I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] FIND YOU



"Dan lagi... kita bisa bertanya pada tukang kebun teman kerja pakcik sesama tukang kebun." ucap Shaila dengan nada ragu-ragu.


"Apa kamu tahu di mana orang itu?" Caesar bertanya tanpa menoleh pada Shaila.


"Kita bisa mencarinya... pasti berada di sekitar rumah sakit ini..."


Jawaban Shaila memang tidak membuat Caesar yakin. Tapi dia tidak punya pilihan.


Dibandingkan harus bertanya kepada dokter Felix maupun Profesor Nick, yang tentu saja itu akan lebih berisiko karena terkait kode etik profesi yang harus merahasiakan informasi pasien. Selain itu karena posisi Caesar dan Shaila hanya seorang dokter internship. Alih-alih mendapatkan jawaban, kemungkinan yang paling masuk akal mereka akan dikeluarkan dari rumah sakit.


Caesar setuju dengan usulan Shaila. Karena masih ada waktu sebelum jam jaga, mereka berdua mencari tukang kebun yang kemungkinan mengenal Gunawan.


***



***


Butuh tiga puluh menitan bagi Caesar dan Shaila mencari tukang kebun rumah sakit. Sebab tukang kebun hanya pekerja outsourcing harian tidak tetap, jadi data pribadi mereka tidak tercantum dalam data pekerja Rumah Sakit. Sehingga Caesar dan Shaila harus mencari dan bertanya face to face kepada pekerja kebun yang mereka temui. Namun tidak semua di antara mereka yang mengenal Gunawan.


Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Samuel, seorang tukang kebun yang kebetulan mereka temui saat dia baru saja datang.


"Excuse me Sir, do you know a gardener who was name of Gunawan? Or Wan?"


"Gunawan?" Sam mengerutkan dahinya sedang berpikir. Dia memang baru mendengar nama Gunawan.


"I know the guy was name of Wan. But I'm not sure his name is Gunawan."


"Does he have a daughter who is hospitalized in this hospital?"


"I think yes... Several days ago, his daughter undergo the surgery... that's why he didn't came here to work." Wajah Sam tampak yakin dengan jawabannya jika merujuk pada Wan yang dimaksud selama ini adalah rekan sesama tukang kebunnya.


Caesar dan Shaila menemukan titik terang, dia bertemu dengan orang yang tepat untuk bertanya.


"Where is he now?" Caesar tampak seperti orang yang tak sabar bertanya pada Samuel.


"What???" Samuel tampak bingung dengan pertanyaan Caesar. Pria berusia lima puluh tahunan itu tidak mengerti mengapa pria muda di depannya itu bertanya tentang keberadaan Wan pada dirinya.


"Young man, I didn't know why you ask me. I never met him since he never came here because his daughter is getting hospitalized."


Shaila menenangkan Caesar dan mengambil alih menghadapi Samuel yang sepertinya terbawa emosi karena pertanyaan Caesar yang menyulut kesalahpahaman.


"Ohh... I'm so sorry Sir... We don't mean to accuse something bad. But, this my friend really wants to meet Mr. Wan... Maybe you have the clue about him." Shaila merendahkan suaranya hingga ucapannya terdengar lembut yang membuat ekspresi Samuel perlahan berubah.


Samuel sedikit terkejut dengan kalimat Shaila.


"Clue??? What do you mean? He's gone? Not here anymore?"


Shaila mengangguk dengan ekspresi tampak sedih.


Samuel tampak sedih mendengar jawaban Shaila. Tapi Samuel tidak bisa banyak membantu mereka. Samuel hanya mampu memberikan sedikit informasi pada Shaila dan Caesar.


Dari seluruh penjelasan dan cerita Samuel, Caesar dan Shaila semakin mengetahui kisah hidup Gunawan selama di Miami.


----------------------------------------


Sejak kematian Jasmine, Caesar sudah tidak lagi berhubungan dengan Gunawan. Sekalipun Nyonya Wilson pun tidak memiliki hubungan lagi dengan Gunawan.


Sejak Caesar melihat sendiri tubuh Jasmine yang gosong penuh luka bakar dan serpihan akibat bom bunuh diri tersebut. Dan melihat sendiri bagaimana hancurnya Gunawan saat ia mengetahui putri semata wayangnya menjadi korban "kebetulan" di tragedi yang seharusnya merenggut nyawa Caesar dan Regal.


Regal memang selamat, tapi kondisinya saat itu pun juga sangat membuat Caesar merasa bersalah. Regal bahkan mengalami koma selama hampir satu bulan. Dan saat is membuka matanya, dia masih terngiang dengan ingatan bom bunuh diri tersebut. Terlebih dia sempat menyaksikan detik di saat tubuh Jasmine terlempar bagaikan sebuah boneka.


