bahwa Eric masih peduli dengan Edis.


Padahal sebenarnya Eric saat ini sudah tidak peduli dengan Edis, hanya saja Eric tidak menyadari bahwa dia mulai mencintai Nana.....



-----------------------------------


Spoiler:


Edis mengikuti Eric saat menuju ke Rumah Sakit. Pada akhirnya Edis tahu keadaan Nana yang sebenarnya, dan pada saat itu juga Eric menyuruh Edis untuk tidak lagi muncul dalam hidupnya. Namun Edis yang sudah tidak punya cara lain lagi menarik simpati Eric, akhirnya nekat mau menabrakkan dirinya ke depan mobil Eric yang ternyata sedang dikemudikan oleh Kevin dan Mama Lisa yang juga ada di dalamnya.


Apa yang terjadi selanjutnya???


Silahkan tinggalkan pendapat kalian di kolom komen di bawah ini ya....


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....