Nana bahkan sempat down dan menolak untuk bicara dengan Eric dan Caesar selama beberapa bulan. Nana menyalahkan Eric dan Caesar atas tragedi yang tak masuk akal tersebut.


Sejak saat itu, Eric memutuskan untuk berhenti dari dunia politik setelah masa jabatannya berakhir yang tinggal tiga tahun lagi, pada saat itu. Sedangkan Caesar, harus menunda studinya selama satu semester sampai LoA-nya dari Harvard telah habis masa berlakunya. Sehingga ia harus mengikuti tes lagi untuk masuk ke Harvard.


Di tengah kondisi tersebut, Caesar masih tetap memberikan waktunya menemani Gunawan setiap hari menjaga tubuh Jasmine di ICU. Meski hanya tiga hari, tapi sepanjang waktu tiga hari itu pula Caesar semakin mengenal Jasmine dan betapa berharganya hidup Jasmine di mata seorang Gunawan.


Sejak saat itulah rasa simpati dan empati Caesar mulai tumbuh pada Jasmine.


Namun sayangnya, tiga hari kemudian, dokter menyatakan Jasmine meninggal dunia.


Caesar ingin tak percaya, namun melihat kondisi Jasmine yang sepertinya malah justru menderita jika ia hidup. Maka Caesar pun akhirnya harus merelakan bahwa ia tak mungkin ada kesempatan lagi bertemu dengan Jasmine dan menjalin hubungan baik dengannya sebagai seorang teman.


Sebagai gantinya, Caesar memperbaiki hubungannya dengan Regal dan menjaga Regal demi Jasmine.


"Baby... kamu melamun...?" Genggaman tangan Shaila membuyarkan lamunan Caesar yang sejak tadi merasuki pikirannya menelusuri memori masa-masa sulit enam tahun yang lalu.


"Adalah di dunia ini yang disebut dengan kesempatan kehidupan kedua?" Caesar tiba-tiba melontarkan pertanyaan absurd pada Shaila.


"Kehidupan kedua? Maksudnya reinkarnasi begitu? Kamu terlalu banyak baca komik, hahaha..." Shaila tertawa karena merasa pertanyaan Caesar terdengar konyol.


Namun saat ia melihat ekspresi yang terpasang di wajah Caesar masih sangat serius, Shaila terdiam dan mencoba menjawab dengan serius.


"Kalau dalam agamaku tidak ada namanya kehidupan kedua di dunia fana." Shaila mulai mengatakan dengan nada serius.


"Tapi bagaimana jika seseorang yang dinyatakan meninggal, ternyata dia tidak meninggal..."


"Maksudnya mati suri? Bukankah itu pernah beberapa kali terjadi? Saat tanda vital seseorang dalam tubuhnya dinyatakan mati, tapi ternyata beberapa menit kemudian tanda vitalnya kembali normal. Apa maksudnya seperti itu?"


Ekspresi wajah Caesar tetap datar. Dia memang sedang mengatakan hal yang absurd. Bukan salah Shaila jika awalnya mengira ia bercanda, lalu menjawab dengan jawaban yang lebih ilmiah. Namun Caesar tetap tidak bisa menemukan jawaban yang ia inginkan dari sekian banyak kata yang diucapkan Shaila.


"Kalau dipikir lagi, memang tidak mungkin." Caesar bergumam sendiri.


--------------------------------------


Hari berikutnya.


Xing keluar dari sebuah mobil yang berhenti di depan lobi sebuah hotel, dia berpakaian santai tidak seperti biasanya menggunakan jas hitam seperti pada saat dia bekerja di mansion Eric. Xing berjalan memasuki pintu yang terbuka secara otomatis lalu menuju lobi dan tampak berbicara dengan resepsionis.


Beberapa menit kemudian, seorang resepsionis memberikan sebuah kartu kepada Xing. Setelah menerima kartu, Xing berjalan menuju lift dan memencet tombol lantai 12.


Beberapa detik kemudian Xing keluar dari lift dan berhenti di depan sebuah kamar. Lalu menempelkan kartunya pada pintu kamar tersebut.


Pintu terbuka, Xing masuk.


"Selamat pagi, pak Gunawan..."


Xing menyapa Gunawan yang duduk di sofa sedang menyisir rambut Rosie. Melihat Xing sudah berdiri di depannya, Gunawan buru-buru berdiri sambil membersihkan tangannya menggunakan bajunya. Lalu menyalami Xing.


"Tuan Xing..." Gunawan membungkukkan badannya, begitu juga dengan Rosie yang berusaha berdiri.


Xing menerima salam tangan Gunawan dan Rosie dengan ramah.


"Maaf jika ini terlalu mendadak. Tapi memang Tuan Eric menginginkan pengobatan terbaik bagi Rosie. Jadi kami memutuskan untuk memindahkan Rosie kembali ke John Hopkins hospital."


"Kami terserah dengan keputusan Tuan Eric. Kami menuruti saja semua yang dikehendaki Tuan Eric."


Xing tersenyum.


"Memang sangat mudah bernegosiasi dengan orang lemah yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Mudah diatur dan patuh." ucap Xing dalam hatinya.


Tapi Xing masih memiliki tugas dari Eric, yaitu memastikan menutup seluruh akses informasi tentang Gunawan dan Rosie yang kemungkinan bisa diketahui Caesar.


"Pak Gunawan, ikut saya sebentar."


Gunawan mengikuti Xing keluar dari kamar. Entah mengapa ia merasakan firasat yang tidak enak.


Xing menempelkan kartu di kamar sebelahnya, lalu mempersilakan Gunawan masuk. Kemudian Xing menutup pintunya kembali setelah ia masuk.


Kini di kamar tersebut hanya ada Xing dan Gunawan berdua.


"Tuan Gunawan, selama hampir tiga tahun di Miami, siapa saja orang yang berhubungan dengan anda selain orang rumah sakit yang saya sebutkan di bawah ini."


Xing menyebutkan beberapa nama kecuali Shaila dan Sam.


"Selain nama orang-orang ini, apakah ada nama orang lain lagi yang berhubungan dengan anda?"


Gunawan diam, Xing mendeteksi keraguan di wajah Gunawan.


"Sebaiknya anda jujur pada kami." Xing mengatakan dengan tanpa penekanan. Namun Gunawan tetap saja merasa tertekan.


"Ada... dokter Shaila..." Gunawan menjawab dengan ragu-ragu.


Xing menghela nafas, ekspresinya tampak biasa saja. Ia memang sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Shaila di Miami Hospital. Kemungkinan karena dialah Caesar mengambil wahana internship di Miami Hospital, padahal dia diterima di Massachusetts Hospital.


"Baiklah, saya yang akan mengurusnya... Silakan anda kembali ke kamar anda" Ekspresi wajah Xing datar dan langsung membuka pintu mempersilakan Gunawan keluar kamar.


"Pak Gunawan sudah saling mengenal dengan Shaila. Mereka saling mengenal sejak 1 bulan lalu, sejak Shaila menjadi dokter jaga paviliun saat Rosie dirawat di paviliun tersebut. Dan saat ini Tuan Shaila tinggal di apartment Tuan Caesar, sejak 6 bulan yang lalu."


"Apa kamu sudah memastikan apa saja yang dikatakan Gunawan pada Shaila?"


"Pak Gunawan mengatakan hanya sebatas sapaan. Tapi dia terlihat sedikit ragu menjelaskannya. Bisa jadi lebih dari itu."


"Kita tidak bisa menekan Shaila, karena Caesar akan semakin curiga. Aku sudah pernah berjanji untuk tidak mencampuri kehidupan pribadinya. Jadi biarkan saja dulu mengenai Shaila. Pasti dia sudah bercerita mengenai Gunawan."


"Tapi Shaila sepertinya masih tidak tahu siapa Gunawan dan hubungannya dengan Tuan Caesar."


"Tapi apakah Caesar sudah tahu keberadaan Gunawan?"


"Sepertinya sudah. Tapi untungnya kita lebih cepat bergerak. Dan dua malam yang lalu asisten dokter Nick sudah memindahkan Rosie ke kamar khusus lain, dan semalam kami sudah memindahkan Rosie dan Pak Gunawan ke Hotel."


"Lalu bagaimana dengan orang lain yang berhubungan dengan Gunawan?"


"Ada, Samuel Clark. Dia adalah rekan sesama tukang kebun Pak Gunawan. Pagi ini, saat saya ke Rumah Sakit, saya menyempatkan bertemu dengannya. Dia mengatakan kemarin ada dua dokter muda yang menemuinya. Kemungkinan itu adalah Tuan Caesar dan Shaila yang bertanya pada Samuel."


"Lalu apa jawaban Samuel yang diberikan pada mereka?"


"Faktanya Samuel tidak tahu masa lalu Pak Gunawan. Jadi dia hanya menjawab sebatas yang dia tahu tentang kehidupan Gunawan di Miami. Sejauh ini, dari jawaban Samuel hanya sebatas bahwa Pak Gunawan memang benar-benar tinggal di Miami karena kenyataannya Gunawan baru pindah ke Miami selama hampir 3 tahun belakangan ini. Tidak banyak informasi yang mengarahkan pada insiden enam tahun lalu."


"Untuk segala data informasi di Rumah Sakit?"


"Kita sudah memblokir semua informasi data tentang Rosie di Miami Hospital beberapa hari yang lalu dengan bantuan Profesor Nick."


"Bagus. Jadi usahakan hari ini Rosie dipindahkan ke John Hopkins."


"Baik. Saya akan segera lakukan Tuan..."


---------------------------------------


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Saat Shaila tiba-tiba keluar dari kamarnya, ia melihat Caesar masih belum terlelap tidur. Terdengar suara televisi menyala dari kamar Caesar.


"Apa dia belum tidur? Biasanya dia tidak pernah menyalakan televisi di kamarnya." Shaila berhenti di depan kamat Caesar.


Seketika Caesar kebetulan membuka pintu kamarnya dan melihat Shaila berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Caesar.


Shaila melihat kantung hitam di sekitar mata bawah Caesar yang terlihat sangat lelah.


"Aku haus. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"


"Aku juga tidak bisa tidur..."


Caesar berjalan melewati Shaila menuju kulkas dan mengambil minum.


"Karena masalah pakcik?"


Shaila mengikuti langkah Caesar menuju ke mini coffee bar lalu duduk di sana.


Caesar meneguk segelas air putih di genggamannya.


"Caesar.... sebenarnya ada sesuatu yang belum aku katakan terkait pakcik..."


Caesar masih meneguk air minumnya.


"Beberapa hari yang lalu, terakhir kali pakcik bertemu denganku saat aku memberikan rendang padanya... di akhir obrolan kami, sebelum aku pergi, dia mengatakan.... untuk jangan menceritakan apapun tentang keberadaan mereka di sini kepada siapapun orang yang aku kenal di Singapore."


Caesar berhenti meneguk air minumnya. Lalu meletakkan gelasnya.


"Kenapa?"


Shaila menggeleng.


"Aku tidak tahu alasannya. Dia mengatakan karena ini menyangkut kondisi Rosie juga. Dan dia menyuruhku untuk melupakan mereka jika suatu ketika mereka tidak ada di rumah sakit itu..."


"Traakkk"


Caesar spontan meletakkan gelas yang ia genggam dengan keras ke meja keramik di depannya.


"Kenapa kamu baru mengatakan sekarang?"


"Saat itu aku mau mengatakan padamu, tapi aku tidak tahu apakah hal itu akan banyak membantumu mendapatkan informasi tentang pakcik atau justru malah membuat pikiranmu semakin rumit."


Caesar sungguh kesal dengan ucapan Shaila. Namun ia tak bisa marah pada Shaila yang telah banyak membantunya dari kemarin untuk mencari informasi tentang Gunawan.


Caesar hanya bisa memijit keningnya karena merasa sangat pusing mengaitkan setiap clue yang ia dapatkan tentang Gunawan. Saat ini Caesar hanya bisa menyusun satu per satu puzzle informasi. Tapi semakin ia tahu banyak, semakin ia ingin sekali mencari dan menemukan keberadaan Gunawan.


Caesar hanya ingin bertemu Gunawan sebagai kawan lama, tapi mengapa Gunawan seperti benda yang berada di bola kaca yang seolah ada lapisan barrier untuk menghalangi siapapun yang berhubungan dengannya.


Dan tentang Donatur, tentang kondisi Rosie yang bahkan tidak ada dalam medical record Miami Hospital, juga keberadaan Gunawan yang selalu ingin dirahasiakan sampai ia harus mengganti nama menjadi Wan. Mengapa seperti ada korelasi di antara semua determinan itu yang menuju pada satu benang merah.


Caesar mengambil ponselnya, satu nama di kontaknya yang saat ini juga ingin ia hubungi.


***



***


--------------------------------------


Kata Penutup


Kira-kira siapa yang akan dihubungi Caesar?


A. Eric. Caesar akan bertanya langsung pada ayahnya.


B. Pasti Xing. Dia adalah kunci dari segalanya.


C. Joni. Kemungkinan Caesar akan menyelidiki dulu.


D. Noah atau Glenn. Dia akan meminta bantuan kedua temannya untuk menjadi hacker data Rumah Sakit.


-------------------------------------


Halo kawan-kawan, di manapun kalian berada.


STAY SAFE & KEEP HEALTH


***



***


**Halo sobat pembaca


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**